Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Tidak ada yang berubah



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.... ...


.... ...


.... ...


Kalandra memarkirkan mobilnya sembarangan di halaman rumahnya lalu bergegas masuk menuju kamarnya bahkan ia mengabaikan ucapan sang ibu yang menegurnya.


Sampai di dalam kamar ia mulai mengobrak-abrik seisi kamarnya hingga berantakan membuat Stella; ibunya yang mengikutinya sampai ke kamar itu mengernyitkan dahinya bingung bercampur khawatir karena tak biasanya ia bersikap seperti ini.


"Kala, kamu lagi cari apa?" tanya lembut Stella pada Kalandra yang melirik nya sekilas lalu kembali mengobrak-abrik setiap laci yang ada di kamarnya dan lemarinya.


"Kunci," balas singkat Kalandra lalu ia akhirnya menemukan kunci yang di gulung kertas kecil didalam laci lemarinya. Setelah menemukannya iapun berbalik badan untuk pergi.


"Aku pergi dulu, Ma." pamitnya mengecup singkat pipi Stella saat melewati ibunya yang berada di ambang pintu kamarnya.


.


.


.


Mobil Kalandra berhenti tepat di sebuah rumah sederhana yang berada di tengah hutan tapi meski begitu rumah itu nampak terawat dengan baik. Kalandra turun dari mobilnya lalu berjalan menuju rumah itu, tangannya merogoh saku celana kainnya, mengambil kunci yang tadi di carinya lalu mengarahkan kunci tersebut untuk membuka pintunya setelah berhasil iapun melangkahkan kakinya ke dalam.


Pandangan matanya mengedar ke seluruh ruangan, "Tak ada yang berubah" Kalandra bermonolog dalam hati lalu ia melangkah semakin ke dalam rumah itu hingga ia berhenti di depan sebuah pintu kayu jati.


Tangannya terulur membuka pintu itu yang ternyata adalah sebuah kamar minimalis yang nampak sangat nyaman untuk di tempati. Kamar tersebut benar-benar menggambarkan seseorang yang sangat di rindukannya.


Kalandra kemudian berhenti di depan jendela balkon yang menampakkan pemandangan pepohonan yang menjulang tinggi nan rimbun.


Ingatannya kembali pada hari di mana ia merayakan ulang tahun untuk pertama kalinya bersama gadis itu, bagaimana gadis itu yang dengan malu-malu memberikan hadiah untuknya di sini dan bagaimana ciuman lembut penuh perasaan mereka tersalur di sini.


"I miss you, Ze. Kapan kamu kembali?" tuturnya dalam hati tatapan matanya terlihat begitu dalam menyiratkan kerinduan yang besar.


Namun di saat ia tengah terlamun mengingat sosok gadis yang berhasil mengisi hatinya itu, tiba-tiba saja suara pintu yang di buka dari luar mengalihkan atensinya kearah pintu yang menampakkan seorang pria berpakaian formal berdiri diambang pintu sambil menatapnya kaget.


"Tuan Kalandra?! Kenapa dia bisa ada di sini?! Apa ingatannya sudah pulih?" batin Revan bertanya-tanya di ambang rasa terkejutnya melihat keberadaan Kalandra di rumah pribadi Zeline.


Alis Kalandra bertaut melihat pria itu dan tatapannya berubah amat sangat tajam dan waspada. "Siapa kamu?" tanya Kalandra dengan nada intimidasinya selayaknya seorang Presdir dingin, angkuh yang berkharisma.


Pria di ambang pintu itu berdehem pelan dengan tangan terkepal di depan mulutnya, sebelum menatap dengan senyum kikuk pada Kalandra.


"Ekhem! Halo, perkenalkan saya Revan, asisten pribadi sekaligus sekretaris Nona Zeline Zakeisha. Saya juga yang mengurus rumah ini." Pria yang ternyata adalah Revan itu mengulurkan tangannya berkenalan tapi, Kalandra sama sekali tak menyambutnya di tambah lagi sepertinya Revan lupa bahwa posisinya berdiri dengan Kalandra lumayan jauh.


Revan kemudian berdehem kembali saat tak mendapat respon apapun dan menarik tangannya seraya menggerutu dalam hati, "Bego banget, lo sama dia kan berdirinya jauhan."


Mendengar ucapan Revan, Kalandra menelisik penampilan Revan dari atas kepala sampai ujung kaki dengan tatapan tajam. Lalu melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Revan yang meneguk ludahnya susah payah karena tatapan dingin nan tajam Kalandra.


"Gak ceweknya, gak cowoknya sama-sama suka bikin orang ketar-ketir aja." Revan membatin saat Kalandra sudah berdiri tepat di depannya.


"Kamu benar asisten pribadi Zeline?" tanya Kalandra dengan nada intimidasi penuh curiga.


"Saya benar-benar asisten pribadi Nona Zeline, jika anda tak percaya tanyakan saja langsung ke-" ucapan Revan tiba-tiba terhenti karena ia baru ingat jika sekarang Nona-nya itu keberadaannya tak diketahui oleh siapapun kecuali beberapa orang kepercayaan gadis itu.


Melirik raut wajah Kalandra yang menaikan sebelah alisnya menunggu kelanjutan ucapannya, membuat Revan kembali merutuki dirinya sendiri dalam hati. "Hadeh kenapa lo pake kelepasan segala sih. Kalo sampai Kalandra sadar lo masih selalu kontekan sama Zeline nanti gimana cara lo ngejelasinnya sama Zeline."


"Ekhem! Saya benar-benar asisten Nona Zeline, Tuan. Saya berani bersumpah." ucap Revan kemudian sambil menunjukkan dua jarinya pada Kalandra penuh kebenaran.


"Kalau begitu, berarti kamu tahu dimana keberadaan Zeline sekarang kan?"


"Eumm kalau itu... Saya juga tidak tahu Tuan, saya benar-benar kehilangan jejak Nona." ucap Revan berujar dengan menundukkan kepalanya sedih. "Tapi, sebelum dia menghilang dia sempat menitipkan pesan yang sepertinya itu di sampaikan untuk anda." Revan mendongak menatap Kalandra.


"Apa?"


"Nona bilang agar Anda tak perlu menunggunya, Anda bisa mencari kebahagiaan anda dengan orang lain. Katanya pula anda tak perlu berharap dia akan kembali." ucapnya membuat Kalandra terdiam sesaat sebelum terkekeh pelan.


Revan sadar meski Kalandra berucap seperti itu dengan datar tapi, di dalamnya terselip nada sendu. "Dan sumber kebahagiaan Zeline juga ada di kamu. Meski gue yakin lo bakal nerima keadaan Zeline apa adanya setelah kembali nanti, tapi gue gak yakin Zeline bakal mau balik lagi sama lo dengan keadaan dia yang menurutnya sudah tak suci lagi." lirih Revan didalam hati menatap iba Kalandra.


.


.


.


Sore ini ketika Zeline tengah bersantai di sofa single yang berada di ruang tengah sambil membaca majalah setelah tadi ia menyelesaikan semua tugas kuliahnya yang membuat ia penat berpikir.


Hingga tiba-tiba dari arah depan mansion terdengar suara bising yang membuat ia penasaran, Zeline beranjak dari duduknya guna melihat keributan apa yang tengah terjadi. Dan langkahnya berhenti saat ia melihat rombongan yang sepertinya di pimpin oleh seorang pria paruh baya yang nampak masih tampan perkasa di usianya yang sudah tua.


Sudut bibirnya kemudian tertarik keatas saat mengetahui siapa pria tua itu, apalagi tak lama setelah pria itu turun dari mobilnya seseorang yang di kenalnya juga ikut turun dari kursi penumpang yang duduk di sebrang pria tua itu.


"Oo dia mempercepat kepulangannya ternyata?" batin Zeline menyeringai dingin.


Kemudian dua pria yang berbeda usia itu masuk ke dalam mansion megah itu, langkah pria yang lebih muda berhenti sesaat saat melihat Zeline lalu membawa langkahnya pada Zeline.


"Aku pulang sayang," ucapnya mengecup kening Zeline sayang lalu menautkan jemarinya dengan Zeline dan menarik gadis itu mendekat pada pria paruh baya yang berhenti di tempatnya menatap sang putra.


"Dad, kenalkan menantumu Zeline Zakeisha Alexander." Zeline membungkuk sedikit tubuhnya memberi hormat dengan senyum kecil kepada pria tua itu tanda kesopanan.


Namun raut wajah pria tua itu hanya datar tak berekspresi. Lalu menatap pada sang putra tajam. "Temui aku di ruang kerjamu!" titah pria tua itu melenggang pergi dari hadapan Jayden dan Zeline.


Melihat kepergian pria tua yang merupakan ayah Jayden itu seketika Zeline pura-pura memasang raut wajah sedihnya, "Apa Daddy mu tak menyukai ku?" lirihnya berujar sedih.


Jayden menoleh pada Zeline yang menunduk sedih lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk menangkup salah satu sisi wajah Zeline agar mendongak menatapnya. "Tidak, dia menyukaimu. Tenang saja, aku akan berbicara dengannya terlebih dahulu." ujar Jayden dan Zeline menganggukkan kepalanya kecil.


Setelahnya Jayden pun pergi meninggalkan Zeline seorang diri yang kini menatap punggung pemuda itu dingin dengan seringainya. "Kamu berpikir terlalu cepat, bahwa aku sudah tunduk di bawahmu." ujar Zeline dalam hati lalu melambaikan tangan memberi isyarat pada Emma yang berdiri tak jauh darinya.


"Pergi siapkan teh! Aku ingin membawanya untuk menemui anak dan ayah itu di ruang kerjanya." Emma menganggukkan kepalanya sebagai balasan kemudian berlalu dari hadapan Zeline.


Sekarang dikedua tangan Zeline sudah terdapat nampan yang membawa dua gelas teh diatasnya. Langkah kakinya ia bawa menuju ruang kerja Jayden lalu tanpa mengetuknya karena pintu itu sudah sedikit terbuka Zeline pun mendorongnya dan pemandangan di depannya membuat ia membulatkan matanya hingga nampan yang di bawanya terjatuh membuat dua gelas teh di atasnya pecah berserakan.


Jayden menolehkan kepalanya kearah pintu ruangannya dengan wajah dingin dan sorot mata tajam bak psikopat apalagi di sebagai wajah dan baju kemeja putih yang di pakainya terdapat cipratan darah.


Sementara pria tua yang merupakan ayah pria itu sudah berlumuran darah tak bernyawa.


Zeline sebenarnya tak takut ataupun terkejut melihat pembunuhan di depannya ini ia hanya tak menyangka bahwa Jayden akan membunuh ayahnya sendiri. Dan satu pertanyaan terlintas di benaknya, apa yang mereka bicarakan tadi hingga membuat Jayden mengambil langkah membunuh sang ayah?


Jayden beranjak dari posisinya yang tengah membedah perut pria tua di depannya untuk mendekat pada Zeline. Zeline yang menyadari Jayden mendekat padanya langsung berakting ketakutan dan tubuhnya bergetar.


Jayden berhenti tepat di depan Zeline lalu membelai pipi Zeline yang sedikit chubby. "Sayang kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, hmm?" tanyanya berucap lembut namun terselip nada kesal di dalamnya.


"Ma-maaf, pintunya sudah terbuka sedikit tadi j-a-di aku memilih untuk membukanya saja langsung." ucap Zeline bergetar takut tak berani menatap Jayden.


Namun dalam hati ia berucap sebal karena tangan menjijikkan yang berlumur darah itu mengusap pipinya. "Sialan! Singkirkan tangan menjijikkanmu itu!! Darahnya mengotoriku bodoh!"


"Eyy, sayang apa kamu takut? Tak perlu takut seperti itu, aku tak marah hanya saja lain kali ketuklah pintu terlebih dahulu saat ingin memasuki ruangan seseorang, hmm?" ucap Jayden dan mendapat anggukan dari Zeline.


"Huh sudahlah lebih baik, kamu pergi ke bawah sebentar lagi jam makan Malam. Aku mau membersihkan diri terlebih dahulu, hmm" ucap Jayden yang lagi mendapat anggukan dari Zeline yang langsung beranjak dari sana.


Tak lama setelahnya Charl datang menghampirinya, "Urus mayat pria tua itu. Lalu buat berita besok pagi bahwa pria itu di serang oleh musuhnya dan tewas." Jayden berujar sambil melirik dingin Pria tua yang duduk di kursi balik meja kerjanya sebelum pergi dari sana, saat Charl mengiyakan perintahnya.


Di sisi lain Zeline berdecih sambil mengusap noda darah yang tertinggal di pipinya. "Pria tak berperasaan itu, harus mati... Tapi nanti setelah aku puas menyiksanya!" batin Zeline.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...