Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Bertengkar



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Sekitar pukul setengah dua belas malam Celine sampai di rumahnya tentunya diantarkan oleh Alan.


Gadis dengan surai panjang yang dibiarkan tergerai itu dengan segera beranjak keluar dari dalam mobil lalu menutup pintu mobil tersebut.


“Makasih buat malam ini dan udah mau anterin gue pulang.” ucap Celine menatap Alan yang juga balas menatapnya dari dalam mobil dengan senyum khas pemuda itu.


“It's okay, lagipula gue juga kan yang ngajak lo keluar jadi gue harus nganterin lo pulang juga. Gue juga makasih ke lo karena udah mau habisin malam ini bareng gue,” balas Alan tersenyum amat sangat tampan kepada Celine yang kini jantungnya kembali berdetak kencang akibat melihat senyum pemuda itu


Menganggukkan kepalanya kecil Celine pun berujar, “Hmm.. Yaudah sana gih balik udah larut malem banget ini. Hati-hati dijalan nya. jangan ngebut!” Dan mendapat anggukan kepala dari Alan yang setelahnya langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman depan rumah Celine tentu setelah pemuda itu berpamitan kepada Celine.


Setelah memastikan Alan keluar dari gerbang halaman rumahnya Celine pun membalikkan tubuhnya guna beranjak masuk kedalam rumah dan membuka pintu rumahnya yang pastinya telah terkunci itu menggunakan kunci cadangan miliknya.


Kemudian sesaat setelah ia telah masuk kedalam rumah dan tengah kembali mengunci pintu, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh suara seseorang dari balik belakang tubuhnya. “Lagi-lagi lo jalan sama Alan?” ucap dingin orang itu dengan nada sedikit jengah.


Celine membalikkan badannya dengan sebelah tangannya mengusap dadanya mencoba menetralkan denyut jantungnya yang berdetak cepat karena terkejut.


“Zeline! Lo ngagetin aja sumpah! Gimana kalo gue kena serangan jantung, hah?!!” Celine mengeram kesal ketika mendapati sang adik yang berdiri tak jauh darinya sambil bersidekap dada dan menatap dirinya dengan pandang datar.


“Lo jalan sama dia lagi?” Zeline kembali mengulangi ucapannya pada sang kakak tadi.


“Iya.” balas Celine dengan seulas senyum tipis dan melangkahkan kakinya melewati sang adik untuk pergi menuju kamarnya di lantai atas. Tapi baru saja ia sampai dianak tangga kedua langkahnya tiba-tiba saja terhenti ketika mendengar ucapan sang adik yang entah untuk kesekian kalinya memperingati dirinya agar menjauh dari Alan.


“Gue udah bilang berkali-kali sama lo kak, jauhin Alan dan jangan terlalu deket sama dia!”


Tangannya yang berpegangan pada pegangan anak tangan itu terlihat mengerat, memejamkan matanya sebentar Celine pun berucap membalas perkataan Zeline dengan kesal penuh emosi.


“Mau lo sebenarnya apa sih, Ze?! Gue bosen denger lo terus ngelarang-larang gue buat jangan terlalu deket sama Alan. Lo deket sama dua cowok sekaligus bahkan udah jadian sama salah satunya aja gue gak larang! Tapi lo! Kenapa selalu larang gue?!” ucap Celine tanpa membalikkan badannya menghadap sang adik yang kini tatapannya sudah berubah sendu. “Oh atau jangan-jangan lo sebenernya suka sama Alan, iya?!!” tambah Celine dan kali ini menolehkan kepalanya pada Zeline.


“Bukan Kak-”


“Alah udahlah lo gak perlu ngelak! Bilang aja kalau lo emang suka sama Alan!” Celine memotong ucapan Zeline dan setelah itu berlalu pergi begitu saja menuju kamarnya tanpa mau mendengar ucapan Zeline.


Sementara Zeline yang mendengar ucapan sang kakak hanya bisa menghela nafas seraya menatap sendu kearah punggung Celine yang perlahan demi perlahan semakin menjauh dan menghilang ketika gadis itu telah memasuki kamarnya.


“Maksud gue bukan begitu kak. Gue cuma gak mau lo terluka, itu aja.” lirih Zeline dalam hati sebelum iapun pergi dari ruang keluarga rumahnya menuju kamarnya sendiri.


...~͓̽~͓̽Z͓̽e͓̽l͓̽i͓̽n͓̽e͓̽ ͓̽Z͓̽a͓̽k͓̽e͓̽i͓̽s͓̽h͓̽a͓̽~͓̽~͓̽...


Keesokan paginya Celine memilih untuk melawatkan sarapan paginya bersama seluruh anggota keluarganya seperti biasa, dengan pergi ke sekolah pagi-pagi sekali karena ia tak mau bertemu dengan Zeline, sang adik. Celine masih terlalu kesal karena pertengkaran mereka malam tadi dan larangan-larangan Zeline agar ia menjauhi Alan.


Karena pada nyatanya ia sudah sangat tak mampu jika harus menjauh dari sosok pemuda itu. Jika kalian berpikir Celine telah jatuh cinta pada pemuda itu maka jawaban kalian seratus persen benar, karena apa? Celine memang sudah jatuh pada pesona dan kenyamanan yang diberikan pemuda itu kepadanya.


Celine tak berbohong! entah sejak kapan tapi ia yakin dengan perasaannya bahwa ia telah jatuh cinta pada sosok Alan.


...


“Kenapa malah jadi gini? Gue cuma mau ngelindungin semua anggota keluarga gue supaya gak terluka. Tapi kenapa harus serumit dan sesusah ini?” Batin Zeline terlihat melamun ditengah-tengah ia memakan sarapannya membuat Clara yang memperhatikan putri bungsunya itu mengerutkan keningnya heran, ini tak seperti biasanya Zeline melamun di tengah-tengah makan. Pikir Clara.


“Zeline? Sayang? Hey, you okey?” tanya Clara menyadarkan Zeline dari lamunannya lalu menatap kearah sang ibu dan memperlihatkan senyum tipisnya yang jarang terlihat.


“I'm Fine.” jawabnya singkat seraya menganggukkan kepalanya.


“Are you sure?” timpal Galaksi ikut bertanya yang mana hanya di balas anggukan kepala dari Zeline. 


Setelah beberapa saat kemudian Zeline pun menyelesaikan sarapan paginya lebih dulu lalu bangun dari duduknya untuk berangkat ke sekolah. “Ma, Pa, Aku berangkat.” pamit Zeline seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian.


Dylan yang sedari tadi diam dan melihat adik keduanya itu akan berangkat ke sekolah pun langsung menyelesaikan acara sarapannya dan ikut beranjak untuk pergi menuju kampusnya.


“Ayo biar Abang anterin.” ucap Dylan ketika ia berhasil menyusul Zeline yang hendak masuk kedalam mobil yang biasa mengantar jemputnya ke sekolah.


“Tumben? Gak perlu lah, gue bisa berangkat sendiri.” tolak Zeline membuat Dylan berdecak sebelum menariknya menuju mobil milik pemuda tersebut dan menyuruh Zeline masuk kedalam mobilnya itu. Setelah Zeline masuk kedalam mobil Dylan pun menyusul masuk kedalam mobilnya dan duduk di kursi kemudi lalu mulai menyalakan dan melajukan mobilnya itu keluar halaman depan rumahnya untuk pergi mengantar Zeline.


Untuk sesaat keadaan didalam mobil itu sepi karena Zeline yang memang tak banyak bicara atau mungkin malas memulai percakapan.


“Kalo lo lagi banyak pikiran, cerita sama gue dek. Gue Abang lo.” ucap Dylan memecah keheningan diantara mereka matanya melirik sekilas kepada Zeline yang lagi-lagi menghela nafasnya namun tak mengeluarkan suara apapun untuk membalas ucapan Dylan.


“Semalem, gue denger pertengkaran lo sama Celine. Lo ngelarang dia buat deket sama cowok itu lagi pasti punya alasannya, dan alasan lo itu gue yakin bukan karena lo suka sama cowok itu” lanjut Dylan karena tak mendapat jawaban dari Zeline.


Kali ini Zeline menatap sang kakak sekilas sebelum memandang lurus ke depan jalanan dan menganggukkan kepalanya kecil mengiyakan ucapan sang kakak. “Lo pasti tahu Bang, alasan gue ngelakuin itu kan? Gue cuma pengen ngelindungin kalian.” lirih Zeline membuat Dylan tersenyum lembut dan menoleh kepada sang adik ketika mobilnya berhenti di lampu merah.


Tangannya terulur mengusap puncak kepala Zeline sayang. “Gue tahu, Ze. Bagi lo keluarga adalah prioritas utama lo dan semua yang lo lakuin pasti dengan tujuan ngelindungin keluarga kita. Tapi lo juga tahu sendiri kadang Celine itu berpikir kekanakan bahkan sifat lo itu lebih dewasa dibanding dia. Jadi mungkin Celine belum ngerti sama apa yang lo ucapin sekarang, karena lo ngasih tahu dia gak ada setengah-setengahnya. Lo cuma ngasih tahu dia intinya doang, jadi dia gak bisa nangkep semuanya. Tapi gue yakin setelah ini dan dia tahu apa yang lo maksud pasti dia bakal ngerti dengan sendirinya.” ucap Dylan panjang lebar dengan nada yang begitu lembut.


Lalu setelah itu Dylan pun kembali melajukan mobilnya ketika lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau. Sementara Zeline hanya terdiam setelah mendengar ucapan Dylan. Apa yang dikatakan kakak sulungnya itu benar, kadang sifat Zeline dan Celine itu seperti tertukar dimana adiknya yang terlalu cepat dewasa sedangkan sang kakak masih di posisi kekanakan dan labil.


“Udah jangan dipikirin, cepat atau lambat setelah Celine ngerti sama maksud ucapan lo itu, kalian bakal baikan dengan sendirinya.” ucapan Dylan menghentikan laju mobilnya di depan gerbang sekolah Zeline.


“Tapi kalo gitu kak Celine pasti bakal terluka, Bang.”


“Itu udah resiko dia. Kenapa gak dengerin nasihat adik cantiknya ini.” ujar Dylan mencubit pelan hidung mancung Zeline. “Udah sampek, sana masuk! Nanti gerbang keburu di tutup lagi” tambah Dylan menunjuk keluar mobil menggunakan dagunya kepada sang adik yang kini menolehkan kepala ke samping jendela pintu mobil dan melihat jika mereka telah sampai di sekolahnya.


“Hmm yaudah, kalau gitu gue duluan ya Bang, makasih udah anterin gue. Hati-hati!” pamit Zeline seraya keluar dari mobil Dylan lalu masuk kedalam sekolahnya meninggalkan Dylan yang masih memperhatikan tubuh mungil sang adik. “Sedewasa apapun sifat elo, dan sampai kapanpun lo bakal tetep jadi adik kecil gue yang masih harus dapat arahan dari kakak-kakaknya, Ze.” Batin Dylan lalu melajukan mobilnya pergi meninggalkan gerbang sekolah sang adik untuk pergi menuju kampus.


...***Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued***...