Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Lindungi keluargaku



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


“Lo dateng ya—”


“Kak Ivana?“ Tepat setelah Zeline menyelesaikan perkataannya itu dan membalikkan badannya sepenuhnya kearah Ivana yang dalam sekejap langsung mencengkram lehernya kuat dan mendorong tubuhnya hingga ke pinggir pembatas rooftop.


“Hey Kak Ivana, kenapa lo buru-buru banget mau ngehabisin gue?Penonton pertunjukan ini aja belum sampai di sini” Zeline berujar kelewat santai dan mengatur pernapasannya dengan baik supaya tak terlalu sesak. Karena jujur saja cengkraman gadis di depannya ini pada lehernya tidaklah main-main. Seolah gadis itu memang siap membunuhnya saat itu juga.


“Karena lo salah satu ****** yang mau rebut Alan dari gue! Jadi gue harus ngehabisin lo sekarang juga- gak” Ivana menggelengkan kepalanya “Engga seharusnya lo udah mati dari enam bulan yang lalu, tapi Tuhan justru malah masih sayang sama lo dan nyelamatin lo. Berakhir dengan gue yang justru masuk rumah sakit dan koma selama empat bulan.” ucap gadis itu mengencangkan cekikannya pada leher Zeline hingga kuku-kuku panjangnya menggores kulit leher Zeline sampai mengeluarkan darah sedikit.


“****! Kenapa Kak Celine lama banget?! Gue bisa mati beneran di sini“ batin Zeline menggerutu dan nafasnya mulai tercekat–cekat.


Sampai satu detik kemudian suara pintu rooftop yang di buka sedikit kasar oleh seorang gadis yang terengah-engah karena habis berlari.


“Dek, sorry gue telat. Tadi—” ucapan Celine terhenti dengan mata membulat kaget saat melihat sang adik tengah di cekik oleh seorang gadis yang tak ia kenal dan setengah badan Zeline sedikit melengkung melewati pembatas Rooftop.


Yang dalam seketika rasa lelahnya yang sempat terasa tadi hilang entah kemana dan Celine berlari cepat kearah dua orang di sana dan menarik paksa pundak gadis yang mencekik Zeline hingga cekikan gadis itu pada Zeline terlepas dan gadis itu terjatuh.


Buru-buru ia menarik Zeline yang sedikit merundukan kepalanya sambil memegangi lehernya dan meraup oksigen sebanyak yang ia bisa.


“Dek, lo baik-baik aja? Apa yang sakit?” tanya khawatir Celine memegang pundak Zeline agar tak terjatuh.


“Gue baik-baik aja Kak,“ balas Zeline menengadahkan wajahnya yang masih terlihat pucat dengan senyum tipis pada sang kakak supaya tak terlalu mengkhawatirkan dirinya. “Selamat. Untung lo dateng tepat waktu Kak,” batin Zeline masih menetralkan deru pernapasannya yang masih sesak.


Mendengar penuturan adiknya itu Celine pun kini mengalihkan tatapannya pada gadis yang masih terduduk di atas lantai rooftop dengan kepala tertunduk. Tatapan Celine terlihat sangat marah pada gadis itu.


“Yak sialan! Lo gila ya?! Berani-beraninya lo cekik adik gue kayak gitu kalo gue gak dateng tepat waktu lo pasti udah bunuh adik gue sialan!“ bentak Celine melepaskan pegangannya pada pundak Zeline lalu menarik lengan Ivana kasar hingga gadis itu berdiri.


“Heh! Gue lagi ngomong sama lo! Lo tadi hampir bunuh adik gue anjing!” bentak Celine beralih mencengkram rahang gadis itu hingga mendongak menatap kearahnya.


Namun yang Celine lihat justru senyum bak psikopat terpatri di bibir gadis itu membuat Celine semakin mencengkram keras rahang gadis itu. “Hehehe... Gue emang mau bunuh adik lo. Dia pantas mati!” ucap Ivana dengan senyum mengerikannya.


.


.


.


PLAK!!!


Tamparan keras Celine layangkan pada wajah cantik Ivana hingga membuat sudut bibir gadis itu robek dan mengeluarkan darah. “Gila! Lo masih sekolah dan udah berani ngelakuin hal criminal kayak gini. Lagi pula apa yang diperbuat adik gue sampek lo mau bunuh dia hah!?”


Saat gadis itu akan membuka suaranya untuk mengatakan apa alasannya tiba-tiba saja pintu rooftop kembali terbuka dan menampilkan Alan dengan penampilan urakannya.


“Ze, sorry gue tel—” ucapan Alan terhenti saat gadis yang amat di kenalnya berlari kearahnya dan menubruk tubuh tegap Alan sambil terisak.


“Alan, Aku takut hiks... me-mereka ngebully aku... Hiks...” ucap Ivana sengukan saat mengatakan itu di balik dada Alan yang melebarkan matanya tak percaya dan menatap gadis yang merupakan kakak beradik itu yang tentu di kenal jelas olehnya.


Sementara Celine yang melihat itu terpaku diam dan tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan gadis itu kepada Alan. Sedangkan Zeline hanya melihat dengan senyum tipis,


Mendorong pelan pundak Ivana agar menjauh dari dadanya Alan kembali melebarkan matanya saat melihat bekas tamparan dan sudut bibir Ivana yang berdarah. “Siapa yang ngelakuin ini?!” geram Alan marah.


Lalu Ivana menunjuk kearah Zeline dan Celine secara bergantian. “Me-mereka Alan, mereka ngejebak aku katanya kamu udah nungguin aku di sini karena mau ngomong sesuatu tapi begitu aku sampai di sini aku justru langsung di jambak dan di tampar tanpa alasan sama mereka.” ucap Ivana masih dengan tangisan buayanya.


Zeline berdecak kagum dalam hati, “Kenapa ia tak mendaftarkan diri ke dunia hiburan? Bakatnya ini akan sangat sayang jika di sia-siakan.”


“Celine lo kenapa? Kenapa lo ngelakuin ini? Apa salah Ivana sama lo Hah!?” bentak Alan pada Celine yang seketika tersentak karena untuk pertama kalinya Alan membentak dirinya dan itu karena gadis asing itu.


“Gak usah ngebela diri Celine, adik lo bahkan keliatan baik-baik aja. Ivana gak mungkin ngelakuin itu!” ucap Alan menarik Ivana kedalam dekapannya dan hal itu kembali membuat Celine terdiam.


Kemudian membalikkan badannya untuk berlalu dari sana, tapi sebelum ia benar-benar pergi Alan berucap, “Gue kecewa sama lo Line, gue pikir lo cuma gadis nakal biasa yang gak suka ngebully orang yang lebih lemah dari lo tapi, ternyata pikiran gue salah tentang lo.”


Setelah mengatakan itu Alan benar-benar pergi dari sana bersama Ivana yang diam-diam tersenyum puas, meninggalkan Zeline dan Celine yang masih setia terdiam apalagi saat mendengar ucapan yang terlontar dari Alan sebelum pemuda itu benar-benar pergi.


Menghembuskan nafasnya pelan Zeline berjalan mendekat sang kakak lalu merangkul pundak gadis yang lebih tua. Membawa sang Kakak dalam pelukan hangatnya.


“Zeline lo sengaja kan?” ucap Celine mendorong tubuh Zeline menjauh darinya.


“Seperti yang lo pikirin, kak. Sekarang lo udah tahu orang kayak gimana saingan lo kan? Kalau lo bener-bener suka sama Alan okey silahkan, kali ini gue gak bakal ngelarang lagi tapi, kalau mau rebut Alan dari gadis gila itu buat diri kakak jauh lebih hebat dari dia.” ucap Zeline dengan tatapan tegasnya.


“Cuma bantuan ini yang bisa gue lakuin buat lo sebelum gue pergi, kak.” batin Zeline menatap Celine yang kembali diam untuk sesaat sebelum membalas tatapan tegasnya dan menganggukkan kepalanya mantap.


“Gue tahu apa yang harus gue lakuin. Dan apa yang harus gue buat supaya gadis itu pergi dari kehidupan Alan.” ucap Celine membuat Zeline tersenyum lalu membawa kakaknya itu ke dalam pelukan hangatnya.


...┈┈┈┈․° ☣ °․┈┈┈┈...


“Bos,anda pasti bercanda'kan?” tanya Ravin saat mendengar penjelasan sang bos yang mengatakan jika dirinya akan pergi bersama dengan Jayden.


“Kapan saya pernah bercanda, Ravin?” ucap Zeline membuat Ravin menggelengkan kepalanya.


“Tapi Bos, kita bisa cari cara lain. Tuan muda bisa tetap terus bersama kita dan anda pun tetap di sini menjaga keluarga anda. Pikirkan sekali lagi Bos, saya gak mau anda pergi dengan orang itu!” ucap Ravin mencoba menyakinkan Zeline yang duduk di sofa.


“Kenapa kita tidak menghabisinya saja?” cetus Ravin memberikan usulan yang langsung mendapat gelengan dari Zeline.


“Saya juga berpikir hal itu sebelumnya tapi, jika dia mati maka keluarga saya juga akan ikut mati dan saya gak mau hal itu terjadi,”


“Nyawa keluarga saya ada di tangan dia Ravin, bukan hanya itu nyawa Kalandra pun ada di dia dan saya gak mau dia sampai terluka gara-gara saya.” lanjut Zeline dengan nada lirih diakhir kalimatnya membuat Ravin terdiam.


“La-lalu apa yang harus kita lakukan Bos?”


“Dia memang menginginkan Bang Dylan untuk ikut bersamanya tapi, yang paling dia inginkan untuk ikut bersamanya adalah saya, Saat ini yang perlu kita lakukan hanyalah menurutinya dan tugas kamu setelah saya pergi adalah ngambil alih semua urusan perusahaan dan lindungin keluarga saya selama saya gak ada.”


“Pokoknya laporin semuanya sama saya secara sembunyi-sembunyi, hanya itu tugas kamu sisanya biarkan itu menjadi urusan saya.” Zeline berujar tenang menatap penuh ketegasan kepada Ravin yang menganggukkan kepalanya mantap.


Pemuda yang tiga tahun lebih tua dari Zeline itu hanya bisa menuruti perintah atasannya meski sebenarnya ia sedikit tak rela jika harus berjauhan dengan sang atasan yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


“Bos bisakah sekarang saya menggunakan bahasa informal dan menanyakan sesuatu sebagai kakakmu bukan bawahanmu?” tanya Ravin yang mendapat anggukan dari Zeline yang tersenyum tipis.


“Kakak tahu seberapa sayangnya kamu sama keluarga kamu, tapi pria yang bersahabat dengan Abang kamu itu kenapa kamu sangat memperdulikannya? Kamu benar-benar jatuh cinta padanya?” tanya lembut Ravin duduk di samping Zeline.


Mendengar pertanyaan itu Zeline menundukkan kepalanya, “Iya kak, aku benar-benar jatuh dalam pesona dia. Jadi tolong jaga dia saat aku pergi ya, kak?”


Ravin tersenyum ia tahu melihat dari tatapan mata Zeline saja ketika menyebut nama pemuda itu terpancar binar penuh kasih sayang. Tangan Ravin terangkat untuk mengusap lembut surai Zeline.


“Tentu saja, kakak pasti bakal lindungi dia sama seperti kakak melindungi keluarga kamu Zeline,” ucap Ravin membuat Zeline mengulas senyumnya tulusnya yang sangat jarang terlihat dan memeluk tubuh pemuda yang lebih tua yang tentunya pelukannya itu di balas oleh Ravin.


Demi apapun, Zeline jarang bersikap seperti ini dan entah kenapa ia lebih mudah terbuka kepada Ravin yang bukan siapa-siapa daripada kepada keluarganya sendiri. Ravin itu bisa lebih mengerti dirinya daripada siapapun, makanya Zeline lebih terbuka dan nyaman pada Pemuda itu.


“Makasih Kak.” gumam Zeline pelan dalam pelukan Ravin.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...