Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Amnesia dan lumpuh



...Jangan lupa voting, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Di sebuah ruangan yang didominasi oleh warna putih dengan bau obat-obatan terlihat seorang pemuda tengah berbaring lemah tak sadarkan diri dengan perban yang membalut beberapa bagian tubuhnya.


Disamping pemuda itu terdapat seorang wanita yang sepantaran dengannya tengah memandang lekat wajah si pemuda yang masih tampak rupawan meski pucat. “Kalandra cepat bangun ya? Gue rindu lo, Lo udah seminggu tidur tapi cewek yang lo suka itu bahkan gak pernah datang sekalipun buat jenguk lo,” ucap gadis itu; Dashha, tangannya terkepal erat dan sorot matanya penuh kebencian.


Tak lama pintu ruang di mana pemuda itu; Kalandra, terbuka menampilkan seorang pemuda yang terlihat lebih muda masuk kedalam sana sambil menatap datar Dashha saat lagi mendapati perempuan itu ada di sana.


“Ngapain lo kesini lagi?! Pergi sana!” usir Kaisar menaruh kantong plastik makanan di meja yang ada di ruangan itu.


“Kai, kamu kenapa sih? Kok berubah banget sama kakak, lagian aku di sini mau nemenin Kalandra dan ngajak ngobrol dia siapa tahu Kakak kamu tiba-tiba bangun.”ucap Dashha menatap Kalandra dengan lembut.


“Huft~ pulanglah lo gak perlu nungguin Abang gue, keluarga ya masih bisa ngurus dia.” ucap Kaisar menghela nafas pelan.


“Tapi-”


“Abang gue butuh istirahat dan jam jenguk hari ini udah habis lo bisa pulang!” tekan Kaisar memotong ucapan Dashha dan membuka pintu ruang rawat sang kakak lebar-lebar.


Dashha akhirnya pasrah dan bangkit dari duduknya untuk pulang namun sebelum ia berjalan keluar menyempatkan dirinya untuk mengecup kening Kalandra sebentar, membuat Kaisar yang melihatnya memutar matanya jengah. “Aku pulang dulu ya, Kal. Besok aku kesini lagi.” lalu ia pun pergi dari sana menyisakan Kaisar bersama Kalandra yang masih tidur.


Kaisar berjalan mendekat kearah bangkar Kalandra lalu mengusap surai sang kakak lembut. “Cepet bangun Bang, gue kangen gangguin lo.” ucap Kaisar, kemudian berbalik untuk duduk di sofa dan memakan makanan yang ia beli dari luar tadi.


.


.


.


Selesai menyantap makanannya samar-samar Kaisar yang tengah bermain handphonenya pun mendengar suara serak dari arah tempat berbaring sang kakak. Perlahan ia bangun dan menghentikan acara makannya untuk melihat kondisi Kalandra.


“Ze-zeline... Zeline..” gumam Kalandra pelan dengan mata yang masih tertutup tapi tangannya bergerak sedikit demi sedikit sambil terus menggumamkan nama adik sahabat kakaknya. Kaisar tentu saja senang dan dengan segera memencet tombol. Di atas tempat tidur kakak untuk memanggil dokter.


“Bang, lo bangun? Buka mata lo bang, ini gue Kaisar adik lo!” ucap Kaisar bersemangat dan ya perlahan namun pasti kedua kelopak mata Kalandra terbuka dan berkedip pelan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya.


Kening pemuda itu mengeryit saat mendapati ruangan putih dengan bau obat-obatan di sekelilingnya. Lalu menoleh kesamping tempat tidurnya di mana Kaisar berdiri, tatapan matanya bingung menatap orang di depannya. “Siapa?” tanya Kalandra lirih membuat kening Kaisar mengeryit heran tak mengerti.


“Gue Kaisar, Bang, adek lo.”


“Kaisar? Adik? Saya tak pernah—” ucapan Kalandra terputus saat pintu ruang rawatnya terbuka dan seorang dokter juga dua orang suster masuk ke sana di susul dengan kedatangan kedua orang tuanya.


“Kalandra, sayang anak Mama, akhirnya kamu siuman nak.” Stella memeluk tubuh sang putra dengan raut bahagianya.


“Maaf, Anda siapa? Kalandra siapa dia?” Kalandra mendorong pelan tubuh sang ibu yang membulatkan matanya tak percaya, lalu tatapan mata wanita paruh baya itu melihat tepat kearah sorot mata putra sulungnya menatapnya dingin dan datar nan asing ketika melihatnya.


Perlahan mata Stella memburam oleh genangan air yang berkumpul di pelupuk matanya kemudian menatap dokter yang ada di sana. “Dokter ada apa ini? Kenapa putraku tidak mengenaliku?” tanyanya dengan air mata yang sudah jatuh membuat sungai kecil pipinya yang sudah tak sekencang masa mudanya dulu.


Dokter itu maju mendekat pada Kalandra lalu memeriksa dan suster yang ikut bersamanya menulis setiap perkataannya di kertas. Selesai memeriksa Kalandra, dokter itupun menatap pada sepasang suami-istri dan putra bungsu mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Tuan, Nyonya, mari ikut ke ruangan saya ada hal yang ingin saya sampaikan kepada kalian.” Ujar sang dokter dengan raut seriusnya dan mendapat anggukkan dari pasutri tersebut.


“Kai, kamu tunggu di sini jagain Abang kamu,” Kaisar mengangguk sebagai balasan sementara Ibu dan Ayahnya berlalu mengikuti sang dokter untuk pergi menuju ruangan pribadi dokter itu.


“Eumm iya, saya haus bisa tolong ambilkan,” ucap Kalandra masih datar kemudian ia berusaha untuk mendudukkan tubuhnya tapi saat ia tak bisa karena ia baru menyadari bahwa kedua kakinya tak bisa di gerakkan dan di rasakan.


“Kaki gue kenapa gak bisa di gerakkan?!” batin Kalandra masih mencoba untuk merubah posisinya dan menggerakkan kakinya namun hasilnya masih nihil. “Gue gak mungkin lumpuhkan?!” batinnya kembali dengan tangan mengepal erat.


Kaisar yang selesai mengisi air di gelas kaca di pojok ruangan pun kembali dan melihat sang kakak yang tengah berusaha merubah posisinya mempercepat langkahnya dan segera membantunya.


“Jangan banyak gerak dulu, Bang, lo baru aja siuman.”


Kalandra tak menanggapi hanya menerima gelas yang di sodorkan Kaisar pada lalu meneguknya dengan sekali tegukan. Ia benar-benar haus omong-omong. “Kenapa saya bisa ada di sini? Juga kenapa kaki saya tidak bisa di gerakan? Bahkan saya tak bisa merasakan sakit apapun di kaki saya.” tanya Kalandra menyerahkan gelas yang sudah kosong di tangannya pada Kaisar yang menyimpan gelas itu di nakas samping tempat tidurnya.


Kaisar menarik kursi jenguk yang ada di samping tempat tidur sang Kakak lalu duduk di sana. “Lo gak inget? Lo terlibat kecelakaan mobil Bang, bahkan kecelakaan itu hampir renggut nyawa lo beruntung lo di bawa ke rumah sakit tepat waktu dan waktu selesai operasi selama kurang lebih 3 jam Dokter yang nanganin lo bilang kalo ada kemungkinan lo lumpuh-” Kata-kata Kaisar tercekat di tenggorokan saat mengingat kejadian seminggu yang lalu.


“Dokter bagaimana keadaan putra saya?” seru Stella begitu dokter keluar dari ruang operasi.


“Operasinya berhasil, hanya saja putra anda masih dalam kondisi kritis saat ini adapun kemungkinan ketika ia siuman nanti saya mendiagnosis ia akan mengalami amnesia dan kakinya akan mengalami kelumpuhan.” jelas sang dokter membuat tubuh Stella lemas seketika beruntung tubuh wanita paruh baya itu tidak ambruk ke lantai karena Septian, suaminya langsung menangkapnya cepat.


“Amnesia dan kelumpuhan, Dok?” tanya Septian dan mendapat anggukkan dari sang dokter.


“Anda tak perlu terlalu khawatir tuan ini hanya baru diagnosis saya saja. Amnesia dan kelumpuhan yang menimpa putra anda pun tidaklah permanen, ini hanya untuk sementara waktu saja asal setelah ia siuman nanti anda sekeluarga membantu putra anda untuk memulihkan ingatannya dan putra anda rajin mengikuti fisioterapi maka putra anda akan sembuh total.” si dokter menjelaskan lebih rinci lagi.


Dan penjelasannya itu berhasil membuat sekeluarga itu menghembuskan nafasnya sedikit lega setidaknya masih ada harapan untuk putra mereka sembuh.


“Lo gak perlu khawatir, dokter bilang lo gak lumpuh permanen cuma lumpuh untuk sementara waktu aja asal lo mau dan rajin ikut fisioterapi lo bisa sembuh dan bisa jalan normal lagi.” ucap Kaisar tersenyum kecil mencoba memberi hiburan pada sang Kakak yang hanya diam.


.


.


.


Sedangkan itu di ruangan dokter yang tadi memeriksa Kalandra terlihat tengah berbicara dengan Septian dan Stella.


“Sepeti diagnosis saya sebelumnya, putra anda sekalian mengalami keduanya dan seperti yang saya katakan juga dukungan keluarga untuk kepulihan pasien sangatlah berpengaruh, jadi saya kalian berdua akan memberikan dukungan kalian untuk kepulihan putra anda dan jangan terlalu memaksanya untuk mengingat masa lalu dengan menekannya karena itu akan mempengaruhi jangka kepulihan pasien.” ucap sang Dokter yang mendapat anggukkan mengerti dari dua orang di depannya.


“Saya akan memberikan vitamin dan suplemen untuk mencegah kerusakan otak pada putra anda agar tidak lebih parah, dan obat pelemas otot guna membantu pemulihan kelumpuhan pada kaki putra anda juga jadwal fisioterapi-nya, saya harap putra anda mau mengikutinya.” ujar sang dokter dengan senyumannya.


“Saya juga berharap begitu, Dok. Terimakasih.”


“Kalau begitu kami permisi, Dokter.” pamit Stella keluar ruangan sang dokter terlebih dahulu. “Lakukan apapun yang terbaik untuk kepulihan putra saya, Dokter! Biaya bukan masalah bagi keluarga kami.” ucap Septian beranjak dari duduknya dan menjabat tangan sang Dokter yang mengangguk kepalanya dengan senyum.


“Kami pihak medis akan berusaha semaksimal mungkin seperti yang anda harapkan, Tuan Aldebaran.“


Kemudian Septian pun mengangguk kecil sambil berlalu pergi dari ruangan sang Dokter untuk menyusul sang Istri.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...