
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Suasana canggung terlihat meliputi tiga orang yang tengah duduk saling berhadapan di sofa ruang tengah salah satu unit apartemen mewah. Satu-satunya pemuda di antara ketiga orang itu terlihat menggaruk tengkuknya tak nyaman dengan suasana itu apalagi ketika ia melihat tatapan sang adik yang menatapnya tajam.
"Jadi bisa jelaskan kejadian beberapa menit lalu?" Celine berucap dengan senyum lebar yang diulas terpaksa memecah keheningan di antara mereka bertiga tangannya terlihat terlipat rapi di depan dada menatap sang kakak dan gadis yang duduk di samping kakaknya itu bergantian dengan tatapan penuh intimidasi.
"Jadi tadi tuh Acha gak sengaja nginjek sandal rumah gue pas kita mau jalan ke dapur, kebetulan gue juga tiba-tiba balik badan kearah dia dan karena sendal gue sebagian ada yang kena injek kaki Acha jadi otomatis kaki gue jadi gak seimbang dong makanya berakhir jatuh dengan Acha di bawah gue. Jadi lo gak usah salah paham dan jangan mikir yang aneh-aneh!" jelas Dylan panjang × lebar sekaligus memberi peringatan diakhir kalimatnya.
Membuat Celine mengangguk-anggukkan kepalanya lalu tatapan beralih pada Acha yang menunduk kikuk di samping Dylan masih malu dia. "Hmm bener?" tanya Celine pada Acha yang menganggukkan kepalanya cepat.
"Iya bener, jangan salah paham. Gue gak maksud kok, sorry kalau itu bikin lo cemburu" ucap Acha membuat kening Celine mengerut ketika mendengar kata terakhir Acha. Begitupun dengan Dylan yang menoleh dengan wajah bingung menatap Acha yang masih setia menunduk.
Sampai beberapa saat kemudian gelak tawa Celine dan Dylan menggelegar mengisi penjuru ruang tengah apartemen milik sang kakak.
Hal itu tentu saja membuat Acha mendongkakkan kepalanya menatap kedua kakak beradik didepannya yang masih setia tertawa terbahak. "Ke-kenapa?" tanya bingung Acha pada keduanya, membuat keduanya meredakan tawa mereka.
"Hadeh~ buat apa coba gue cemburu. Sini kenalan, gue Celine adeknya Bang Dylan" ucap Celine mengulurkan tangannya pada Acha yang terlihat sedikit membelalakkan matanya kaget sebelum tersenyum malu sambil menerima uluran tangan gadis SMA di depannya.
"Hehe.. Sorry gue kira--lo pacarnya" ucap Acha terkekeh canggung dengan sebelah tangannya yang menggaruk pipinya kikuk. Membuat Dylan yang melihatnya lantas mencubit pipinya gemas.
"Makanya tanya dulu, lagian lo kan tahu kalo gue punya dua adek gimana sih" gemas Dylan.
"Lo juga kan gak bilang kalo adek lo udah segede ini." ucap Acha mempoutkan bibirnya sebal. Yang lagi-lagi hal itu membuat tangan Dylan terangkat untuk mencubit pipi gadis itu.
Sedangkan Celine yang masih berada di sana dan melihat interaksi kedua sejoli di depannya itu lantas mendatarkan mimik wajahnya. "Sialan! Berasa jadi nyamuk gue" gerutu Celine membatin.
"Jadi ini alasan lo lebih sering pulang dan nginep di apartemen Bang?" celetuk Celine menopangkan kakinya di atas kakinya yang lain. Dan celetukannya itu berhasil mengalihkan dua orang yang tadi asik dengan dunia mereka sendiri.
Dylan berdehem menegakkan kembali cara duduknya sambil menatap kearah sang adik. "Mansion terlalu jauh dari kampus dan belakangan ini gue makin sibuk karena tugas kuliah makanya gue lebih baik pulang dan tinggal di apartemen untuk sementara waktu" ucap Dylan beralibi namun itupun bukan hanya sekedar alibi semata sebagai dari ucapannya itu nyatanya adanya.
"Ahh~~ gitu, terus kenapa bisa ada cewek disini?"
"I-itu karena-- cewek ini temen gue dia lagi butuh tempat tinggal dan pekerjaan, dan karena gue ini tampan dan baik hati jadi gue tawarin dia buat kerja jadi pembantu dan tinggal di apartemen."
Jelas Dylan kembali membuat Celine menganggukkan kepalanya lalu tersenyum miring, "Terus kenapa lo gak kasih tahu hal ini ke Mama?" tanya Celine dengan alis berkerut dengan seringai tipis di bibirnya.
"Ck! Adek ****** emang. Sengaja nih pasti?!" batin Dylan saat melihat seringai tipis di bibir sang adik.
"Belum sempet, nanti gue juga bilang" ucap Dylan dengan nada sedikit kesal.
"Oh ya bagus deh, tadinya gue mau bantuin lo sampein ke Mama" ucap Celine menganggukkan kepalanya mengerti sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Gak usah! gue bisa sendiri. Kalo lo yang sampein yang ada nanti lo nambahin yang enggak-enggak lagi" ucap Dylan seraya mengerlingkan matanya dan beranjak dari duduknya. "Ayo makan Cha, masakan lo pasti udah dingin sekarang" ajak Dylan melangkah menuju dapur bersama Acha yang mengikutinya dari belakang meninggalkan Celine yang melongo di ruang tengah sendirian.
"Abang gak ada akhlak. Kok gue gak diajak sih!" gerutu Celine dalam hati menatap punggung sang kakak sebelum ikut beranjak dari duduknya untuk menyusul dua orang yang kini sudah duduk di kursi masing-masing meja makan.
"Lo kok gak aja gue sih Bang, gue juga kan belum makan" ucap Celine seraya duduk di kursi samping Dylan yang hanya meliriknya "Gak gue ajak juga ini lo nyamperin sendiri kan?" acuh Dylan menyuapkan suapan besar kedalam mulutnya.
Sedangkan Celine juga mulai memakan makanan dengan perasaan sedikit dongkol pada sang kakak, "Iya juga sih" batinnya.
Acha yang sedari tadi memperhatikan interaksi kakak beradik itupun hanya terkekeh pelan, lucu sekali interaksi mereka ini, pikirnya.
"Eum~ Wah ini kakak yang masak?" seru Celine ketika memakan rendang buatan Acha yang menganggukkan kepalanya membenarkan. "Enak banget loh, kak." puji Celine membuat Acha kembali menganggukkan dengan pipi tersipu malu karena pujian Celine.
"Makasih, kakak seneng kalo kamu suka. Ini cobain yang ini juga" ucap Acha menaruh tumis sayur-sayuran pada piring Celine yang dengan antusias mencoba lauk yang di berikan Acha.
...ᏃᎬᏞᏆΝᎬ 𝙕𝙖𝙠𝙚𝙞𝙨𝙝𝙖...
Sekitar jam sembilan malam Jasmine keluar dari rumah besarnya untuk pergi ke minimarket yang berada tak jauh dari rumah Oma dan Opa nya menggunakan skuter pink kesayangannya. Disepanjang perjalanan menuju Minimarket Jasmine bersenadung lirih mengikuti lirik lagu yang ia dengarkan melalui earphones yang menyumpal kedua telinganya.
Sebenarnya Jasmine bisa saja meminta di antar oleh supir Opa nya atau membeli stok cemilannya itu dikeesokan paginya. Tapi entah mengapa malam ini ia sangat ingin ngemil, makanya ia membujuk Oma Opa nya itu agar mengizinkannya pergi ke minimarket menggunakan skuternya.
Dan sekarang ini ia telah memarkirkan skuternya di parkiran khusus untuk skuter dan sepeda di depan minimarket. Setelah menggembok skuternya Jasmine lantas segera masuk kedalam minimarket dan menyambar keranjang belanjaan yang tersedia di samping pintu masuk minimarket tersebut.
Dengan langkah riangnya Jasmine berjalan menuju rak-rak makan ringan memasukkan beberapa snack, kukis, coklat, minuman dan es krim ke keranjangnya. Dan setelah dirasa sudah cukup banyak Jasmine pun membawa keranjang belanjaannya itu menuju kasir untuk di bayar.
Selesai membayar belanjaannya Jasmine pun keluar dari minimarket dan duduk sebentar di bangku yang tersedia di depan minimarket itu untuk memakan es krim kesukaannya sambil memperhatikan keadaan sekitar minimarket yang masih tampak ramai akan pengunjung.
Lalu setelah menghabiskan satu cone es krim, Jasmine pun beranjak dari minimarket itu untuk segera pulang karena malam yang semakin larut dan kondisi jalan pasti akan menjadi tambah gelap.
Di perjalanan pulangnya Jasmine merasa jika jalanan yang tadi di lewatinya itu entah kenapa berubah menjadi sangat sepi membuat ia sedikit mengernyitkan dahinya sambil melihat jam yang melingkar apik di pergelangan tangannya. Yang saat ini telah menunjukkan jam 21.53 PM.
Dan saat Jasmine menunduk melihat pergelangan tangannya itu tiba-tiba saja seorang pria berperawakan tinggi besar dan berwajah sangar mencegatnya.
Membuat Jasmine yang tak sengaja melihat sepatu pria itu otomatis menghentikan langkahnya dan mendongkakkan kepalanya melihat orang itu.
"Umm maaf bisa minggir gak Bang saya mau lewat" ucap Jasmine berusaha menutupi rasa takut dan gugupnya seraya menggerakkan matanya gelisah karena keadaan sekitarnya yang sepi tak mendapati seseorang disekitarnya.
"Buru-buru amat, santai aja dong saya gak ada niat jahat kok. Cuma mau minta kamu nyerahin barang-barang kamu sama saya!" sahut pria itu tersenyum ramah namun dimata Jasmine itu terlihat sangat menyeramkan. Dan apa-apaan Abang-Abang ini gak ada niat jahat tapi malah minta dia buat nyerahin barang-barangnya membuat kesal saja, pikirnya.
"Maaf Bang, saya permisi." ucap Jasmine masih berusaha bersikap tenang dan bersiap membawa skuternya untuk melewati Abang-Abang di depannya kearah samping. Namun om itu malah menghalanginya kembali dan Jasmine pun akan berjalan ke sisinya yang lain tapi masih di hadang juga membuat ia dengan kesal menghentak kakinya kasar.
"Minggir ngapa Bang! Gue mau lewat!" sentak Jasmine kesal menatap nyalang om-om di depannya yang kini merubah tatapan menjadi dingin dan penuh intimidasi setelah ia bentak. Hal itu tentu saja membuat Jasmine memundurkan langkahnya apalagi ketika Abang-Abang itu malah melangkahkan kakinya mendekat kearahnya.
"Kasih barang-barang lo! Atau lo gue habisin!" ancam Abang itu menyentak Jasmine dengan nada tinggi yang dengan refleks Jasmine memejamkan matanya takut. "Aduh~ bodoh banget lo Mine kenapa tadi lo bentak ni orang, liat sekarang jadi kena bentak dia juga kan! Mana liurnya ikut muncrat lagi" gerutunya dalam hati sambil berdoa semoga saja ada seseorang yang lewat dan menolongnya.
Hingga selang beberapa saat setelah ia berdoa dalam hati tiba-tiba seseorang datang dan menyapanya dengan nada kelewat lembut di telinganya. "Sayang kan udah aku bilang tungguin, kenapa malah jalan duluan,sih?" ucap orang itu seraya merangkul pinggangnya mesra mengabaikan Abang-Abang yang tadi membentaknya itu tengah menatap bingung kearah keduanya.
Membuka matanya perlahan Jasmine pun menolehkan kepalanya kepada seseorang yang telah merangkulnya itu dan sedikit melebarkan pupil matanya saat melihat pemuda di depannya. Dan seakan mengerti tatapan yang diberikan pemuda itu Jasmine pun segera mengubah mimik wajahnya kesal.
"Habisnya kamu lama" rajuk Jasmine memalingkan wajahnya dengan pipi mengembung lucu membuat pemuda yang berada di sampingnya itu terkekeh gemas. Dan mengecup pipinya kilat hingga membuat Jasmine melebarkan matanya terkejut dengan apa yang dilakukannya.
"Maaf sayang~~ jangan ngambek ya? ayo pulang sekarang" ucap pemuda itu membuat Jasmine menganggukkan kepala kikuk dan mendorong skuternya.
Namun baru juga keduanya hendak melangkah tangan seseorang menghadang keduanya. "Ck. Dasar anak muda jaman sekarang! Dari tadi kalian gak liat apa kalo gue ada disini" ucap Abang-Abang tadi membuat Jasmine kembali teringat dengan orang di depannya ini.
"Gue lupa kalo masih ada nih Abang-Abang rampok"
"Oh maaf, gue kira tadi tu cewek gue lagi ngomong ma makhluk halus karena gue gak liat orang di sini. Tapi sekarang malah keliatan" ucap pemuda itu membuat Abang-Abang itu mendelikkan matanya kesal. Kurang ajar nih anak dia dikira setan, pikirnya mengumpat.
"Kurang ajar lo. Asal tahu ya gue ini rampok, dan tadi gue mau rampok cewek lo ini" tunjuk Abang itu pada Jasmine.
"Tapi Bang, pacar gue dari tadi tuh ngomong bukan sama lo dia juga tadi bukan ngebentak lo" ucap pemuda itu yang kini malah membuat bulu kuduk si Abang tiba-tiba berdiri.
"Terus sama siapa dong? Dari tadi kan gue yang di depan dia" ucap Abang itu berubah takut, gini meski badan dia gede dan muka dia nyeremin kalo udah berurusan sama yang berbau mistis mah dia takut.
Jasmine yang mendengar ucapan pemuda disampingnya mengarahkan kearah sana tiba-tiba membuat ia menyunggingkan senyum jahilnya. "Loh dari tadi saya emang gak lagi ngomong sama Abang, tapi sama si mbak-mbak gaun putih yang gangguin saya itu tuh. Ini aja saya baru ngeh kalo ada Abang" ucap Jasmine menunjuk kearah belakang tubuh Abang berotot itu yang memutar tubuhnya dan tak mendapati siapapun di sana.
Dan saat ia kembali menolehkan kepalanya kearah Jasmine dan pemuda tadi dua orang itu justru sudah tak ada membuat Abang itu seketika menjerit sambil berlari terbirit-birit.
Sementara di balik semak-semak dekat sana Jasmine dan pemuda tadi sudah cekikikan menertawakan Abang-Abang tadi. "Huh badan aja yang gede tapi sama hantu aja takut" ucap Jasmine seraya keluar dari persembunyiannya bersama pemuda tadi.
Lalu kepalanya menoleh pada pemuda di sampingnya yang juga tengah menatapnya, kemudian tersenyum "Makasih Kaisar"
...T͜͡h͜͡a͜͡n͜͡k͜͡ ͜͡y͜͡o͜͡u͜͡ ͜͡f͜͡o͜͡r͜͡ ͜͡r͜͡e͜͡a͜͡d͜͡i͜͡n͜͡g͜͡...
...͜͡.͜͡...
...͜͡.͜͡...
...͜͡.͜͡...
...͜͡.͜͡...
...͜͡T͜͡o͜͡ ͜͡B͜͡e͜͡ ͜͡C͜͡o͜͡n͜͡t͜͡i͜͡n͜͡u͜͡e͜͡d͜͡...