Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Jadi nyamuk Pt.2



...Jangan lupa vote, like & komen....


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Semenjak peringatan yang dilontarkan Zeline padanya tempo hari di rooftop sekolah. Alan kini malah semakin gencar mendekati Celine bahkan tak jarang mereka menebarkan kemesraan di sekitar sekolah hingga membuat warga SMA Aksara Bangsa beranggapan bahwa mereka tengah menjalin hubungan spesial, padahal pada kenyataannya kedua orang tersebut tak memiliki hubungan yang jelas hanya sekedar dekat saja.


Seperti saat ini contoh ketika jam istirahat tiba Alan akan dengan segera pergi keluar kelas seorang diri hanya untuk pergi menjemput Celine dikelasnya dan mengajak gadis itu untuk pergi ke kantin bersama seperti pada hari-hari biasanya.


“Celine, ayo kantin!” ucap Alan ketika ia telah sampai di dalam kelas Celine yang masih asik mengobrol dengan Jasmine di bangkunya.


Mendengar namanya dipanggil tentu saja si empu nama menoleh apalagi suara seseorang yang memanggilnya itu sangatlah tak asing di telinganya. Mengulas senyum cantiknya Celine bangkit dari duduknya. “Ayo! Mine lo ikut?” tanya Celine menoleh kepada Jasmine yang menggelengkan kepalanya seraya membalas.


“Gak deh, gue mau ke perpus aja cari buku fiksi buat tugas B. Indo. Duluan ya, bye~” Jasmine beranjak keluar kelas lebih dulu meninggalkan Celine dan Alan yang menganggukkan kepalanya sebagai balasan sambil saling menukar pandang. Sebelum akhirnya keduanya pun ikut beranjak keluar kelas menuju kantin.


Disepanjang koridor menuju kantin seperti biasanya keduanya akan menjadi pusat perhatian siswa/i karena ketika keduanya telah berjalan berdampingan keduanya terlihat sangatlah serasi ditambah lagi mereka berdua juga sama-sama famous.


“Malam nanti ayo jalan, gue mau ngajak lo ke suatu tempat.” ucap Alan membuka pembicaraan di tengah perjalanan mereka menuju kantin.


Celine menoleh lalu berucap, “Oke, tapi jemput gue ya? Lagi mager bawa kendaraan, tadi aja gue berangkat bareng Zeline diantar supir.” Dan mendapat anggukan kecil dari Alan yang tersenyum tipis.


Kemudian pemuda itu merongoh saku celananya untuk mengambil sesuatu. “Pinjem tangan lo” ucap Alan mengulurkan telapak tangan kanannya kepada Celine yang menatap tangannya sekilas sebelum memberikan telapak tangannya sendiri ke telapak tangan pemuda itu. Yang mana beberapa saat kemudian ia merasakan sebuah benda bulat masuk ke pergelangan tangannya dan melingkari lengan jenjangnya.


Celine mengernyitkan alisnya ketika melihat pergelangan tangannya itu lalu mendongkak menatap Alan yang juga tengah menatapnya dengan senyum kecil.


“Gue liat gelang itu waktu nemenin adek cewek gue ke pameran kemarin, dan gue pikir itu bakal cocok kalo di pake sama lo. Lihat cocok kan?“ ucap Alan seraya mengelus pergelangan tangan Celine yang dilingkari gelang hitam dengan sebuah liontin berbentuk sabit.


Memperhatikan gelang itu lagi Celine pun mengulas senyumnya kemudian mengangguk kecil. “Ya, lumayan cocok. Selera lo gak buruk juga” ucap Celine mengusap liontin gelang tersebut.


“Gue juga pake” imbuh Alan menujukan pergelangan tangan kirinya kepada Celine yang juga terdapat gelang yang sama dengan milik Celine bedanya liontin yang ada pada gelangnya itu berbentuk bintang.


“Couple?” tanya Celine membuat Alan menganggukkan kepalanya sebagai balasan, “Ya kita couplean sebagai tanda pertemanan kita” ucap Alan kemudian yang mana ucapannya itu mampu membuat sedikitnya hati Celine tercubit oleh rasa kecewa dan hanya mampu tersenyum miris.


“Temen ya?” Celine berujar sendu di dalam hatinya entahlah ia hanya tiba-tiba merasa kecewa akan ucapan pemuda itu.


Menghentikan langkah kakinya Alan menoleh kepada Celine setelah tadi mengedarkan tatapan matanya ke penjuru kantin. Ya mereka telah sampai di kantin. “Cel, lo mau pesen apa? biar gue pesenin dan lo tunggu di meja pojok kantin sana” ucap Alan pada Celine yang sedikit tersentak karena pertanyaannya ia sempat melamun ternyata.


“Samain aja” balas Celine membuat Alan menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari sana meninggalkan Celine setelah sebelumnya ia sempatkan mengusak puncak kepala Celine lembut.


Yang mana perlakuannya itu mampu membuat jantung Celine berdegup kencang sambil gadis itu berjalan menuju tempat yang tadi ditunjuk Alan sebelum pergi.


...Jangan lupa vote, like & komen....


...𝑍𝑒𝑙𝑖𝑛𝑒 ᏃᎪᏦᎬᏆՏᎻᎪ...


Sementara itu di salah satu kantin universitas Artanigara, lebih tepatnya kantin untuk para mahasiswa/i fakultas Bisnis dan Hukum kini terlihat seorang pemuda tengah memeluk pinggang seorang gadis yang berdiri di samping tempat duduknya dengan posesif mengabaikan tatapan sahabatnya dan mahasiswi yang menatap kearahnya dengan berbagai macam pandangan.


“Sumpah Dy, bisa inget tempat gak sih?! Malulah anjir di liatin orang-orang!“ ucap Erland menatap Dylan yang duduk didepannya tengah berdusel manja di perut rata Acha sang tunangan. “Dan plis ya hormati gue yang jomblo ini!” tambah Erland ngegas, jujur Erland muak dengan pemandangan yang menyakiti mata di depannya ini.


Dylan menghentikan acara menduselnya lalu menatap Erland remeh plus ngejek. “Iri kan lo?” ucap Dylan dengan tengilnya membuat Erland ingin rasanya membuang pemuda itu ke dasar laut.


“Lepasin Dy! Aku malu, sumpah.” ujar Acha menepuk pundak Dylan brutal oh ayolah sebenarnya tak masalah jika Dylan bersikap manja dan berdusel pada perutnya seperti ini tapi masalahnya sekarang ini mereka tengah berada ditempat umun yang mana hal itu membuat ia merasa tak nyaman dengan posisi ini. Belum lagi banyaknya pasang mata mahasiswa/i yang memperhatikan mereka sedari tadi membuat ia ingin bersembunyi di lubang hitam saja.


“Tapi aku kangen~” rengek Dylan mendongkak menatap Acha dengan wajah memelasnya. Dan hal itu tentu mengundang Erland membuat gestur ingin muntah. “Bukan temen gue sumpah. Jijik banget!” batin Erland tertekan.


Menghela nafasnya sesaat Acha pun hanya bisa pasrah. “Oke,tapi please biarin gue duduk kaki gue mulai pegel, Dy” ucap Acha lembut dan membuat Dylan dengan otomatis segera menggeser tempat duduknya untuk memberi ruang kepada Acha agar bisa duduk.


“Aku laper Dy, beliin makanan ya?” ucap Acha membuat Dylan menganggukkan kepalanya patuh.


“Umm apa aja deh, terserah. Yang penting bisa bikin perut aku kenyang” ucap Acha dan mendapat anggukan kepala dari Dylan.


“Yaudah tunggu sebentar, aku pergi beli makanan dulu. Jangan nakal!” ujar Dylan seraya beranjak dari duduknya pergi meninggalkan Acha dan Erland yang memasang wajah datar sedatar-datarnya memandang pemandangan di depannya. Sialan memang keberadaannya benar-benar seperti tak dianggap oleh kedua mahkluk di depannya itu. Ia serasa jadi nyamuk saja, pikir Erland.


Ditengah lamunannya merutuki kelakuan sahabatnya tiba-tiba saja bayangan gadis yang waktu itu hampir ditabraknya muncul di benaknya, membuat ia jadi merasa rindu. Jika di ingat-ingat mereka belum pernah bertemu lagi sejak kejadian dua minggu lalu itu, pikir Erland. Lalu ia pun beranjak dari duduknya hingga membuat Acha menaikkan sebelah alis bertanya-tanya.


“Eh! Lo mau kemana Er?”


“Umm gue baru ingat kalo gue punya urusan mendadak, tolong bilangin ke Dylan nya gue pulang duluan. Bye Cha!” Ucap Erland seraya berlalu begitu saja tanpa mendengar balasan gadis yang duduk di hadapannya. Karena ia tak memiliki jadwal kelas lagi hari ini maka Erland putuskan ia akan mencari gadis tunanetra waktu itu saja.


Beberapa saat kemudian usai kepergian Erland, Dylan pun kembali dengan senampan makanan dan minuman pesanan sang tunangan tercinta. Kemudian meletakkan nampan tersebut di atas meja depan Acha yang kini tersenyum sumringah. “Makasih, Dy.” ucap gadis itu menoleh pada Dylan yang mendudukkan tubuhnya disamping dirinya.


Dengan senyum tampan nan menawannya Dylan membawa tangannya untuk mengelus rambut Acha sayang. “Sama-sama“ balas Dylan lembut memperhatikan Acha yang kini mulai memyantap seporsi soto sapinya.


Dylan pun kini menolehkan kepala kearah depan tempat duduknya dimana tadi sebelum ia pergi memesan makanan sahabatnya itu duduk di sana. Namun sekarang ia tak melihat siapapun lagi di sana, membuat ia menukikkan alisnya penuh tanya. “Erland kemana, Ay?“ tanya Dylan pada Acha yang menolehkan kepalanya kearahnya ketika mendengar pertanyaannya.


“Dia pulang duluan, katanya sih ada urusan mendadak” sahut Acha dan mendapat anggukan paham dari Dylan. “Tumben tuh anak punya urusan mendadak biasanya juga hidupnya hampa banget kek gak ada urusan sama manfaat hidup” Dylan membatin keheranan namun setelahnya mengedikkan bahunya acuh. Lagian syukur juga tuh anak punya urusan biar gak ngerecokin dia mulu, pikir Dylan kemudian.


...✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈...


Menghela nafasnya jengah Zeline menatap datar dua orang pemuda didepannya yang tengah kembali berdebat untuk yang kesekian kalinya sore ini. Jika kalian menebak kedua pemuda itu adalah Kalandra dan Luke, maka selamat jawaban kalian semua benar.


Jadi mulanya begini, sore tadi lebih tepat mungkin sekitaran pukul 16.23 WIB kedua pemuda itu kembali datang ke mansion keluarga Galaksi dan mereka mengajaknya untuk pergi ke pameran bersama. Sebenarnya Zeline sudah menolaknya tapi keduanya memaksa bahkan saat pertama kali salah seorang dari mereka mengatakan niatnya untuk mengajaknya ke pameran keduanya juga sempat berdebat apalagi ketika mendengar penolakannya pun keduanya justru malah kembali berdebat saling menyalahkan membuat ia mau tak mau menyetujui ajakan keduanya dengan syarat pergi bertiga saja.


Dan beginilah sekarang ketika ketiganya telah sampai di pintu masuk pameran keduanya kembali berdebat soal siapa yang akan membayar biaya masuk Zeline.


“Kan gue udah bilang biar gue aja yang bayar biaya masuk pacar gue!“ ucap Kalandra menatap tajam Luke yang juga menatapnya tak kalah tajam


“Gak! Biar gue aja. Lagian kan Zeline gak mau jadi pacar lo, tapi lo nya aja yang maksa.” ucap Luke membuat Kalandra mendengus. “Pak biar saya aja yang bayar biaya pintu masuk gadis itu” ujar Luke kemudian pada sang penjaga pintu masuk yang sedari tadi sudah memperhatikan perdebatan kedua pemuda tersebut yang tak selesai-selesai.


“Ck. Gak perlu! gue udah bayar sendiri tadi. Sekarang ayo masuk aja atau kalian masih mau debat disini?!” ujar dingin Zeline menatap kedua pemuda di depannya yang terlihat hendak protes dan memulai perdebatan baru lagi.


Yang pada akhirnya kedua pemuda itupun memilih bungkam dan berjalan mengekori Zeline yang berjalan didepan diantara keduanya. “Jadi lo mau naik wahana apa, Ze? biar gue temenin” ucap Kalandra bertanya.


Mata Zeline mengedar keseluruhan wahana yang ada mencari wahana yang sekiranya menarik perhatian dirinya. Hingga pilihannya jatuh pada sebuah rumah hantu yang berada dipinggir dekat wahana kora-kora. Tanpa banyak bicara Zeline membawa langkah kakinya menuju kesana membuat dua pemuda itu kembali mengikutinya.


“Gue mau nyoba wahana ini!” ucap Zeline pada Kalandra dan Luke ketika mereka telah berhenti tepat didepan pintu masuk wahana rumah hantu tersebut. Kalandra menatap rumah hantu tersebut datar lalu tersenyum ini kesempatan bagus baginya agar bisa lebih dekat dengan Zeline, dengan masuk kedalam wahana ini pasti di dalam sana Zeline akan merasa takut dan berakhir menempel atau bahkan memeluknya erat. Pikir Kalandra berekspetasi.


Sementara Luke sudah meneguk ludahnya susah payah, ia takut hantu dan benci sesuatu yang berbau horor seperti ini, tapi karena itu keinginan sang pujaan hati maka iapun dengan berat hati menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan gadis tersebut, begitupun dengan Kalandra.


Kemudian ketiganya pun berjalan menuju sang penjaga pintu rumah hantu untuk menscan tiket masuk ketiganya sebelum akhirnya mereka bertiga masuk kedalam sana. Awal ketika mereka bertiga masuk kedalam rumah hantu itu semuanya berjalan lancar dan biasa-biasa saja sebelum mereka mulai memasuki pertengahan jalan ketiganya dikagetkan dengan munculnya sosok wanita tanpa kepala yang berlumuran darah dan menjinjing kepalanya dengan mata melotot.


Sebenarnya yang benar-benar kaget hanya Kalandra dan Luke, Zeline hanya sedikit tersentak kecil saja bahkan wajahnya tak memunculkan raut takut sama sekali. Berbeda sekali dengan Kalandra dan Luke yang sudah berteriak kaget bercampur takut sambil keduanya saling merapat kepada dirinya.


“Ze-zeline lo tenang aja gak perlu takut disini ada gue” ucap Kalandra terbata seraya merangkul kan tangannya pada pundak Zeline.


“I-iya, a-ada gue juga. Jadi lo gak perlu takut kita berdua bakal lindungin lo” Luke menyahut dengan terbata juga dan ikut merangkul kan tangannya pada pundak Zeline yang lain. Sedangkan Zeline hanya memutar matanya jengah apa kedua pemuda ini buta ia bahkan terlihat biasa-biasa saja justru mereka lah yang terlihat ketakutan. Pikir Zeline.


Setelah itu mereka pun melanjutkan langkah mereka menulusuri rumah hantu itu untuk bisa berjalan keluar dari sana. Dan selama perjalanan itulah Zeline terus dihimpit dan mendapat pelukan erat penuh ketakutan dari kedua pemuda yang mengatakan ingin melindunginya itu. Membuat Zeline rasanya ingin tertawa terbahak menertawakan kelakuan keduanya yang benar-benar sangat tak gentle. Untuk kali ini Zeline bahagia ketika jalan dengan kedua pemuda tersebut, karena penderitaan yang diterima kedua pemuda tersebut sangat menyenangkan baginya.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...