Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Pesan Zeline



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Brak!


Zeline menendang pintu ruang kerja Jayden saat ia melihat berita di internet dan laporan dari Ravin tentang kecelakaan yang sangat parah di mana korban kecelakaan itu adalah pria yang berhasil menempati hatinya selama kurang lebih setengah tahun.


Jayden yang tengah duduk di balik kursi meja kerja tentu terlonjak kaget saat pintu ruang kerjanya di tendang seperti itu dan alisnya pun terangkat sebelah heran saat mendapati wajah murka Zeline di ambang pintu.


“Hey What's wrong?” tanya Jayden beranjak dari kursi yang tengah didudukinya untuk menghampiri Zeline namun, saat ia sudah berada tepat di hadapan si gadis, gadis itu justru menamparnya keras.


“Brengsek! Lo ngelanggar perjanjian kita! Lo bilang lo setuju buat gak nyentuh anggota keluarga gue tapi...“ ucapan Zeline menundukkan kepalanya untuk mengotak-atik ponselnya sebentar sebelum menunjukkan layar di ponselnya pada si pemuda, lalu melanjutkan ucapannya. “Apa ini?lo nyelakain mereka!”


Melihat berita yang ada di layar ponsel Zeline Jayden kemudian mengukir senyum miringnya. “Zeline aku jelas gak ngelanggar perjanjian kita. Lagipula di perjanjian kita hanya ada aku tidak boleh ngusik, dan nyelakain semua anggota keluarga kamu. Sedangkan, pria yang jadi korban di kecelakaan mengenaskan itu bukanlah anggota keluargamu... Jadi aku bebas ingin melakukan apapun terhadap pria itu!” ucap Jayden membuat Zeline semakin mengeraskan rahangnya.


"Tapi-” ucapan Zeline tiba-tiba saja berhenti saat sadar dengan apa yang telah ia lakukan.


“Tapi apa? Karena dia sama berharganya dengan keluarga kamu?” Seringai Jayden terukir di wajah tampannya ketika ia mengucapkan itu apalagi melihat reaksi Zeline yang hanya terdiam.


Tangan Jayden terangkat, membelai sisi wajah Zeline. “Dengar Zeline, aku memegang semua kelemahanmu jadi patuhlah dengan setiap ucapanku! Karena aku bisa melakukan apa saja kepada orang-orang berhargamu itu.” ucap Jayden dengan suara berat sarat akan ancaman.


Kemudian Jayden berlalu pergi dari sana meninggalkan Zeline yang menggepalkan tangannya kuat hingga kuku-kukunya memutih. Lalu dengan rasa amarahnya Zeline pun ikut pergi meninggalkan ruang kerja Jayden menuju kamarnya, ah ralat penjara lebih tepatnya.


Brak!


Zeline menutup pintu kamarnya dengan keras lalu setelahnya ia langsung jatuh terduduk di lantai menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana.


Perlahan namun pasti Zeline kembali menintikkan air matanya, tak ada suara dalam tangis itu hanya air matanya saja yang terus mengalir membuat sungai kecil di pipinya. “Kenapa? Gue benci diri gue yang lemah! Gue benci, benci, benci!” racau Zeline memukul kepalanya sendiri dengan keras.


Terus seperti itu, hingga suara notifikasi E-mail masuk ke ponselnya. Zeline mengalihkan pandangannya pada ponselnya dan melihat E-mail masuk dari Revan, asistennya.


Revanbasudewa@gmail.com


Nona anda tak perlu khawatir, Tuan Kalandra berhasil terselamatkan, dia baru saja melewati masa kritis nya, kondisinya pun sudah mulai stabil kini hanya perlu menunggu Tuan Kalandra siuman saja.


Saya akan terus mengabari anda bagaimana setiap perkembangan kondisinya, jadi anda tak perlu khawatir.


Tuan, Nyonya, Tuan muda, dan Nona muda mereka semua aman, anda tak perlu khawatir saya akan meningkatkan penjaga pada mereka termasuk kepada Tuan Kalandra juga.


Jaga kesehatan anda, Nona.


Usai membaca E-mail dari Revan Zeline akhirnya menghembuskan nafasnya sedikit lega, “Lo harus sembuh Bang, gue gak mau lo luka gara-gara gue lagi.“ batin Zeline lalu setelah iapun beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.


.


.


.


Sementara itu keadaan di mansion keluarga Galaksi terlihat dirundung oleh rasa sedih sebab untuk kedua kalinya putri bungsu keluarga ini yang kembali menghilang, tapi tidak bisa di sebut menghilang juga karena Zeline putri bungsu mereka itu berpamitan pada mereka.


Malam di saat Zeline pergi dengan Jayden...


Malam itu seusai makan malam keluarga selesai, mereka semua berkumpul di ruang keluarga untuk menghabiskan waktu mereka sebelum tidur dengan berbagi canda tawa dan cerita. Karena sangat kebetulan sekali malam itu semua anggota keluarga Galaksi berkumpul.


Zeline yang duduk di antara keluarganya terlihat tersenyum tipis bahkan mungkin sangat tipis hingga seseorang saja tak dapat melihat senyumnya itu.


“Mama tahu, tadi siang waktu aku, Acha dan Celine jalan-jalan di taman kota. Celine terjungkal gara-gara kakinya sendiri mana pas jatuh mukanya nyium kotoran kucing yang baru bab lagi hahaha... ” Dylan bercerita dengan tawa renyah di akhir dan membayangkan kembali kejadian tadi siang saat sang adik jatuh.


“Udah gitunya Ma, muka dia lucu banget pas jatuh...” ucap Dylan menunjuk Celine yang duduk menyandar pada bahu sang ayah yang juga ikut terkekeh di buatnya.


Celine yang melihat Dylan menertawakannya dengan sangat puas atas apa yang menimpanya tadi siang tentu saja kesal dan dengan kejam ia melemparkan bantal sofa tepat mengenai wajah sang kakak. “Ketawa lo!” sinis Celine pada sang Kakak.


“Bukannya bantuin adeknya lo malah ngetawain gue puas banget, untung aja ada kak Acha. Mana malu banget lagi aku di liatin sama banyak orang.”


Di tengah kehangatan yang tercipta di ruang keluarga itu, Zeline bangun dari duduknya saat matanya melihat jam dinding membuat semua mata tertuju padanya dan menghentikan tawa mereka.


“Mau ke mana, Dek?” tanya Dylan mewakili mereka semua.


“Ini udah malam, Dek, gak bisa apa ketemuannya besok pagi aja?”


“Yang di bilang Papa kamu bener, ini udah malam gak bisa di undur aja gitu?” timpal Clara dan mendapat gelengan dari Zeline.


“Gak bisa, lagian cuma sebentar kok.”


“Kalo gitu, biar Abang anterin sekalian abang tungguin sampe urusan kamu sama temen kamu selesai.” Dylan bangun dari duduknya untuk pergi ke kamarnya mengambil jaket.


Namun Zeline kembali menggeleng, “Gak usah, Bang, aku sendiri aja. Aku ganti baju dulunya,” ucap Zeline berlalu ke kamarnya untuk mengganti bajunya yang tak butuh waktu lama ia sudah turun kembali dengan pakaian yang sudah rapi bahkan mungkin kelewat rapi.


“Kamu yakin cuma ketemu temen? Kok bajunya rapi banget ke mau pergi jauh,” cetus Celine melihat penampilan sang adik dari atas sampai bawah.


“Enggak kok, kak. Yaudah aku pamitnya, Assalamu'alaikum, aku sayang kalian semua.” ujar Zeline mengecup tangan mereka semua satu persatu lalu pergi meninggalkan Galaksi Fam's yang pada saat ia sudah benar-benar pergi dari rumah langsung merasakan perasaan tak enak.


Di tambah lagi ucapan pamit Zeline sedikit berlebihan hanya untuk pergi sebentar menemui sang teman.


“Perasaan aku kok tiba-tiba gak enak, ya Pa.” ucap Clara memeluk lengan sang suami sambil memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


Namun sampai keesokan paginya Zeline tak kunjung pulang juga bahkan hingga saat ini setelah dua minggu berlalu sejak Zeline yang berpamitan pergi malam itu.


Bahkan di saat pagi itu juga Galaksi mengirim orang-orangnya untuk mencari keberadaan Zeline namun sudah dua minggu berlalu dan belum ada tanda-tanda mereka menemukan jejak keberadaan Zeline hingga saat ini. Membuat mereka semakin khawatir jika suatu hal yang buruk menimpa Zeline.


Galaksi menghembuskan nafasnya pelan dan menaruh alat makannya di samping piringnya. “Papa tahu kalian sedih, Papa juga tapi, mau sampai kapan? Zeline pasti akan ketemu kalian jangan khawatir,” ucap Galaksi membuat Celine menatap dirinya dengan pandangan sendu.


“Tapi Pa, kita gak bisa gak khawatir, kita bahkan gak tahu gimana keadaan dia baik-baik aja atau engga.”


“Iya, iya, Papa juga tahu tapi, kita juga gak bisa terus sedih kayak gini. Apalagi kamu bentar lagi ujian jadi jangan terlalu sedih nanti kalau kamu stress, terus sakit gimana? Bukan cuma gak bisa ujian tapi kamu juga gak bisa cari keberadaan adek kamu. Ini berlaku juga buat kalian berdua terutama kamu Dylan, bentar lagi juga kamu sidang skirpsi dan sebulan kemudian kamu juga bakal nikab, jadi kita harus jaga kesehatan bener-bener.” ucap Galaksi panjang lebar membuat semua orang yang ada di meja makan itu menundukkan kepalanya.


Di tengah perbincangan mereka tiba-tiba saja seorang pelayan datang dari arah depan lalu membungkukkan badannya kearah sang tuan rumah. “Tuan, Nyonya, maaf mengganggu di depan ada tamu yang ingin bertemu,” ucap si pelayan tersebut membuat kerutan dari Galaksi dan Clara termasuk Dylan dan Celine juga.


“Siapa?” tanya Galaksi beranjak dari duduknya diikuti oleh yang lain.


“Saya kurang tahu, dia tidak menyebutkan namanya.”


“Hmm, yaudah kalau gitu buatin minum buat tamunya sana.“


Lalu pelayan itupun menganggukkan kepalanya sambil berlalu menuju dapur sementara Galaksi fam's pergi untuk menemui siapa yang bertamu ke rumah mereka sepagi ini.


Begitu sampai di ruang tamu dapat Galaksi lihat seorang pemuda dengan pakaian formal khar orang perkantoran tengah duduk tenang menunggu mereka.


“Maaf, siapa ya?” Tanya Galaksi saat sampai di dekat si pemuda yang langsung bangun dari duduknya lalu mengulurkan tangannya sambil tersenyum kearah Galaksi.


“Selamat pagi, Tuan Galaksi maaf mengganggu waktu sarapan kalian dengan bertamu sepagi ini. Perkenalkan saya Revan Basudewa asisten pribadi Nona Zeline Zakeisha putri anda.” ucap pemuda itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.


Clara, Dylan dan Celine yang mendengar orang yang mengaku bernama Revan dan asisten pribadi Zeline itu saling melemparkan tatapan mereka heran dengan pertanyaan di kepala mereka, “Zeline punya asisten pribadi? Sejak kapan?”


Melepaskan jabatan tangan mereka Galaksi pun mempersilahkan Revan untuk duduk kembali sedangkan ia duduk di single sofa samping kanan Revan dan ketiga orang lainnya yang ada di sana duduk di sofa panjang sisi kiri Galaksi.


“Jadi ada keperluan apa?” celetuk Clara karena sudah sangat penasaran dan berharap bahwa pemuda di depannya itu bisa memberi mereka petunjuk tentang di mana keberadaan Zeline saat ini.


Revan tersenyum kecil kepada Clara sebelum menjawab pertanyaan perempuan paruh baya tersebut. “Tuan anda tak perlu mencari keberadaan Nona lagi, keadaan dia baik-baik saja kalian tak perlu khawatir. saya datang ke sini untuk menyampaikan pesan Nona untuk kalian ia berkata supaya kalian menjalani kehidupan kalian seperti biasanya tak perlu bersedih dan berusaha mencari keberadaannya karena, beliau mengatakan kepada saya bahwa ia mungkin tak akan kembali selama beberapa tahun yang tidakk dapat di tentukan waktunya.“ ucap Revan menjeda ucapnya dan mengalihkan tatapannya yang tadi menatap manik Galaksi dan Clara menjadi kepada Dylan dan Celine.


“Beliau bilang maaf karena mungkin saat di pesta pernikahan kalian ia tak bisa hadir. Maaf juga karena lagi dan lagi ia pergi tanpa menjelaskan apapun pada kalian.” Revan menatap satu persatu wajah yang tengah berbicara dengannya itu dengan senyum kecilnya.


“Apa Zeline benar-benar baik-baik saja saat ini? Di mana dia sekarang?“ tanya Clara menautkan jemari-jemari lentiknya gelisah.


“Ya Nona benar baik-baik saja anda tak perlu khawatir, Nyonya. Sementara keberadaannya sekarang di mana, saya juga tak tahu.”


Lalu Revan pun bangun dari duduknya merapihkan jasnya, kemudian melemparkan senyumannya pada empat orang di sana. “Baiklah hanya itu yang ingin saya sampaikan kepada kalian, sekali lagi maaf karena mengganggu waktu sarapan kalian, saya permisi.“ ucap Revan membungkukkan sedikit badannya lalu berlalu pergi dari mansion keluarga Galaksi meninggalkan satu keluarga itu yang hanya termangu di tempat mereka sambil mencerna semua apa yang di katakan oleh Revan.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...