
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Seperti biasa di saat bel istirahat berbunyi maka murid-murid pasti akan berhamburan dan berdesak-desakan menuju kantin hanya untuk mengisi perut kosong mereka setelah di pusingkan dengan materi-materi yang di berikan oleh guru di kelas tadi.
Dan itupun berlaku untuk Celine, Jasmine dan Luke yang datang ke kantin secara bersamaan. Membuat hampir seluruh pasang mata di kantin itu teralih untuk melihat kedatangan mereka yang memang terlihat mencolok apalagi dengan warna rambut Jasmine yang tergerai indah.
Membawa langkahnya masuk lebih dalam ke area kantin Celine terlihat mengedarkan pandangannya mencari sosok sang adik di antara lautan manusia. "Mine, Luke kalian pesen makanan, gue mau cari tempat meja kosong" ujar Celine menatap sekilas kedua sahabatnya yang menganggukkan kepalanya mengerti.
"Pesenan lo sama kayak gue kan?" tanya Jasmine sebelum akan benar-benar pergi ke stand makanan, yang mana anggukan kepala Celine berikan sebagai tanggapan.
Kemudian benar-benar berlalu bersama Luke meninggalkan Celine yang kini sudah menemukan seseorang yang sedari tadi ia cari keberadaannya. Dengan senyum menawannya Celine berjalan santai mendekat kearah seorang gadis yang duduk di meja pojok kantin sambil menyantap makanannya seorang diri.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan dari sisi kanannya seseorang tiba-tiba saja menabrak tubuhnya dengan sengaja membuat ia mencibik karena hampir terjatuh kalau saja tidak bisa menjaga keseimbangan.
"Punya mata gak sih lo!" sentak Celine mendongakkan kepala melihat seseorang yang telah menabraknya, ternyata adalah seseorang yang beberapa hari yang lalu juga pernah menabraknya ketika berada di lorong sekolah.
"Sorry, soalnya lo terlalu pendek sih makanya gak keliatan sama gue" sahut santai pemuda itu yang tak lain adalah Alan bersama kedua temannya yang berdiri disisi kanan dan kirinya.
Mendengus kasar Celine memutar matanya jengah lalu melipat tangannya di dada angkuh. "Heh! Cowok kelebihan kalsium gak usah songong deh, kalau pun gue pendek lo pasti masih bisa liat gue karena badan gue gak kecil-kecil amat ya."
"Aish lo gak sadarnya kalau selain pendek lo juga tuh punya badan mungil banget ke semut, jadi pantes gue gak bisa liat lo" ujar Alan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Celine yang merenggut kesal.
"Ck. Lo bener-bener sialan ya?! Seenaknya aja bilang gue semut"
Jovan yang mencium akan terjadinya perseteruan dengan sigap langsung berdiri di antara Alan dan Celine lalu merentangkan tangannya memberi jarak di antara kedua manusia berbeda gender itu.
"Weweweh... Udah udah gak usah tengkar. Celine sorry temen gue yang satu ini emang rada kekurangan akhlak jadi lo harap maklum dan mending gak usah perpanjang masalahnya, karena bel masuk sebentar lagi bunyi jadi.... Kita sudahi saja perdebatan ini dan kalian bisa melanjutkannya di lain waktu" ujar Jovan panjangĂ—lebar dengan senyum tipisnya pada Celine yang kini terlihat kembali menghembuskan nafasnya kasar.
"Huh! Yaudah, buat Lo!" tunjuk Celine pada wajah Alan yang masih menatapnya. "Urusan kita belum selesai." ujarnya kemudian berlalu pergi menuju bangku dimana sang adik berada.
Alan terlihat memperhatikan punggung kecil itu berjalan mendekat kearah bangku seseorang yang di kenalnya pun mengerutkan kening, bingung. Mereka saling kenal? Pikirnya lalu menggelengkan kepalanya pelan dan mengalihkan atensinya pada Kaisar yang sedari tadi diam.
Membuat Kaisar yang sejak tadi tebar pesona itu menolehkan kepalanya saat merasa ada seseorang yang menatapnya. "Apa?" tanyanya menatap heran Alan yang justru memberinya isyarat mata pada dua orang gadis yang kini duduk saling berhadapan di bangku pojok kantin.
Kemudian iapun mengangguk-anggukan kepalanya sambil kembali menatap Alan, "Mereka adek kakak" ucapnya yang membuat Alan sedikit melebarkan mata terkejut namun dapat segera ia atasi dengan ekspresi seperti biasa saja.
"Kok gue gak tahu tuh cewek punya kakak?" tanya Alan pada Kaisar yang saat hendak menjawab pertanyaan Alan itu terpotong cepat oleh Jovan.
"Udahlah nanti aja ngomonginnya gue laper" Mendorong punggung kedua temannya untuk segara pergi ke bangku tempat biasa mereka sedangkan ia langsung pergi ke stand makanan setelah kedua temannya terduduk di sana.
...Zeline Zakeisha...
Usai membeli makanan Jasmine dan Luke pun kini mencari keberadaan Celine yang tak terlalu sulit di cari karena anak itu sudah mengangkat tangannya melambai-lambai kepada keduanya.
Sampai di tempat duduk mereka Jasmine mendudukkan pantatnya di samping Celine sementara Luke di samping Zeline yang terlihat nampak acuh dengan keberadaan mereka berdua dengan masih menyantap makanannya tenang tak terganggu sedikit pun.
Membuat Jasmine yang melihatnya berdecak akan sifat dingin Zeline, "Ck. Lo kayak Uncle Galaksi aja" cetusnya yang mana hanya dibalas gidikan bahu acuh oleh Zeline.
"Kalau lo lupa, dia anaknya" timpal Celine sambil mulai menyantap makan siangnya.
Luke menolehkan kepalanya kepada Zeline lalu tersenyum tipis, "Gue mau ajak adik lo jalan malam ini, boleh gak?" ucap Luke mengalihkan tatapannya pada Celine yang kini menatapnya lalu bergidik acuh.
"Tanyain ke anaknya lah mau apa gak? soal gue mah fine fine aja lo mau jalan sama dia" ucap Celine terdengar bodoamat.
Luke kembali mengalihkan tatapannya pada Zeline memperhatikan gadis itu dari samping. Sial! Dia benar-benar tertarik dengan adik dari sahabatnya ini sejak pertemuan pertama mereka di bandara saat itu.
"Terserah" Acuh Zeline lalu beranjak dari duduknya, "Gue duluan kak" pamit Zeline pada Celine yang mengangguk kecil.
Setelah menatap Zeline yang keluar dari area kantin kini Luke mengalihkan tatapannya pada Celine sambil tersenyum ceria, "Gue bisa anggap jawaban adek lo itu setuju sama ajakan gue kan?" ucap Celine yang kembali mengangguk kepalanya karena mulutnya tengah penuh dengan makanan.
Melihat anggukan kepala dari Celine, Luke terlihat mengulum senyumnya membuat Jasmine yang melihatnya geli. "Lo kayaknya tertarik sama Zeline?" tebak Jasmine menyuapkan baso ke dalam mulutnya sambil tersenyum menggoda Luke.
"Kayaknya iya, Adek lo benar-benar menarik Line" ucapnya yang mana membuat Jasmine terkekeh karena baru kali ini ia melihat seorang Luke Haiden tertarik terhadap seseorang. Yang mana sekalinya ia tertarik justru kepada gadis kutub seperti Zeline.
"Semoga lo berhasil naklukinnya." Jasmine menepuk pundak Luke memberi semangat karena ia sangat tahu kecil kemungkinan bisa mendapatkan hati Zeline.
"Goodluck, Luke. Adek gue bukan cuma sulit ditaklukin tapi dia juga nyeremin," imbuh Celine ikut menepuk pundak Luke. Membuat pemuda itu tersenyum tulus kearah keduanya lalu mengangguk kepalanya, "Thanks dukungannya Sister, Dan lo Line siap-siap punya adek ipar kayak gue." ucap Luke percaya diri bahwa ia bisa menaklukkan seorang Zeline Zakeisha Galaksi.
...Zeline Zakeisha...
Dengan wajah yang terlihat lelah Dylan mulai memasukkan satu persatu pin apartemen miliknya, hingga pintu itu berbunyi bip dan terbuka secara otomatis Dylan pun segera masuk kedalam yang mana kedatangannya itu langsung di sambut oleh seseorang yang sekarang ini tinggal di apartemennya.
"Akh lo udah nyampe?" tanya orang itu, Acha. Ketika ia melepas sepatunya dan menyimpannya di rak sepatu. Melirik sekilas kearah gadis itu Dylan mulai berjalan masuk lebih dalam apartemen sambil melepas jaketnya.
Acha, yang melihat Dylan hanya melewatinya pun terlihat mengekori Dylan dengan tangan yang masih memegang spatula dan memakai apron di pinggangnya.
"Bisa bikinin gue jus semangka? Gue haus" ucap Dylan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sambil menengadahkan kepala keatas langit-langit apartemen.
"Oke, wait a minutes!" ucap Acha sambil berlari kecil menuju dapur meninggalkan Dylan yang menghela nafasnya lelah.
Ahh malam ini pasti ia begadang lagi karena harus merevisi ulang skripsi yang tadi siang ia ajukan ke dosen. "Ck. Padahal niatnya malam ini gue mau ajak Acha jalan-jalan" batin Dylan menutup wajahnya menggunakan sebelah lengannya sambil memejamkan matanya.
Baru sebentar ia memejamkan matanya itu ia kembali membukanya karena mendengar suara gelas yang di simpan di atas meja dengan suara lembut menenangkan dari samping tempat duduknya. "Nih, kayaknya lo capek banget" ujarnya memiringkan sedikit kepalanya untuk menatap wajah Dylan yang setengahnya tertutupi oleh lengan pemuda itu.
Mendudukkan tubuhnya dengan tegak Dylan mengambil jus semangka segar di atas lalu meneguknya hingga tersisa setengah. "Iya, hari ini gue di suruh revisi ulang skripsi gue, belum lagi tadi ada tanding basket antar universitas" sahut Dylan menolehkan wajahnya berhadapan dengan Acha.
Mengulas senyum manis Acha pun berucap "Hm karena lo udah ngelewatin hari yang melelahkan mau cobain hasil eksperimen masakan gue gak? Dijamin lo gak bakal nyesel."
Mendengar hal itu Dylan yang memang kebetulan tengah lapar juga pun lantas menganggukkan kepalanya pelan membuat Acha berdiri dari duduknya dan menarik tangannya untuk mengikutinya ke meja makan yang menyatukan dengan dapur.
Dan begitu mereka berdua sampai di sana dapat Dylan lihat di atas meja itu telah tersaji beberapa masakan yang jika dari tampilannya memang terlihat menggiurkan dan menggugah selera, namun entahlah dengan rasanya Dylan akan mengetahuinya itu nanti.
Menarik salah satu kursi Dylan mendudukkan bokongnya di sana dan memperhatikan satu persatu-satu lauk pauk yang berada di atas meja, sementara Acha mengambilkan nasi beserta lauknya di piring miliknya.
"Nah cobain ini, itu resep baru yang gue coba hari ini" kata Acha menyimpan piring yang telah terisi makanan di depannya. Membaca doa' sebentar Dylan pun mulai menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya. Begitu makanan itu masuk kedalam mulutnya untuk beberapa saat ia terdiam dengan wajah sedikit terkejut.
Membuat Acha yang duduk di kursi sebrang meja menatap cemas akan bagaimana rasa masakannya. "Kenapa diem? Masakannya gak enak? Atau rasanya aneh?" tanya beruntun Acha menatap Dylan yang kini mulai mengunyah makanan di dalam mulutnya untuk beberapa saat sebelum menelannya.
"Perfect. Lo bener-bener jago masak Acha, rasanya gak ngecewain tampilannya" tuturnya membuat Acha bernafas lega sambil tersenyum ceria lalu menambahkan lauknya yang lain. "Kalau gitu cobain juga yang ini." ucap Acha dengan nada antusias menaruh beberapa masakan yang lain di piring Dylan, tentunya hal itu membuat Dylan menganggukkan kepalanya patuh sambil menyuapkan kembali makanan itu kedalam mulutnya.
Hingga akhirnya makan malam itupun berlangsung dengan hangat karena diselingi oleh candaan serta godaan yang dilemparkan Dylan pada Acha, tak jarang pula Dylan membuat Acha mendengus kesal karena ucapannya.
Menatap wajah kesal Acha yang tengah mengembung karena mengunyah makanan di dalam mulutnya membuat rasa lelah yang tadi bersarang di pikiran Dylan kini pergi entah kemana. "Lagi dan lagi lo jadi penyembuh rasa lelah gue Cha." batin Dylan menatap lembut Acha dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...