Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Dia bukan Zeline



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Hari ini, hari pernikahannya dengan Jayden. Gaun pengantin berwarna putih itu melekat indah di tubuh Zeline membuat gadis itu nampak begitu elegan dan menambahkan kesan cantik padanya.


Saat ini Zeline tengah berada di dalam kamarnya seorang diri, setelah tadi ia selesai di dandani oleh MUA yang sengaja di sewa oleh Jayden, Zeline menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatap miris dan sendu.


“Gue gak nyangka hal ini bakal terjadi sama gue.. Seandainya waktu itu gue nurutin ucapan Bang Revan buat bunuh dia, pasti di hari pernikahan gue orang tua dan kakak-kakak gue bakal jadi saksinya. Dan Papa bakal jadi wali gue..”


Tak lama setelahnya seorang wanita masuk ke dalam kamarnya, memanggilnya untuk pergi ke tempat ijab qobul berlangsung.


Mereka melakukan dua adat pernikahan yang pertama menurut Islam karena Zeline yang memegang agama itu dan kedua Kristen sesuai dengan agama yang di anut Jayden. Yah, mereka menikah beda agama.


.


.


.


Saat ini Celine tengah berjalan di area kampusnya bersama Jasmine seperti biasanya. Langkahnya santai seperti biasanya dan wajahnya sekarang nampak lebih dingin tidak seperti ia saat masih duduk di bangku SMA empat tahun yang lalu.


Tanpa di sengaja ketika ia akan berbelok menuju ruang kelasnya ia bertubrukan dengan Alan.. Yah Alan, Akalanka Alister Dirgantara pemuda yang masih menjadi pemilik hatinya.


Seolah mengulang kembali awal ketika mereka pertama kali bertemu saat SMA empat tahun yang lalu, kejadian saat ini sangatlah mirip dengan kejadian semasa itu.


“Elo lagi~ kenapa sih lo hobi banget nabrak dada gue?” tanya Alan melipat kedua tangannya di bawah dada sambil menatap heran Celine yang tengah mengusap keningnya setelah membentur dada Alan yang entah kenapa terasa sangat keras.


Sementara Jasmine sudah membawa semangka yang entah darimana ia mendapatkannya untuk dijadikan teman menonton perdebatan yang sebentar lagi pasti akan berlangsung di depannya bersama dengan Jovan dan Kaisar.


Entahlah mereka bertiga juga heran meski Celine sudah pernah terang-terangan mengatakan bahwa ia menyukai Alan ketika ospek dulu, tapi sikap gadis itu justru malah selalu kasar dan selalu mencari masalah dengan Alan, apalagi ketika di samping pemuda itu ada Ivana makin menjadi-jadi saja Celine mencari gara-gara dengan Alan.


Memutar matanya malas Celine balas menatap Alan dengan tangan yang ikut di lipat di bawah dadanya. “Gue yang harusnya nanya ke gitu sama lo, kenapa lo hobi banget ngehalangin jalan gue?”


“Gue bukannya ngehalangin jalan lo tapi, karena badan lo itu terlalu kecil makanya orang segede gue aja lo tabrak.”


“Jangan nyalahin badan gue yang kecil tapi, salahin badan lo aja yang kek titan.” ucap Celine membuat Alan tersenyum tipis lalu melirik sekitarnya seperti memastikan situasi aman sebelum mencondongkan tubuhnya kearah Celine dan berbisik tepat di telinga gadis itu hingga wajah Celine berubah menjadi merona tanpa di minta saat mendengar ucapannya.


“Tapi badan titan gue ini, nyaman di peluk'kan? Kalo lo lagi susah tidur atau lagi sedih” bisik Alan setelahnya ia menjauhkan tubuhnya dari Celine yang seketika langsung menendang tulang keringnya kesal.


Itu fakta, meski mereka terlihat seperti musuh yang tak pernah akur tapi di belakang itu semua mereka selalu diam-diam bertemu dan saling memberi kekuatan untuk masing-masing.


Bahkan Alan sering diam-diam menyusup ke kamar Celine ketika gadis itu mengatakan bahwa ia tak bisa tidur dan ia akan datang untuk memeluk gadis itu hingga terlelap sebelum akhirnya ia kembali ke rumahnya.


Jasmine, Jovan dan Kaisar kompak meringis saat Celine menendang tulang kering Alan keras hingga membuat pemuda itu mundur sambil memegangi betisnya yang di tendang oleh Celine yang langsung berlalu pergi tanpa merasa bersalah.


Jasmine menolehkan kepalanya pada Kaisar dan Jovan lalu tersenyum manis, “Gue duluan ya, bye! Cup!” sebelum berlalu untuk mengejar langkah sahabatnya Jasmine menyempatkan dirinya untuk mengecup pipi Kaisar, kekasihnya.


Satu kabar baik, mereka sudah meresmikan hubungan mereka empat tahun yang lalu saat semester pertama perkuliahan mereka. Sementara Jovan hanya mendatarkan wajahnya saat adegan itu terjadi tepat di depan wajahnya yang berada di tengah-tengah antara Jasmine dan Kaisar.


“Sialan! Mata gue kembali ternodai!” gerutu Jovan dalam hati.


Lalu dari arah belakang terdengar suara teriak cempreng seorang gadis yang amat sangat di hindarinya.


Tanpa menoleh sedikitpun ke belakang Jovan menepuk pundak Kaisar dan Alan dengan senyuman tertekannya. “Gue pergi ke kelas duluan, sampai jumpa!” ucapnya kemudian berlari secepat kilat dan menghilang dari pandangan kedua sahabatnya.


Gadis yang tadi meneriaki Jovan kini sudah berdiri tak jauh dari sahabat pemuda yang di sukainya itu dengan pandangan heran. “Jovan kenapa lari?” tanyanya dengan polos pada Alan dan Kaisar yang membalasnya dengan senyuman tipis dan gelengan kepala sambil berucap, “Mungkin dia kebelet berak.”


Lalu setelahnya dua pemuda tampan itupun ikut menyusul dan berlalu dari sana.


.


.


.


.


Suara ketukan pintu mengalihkan sedikit konsentrasi Kalandra yang tengah memeriksa beberapa dokumen penting di mejanya.


“Masuk!”


Setelah mendengar sahutan dari Kalandra pintu kayu bercat coklat tua itupun terbuka dan memperlihatkan seorang wanita yang tersenyum cerah kearah Kalandra.


“Selamat siang, Sayang. Aku bawain kamu makan siang hari ini,” ujar Wanita itu menyimpan paperbag yang berisi kotak bekal di atas meja tamu depan sofa yang ada di ruangan Kalandra.


Sementara dirinya berjalan menghampiri Kalandra dan memeluk pemuda itu dari belakang sambil memberikan kecupan singkat di pipi Kalandra yang masih nampak acuh.


Tak mendapat respon apapun dari Kalandra, wanita itu yang tak lain adalah Dashha pun mempoutkan bibirnya sok imut. “Kala, ayo makan siang dulu, kamu bisa lanjutin meriksa dokumen itu nanti setelah kamu makan dan minum obat,” ucap Dashha menggoyangkan kursi putar Kalandra pelan yang mana perbuatannya itu membuat si pemuda menghela nafasnya pelan dan menutup dokumen yang tengah di bacanya seraya bangun dari duduknya sambil melepas kacamata bacanya.


“Ya udah ayo, hari ini kamu masak apa?” tanya Kalandra berjalan menuju sofa dan melihat Dashha yang kini sibuk mengeluarkan kotak bekalnya dari dalam paperbag nya.


“Ayam saus mentega kesukaan kamu dan salad buah,” ucap Dashha dengan senyum manis dan memberikan kotak bekal pada Kalandra yang menerimanya dengan senyum tipis.


Jika membicarakan bagaimana kondisi kesehatan Kalandra kini pemuda itu sudah bisa berjalan kembali setelah setengah tahun menjalani terapi untuk membantunya bisa kembali berjalan. Dan sebagian ingatannya pun sudah mulai pulih dengan seiring berjalannya waktu.


Kalandra mulai menyuap nasi beserta lauknya ke dalam mulut dengan pikiran yang sedikit berkecamuk. Selama empat tahun ini Kalandra menjalin hubungan dengan Dashha yang mengaku sebagai Zeline dan selama itu pula ia merasakan hal aneh, mimpinya selama koma dulu masih selalu datang di setiap malamnya dan di keesokan harinya saat ia bertemu dengan Dashha yang ia anggap Zeline perasaannya selalu berubah.


Jika di dalam mimpi ia selalu merasa nyaman dan bahagia ketika di dekat gadis itu, maka ketika ia sudah bertemu dengan Zeline di dunia nyata ia selalu merasa bahwa mereka adalah orang yang berbeda. Dan menurutnya itu sangat lah aneh, di tambah lagi semenjak ia yakin bahwa Dashha adalah Zeline, hubungan dirinya dengan Dylan sahabatnya itu menjadi renggang.


Kalandra pernah kembali bertanya mengenai foto Zeline bersama mereka kepada ke dua sahabatnya dan jawaban Dylan saat itu sangat lah dingin padanya.


Di tengah pikirannya berkecamuk tiba-tiba saja seseorang kembali mengetuk pintu ruangannya membuat ia mengalihkan atensinya pada daun pintu yang sudah terbuka menampilkan Erland yang tersenyum tak enak padanya.


“Ekhem! Sorry gue ganggu tapi, Kal ada hal yang mau gue sampaikan sama lo..” ucap Erland melirik Dashha sekilas seolah memberi isyarat tak langsung pada Kalandra agar gadis itu keluar dari ruangannya.


Kalandra menangkap hal itu dan ia pun mengalihkan tatapannya pada Dashha. “Sayang, kamu bisa keluar sebentar? Ada yang mau aku omongin sama Erland,” ujarnya lembut.


“Eum oke, aku pulang aja deh ya, nanti ini tolong kamu anterin ke rumah aku atau gak suruh sopir kamu buat anterin ini, ya?” ucap Dashha beranjak dari duduknya dan mengecup sekilas pipi Kalandra sebelum pergi keluar dari ruangan Kalandra.


Erland yang melihat hal itu hanya memutar matanya jengah, “Tidak tahu malu!” maki Erland dalam hati saat Dashha melewatinya dan setelah mendengar pintu yang di tutup, Erland pun berjalan menghampiri Kalandra.


“Hah~ lo kenapa sih gak putusin tuh cewek? Muak gue liat tuh cewek nempelin lo mulu,” Erland menyandarkan punggungnya pada badan sofa.


Kalandra hanya menghiraukannya dan berjalan kearah mejanya untuk memanggil OB dan kembali duduk di sofa single samping Erland.


“Kenapa lo selalu ngomong gitu, seolah lo ngak suka banget sama Zeline.”


“Kal, berapa kali juga gue bilang kalo tuh cewek bukan Zeline. Dia nipu lo, dia sengaja manfaatin lo yang hilang ingatan dengan ngaku-ngaku sebagai Zeline.” jelas Erland membuat Kalandra mengerutkan keningnya.


“Terus kalo dia bukan Zeline, dia siapa? Dan Zeline yang asli ada di mana?”


“Dia Dashha, sahabat sewaktu kecil lo dulu. Kalo Zeline gue bisa kasih tahu lo, karena gue gak punya hak untuk itu.”


“Huh~ udahlah jangan omongin itu lagi, sekarang kasih tahu gue apa yang mau lo omongin!” Kalandra mengalihkan percakapan yang justru di balas senyuman lebar oleh Erland sambil menggaruk belakang kepalanya tak gatal.


“Gak ada, gue cuma muak liat tuh cewek selalu ada di sekitar lo makanya bilang kek gitu tadi.” kekeh Erland garing yang mana membuat Kalandra mendengus sebal.


Lalu beranjak menuju meja kerjanya, “Buang-buang waktu aja lo!” maki Kalandra dan Erland hanya terkekeh.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...