Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Mogok



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Di sepanjang perjalanan kembali ke kelas Zeline hanya bisa memikirkan ucapan keras kepala Kalandra tadi. Huft~ di hari-hari selanjutnya nanti pasti hidupnya tidak akan bisa tenang seperti dulu lagi. Pikir Zeline menghela nafas lelah sambil menundukkan kepalanya.


Di saat ia meratapi keseharian ia di kemudian hari tiba-tiba saja seseorang menghadang jalannya dan mendorong pundaknya keras hingga membuat ia mundur beberapa langkah dan punggungnya membentur pada dinding di belakangnya.


Begitu punggungnya membentur pada dinding Zeline sedikit meringis. "Sialan!" desisnya dalam hati sambil mendongakkan kepala untuk melihat siapa orang yang telah mendorongnya tanpa alasan.


Dengan sorot mata tajam nan dinginnya Zeline menatap salah satu gadis angkuh yang berdiri diantara kedua antek-anteknya. "Apa lo liat gue kayak gitu?! Mau gue colok mata lo!" ujarnya sambil membuat gerakan seperti akan benar-benar mencolok kedua mata Zeline.


Menghembuskan nafasnya kasar Zeline memilih untuk berjalan melewati tiga orang di depannya itu tanpa mau menghiraukan ucapan gadis tadi.


Namun salah satu orang yang berdiri di sisi kiri gadis yang menegurnya tadi itu justru malah menghadang jalannya, membuat ia tambah mendatarkan raut wajahnya.


"Mau kemana lo?! Urusan kita belum selesai ya" ucap gadis berambut sebahu bergelombang nya dengan nada tak bersahabat.


"Gue rasa, gue gak punya urusan apa-apa sama kalian"


"Asal lo tahunya, sejak lo kegatelan deketin Pak Kalandra sama Kak Luke sejak itu pula lo punya urusan sama kita-kita" sentak gadis pertama yang bisa kita panggil saja dia,Vallen.


Ahh Zeline mengerti sekarang ternyata mereka ini fans² fanatik dua orang yang mengganggunya belakang ini.


"Terus, urusannya sama gue apa?" jengah Zeline memutar matanya malas seraya melipat tangannya di depan dada menatap satu persatu orang yang berdiri mencegat dirinya.


"Jauhin mereka!" titah gadis berambut panjang lurus menyahut setelah sedari tadi diam memperhatikan kedua sahabatnya yang lain.


"Oke. Udahkan? Gue mau ke kelas, minggir!" ucap Zeline berlalu begitu saja dengan santai setelah mendapat labrakan tak bermutu dari tiga orang gadis itu. "Buang-buang waktu berharga gue aja" malas Zeline dalam hati.


Sedangkan itu tak jauh dari tempat Zeline dilabrak tadi Celine dan Jasmine yang hendak kembali ke kelasnya juga terlihat menertawakan tingkah bodoh ketiga gadis yang baru saja melabrak Zeline.


"Puft.. Bodoh banget" cibir Celine yang mendapat anggukan setuju dari Jasmine yang juga menertawakan tiga gadis itu.


"Huh~ udahlah ayo balik ke kelas" ajak Jasmine menyeret lengan Celine yang masih cekikikan.


...Zeline Zakeisha...


Sementara itu di salah satu meja kantin fakultas Bisnis universitas Artanigara terlihat dua orang pemuda yang tengah berbincang ria.


"Jadi perasaan lo sama Dia masih sama?" tanya pemuda yang memiliki rambut gondrong itu pada sang sahabat yang duduk di sampingnya, Erland.


Dylan yang mendapat pertanyaan dari sahabatnya itupun seketika mengulas senyumnya. "Iyalah, dia cinta pertama gue kalo lo lupa" sahutnya membuat Erland menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Ini udah hampir 7 tahun dan lo masih suka sama dia. Woah~ ini bener-bener gak bisa di percaya, terus selama 2 tahun terakhir ini ngapain dong lo ngejar-ngejar cewek dari fakultas seni itu?"


Mendengar kembali pertanyaan yang dilontarkan Erland, Dylan menolehkan kepalanya sambil menebarkan seringai tipisnya. "Tentu aja buat seneng-seneng dan cari masalah sama si Arzan" ucap Dylan membuat Erland menoleh kepadanya lalu menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


"Woah~ lo bener-bener ya Lan. Terus yang kemarin lo sakit itu bukannya gara-gara lo terpukul sama kenyataan kalau si Nesya udah tunangan sama si Arzan ya?"


"Ck. Mana ada, gue udah tahu dari lama kali kalau mereka udah tunangan sedangkan, kemarin itu gue sakit bener-bener murni karena lupa makan dan malah minum 10 kaleng soda makanya gue sakit" jelas Dylan membuat Erland mengangguk-anggukan kepalanya mengerti lalu mengedarkan tatapan ke penjuru kantin yang luas dan penuh akan lalu lalang mahasiswa/i.


Dan saat ia menangkap sosok gadis yang tadi di bicarakannya bersama Dylan iapun segera menyenggol lengan sahabatnya itu sambil menujuk gadis yang baru saja masuk ke dalam kantin itu menggunakan dagunya.


Membuat Dylan yang melihatnya bingung namun pandangannya terlihat mengikuti arah tunjukkan Erland. Dan begitu ia melihat sosok yang amat di kenalinya itupun seketika kedua sudut bibirnya terangkat lebar hingga menampilkan kedua dimple ya.


"ACHA!" teriaknya memanggil gadis itu yang terlihat tengah mencari tempat duduk, dan ketika mendengar namanya dipanggil oleh Dylan pun seketika gadis itu berjalan kearah sumber suara.


"Apa?" tanya Acha begitu ia sampai di meja tempat Dylan dan Erland berada. Masih dengan senyumannya Dylan pun berucap "Beliin gue chicken sama greentea sana, uangnya punya lo dulu"


Acha mendengus "Ish! uang gue udah abis, jadi pake uang lo aja sini" ucap Acha menyodorkan telapak tangannya pada Dylan yang justru terkekeh namun tangannya terlihat merongoh saku celananya dan mengambil tiga lembar uang berwarna merah dari dompetnya.


"Yaudah nih, sekalian lo beli makanan buat lo sendiri" ujar Dylan memberikan uang itu kepada Acha yang merekahkan senyumnya ketika menerima uang yang diberikannya.


Kini Acha menoleh kepada Erland yang tengah menatap interaksi mereka berdua. "Lo mau gue sekalian pesenin gak?" tanya Acha pada Erland.


"Mau kapan lo ungkapin perasaan lo sama dia?" tanya Erland begitu Acha telah pergi jauh dari tempat mereka. Dylan yang masih memandangi punggung Acha yang menjauh pun menolehkan kepalanya kepada Erland.


"Nanti, sekarang belum waktunya" sahutnya dan kembali menatap kearah perginya Acha tadi.


"Jangan ditunda lama-lama nanti ada yang nikung lagi. Lo tahukan Acha itu cantik banyak cowok yang pengen deketin dan milikin dia, jadi lo harus gercep" nasihat Erland sebelum mengeluarkan handphonenya.


Mengacuhkan Dylan yang terdiam akan nasihat yang diberikan Erland. "Yang diomongin Erland bener juga gue harus gercep. Tapi sekarang ini bener-bener bukan waktu yang tepat buat ngungkapin perasaan gue ke dia, ditambah lagi Acha sama kali gak keliatan ada rasa sama gue" Batin Dylan


...𝙕𝙚𝙡𝙞𝙣𝙚 ꁴ​ꋬꀘꏂ꒐ꇙꁝꋬ...


"Hais ni mobil kenapa tiba-tiba mogok sih!" gerutu itu keluar dari mulut Celine yang keluar dari dalam mobilnya dan menendang kesal ban mobilnya. Kepalanya terlihat celingak-celinguk kesana kemari mencari apakah sekiranya ada bengkel atau tidak di sekitaran sana.


Namun hasilnya ia sama sekali tak melihat adanya bengkel diarea sini. Sial! Mana cuaca sedang terik-teriknya lagi belum lagi jalanan yang di laluinya ini terlihat sepi, hanya ada beberapa mobil atau motor yang melintas melewati jalanan ini.


“Huh! Apes banget gue. Udah handphone gue mati kehabisan baterai,sekarang nih mobil malah mogok ditengah jalan lagi” ucap kesal Celine sambil membuka kap depan mobilnya yang sedikit mengeluarkan asap.


“Ini masalahnya apa lagi gue gak ngerti mesin” keluhnya memandang bingung bagian mesin mobilnya.


Dan ditengah kegundah-gulananya itu tiba-tiba sebuah motor sport terlihat berhenti di depan mobilnya. Pemuda yang membawa motor itu terlihat turun dari motor besarnya dan berjalan menghampiri Celine.


“Mobil lo kenapa?” ucap pemuda itu ketika ia sudah berada di samping Celine yang tersentak kaget karena mendengar suaranya. Membuat gadis itu sontak menolehkan kepadanya dengan raut wajah terkejut.


“Kenapa lo bisa disini?” bukannya menjawab pertanyaan pemuda tadi Celine justru malah balik bertanya pada sosok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Alan.


Mendengar pertanyaan gadis di sampingnya Alan sontak mendatarkan wajahnya menatap gadis itu. “Ini jalan ke rumah gue, kebetulan gue liat lo yang lagi misuh-misuh di pinggir jalan ngerusak pemandangan” ucap Alan dengan nada menjengkelkan di telinga Celine.


“Ck. Yang ada elo kali yang ngerusak pemandangan” dengus kesal Celine sambil mengalihkan pandangannya kembali pada mesin-mesin mobil di depannya.


“Jadi mobil lo kenapa?” ucap Alan mengulang kembali pertanyaannya tadi sambil ikut melihat mesin mobil gadis di sampingnya ini.


“Gue gak tahu, tadi tiba-tiba mati dan ngeluarin asap.” jelas Celine menggedikkan bahunya tak tahu yang mana di balas anggukan kepala mengerti oleh Alan yang kini mulai mengotak-atik mesin mobil Celine. Sementara Celine berpindah jadi berdiri disamping mobilnya sambil memperhatikan Alan yang terlihat ahli dalam masalah permesinan.


“Hmm nih cowok kalo lagi serius gini kok keliatan tambah ganteng ya?” batin Celine memperhatikan setiap garis wajah Alan dari samping yang terlihat berkali-kali lipat lebih tampan ketika tengah serius.


Dan karena terlalu larut dalam lamunannya mengagumi setiap inci wajah Alan Celine sampai tak sadar kalau sekarang pemuda itu juga tengah balik menatapnya setelah menutup kap mobilnya yang tadi terbuka.


Satu alis Alan terlihat terangkat ketika melihat gadis di depannya itu. “Woy! Ngelamunin apaan lo? Sana coba nyalain mesin mobil lo.” suruh Alan seraya menyeka keringat di pelipisnya menggunakan punggung tangannya.


Dan hal itu tak luput dari pandangan Celine, “Gila. Hot banget” ujar Celine kembali membatin ketika melihat Alan yang kini berjalan menghampirinya. Hingga ketika ia sudah berdiri tepat di depan Celine tanpa perasaan Alan mendaratkan sentilan maut di kening Celine yang tak tertutup poni.


*Tak!


“Aww! Yak! Apa-apaan sih lo?!” sentak Celine memegangi keningnya yang sakit karena sentilan Alan yang tak main-main.


“Lo yang apa-apaan, sana nyalain mesin mobil lo gue udah beres.” titah Alan membuat Celine menggerutu sambil berjalan menuju pintu mobilnya dengan tangan yang sibuk mengusap-usap keningnya yang dapat dipastikan memerah karena ulah Alan tadi.


*Brumm Brumm


Suara mesin mobil Celine ketika ia menstatirnya membuat gadis itu tersenyum senang karena mobilnya kembali hidup. Lalu iapun menutup pintu mobilnya kembali dan berjalan mendekat kearah Alan yang tengah membersihkan tangannya dari oli menggunakan saputangan di dekat motor besarnya yang terparkir di bawah pohon.


“Udah nyala, Thank you ya Lan. Lain kali gue bakal traktir lo sebagai tanda balas budi gue ke lo” Celine berujar tulus dengan senyumnya yang mengembangkan dan mengulurkan tangannya kepada Alan guna berjabat tangan.


Alan yang mendengar dan melihat Celine mengulurkan tangan kearahnya pun menerima uluran tangan itu seraya berucap. “It's okay, traktirannya gue tunggu” balas Alan tersenyum tipis yang mana hal itu membuat Celine sedikit melebarkan matanya karena baru pertama kali melihat senyuman Alan, yah walaupun hanya senyum tipis.


Melepaskan jabatan tangan keduanya Celine pun memutuskan untuk berpamitan pada Alan karena hari telah beranjak sore.


“Kalo gitu gue duluan, bye.” ucap Celine berbalik pergi menuju mobilnya dan hanya mendapat anggukan kepala dari Alan yang juga memakai helmnya seraya menaiki motor besarnya. Dan setelah itu mereka berdua pun berpisah di sana untuk pergi menuju rumah masing-masing.


...тнαηк ᵧₒᵤ 𝒇𝒐𝒓 𝗿𝗲𝗮𝗱𝗶𝗻𝗴...


.......


.......


.......


.......


...𝗧𝗼 𝓑𝓮 ℂ𝕠𝕟𝕥𝕚𝕟𝕦𝕖𝕕...