
Revan memasuki ruangan Zeline setelah beberapa saat yang lalu perempuan itu memanggil dirinya ke ruangannya.
“Oh kamu sudah di sini? Duduklah aku ingin mengatakan sesuatu!” ujar Zeline menyuruh Revan untuk duduk di kursi depan meja kerjanya, dan pria itu hanya menurutinya tanpa banyak bertanya.
“Malam ini aku akan berangkat dinas ke luar negeri untuk beberapa hari jadi kamu yang akan memegang perusahaan selama aku pergi,” tutur Zeline membuat Revan yang mendengarnya membulatkan matanya terkejut, pasalnya sebelum ini Zeline tak mengatakan apapun padanya atau menyuruh dirinya untuk membelikan tiket pesawat dan menyiapkan keperluannya nanti di luar negeri.
“Kenapa mendadak sekali? Anda tidak mengatakan apapun sebelumnya.”
“Sekarang aku sudah mengatakannya. Sudah kamu bisa keluar aku hanya ingin mengatakan itu.. Oh iya tanda tangani ini sebelum kamu pergi keluar!” Zeline mendorong sebuah dokumen kearah Revan yang sudah hendak beranjak dari duduknya.
“Apa ini?” tanya Revan mengambil dokumen itu dan hendak melihat judul dokumennya namun di tahan oleh Zeline.
“Tanda tangani saja! ” Zeline memerintah dengan aura dingin dan tegas tak mau di bantah, membuat Revan mau tak mau menurut dan menandatangani dokumen tersebut.
“Baiklah, ambil ini setelah kamu mendengar kabarku.” ucap Zeline menyimpan dokumen tersebut di laci paling bawah meja kerjanya dan lagi membuat dahi Revan mengernyit.
.
.
.
Kalandra bangun dari tidurnya dan menatap sekelilingnya yang terasa asing tak seperti kamarnya. Sebelum satu detik kemudian ia mengingat bahwa semalam ia baru saja menghabiskan malam panas bersama Zeline.
Pria yang sudah berkepala tiga itu seketika mengulum senyumnya saat mengingat kejadian semalam lalu matanya bergulir mencari keberadaan Zeline dan melihat jam yang sudah menunjukkan jam makan siang.
“Kemana Zeline? Apa ia sedang menyiapkan makan siang di dapur?” monolog Kalandra beranjak dari atas ranjang menuju luar kamar mencari keberadaan Zeline.
Namun saat ia sampai di dapur ia tak melihat siapapun hanya menemukan beberapa makanan yang sudah dingin di tutup di atas meja. Karena tak mendapati keberadaan Zeline di dapur Kalandra pun berniat pergi dari sana sebelum tanpa sengaja ia melihat secarik kertas yang terselip di bawah piring.
Karena penasaran Kalandra pun mengambil kertas tersebut yang ternyata berisi surat.
Hai Bang Kala, gue Zeline
haish.. Kenapa gue malah perkenalan padahal lo kan pasti udah tahu kalau ini gue.
Pas baca surat ini lo pasti udah bangun, kan?
Gue cuma mau bilang jaga kesehatan lo ya? Lo harus sehat-sehat Bang, jangan sakit apalagi besok lo kan mau nikah juga. Setelah lo nikah jadi kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab sama keluarga lo ya! Jaga keluarga lo, sayangi istri dan anak-anak lo kelak dan hidup lah lebih bahagia dengan keluarga lo.
Jangan terjebak di masa lalu terus Bang, tapi cobalah lihat ke depan dimana Elisha berada sebagai masa depan lo.
Gue hanya masa lalu lo bukan masa depan lo, jadi cukup simpan gue di sudut hati lo yang paling dalam dan jadikan gue sebagai bagian dari kenangan lo di masa lalu.
Gue sayang sama lo, Bang. Sayang banget malah, tapi, gue juga pengen lo lebih bahagia.
Ingat pesan gue Bang, lo harus jadi suami dan ayah yang bertanggungjawab kepada istri dan anak-anak lo! Lo juga harus bahagia!
Karena kalau lo bahagia gue juga ikut bahagia!
Usai membaca isi surat itu seketika mata Kalandra berkaca-kaca, tangannya meremas surat tersebut keras hingga terlihat kusut. “Kenapa Ze? Sekali lagi lo ninggalin gue. Kalau ini keinginan lo maka gue bakal turutin itu! Mulai sekarang lo hanya masa lalu gue dan hanya orang asing buat gue!” monolog Kalandra kembali masuk kedalam kamar untuk memakai kemejanya yang semalam dan mengambil kunci mobil beserta handphonenya lalu pergi meninggalkan apartemen itu.
Saat sampai di depan pintu lift yang terbuka Kalandra menyempatkan untuk menoleh kebelakang melihat pintu unit apartemen Zeline untuk terakhir kalinya. “Kisah kita benar-benar selesai Zeline! ” Batin Kalandra lalu melangkah masuk kedalam lift.
.
.
.
Zeline mengusap lengan sang ibu dan Celine yang saat ini tengah memeluknya dari kedua sisi sambil menangis. Setelah ia mengatakan bahwa ia akan pergi ke luar negeri untuk beberapa hari.
“Sudah dong, Ma, Kak, jangan menangis terus. Aku hanya berangkat dinas untuk beberapa hari saja bukan pergi selama-lamanya.”
Acha yang duduk di samping ibu mertuanya sambil mengusap punggung Clara menganggukkan kepalanya kecil menyetujui ucapan Zeline, Adik iparnya.
“Yang di katakan Adek bener Ma, Line. Zeline cuma pergi sebentar nanti juga pulang lagi kesini kok. Udah ya? Jangan nangis lagi. Nanti kalau Mama kelelahan nangis terus Mama bisa sakit, kamu juga Celine kandungan kamu masih muda jadi jangan sampe stres.“ Ujar Acha, Meski sebenarnya ia juga sedih karena belum lama semenjak Zeline kembali adik iparnya itu sudah akan pergi lagi,
Zeline tersenyum mendengar ucapan kakak iparnya itu, dia akan menjadi bibi lagi saat tadi ketika ia datang untuk memberitahukan keberangkatannya ke luar negeri di sambut dengan suara heboh Mamanya yang begitu bahagia ketika mendengar kabar kehamilan anak kedua Celine.
Ia ikut bahagia, namun sesaat setelah itu kedua orang itu malah menangis kala mendengar ia akan pergi dinas.
Perlahan Clara dan Celine melepaskan pelukan mereka di tubuh Zeline dengan mata sembab dan hidung merah Celine berucap, “Kamu cuma pergi bentar kan? Selama masa hamil. Kakak yang sekarang kakak mau kamu nemenin kakak terus soalnya.”
Zeline tersenyum sendu samar lalu menganggukkan kepalanya pelan sedikit merasa bersalah karena mungkin ia tak bisa memenuhi keinginan Kakak keduanya itu. Entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa malam ini mungkin akan terjadi sesuatu.
“Iya kak, cuma sebentar doang kok.”
“Nanti pas ke bandaranya biar Papa sama Mamanya yang anternya?” Clara berujar dan mendapat anggukan dari Zeline.
Malam pun tiba sekitar jam delapan malam Zeline kini sudah berada di Bandara bersama kedua orang tuanya yang mengantarkan dirinya.
“Kabari kami jika sudah sampai di sana, Oke?” titah Galaksi mengusap kepala Zeline penuh kasih sayang lalu memeluknya dan tak lupa memberikan kecupan di kening gadis itu lama.
Clara pun melakukan hal yang sama kepada Zeline, “Hati-hati di jalan, Sayang. Mama sayang kamu.” ucap Clara mengecup pipi Zeline yang tersenyum tipis.
“Aku juga sayang Mama Papa. Kalau begitu aku perginya, sampai jumpa.” ucap Zeline berlalu pergi dari pandangan Galaksi dan Clara kemudian hilang di kerumunan.
Zeline memejamkan matanya saat pesawat mulai terbang meninggal bandara, semuanya baik-baik saja hingga saat pesawat berada di ketinggian 32 ribu kaki tiba-tiba saja pesawat mengalami turbulence dan cuaca tiba-tiba saja berubah buruk dengan awan gelap yang semakin pekat dan mulai terdengar guntur yang bersahut-sahutan, yang pada akhirnya badai pun datang.
Membuat penumpang menjadi panik akan keadaan tersebut, Zeline yang tadinya terlelap terbangun karena kebisingan yang terjadi di luar pesawat dan di dalam pesawat dimana ada beberapa orang yang nampak mengalami serangan
juga pesawat yang terus mengalami guncangan.
Zeline menatap keluar kaca jendela yang memperlihatkan keadaan yang nampak sangat buruk dengan hujan deras guntur bersahutan dan angin yang berhembus kencang.
“Ternyata firasat gue bener, kalau ini akan menjadi akhir hidup gue, Gue ikhlas. Marvin lo bener gue berhak bahagia tapi bahagia gue bukan di sini.” Ucap Zeline dalam hati dan memejamkan matanya dengan senyum kecil saat merasakan pesawat mulai kehilangan kendali dan mulai terjun bebas.
.
.
.
BREAKING NEWS : PESAWAT DENGAN TUJUAN SELANDIA BARU MENGALAMI KECELAKAAN TADI MALAM!!
Berita kecelakaan pesawat itu memenuhi hampir di seluruh saluran televisi dan internet Dylan yang tengah bersiap untuk berangkat ke acara pernikahan Kalandra, sahabat karibnya itu di kejutkan dengan teriakan sang ibu dan tangisannya.
Acha yang tengah membantu Dylan bersiap-siap juga ikut terkejut saat mendengar itu dan keduanya pun bergegas menuju lantai bawah di mana Clara yang menangis histeris di pelukan Galaksi dan Celine yang tak sadarkan diri dan tengah di bopong oleh Alan menuju kamarnya.
Tadi saat Clara tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton TV ada telpon masuk dari telpon rumahnya dan seseorang di sebrang telpon itu mengatakan bahwa Zeline menjadi salah satu korban dari kecelakaan pesawat yang di tumpanginya semalam dan meminta pihak keluarga untuk datang ke bandara di mana jasad para korban yang telah di temukan di kumpulkan di sana.
Awalnya Clara sempat tak percaya dan akan memarahi sang penelpon tersebut tapi tayangan TV yang tengah menyalanya berpindah ke saluran lain yang menampilkan berita kecelakaan pesawat semalam membuat Clara berteriak shock dan menangis seketika itu juga.
Celine pun yang baru datang ke ruang keluarga langsung duduk di sofa sambil memindahkan saluran televisi yang sedang menyala itupun ikut shock dan berakhir dengan dirinya yang kehilangan kesadaran.
Dylan dan Acha yang baru saja sampai di ruang keluarga terdiam di anak tangga terakhir saat mereka tak sengaja melihat tayangan televisi yang tengah menampilkan kondisi bandara yang ricuh dengan beberapa orang yang di bungkus kantung jenazah di atas lantai.
“I-ini gak mu-mungkin?” ucap Dylan tak percaya dan dalam sekejap langsung menyambar kunci motor di gantungan khusus kunci di dekat pintu lalu bergegas menuju bandara.
Acha yang melihat Dylan pergi tak sempat mencegah ataupun mengejar karena ia masih terlanjur shock.
Sementara itu Kalandra baru saja usai menyelesaikan ijab qobulnya di kejutkan dengan kedatangan Erland dengan penampilan berantakan.
“KALANDRA!!“ Seru Erland saat sampai di aula pernikahan sahabatnya itu membuat semua tamu undangan melihat kearah dirinya. Namun, Erland tak peduli dengan itu ia berjalan cepat kearah Kalandra.
“Lo sama Dylan tela-“
“Itu gak penting! Sekarang ikut gue Zeline dia-”
“Gue gak punya urusan apapun lagi sama Zeline, Er!” Potong Kalandra dengan nada dingin dan raut wajah yang berubah tak berekspresi, membuat Erland terdiam untuk sesaat.
“Gue tahu itu, karena sekarang lo udah nikah. Tapi, ayo ikut gue untuk terakhir kalinya, ayo lihat Zeline sebelum dia di kuburkan.“ ucap Erland berubah sendu.
Kalandra, Elisha dan orang-orang yang berada di sana yang mengenal siapa itu Zeline terlihat membulatkan matanya kaget.
Grep
Kalandra menarik kerah kemeja Erland dengan tatapan yang berubah emosi dan gelisah yang menjadi satu. “Jangan bercanda, Brengsek! Zeline baik-baik aja tadi pagi dia bahkan nyuruh Revan buat ngasih hadiah pernikahan ke gue!”
“Yang ngasih Revan kan? Bukan Zeline. Zeline kecelakaan pesawat semalam dan jasadnya udah di temuin tadi pagi. Sekarang lagi di proses buat di makamin sama keluarganya.” ucap Erland lirih matanya berkaca.
Meski ia tak dekat dengan adik sahabatnya itu tapi ia tahu gimana rasanya kehilangan seorang adik dan juga orang yang di sayang itu bagaimana. Terutama Kalandra sahabatnya ini sangat mencintai adik dari Dylan itu.
Cengkraman di kerah baju Erland mengendur, tatapan Kalandra berubah kosong dan matanya berkaca, “Gak! itu gak mungkin! Zeline baik-baik aja!” Kalandra mundur selangkah dan air matanya jatuh begitu saja.
Elisha yang melihat itupun ikut merasakan sakit, bagaimana kacaunya keadaan Kalandra saat mendengar kepergian Zeline untuk selama-lamanya. Ternyata benar, firasatnya kemarin saat ia bertemu dengan Zeline bagaimana gadis itu mengucapkan salam perpisahan.
Ternyata itu memang benar gadis itu mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya! Pikir Elisha ikut meneteskan air matanya.
.
.
.
Kini Kalandra berdiri seorang diri di depan sebuah kuburan yang nampak begitu masih basah, setelah beberapa saat yang lalu gadis itu, gadis yang menjadi cinta pertamanya, gadis dingin yang menarik perhatiannya, gadis yang menyuruhnya pergi. Justru dia malah pergi, pergi untuk selama-lamanya.
Lagi air mata itu turun membasahi wajah tampannya, suite pengantin nya sudah berubah kotor oleh tanah yang di pijaknya. Kalandra terduduk di samping pusara Zeline sambil terisak pelan.
“Kenapa kamu pergi sejauh ini hm? Jika kamu tak ingin bersamaku setidaknya jangan pergi sampai sejauh ini.”
“Zeline, kamu ingin aku bahagia kan? Aku akan bahagia, meski itu bukan dengan mu seperti yang kamu inginkan, tapi aku mohon kembali lah.”
“Aku mohon Zeline, kembali!” ucap Kalandra menundukkan kepalanya dalam dan tangisnya yang kini terdengar menjadi keras di keheningan sore di area makam itu.
Tak jauh dari sana ada Dylan, Erland dan Elisha istrinya, berdiri sambil menatap sedih Kalandra. Dylan memalingkan wajahnya dengan air mata tak sanggup melihat keterpurukan sahabatnya itu, begitu pula dengan Elisha ia tak sanggup melihat suaminya sendiri yang begitu hancur karena gadis lain.
Erland menepuk pundak Elisha membuat wanita itu menatap kearahnya. “Pergilah, tenangkan dia. Gue tahu sebelum ini pasti Zeline nemuin lo dan nyuruh lo buat bisa bahagia Kalandra*kan? Jadi pergilah buktiin ke Zeline lo bisa bahagiain Kalandra seperti dia yang ngebahagiain Kalandra.” ucap Erland membuat Elisha melebarkan matanya ia lupa tentang janjinya kepada Zeline yang akan membahagiakan Kalandra lebih dari ketika Kalandra masih bersama gadis itu.
Menganggukkan kepalanya pelan, Elisha mengusap air matanya lalu berjalan kearah Kalandra. Kemudian berjongkok di samping Kalandra tersenyum tipis kearah pusara Zeline sebelum berucap. “Zeline, itu nama kamu kan? Makasih nya udah ngebiarin aku ngambil posisi kamu di samping Kalandra. Aku akan tepati janji aku ke kamu waktu itu yang akan membahagiakan Kalandra lebih bahagia lagi ketimbang saat dia bersama kamu. Aku janji.” ucap Elisha lembut membuat Kalandra yang masih menangis mengalihkan pandangannya kepada dirinya.
Elisha pun menatap Kalandra lalu tersenyum lembut, “Zeline minta kamu bahagia kan? Maka wujudkan permintaannya itu, aku akan di samping kamu dan menemanimu untuk mewujudkannya. Kamu mau kan? Mewujudkan permintaan terakhir Zeline sama aku?” ucap Elisha membuat Kalandra menatap matanya lekat untuk beberapa waktu yang cukup lama.
Hingga membuat Elisha merasa gelisah takut jika ia akan kembali di tolak seperti sebelum menikah. Sampai pada akhirnya Kalandra menariknya kedalam dekapan pria itu dan Kalandra mengatakan, “Iya, gue mau. Zeline bilang kalau gue bahagia, dia bakal ikut bahagia. Karena itu gue pengen dia bahagia juga di sana.”
Elisha tersenyum bahagia sambil membalas pelukan Kalandra. “Zeline Makasih.” Ucapnya dalam hati.
END
Akhirnya selesai juga ini cerita, kepada semua readers yang udah baca dan pantengin ini cerita juga ngasih dukungan untuk cerita ini, Ima mau ngucapin banyak banyak terimakasihnya 🙏🌹🥰
Maaf kalau ending ceritanya gak sesuai ekspetasi kalian ya hehehe
Sampai jumpa lagi di cerita Ima yang selanjutnya!!
Thank you for reading
.
.
Don't forget to vote, like and comment!