
Setelah tiga hari Celine tak masuk sekolah karena sibuk menemani sangat ibu, kini akhirnya ia kembali bersekolah setelah kemarin malam sang ibu siuman dan kondisinya pun sudah mulai membaik dari hari-hari sebelumnya.
Menghembuskan nafas kesal dan kecewanya yang untuk kesekian kalinya saat ia mengingat di waktu pertama kali ibunya itu bangun justru malah menayangkan sang Kakak yang sama sekali tak datang untuk menjenguk ibunya padahal ia tahu jelas kalau ia pulalah yang menjadi penyebab sang ibu masuk rumah sakit, tapi kakaknya itu justru tak datang hanya untuk sekedar meminta maaf pada sang ibu pun tidak.
Jujur saja Celine sedikit kecewa dengan perilaku kakak laki-lakinya itu, di tambah lagi semalam saat ia pulang dan mengatakan pada sang adik jiga ibu mereka telah siuman adiknya itu hanya menganggukkan kepalanya lalu pamit entah ke mana dan tak pulang semalaman.
Benar-benar mengesalkan, tak adakah di antara saudaranya yang benar yang satu dingin dan tak terbaca yang satu lagi mengesalkan dan kadang mengecewakan.
Di tengah ia sibuk dengan pikirannya tiba-tiba saja mata lentik miliknya itu menangkap siluet seorang pemuda yang sudah jarang di temui saling bertukar kabar lewat pesan pun kini tak pernah lagi. Seolah-olah mereka kembali menjadi bak orang asing yang tak saling mengenal.
Menyunggingkan senyum merekah nan cerianya Celine pun memutuskan untuk menghampiri pemuda itu. Jujur saja ia rindu pada sosok pemuda itu.
Puk
Tepukan di bahunya membuat pemuda yang tengah berdiri bersandar di dinding kelas XII IPA-1 itu menoleh dan mendapati gadis yang telah lama tak di temuinya dan sengaja ia jauhi.
“Pagi Alan, Gimana kabar lo? Udah lama kita gak ketemu,” sapa gadis bersurai panjang bergelombang coklat tua itu menyapa dirinya.
Tersenyum simpul Alan pun menjawab sekenanya sapaan gadis itu; Celine. “Pagi juga Line, kabar gue baik.”
“Beberapa hari yang lalu kenapa lo gak masuk sekolah?”
“Izin gue, nemenin nyokap di rumah sakit. Lo kenapa gak pernah chat gue lagi? Bales chat gue aja lo enggak,”
Mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan Celine untuk sejenak Alan diam tak menjawab untuk beberapa detik sebelum kemudian membuka suaranya kembali dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal; Canggung.
“Oh gitu. Buat itu sorry gue terlalu sibuk dan kalo mau bales gue suka lupa” ucapnya tentu dengan bumbu kebohongan.
Celine yang mendengarnya pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum mendongak menatap tepat di netra tajamnya yang bergerak sedikit gelisah. “Gue boleh meluk lo gak?” Izin Celine membuat Alan diam tak tahu harus mau menjawab apa, tapi di dalam hati ia sudah berteriak memperbolehkan gadis di depannya itu untuk masuk ke dalam dekapannya.
“BOLEH LINE! BOLEH BANGET! GUE RINDU PELUKAN LO DAN HARUM KHAS TUBUH LO!“
Karena tak juga mendapat jawaban dari Alan, Celine pun menyimpulkan bahwa pemuda itu diam tanda memberinya persetujuan dan tanpa menunggu lama lagi Celine masuk ke dalam pelukan hangat Alan.
Mengacuhkan beberapa pasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka saat melewati koridor sana. Dan untungnya hari masih sangat pagi jadi hanya ada beberapa siswa/i yang sudah berada di sekolah hari itu.
Dalam pelukannya Celine bergumam, “Gue kangen sama lo, Lan, kangen banget.”
Meski gumam tapi karena pendengaran Alan yang cukup tajam jadi pemuda itu bisa mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan gadis yang tengah memeluknya itu. Dan ia pun membawa tangannya untuk membalas pelukan gadis itu sambil tersenyum tipis dan menghirup aroma tubuh gadis itu yang amat sangat ia rindukan.
“Gue juga kangen sama lo, Line.” ucapnya dalam hati membalas Celine, yah hanya dalam hati saja ia tak ingin gadis itu mendengarnya takutnya nanti gadis itu baper karenanya.
Terlalu larut melepas rindu dalam pelukan Alan maupun Celine tak menyadari bahwa dari tadi ada sepasang mata yang tengah mengawasi mereka dengan tatapan tajam dan tak suka. Terutama pada Celine.
"****** sialan! Berani-beraninya dia nyentuh milik gue!” umpatnya dalam hati tertuju pada Celine sambil menggertakkan giginya dan tangan terkepal erat.
“Gue bakal nyingkirin lo!” batinnya berucap penuh tekad.
“Udah nyampek sana turun. Belajar yang bener!” ucap Kalandra saat mobilnya berhenti tepat di depan gerbang sekolah gadis yang duduk di sampingnya. Tangannya terulur mengusap surai gadis itu; Zeline yang masih diam di tempatnya tampak tengah memikirkan sesuatu.
“Hmm thanks, Bang.” balas Zeline menarik nafasnya sejenak sebelum menatap lurus kearah Kalandra yang juga tengah menatapnya.
“Umm tentang ucapan gue waktu di telpon tempo hari itu, gue minta maaf. Gue udah keterlaluan ngomong gitu sama lo, maaf.” lirih Zeline kemudian mengalihkan tatapannya kearah lain, sementara Kalandra terdiam untuk beberapa saat mencerna ucapannya sebelum senyum tipis terukir di bibir tipisnya.
“It's okay, itu salah gue juga karena terlalu ikut campur sama urusan pribadi lo. Lo gak perlu minta maaf, tapi gue cuma pengen lo sedikit terbuka sama gue dan mau membagi masalah lo sama orang lain supaya gak terlalu tertekan.” sahut Kalandra lembut lalu menarik Zeline ke dalam pelukannya dan mengusap belakang surai Zeline yang tergerai.
Zeline yang berada di pelukan Kalandra tersenyum tipis, dan tanpa di duga membalas pelukan Kalandra hingga membuat pemuda itu sedikit kaget karena biasanya ia tak akan membalas pelukannya.
“Gak ada salahnya gue nikmatin perlakuan lo sekarang, sebelum nanti gue gak bisa lagi ngerasain perlakuan lo ini. Untuk sesaat biarin gue jujur sama perasaan gue ke lo,Bang” batin Zeline lalu melepaskan pelukan itu dengan mendorong pundak Kalandra pelan.
“Gue masuk, hati-hati di jalan, Bang.” ucap Zeline sebelum keluar begitu saja dari dalam mobil Kalandra tanpa menunggu balasan dari pemuda itu yang hanya menatap punggungnya yang perlahan mulai menjauh dari pandangannya dengan senyum tipis dan hati berbunga-bunga karena sikap tiba-tibanya.
“Gue makin sayang sama lo, Zeline. Meski sikap gengsi lo kadang bikin gue kesal dan makan hati.” batin Kalandra sebelum menjalankan mobilnya meninggalkan depan gerbang sekolah Zeline yang juga tempat ia mengajar di sana.
Melewati lorong-lorong kelas yang mulai ramai oleh para murid, Zeline memelankan langkah kakinya saat melihat sang kakak tengah berpelukan dengan seorang pemuda yang amat sangat ia kenal dan mata tajamnya pun menangkap seorang gadis yang berdiri tak jauh dari sana tengah menatap tajam juga penuh kebencian pada sang kakak.
Oh ini benar-benar masalah, piki Zeline saat merasakan hawa tak mengenakan seperti ingin membunuh seseorang menguar dari tubuh juga tatapan gadis yang tak jauh berdiri dari sang Kakak dan si pemuda.
Melangkahkan kakinya mendekat kearah gadis itu Zeline dengan sengaja menyenggolkan bahunya dengan gadis itu hingga membuat si empu melemparkan tatapan tajamnya ke arahnya.
“Ups! Sorry kak gue sengaja. Dan lama tak berjumpa, bagaimana mimpi indah lo? Apa seindah itu sampai lo lama banget buat bangun dari tidur lo?” tanya Zeline dengan nada mengejek yang kentara, membuat gadis di depannya mendesis tak suka padanya.
“Sialan! Ternyata wajah ****** lo tambah keliatan aja daripada sebelumnya ternyata,” cibir gadis itu yang merupakan kakak kelas Zeline; Ivana.
Tersenyum miring mendengar ucapan kakak kelasnya itu, Zeline sedikit mendekatkan wajahnya pada wajah Ivana. “Ngomongin diri sendiri lo?“ ucap Zeline menaikkan sebelah alisnya masih dengan senyum miring mengejek hingga membuat gadis di depannya menggeram kesal dan mengepalkan tangannya di samping rok yang ia pakai,
“Si-”
Menjauhkan wajahnya dari Ivana, Zeline lantas melirik ke arah sang kakak dan pemuda yang di perhatikan oleh gadis di hadapannya itu telah melepaskan pelukan mereka dan sang kakak pun perlahan berlalu dari sana membuat Zeline sedikit menghembuskan nafas leganya.
Setidaknya Ivana tak melihat dengan jelas wajah sang kakak jadi gadis itu tak akan mencelakai sang kakak untuk beberapa waktu dan sebelum ada celah bagi Ivana untuk mencelakai sang Kakak Zeline hanya perlu benar-benar menjauhkan sang kakak dari pemuda yang menjadi obsesi gadis ini.
“Kita ngobrol melepas rindu lain kali aja, gue harus ke kelas sekarang dan mending lo cepet-cepet samperin cowok lo itu sebelum gue nyamperin dia dan minta dia buat nganterin gue sampai ke kelas,” Zeline memotong ucapan Ivana dengan kerlingan matanya pada pemuda yang kini mengeluarkan handphone dari balik saku celananya.
Ivana yang mendengar itu terucap dari bibir Zeline pun seketika melotot kan matanya lalu mendelik tajam. Sebelum menoleh kearah Alan, yang telah berdiri seorang diri dan terlihat tengah mengotak-atik ponsel genggamnya.
Dan tanpa menunggu lama ia pun berlalu meninggalkan Zeline yang dalam sekejap mendatarkan mimik wajahnya. "Gue gak bakal biarin lo nyelakain kakak gue! Cukup gue aja yang jadi korban atas obsesi gila lo itu.” Batin Zeline kemudian berbalik melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.