
Kalandra mengusap pelipisnya yang berkeringat pelan sambil sesekali ia mengibaskan bajunya. Entah kenapa tiba-tiba saja suhu tubuhnya terasa begitu panas padahal sekarang ini mereka tengah berada di luar ruangan dan malam ini cuaca juga sedikit mendung membuat hawa angin terasa lebih dingin.
"Ck! Gue kenapa sih? Gue tiba-tiba gak enak badan apa bagaimana? Gerah banget, sial." umpat Kalandra dalam hati memejamkan matanya sebentar sebelum ia membuka matanya lebar.
Kepalanya menunduk melihat kearah benda yang berada di antara kakinya sedikit mengembung dari balik celana kainnya. "Sialan! Gue juga malah ereksi!" Umpatnya kembali dalam hati.
Elisha yang masih duduk di samping Kalandra dan melihat gerak-gerik Kalandra yang terlihat gelisah semakin menyeringai. "Efeknya mulai bekerja." Batin Elisha sebelum kemudian memasang raut wajah khawatir.
"Kalandra kamu kenapa? Muka kamu kok tiba-tiba merah?" tanya Elisha di balut nada khawatir seraya menyentuh rahang Kalandra, namun langsung di tepis oleh pria itu kasar.
"Sialan apa yang lo campurin di minuman gue hah?!" bentak Kalandra mengibaskan kemejanya sambil bangun dari duduknya dan menatap tajam juga dingin kepada Elisha yang mempertahankan raut khawatir bercampur dengan tak mengerti akan apa yang di ucapkan Kalandra.
"Hah? Apa yang kamu bilang Kala? Aku gak ngerti, campurin apaan?" Elisha berujar polos.
"Akh sialan!" umpat Kalandra saat suhu tubuhnya makin tinggi dan hasrat birahinya pun ikut naik.
Elisha yang melihat Kalandra seperti itu ikut bangun dari duduknya dan kembali berusaha menyentuh pria itu. Tapi lagi-lagi di tepis kasar oleh Kalandra hingga membuat Elisha meringis.
"Aww Kalandra kamu baik-baik aja? Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Jangan sentuh gue! Dan inget gue gak bakal lepasin lo tentang hal ini!" Geram Kalandra berlu dari sana setelah memberi tatapan mematikan yang belum pernah di lihat Elisha yang terdiam sesaat ketika melihat dan mendengar ancaman Kalandra.
Namun hanya sebentar ia terdiam sebelum kemudian ia berlari mengejar Kalandra yang ternyata sudah pergi keluar dari penthouse.
"****! Mau pergi kemana dia?" Elisha mengejar Kalandra hingga sampai di basement penthouse, Namun Kalandra sudah masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan area basement dengan terburu-buru hingga membuat Elisha pun kembali mengikutinya menggunakan mobilnya mengejar Kalandra.
.
.
.
Zeline melangkah kearah dapur untuk mengambil botol wine yang akan di nikmatinya malam ini seperti biasa sebelum pergi tidur, sambil mengusap rambut setengah basahnya menggunakan handuk kecil.
Ngomong-ngomong ia baru selesai mandi setelah tadi ia selesai berolahraga di gym pribadinya, dan saat ini ia hanya mengenakan bathrobe.
Baru juga ia membuka lemari yang menyimpan botol-botol minumannya, suara bel apartement yang di bunyikan secara tidak sabar mengalihkan perhatiannya dahi Zeline mengkerut siapa yang bertamu kepadanya di jam segini mana membunyikan bel dengan tidak sabar pul membuat Zeline sedikit mendengus seraya berjalan menuju depan.
Handuk yang di gunakan untuk mengeringkan rambutnya ia lempar ke sofa ruang tamu karena kesal dengan orang yang sudah menganggu waktunya malam ini.
"Sabarlah sialan! Kau bisa merusak bel apar-"
Bruk!
Brak!
Ucapan Zeline terhenti saat ia sudah membukakan pintu dan tubuhnya langsung terdorong kebelakang saat seseorang yang berada di luar apartemennya itu mendorong dirinya dan mencium bibirnya dengan tergesa.
Mata Zeline melotot kaget atas perlakuan tiba-tiba tersebut, lebih terkejut lagi saat orang tersebut adalah Kalandra yang memojokkan dirinya di dinding, mengukung dirinya.
Zeline memberontak, mencoba melepaskan ciuman paksa dan terburu-buru Kalandra di bibirnya. "Mmhh Bang Kal ahh lehh-pashh!" Zeline berusaha berucap di sela ciuman itu sambil mendorong pundak Kalandra agar menjauh darinya.
Tapi bukannya melepaskan ciumannya Kalandra justru merengkuh pinggangnya dengan erat merapat tubuh keduanya hingga tak ada jarak sedikitpun dan tanpa di sengaja perut Zeline bersentuhan dengan sesuatu yang menonjol di balik celana Kalandra.
Membuat Zeline kembali kaget dan langsung mendorong Kalandra sekuat tenaga hingga tautan bibir mereka terlepas.
"Lo ereksi Bang?!" Zeline menatap wajah Kalandra yang memerah dengan napas memburu karena hasratnya yang menggebu.
Dengan tatapan berkabut nafsu Kalandra kembali mendekati Zeline, "Ze, bantu aku ini benar-benar sakit.." mohon Kalandra meraih tangan Zeline.
"Gak, Bang! Siapa yang ngasih lo obat perangsang?"
Zeline menepis tangan Kalandra lalu berjalan kearah kamarnya untuk menelpon Revan agar membawa dokter ke apartemennya.
"Halo Nona, ada apa?"
Baru juga sambungan telpon itu tersambung dan Zeline akan mengucapkan perintahnya pada Revan tapi tiba-tiba saja dirinya di tarik oleh Kalandra dan pria itu langsung membanting tubuh Zeline keatas kasur gadis itu, mengukungnya dari atas lalu menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Zeline.
"Akh! Bang!" pekik Zeline saat tubuhnya di banting ke atas kasur dan handphonenya terjatuh ke atas lantai dengan sambungan telepon yang masih tersambung pada Revan.
"Zeline aku benar-benar sudah tak tahan," Lidah Kalandra terjulur menjilat leher Zeline dengan sensual dan tangannya pun tak tinggal diam, bergerak mengusap perut rata itu sampai merambat keatas.
"Mmhh ahh Banghh gelihh ahh~" ******* Zeline lolos saat Kalandra menyesap lehernya.
.
.
.
"Suara apa itu? Gue gak salah dengar kan?" monolognya bertanya entah pada siapa, lalu ia menjauhkan ponselnya menatap tak percaya pada layar yang masih menyala itu.
Lalu suara itu kembali terdengar membuat Revan dengan reflek mematikan sambungan telepon itu. "I-tu keknya bener suara Nona," monolognya kembali percaya tak percaya.
\=\=
.
.
Keesokan paginya Zeline bangun terlebih dahulu saat merasakan sinar sang surya menerpa wajahnya. Dahinya mengernyit mencoba menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk kedalam retinanya.
"Jam berapa ini?" gumam Zeline bangun dari tidurnya lalu menoleh pada nakas di mana jam menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi.
"Udah siang ternyata," gumamnya kembali lalu membenarkan bathrobe yang dikenakannya seraya menoleh kearah sampingnya saat merasakan sebuah tangan tengah memeluknya dari belakang.
Pupil matanya sedikit membesar saat melihat keberadaan Kalandra tanpa sehelai benang pun tengah tertidur di sampingnya. Ingatannya berputar kembali ke kejadian semalam lalu menutupi wajahnya dengan satu tangan serta pipi yang sedikit bersemu merah.
"Zeline bisa-bisanya lo ngelakuin hal yang memalukan sama orang yang besok pagi mau nikah?!" rutuk nya dalam hati memaki dirinya sendiri.
Karena tak ingin berlama-lama merutuki dirinya dan sampai membuat Kalandra terbangun Zeline dengan segera beranjak dari tempat tidurnya lalu membersihkan badannya secepat kilat, lalu setelahnya segera memakai setelan kantornya.
Usai bersiap dn tinggal berangkat saja, Zeline menoleh kearah tempat tidur dimana Kalandra masih terlelap di sana.
“Gue pergi, Bang. Gue harap lo bisa memulai lembaran baru dengan orang baru yang bakal jadi istri lo besok. Dan anggap kejadian semalam hanyalah mimpi belaka.” ujar Zeline lirih sambil berlalu meninggalkan apartemennya.
Zeline merogoh saku jasnya untuk menghubungi seseorang. “Ayo bertemu, kau ingin mengetahui aku siapa'kan? Sekalian ada hal yang ingin ku sampaikan padamu.” ucap Zeline pada seseorang di sebrang sana yang langsung mengiyakan ajakannya setelah diam untuk beberapa saat.
.
.
.
Saat ini Zeline tengah berada di sebuah ruang VVIP restoran terkenal berhadapan dengan seorang wanita yang menampilkan wajah tak kalah dingin sepertinya.
“Nona Elisha, saya tak akan berbasa-basi jadi saya akan mengatakan intinya saja kenapa saya mengajak anda bertemu di sini.” Zeline menarik nafasnya panjang sebelum mengulas senyum tipis.
“Perkenalkan saya Zeline Zakeisha Galaksi, mantan kekasih Kalandra Septiana Aldebaran calon suami anda, saya kembali bukan untuk merebutnya darimu jadi anda tak perlu menjadikan saya sebagai ancaman meski ya, saat Kalandra tahu saya telah kembali dia selalu mendekati saya kembali tapi saya benar-benar tak ingin merebutnya darimu.”
“Kalau anda tak ingin merebutnya dariku, lalu kenapa anda kembali huh?! Bahkan semalam dia juga datang ke rumah mu kan?” Elisha berujar sinis seraya melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan punggungnya pada badan kursi.
“Saya kembali bukan untuknya tapi untuk keluarga saya, sedangkan perihal semalam, saya tak memintanya untuk datang bahkan saat melihatnya tiba-tiba sudah di depan pintu rumah saya saja, saya terkejut.” ucap Zeline masih tenang.
“Setelah hari ini saya pastikan bahwa saya dan Kalandra tak akan pernah bertemu lagi. Dan besok pernikahan kalian akan tetap terlaksana sebagaimana mestinya, saya benar-benar turut bahagia untuk pernikahan kalian besok.” Zeline kemudian berdiri dari duduknya untuk menjabat tangan Elisha di depannya.
“Hanya itu yang ingin saya katakan padamu, ah.. Mungkin satu lagi, jangan pernah menyerah untuk mendapatkan hati Kalandra. Karena, saya percaya kamu pasti bisa meluluhkannya setelah saya benar-benar menghilang dan tak kembali ... Lagi!” ucap Zeline masih mengulurkan tangannya agar di balas oleh Elisha yang kini ikut berdiri dan perasaannya entah kenapa menjadi bercampur aduk saat mendengar ucapan Zeline.
“Kenapa dia seperti mengucapkan salam perpisahan?” monolog Elisha membatin dalam hati. Lalu membalas jabatan tangan Zeline yang mengulas senyum lebar yang begitu cantik sampai Elisha yang melihat senyum Zeline terdiam untuk sesaat.
“Kalau begitu saya permisi.” Melepaskan jabatan tangan mereka Zeline pun pamit mengundurkan diri.
Saat di dalam mobil untuk meninggalkan restoran itu menuju ke kediamannya, Zeline menolehkan kepalanya pada sosok Elisha yang berdiri di ambang pintu masuk restoran sambil menatap kearah mobilnya berada.
Senyum tipis terpatri di wajah ayu-nya. “Aku benar-benar pergi, Bang. Aku harap kamu bahagia selamanya dengan Nona Elisha.” kemudian menyalakan mobilnya dan mulai membelah jalan raya yang selalu padat akan kendaraan.
“Marvin, lo benar gue berhak bahagia tapi, bahagia gue bukan di dunia ini.”
...Thank you for reading...
...Don't forget to vote, like...
...and comment!...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...