Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Semoga lo bahagia, Kal.



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.... ...


.... ...


.... ...


“Apa yang ingin Daddy bicarakan?” tanya Jayden saat ia sampai di ruang kerjanya menatap pada sang ayah yang duduk di kursi kebesarannya.


Sorot mata pria tua yang duduk di kursi kerja Jayden itu teramat sangat tajam nan dingin pada sang putra. “Apa-apaan ini?! Aku memang tak peduli kamu membawa/menikahi gadis yang kamu ucapkan sebelumnya itu. Tapi bagaimana bisa kamu tak membawa kembali kakakmu?!!” bentak pria tua itu menggebrak meja keras.


Jayden dengan santai menarik kursi yang berada di depan meja kerjanya lalu mendudukkan tubuhnya di sana seraya meletakkan kaki jenjangnya ke atas meja.


“Memang apa yang akan Daddy lakukan setelah aku berhasil membawa kembali Kakak? Memberikan semua asetmu lalu setelahnya membuangku?” ucap Jayden membuat Daddynya itu mengerjapkan matanya kaget.


“Apa yang kamu bicarakan? Aku hanya ingin melihatnya dan mengenalnya. Lalu bagaimana mungkin aku membuang putraku sendiri.” ucap si Pria tua yang mendapat kekehan pelan dari belah bibir Jayden.


“Kamu kira aku percaya? Sejak kamu mengadopsi ku di panti waktu aku masih kecil dulu, kamu hanya menggunakan aku untuk menjadi bonekamu melatihku sedemikian rupa layaknya robot yang kemudian di gunakan untuk mencari putra kandungmu. Awalnya aku berpikir kamu benar-benar ayah yang sempurna dan aku bahagia karena aku memiliki saudara tapi saat aku sudah beranjak dewasa aku mulai mengerti aku hanyalah alatmu. Apa kamu kira aku tak tahu bahwa semua aset yang saat ini kamu berikan untuk di pegang olehku semuanya atas nama putra kandungmu itu. Sedangkan kamu tak memberikan sepeser pun untukku.”


Pria tua itu terdiam mendengar ucapan sang putra, karena ucapan pemuda di depannya itu tidaklah meleset sedikitpun dari kebenarannya.


Benar, Jayden memang bukan anak kandungnya dan ia mengadopsi pemuda itu dulu memang hanya untuk di jadikan alat mencari anak kandungnya yang beberapa tahun silam di bawa oleh ibunya yang tak ingin putranya menjadi seperti dirinya. Sosok kejam berdarah dingin dan membunuh siapapun yang menyinggungnya. Apalagi Istrinya saat itupun ia nikahi dengan paksa.


“Kenapa diam? Ucapan ku benar'kan?” ujar Jayden membuyarkan keterdiaman Si pria tua.


“Jayden, itu semua-” ucapan si pria tua terputus saat tiba-tiba saja Jayden sudah berada di sampingnya dan menancapkan sebilah pisau di dada kirinya hingga membuat ia muntah darah.


“Aku tak menginginkan omong kosongmu, sebelum kamu benar-benar merenggang nyawa dengar ini baik-baik. Dokumen yang kamu tanda tangani dua hari lalu adalah dokumen pengalihan semua aset yang kamu berikan kepada putramu. Jadi saat ini kamu sudah tidaklah berguna dan aku tak takut kepada dirimu lagi. Satu hal lagi, Putra kandungmu itu benar-benar tampan dan baik hati tak seperti dirimu.” ucap Jayden menyeringai dingin menatap sang ayah yang sudah diambang kematiannya.


“Jay-den.. Ma-afkan Daddy.. Selama ini hanya memanfaatkanmu saja... Se-semoga kamu bahagia...” lalu setelah itu Pria tua itu benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya.


Jayden hanya tersenyum miris, “Benar-benar terlambat” gumamnya mencabut pisau yang menancap di dada Daddynya lalu kembali menancapkannya beberapa kali hingga darah sang Ayah memuncrat ke wajahnya. Tak sampai di situ ia juga membelah perut pria tua itu, untuk meluapkan emosinya yang selama ini selalu ia pendam kepada sang Ayah.


Sampai suara pintu yang terbuka mengalihkan fokusnya yang tengah memutilasi sang Ayah. Tatapan tajam saat mendapati Zeline sang istri tengah berdiri kaku menatap tak percaya padanya.


Jayden kemudian beranjak dari duduknya di atas meja menghampiri Zeline dan begitu sampai di depan wanita itu tangannya yang berlumuran darah itu terulur membelai sebelah wajah Zeline.


“Sayang kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, hmm?" tanyanya berucap lembut namun terselip nada kesal di dalamnya.


"Ma-maaf, pintunya sudah terbuka sedikit j-a-di aku memilih untuk membukanya saja langsung." ucap Zeline bergetar takut tak berani menatap Jayden.


Melihat raut wajah ketakutan Zeline, Jayden melembutkan sedikit tatapannya. “Kamu sudah tunduk di bawahku ternyata,” gumam Jayden dalam hati penuh kemenangan dengan respon Zeline.


"Eyy, sayang apa kamu takut? Tak perlu takut seperti itu, aku tak marah hanya saja lain kali ketuklah pintu terlebih dahulu saat ingin memasuki ruangan seseorang." ucap Jayden melembutkan suaranya dan mendapat anggukan dari Zeline.


"Huh sudahlah lebih baik, kamu pergi ke bawah sebentar lagi jam makan Malam. Aku mau membersihkan diri terlebih dahulu, hmm" ucap Jayden yang lagi mendapat anggukan dari Zeline yang langsung beranjak dari sana.


Tak lama setelah Zeline pergi, Charl pun datang menghampirinya, "Urus mayat pria tua itu. Lalu buat berita besok pagi bahwa pria tua itu di serang oleh musuhnya dan tewas." Jayden berujar sambil melirik dingin Pria tua yang duduk di kursi balik meja kerjanya sebelum pergi dari sana, saat Charl mengiyakan perintahnya.


.


.


.


Kalandra terlihat menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya lelah seraya menghembuskan nafasnya berat. Perkerjaannya belakangan ini benar-benar banyak dan menguras tenaganya membuat ia kurang beristirahat belakangan ini.


Di tengah ia merilekskan tubuhnya sejak, tiba-tiba saja pintu ruangannya kembali di ketuk dan tak lama setelahnya muncullah Dashha dengan senyum cantiknya berjalan kearah Kalandra yang hanya memutar matanya malas.


Dashha berjalan kebelakang tubuh Kalandra lalu memeluk pemuda itu dari belakang, “Kalandra aku kangen, maaf belakangan ini aku jarang mampir ke sini karena aku lagi disibukkan sama proyek baru perusahaan aku.“ ujarnya manja.


Kalandra melepaskan pelukan Dashha di lehernya sambil menghela nafasnya pelan. “Gue capek dan gak mau di ganggu,jadi mending lo pulang!” ucap Kalandra terdengar datar tak seperti biasanya, membuat Dashha menatap pemuda itu heran.


“Gue tidak marah, justru gue bersyukur lo pergi tanpa kabar beberapa hari lalu.”


Dashha makin mengerutkan alisnya saat mendengar ucapan Kalandra. “Ada apa dengan Kalandra? Kenapa rasanya dia kembali seperti semula sebelum kecelakaan waktu itu.” batin Dashha terheran dan was-was.


“Kala sebenarnya kamu kenapa?” melas Dashha berjongkok di depan Kalandra seraya membawa tangannya untuk menggenggam jemari Kalandra.


Namun, pemuda itu memundurkan kursinya hingga membuat jarak dengan Dashha yang terdiam melihatnya. “Dashha, pergi gue lagi capek!” Kalandra berucap dingin dengan sorot matanya yang menunjukkan kelelahan.


Sementara Dashha mematung tanpa berkedip sedikitpun saat mendengar Kalandra memanggilnya dengan nama aslinya.


“I-ini gak mungkin?? Seak kapan ingatan Kalandra pulih?” batin Dashha tak percaya.


“Kenapa lo malah diem di sana? Sana pergi! Gue mau istirahat.” ujar Kalandra membuyarkan lamunan Dashha.


Wanita itu menegakkan tubuhnya lalu berjalan mendekat pada Kalandra seraya berucap, “Kalandra, siapa yang kamu pa-panggil aku Zeline.. Bu-bukan Dashha.“


“Berhenti memakai nama orang lain Dashha. Atau aku akan menuntutmu karena pencurian indentitas seseorang.” ucap Kalandra sorot matanya berubah menjadi dingin dan mengintimidasi.


Dashha menggelengkan kepalanya membantah ucapan Kalandra, “Enggak Enggak,. Aku bukan Dashha aku benar-benar Zeline kekasih kamu, Kal.”


“Ck. Lo gak capek apa pura-pura jadi orang lain?”


“Tentu aja aku capek! Tapi, aku rela terus-terusan jadi orang lain, selama itu bisa bikin aku milikin kamu dan selalu dekat kamu, Kal,”


Dashha tiba-tiba saja menjatuhkan tubuhnya sampai terduduk di atas lantai sambil mulai terisak. Kalandra yang melihat hal itu tampak menghembuskan nafasnya lelah.


Ia sudah kelelahan karena mengurusi pekerjaan kantor dan sekarang Dashha malah menambah pekerjaannya dengan menangis di dalam kantornya sambil mengemis padanya.


Kalandra kemudian beranjak dari duduknya menghampiri Dashha lalu memegang kedua lengan atas Dashha hingga membuat wanita itu menengadah menatap pemuda di depannya.


“Dashha lo cantik, lo bisa dapetin pria manapun yang lo mau tapi gue gak bisa, hati gue udah ada pemiliknya dan itu Zeline.”


“Tapi sekarang Zeline gak ada, gak bisakah kamu buka hati kamu buat aku? Aku rela ngelakuin apapun buat kamu, Kal.”


Namun Kalandra menggelengkan kepalanya tegas. “Gak Dashha, hati gue cuma buat Zeline. Kalau lo terus maksa itu cuma bakal melukai lo doang, Das. Gue mohon berhenti suka sama gue dan lupain gue, lo bisa cari laki-laki di luar sana yang bisa mencintai lo dan menyayangi lo, gue mohon hm?”


Mendengar intonasi suara Kalandra yang tegas namun penuh permohonan di akhir itu membuat Dashha akhirnya sadar, bahwa ia benar-benar tak memiliki kesempatan sedikitpun untuk memiliki hati seorang Kalandra Septiana Aldebaran.


Dashha akhirnya menganggukkan kepalanya pelan sambil menghapus air matanya dan tersenyum kecil. “Baik kalau begitu aku bakal berusaha lupain kamu, tapi aku boleh kan tetap jadi teman kamu?” Kalandra menganggukkan kepalanya sebagai respon ia juga menarik sudut bibirnya sedikit hingga membentuk senyum tipis.


“Kalau begitu boleh aku meluk kamu? Sebentar aja sebagai tanda lembaran awal dari pertemanan kita.” kalandra menganggukkan kembali kepalanya sebagai balasan dan saat itu pula Dashha langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam dekapan Kalandra yang juga membalas pelukannya.


Sekitar dua menit mereka berpelukan sebelum akhirnya Dashha melonggarkan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Kalandra. Mereka berdua saling melempar senyum kemudian bangun hingga berdiri tegak saling berhadapan.


“Aku kagum sama Zeline, ketika ia pergi jauh pun dia masih bisa milikin hati kamu yang dingin itu.” ujar lirih Dashha menundukkan kepalanya sesaat sebelum mendongakkan wajahnya menatap Kalandra lekat.


"Gue pulang dulu ya? Sampai jumpa.” pamit Dashha melambaikan tangannya kearah Kalandra yang juga membalasnya lalu iapun berjalan keluar dari kantor Kalandra.


Sesaat setelah ia menutup pintu kantor Kalandra ia menoleh kebelakang sebentar dengan tatapan sendu namun, bibirnya membentuk senyum kecil.“Kayaknya gue emang bener-bener harus ngelepas lo, Kal. Semoga lo bahagia ya!”


Kemudian iapun benar-benar pergi meninggalkan gedung pencakar langit yang di pimpin oleh Kalandra itu dengan beban di pundaknya yang sedikit menghilang karena ia akan mulai belajar merelakan Kalandra.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...