Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Bertemu Mama Kalandra



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Mobil Kalandra berhenti di depan rumah besar mewah miliknya. Mematikan mesin mobil tersebut Kalandra pun turun dari dalam mobil diikuti oleh Zeline. Suasana diantara kedua sejoli itu masih sama... Canggung dan dingin.


Namun yang membuat semuanya terasa dingin itu adalah Kalandra, pemuda itu seolah enggan untuk membuka pembicaraan diantara mereka karena jawaban Zeline di mobil beberapa waktu saat perjalanan menuju ke sini.


“Ekhem!” Zeline berdeham cukup keras saat ia berjalan di belakang pemuda tersebut, perasaan gadis itu sedikit tak nyaman dengan sikap Kalandra yang jadi mendiaminya meski pada dasarnya memang Kalandra itu dingin tapi semenjak pemuda itu memutuskan untuk mendekatinya dan mengklaimnya sebagai miliknya sifat dingin  pemuda itu sedikit berkurang jika bersamanya.


Dan karena itulah ia merasa tak nyaman, ia menjadi merasa bersalah karena ucapannya yang sewaktu di mobil tadi telah melukai perasaan pemuda tersebut.


Tapi bukankah itu hal yang sejak dulu Zeline inginkan, kenapa sekarang ia malah merasa bersalah dan tak suka ketika pemuda itu justru mendiaminya?


“Kenapa?” tanya Kalandra dengan nada suara yang masih sedikit dingin membalikkan tubuhnya menghadap Zeline yang tersentak dari lamunannya.


Mendongakkan kepalanya sedikit Zeline menggelengkan kepalanya pelan, membuat Kalandra menghembuskan nafasnya pelan dan membawa tangan besar berurat nya untuk mengusap kepala Zeline lembut. “Gak perlu, gugup Zeline. Mama gue gak makan orang kok, dia cuma pengen ngobrol sama lo, Itu aja.” ucap lembut Kalandra membuat hati Zeline sedikit menghangat.


Meski sebenarnya ia tak segugup itu untuk bertemu dengan ibu dari pemuda di depannya ini. Dan tanpa Zeline sadari ia tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya membuat Kalandra yang melihatnya sedikit tertegun.


Demi apapun gadis di depannya itu amat sangat jarang tersenyum dan sekalinya gadis itu tersenyum hal itu malah membuat jantungnya berdegup dengan amat sangat kencang, padahal itu hanya senyum kecil yang tipis saja. “Kenapa senyum lo bisa semenawan ini, Ze?” monolog Kalandra dalam hati menatap Zeline tanpa berkedip.


Sampai suasana yang mendebarkan hatinya itu seketika runyam saat dari arah belakang tiba-tiba saja ada seorang gadis seusianya memeluk dirinya erat. Membuat ia tersentak begitu pula dengan Zeline namun Zeline hanya sebentar.


“Kalandra, I really miss you.” ujar gadis yang berada dibalik punggung Kalandra itu dan semakin mengeratkan pelukannya pada perut kotak-kotak Kalandra yang seketika sadar dan berusaha melepaskan pelukan tersebut.


Sementara Zeline hanya diam dengan raut wajahnya yang teramat sangat datar dan dingin juga kedua tangannya yang mengepal erat. “Sialan! Sekarang perasaan asing apa lagi ini?!” umpatnya dalam hati saat dadanya kini terasa sakit seperti di tusuk oleh benda tak kasat mata dan panas.


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Zeline terlihat memutar matanya malas saat lagi dan lagi ia melihat perempuan setengah jam yang lalu tiba-tiba saja memeluk Kalandra dari belakang saat mereka baru saja sampai di sana. Perempuan yang ia ketahui bernama; Dashara Leanorya itu ternyata adalah sahabat masa kecil Kalandra hingga saat ini.


Jika kalian ingin tahu saat ini Zeline tengah duduk di salah satu kursi meja makan yang berada di rumah Kalandra, menikmati makan siang bersama ibu dari seseorang yang menjabat sebagai kekasihnya dan perempuan yang menurutnya sangat mengganggu pemandangannya.


“Kala, cobain ini! Itu aku sendiri yang masak spesial buat kamu waktu tadi bantuin Mama Stella masak.” Dasha berujar sambil menaruh iga sapi asam manis buatannya di piring Kalandra.


“Cih. Apaan itu?! Mau tebar kemesraan di depan gue? Gak panas!” batin Zeline menyuap besar nasi yang berada di piringnya dengan sedikit kesal.


Kalian harus ingat Zeline kesal bukan karena ia cemburu, tapi ia hanya muak melihat sikap sok manis perempuan di sebrang mejanya terhadap Kalandra, itu saja.


Kalandra tak menanggapi ucapan Dasha kepadanya ia hanya mengambil iga sapi yang di sodorkan perempuan itu saja lalu menyodorkannya ke depan mulut Zeline yang pipinya sedikit mengembang karena tengah menguyah makanannya.


Alis Zeline naik sebelah; heran, ada apa dengan pemuda ini bukannya ia sendiri yang makan, ini malah di sodorkan kepadanya. “Makan sayang, kamu suka iga sapi asam manis kan?” ucap Kalandra lembut membuat Zeline sedikit membesarkan pupil matanya dan menghentikan kunyahannya.


“Kenapa malah bengong? Ayo buka mulut kamu, tangan aku mulai pegel nih” Kalandra kembali berucap dan membuyarkan semua pertanyaan-pertanyaan yang berada di dalam benaknya lalu membuka mulutnya dengan patuh dan menerima suapan Kalandra.


Tersenyum tipis tangan Kalandra yang tak memegang sendok terangkat dan menepuk puncak kepala Zeline pelan. “Anak pintar!” ucapnya lalu menarik tangannya kembali dan melanjutkan acara makannya.


Sementara Zeline merasakan bahwa kini jantungnya kembali berdetak tak normal seperti biasanya saat Kalandra bersikap manis kepadanya dan dengan gerakan sedikit kaku iapun melanjutkan acara makannya juga.


Menyisakan ke terdiam dua orang wanita yang memiliki perbedaan usia yang jauh itu.


Stella mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia tak berhalusinasi kan? Kalandra putra sulungnya yang selalu bersikap dingin dan acuh tak acuh itu baru saja melakukan hal yang begitu manis kepada gadis yang duduk di sampingnya.


“Yang barusan itu beneran anak aku?” batin wanita setengah baya itu masih tak percaya.


“Apa-apaan! Kenapa Kalandra bisa semanis itu sama tuh cewek!” gerutu Dasha tak terima dalam hatinya. Tangannya yang menggenggam gagang sendok terlihat mengerat.


Ia benar-benar tak terima! Bagaimana bisa Kalandra bersikap semanis itu kepada Zeline sedangkan kepadanya yang sudah lama bersamanya bahkan tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kalandra.


“Ekhem! Mama baru tahu kamu bisa semanis itu sama orang?” celetuk Stella yang hanya mendapat lirikan dari Kalandra, sang putra.


“Aku setiap hari juga bersikap kayak gini kali, Ma.” Kalandra menyahut dengan nada cuek.


Membuat Stella yang mendengarnya mendengus, “Bersikap kayak gitu setiap hari dari mana ya? Orang kamu tiap hari juga acuh tak acuh mana selalu masang tampang datar lagi. Untung kamu ganteng,” cibir Stella yang tak di hiraukan oleh Kalandra sementara Zeline yang mendengarnya sedikit menyunggingkan senyum mengejeknya kearah Kalandra.


Yang mana hal itu ternyata tertangkap oleh mata tajam Kalandra. “Gak usah sok ngejek, kamu juga kan kayak gitu” ujar Kalandra tanpa melirik kearah Zeline yang seketika mendatarkan raut wajahnya.


“Kalandra sialan!”


....•*•.•*•.•*•.•*•.•*•.•*•....


Melenguh pelan Dylan terlihat terbangun dari pingsannya sambil memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut pusing dan mencoba untuk mendudukkan tubuhnya di atas ranjang yang ditempatinya.


Matanya mengedar keseliling saat menyadari bahwa saat ini ia berada di tempat asing. “Di mana ini?” monolog Dylan dalam hati kemudian beranjak dari tempat tidur untuk berjalan mengelilingi kamar besar bernuansa amat sangat berkelas itu dengan langkah pelan.


Sebelum akhirnya ketika ia tengah mengamati beberapa interior di dalam kamar tersebut dan melihat kearah luar jendela besar yang berada di sana pandangannya itu beralih kepada pintu yang di belakanginya saat mendengar suara decitan pintu yang di buka.


“Ah~ sudah bangun rupanya.” ujar orang yang baru saja masuk ke dalam kamar yang di tempati Dylan dengan sebatang rokok di antara sela-sela jari telunjuk dan tengahnya.


Alis Dylan menukik penuh tanya kepada seseorang pemuda yang sepertinya satu tahun lebih muda darinya itu masuk dan dengan santainya duduk di sofa single yang berada di kamar tersebut.


“Siapa lo?” tanya Dylan berucap dingin penuh selidik.


.


.


.


TO BE CONTINUED