Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Posesif



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


"Abaaanggggg balikinnn!!” teriakan Celine menjadi sambutan di awal di pagi hari kediaman Galaksi. Gadis yang berbeda lima tahun dengan Dylan itu terlihat berlari menuruni anak tangga mengejar sang kakak yang memegang buku sketsa miliknya dengan tawa membuat Clara dan Galaksi menggelengkan kepalanya sudah biasa.


Sementara Acha yang tengah membantu Clara menyiapkan sarapan pagi di hari senin itu hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya. Meski mengenal Dylan dari semasa sekolah menengah pertama tapi gadis itu tak tahu seberapa jahil Dylan kepada adiknya karena selama ia di sini Dylan selalu bersikap menjadi kakak idaman yang baik.


“Abang balikin asal kasih tahu siapa yang ada di buku sketsa kamu ini.” ucap Dylan tanpa menghentikan larinya dan menoleh kearah sang adik yang berada lumayan jauh darinya.


Karena tak memperhatikan langkahnya Dylan tak sadar jika di depan sana di anak terakhir tangga sudah berdiri Zeline yang menjulurkan sebelah kakinya dengan raut wajah tanpa ekspresinya seperti biasa.


BRUK!


Dylan jatuh terjerembab mencium lantai dan buku sketsa milik Celine terlempar sedang Celine yang berlari di belakangnya terkejut saat melihat ia terjatuh dan dengan segera berlari kearah sang kakak yang tengah mengaduh kesakitan.


“Bang lo gak papa?” tanya khawatir Celine berjongkok di samping sang kakak yang mengusap dagunya yang memerah.


“Zeline! Kalo lidah gue ke gigit terus putus gimana hah! Mau tanggung jawab lo?!” sungut Dylan menatap tajam adik bungsunya itu yang sudah memungut buku sketsa Celine dan melihat sketsa wajah seorang pemuda yang sangat di kenalnya.


Celine membantu Dylan untuk berdiri namun belum juga kakaknya itu berdiri tegak ia sudah melepaskan pegangannya yang menopang bobot sang kakak dan beralih kearah Zeline yang sudah memegang buku sketsanya tatapan adiknya itu terlihat sangat dingin hingga membuat bulu kuduknya berdiri.


Dengan sigap ia langsung merebut buku sketsanya dan menyembunyikannya di balik tubuhnya yang sudah terbalut baju seragam yang sama dengan Zeline.


Mengabaikan Dylan yang kembali mengaduh karena kini gantian pantat seksinya yang mencium lantai. “Dasar lucknut! Gue punya adek dua dan sama-sama gak ada akhlaknya,” dengus Dylan bangun dari duduknya sambil mengusap pantatnya lalu berjalan menuju meja makan menghiraukan kedua adiknya yang kini saling adu tatapan.


“Kamu gak papa, Yang?” tanya Acha menangkup wajah tampan Dylan yang kusut karena kesal. Namun saat ia melihat raut wajah Dylan dan bagaimana kejadian tadi yang menimpa tunangannya membuat Acha mati-matian menahan tawanya.


“Jangan ketawa!” ketus Dylan memalingkan wajahnya pada sang ibu yang sudah duduk anteng dekat sang ayah yang menyeruput kopinya santai nampak sekali tak perduli dengan apa yang baru saja terjadi padahal dalam hati pria dewasa itu sudah menertawai nasib Dylan pagi ini.


“Mama, liat kelakuan anak Mama itu. Mereka harus di marahin masa ngelakuin kekerasan sama abang gantengnya. Ini kalo di laporin ke kantor polisi bisa jadi mereka bakal masuk penjara atas tuduhan KTOG,” ucap Dylan bersungut-sungut mengadukan kelakuan kedua adiknya padahal yang pertama cari masalah itu dia.


Kening tiga orang yang berada di meja makan itu berkerut saat mendengar kata terakhirnya. Bahkan beberapa Maid yang berada di sekitar sana pun mengerutkan kening mereka bingung saat mendengar ucapannya.


“KTOG?” beo Galaksi yang diangguki oleh Dylan cepat.


“KTOG 'Kekerasan Terhadap Orang Ganteng'” jelas Dylan membuat semua orang yang mendengarnya menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


“Kamu tampan dari mananya Dylan? Muka jelek kayak gitu juga di banggain” ucap Galaksi datar membuat Dylan seketika heboh.


“Wah, Wah, Papa kayaknya harus pergi ke dokter mata. Dylan yang setampan ini dikatain jelek ini masuk pasal penghinaan terhadap orang tampan ini” ucap Dylan menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan ucapan sang ayah.


“Udah udah jangan ngomong ngelantur lagi sekarang makan sarapan kamu, hari ini kamu ada kelas pagi kan?” lerai Clara sudah tak tahan dengan omongan Dylan yang aneh.


Lalu menolehkan kepala pada kedua putrinya yang masih saling bertatap-tatapan tanpa mengedip sedikit pun, apa mata mereka tidak perih, pikir Clara heran. “Dan kalian berdua, berhenti saling bertatap-tatapan dan segera makan sarapan kalian sebelum kalian terlambat ke sekolah!” ucap Clara itu seketika memutuskan tatapan antara Celine dan Zeline.


“Pulang sekolah nanti temuin gue di rooftop sekolah.“ gumam Zeline berjalan lebih dulu kearah meja makan sambil menenteng tas sekolahnya di punggungnya dan Celine mengikuti di belakang.


...┈┈┈┈․° ☣ °․┈┈┈┈...


Sampai di sekolah Zeline terlihat menyusuri koridor kelas XII-IPS membuat beberapa anak kelas dua belas itu mengernyit heran karena melihat dirinya berkeliaran di sana. Hingga ia menghentikan langkah kakinya di salah satu kelas yang di mana di dalam sana telah ada Kaisar bersama kedua sahabatnya.


Tanpa permisi ataupun salam lebih dulu Zeline menyelonong masuk ke dalam kelas itu dan menghampiri tempat duduk Kaisar dkk. “Al, pulang nanti temuin gue di rooftop sekolah, sendiri.” Zeline berucap dengan begitu to the point sebelum kemudian berlalu untuk pergi menuju kelasnya tanpa menunggu Alan meresponnya bahkan Kaisar dan Jovan pun hanya melongo melihat tingkahnya itu.


“Lo ada urusan apa sama, Zeline? setelah sekian lama kalian gak deket lagi.” tanya kepo Kaisar pada Alan yang menggelengkan kepalanya sambil mengangkat bahunya, tanda tak tahu.


“Lo deket lagi sama kakaknya kali,” tebak Jovan nyeletuk.


“Bisa jadi, tapi gue cuma ketemu Celine beberapa hari yang lalu pas kita gak sengaja ketemu di koridor kelas sebelas,” ucap Alan membuat ketiga pun berpikir alasan apa yang membuat Zeline ingin bertemu berdua dengan Alan.


“Hah~ gue gak tahu alasan dia apa buat ketemu berdua di rooftop nanti, tapi yang jelas jangan sampek hal ini sampai di telinga Ivana bisa kacau nanti urusannya.” ucap Alan serius menatap kedua sahabatnya yang menganggukkan kepalanya menyetujui.


Oh ayolah mereka berdua tahu segila apa Ivana saat ada seseorang yang mencoba mendekati Alan, bahkan sebelum kejadian komanya karena ingin melenyapkan Zeline, Ivana pernah berhasil membunuh dua orang gadis yang nekat untuk terus mendekati Alan.


.


.


.


Membuat Zeline yang mendapat tatapan itu bersmirk dan berjalan mendekat kearah gadis itu. Begitu ia berdiri di samping Ivana Zeline melepas salah satu headset nya lalu membisikkan sesuatu pada gadis itu yang seketika menggepalkan tangannya kuat hingga kuku-kuku panjangnya menggores telapak tangannya sampai berdarah.


“Lo pemeran utamanya, jadi pastiin lo dateng, ya?” monolog Zeline dalam hati sambil berjalan meninggalkan Ivana yang membalikkan badan terus menatap dirinya tajam hingga menghilang dari pandangan gadis itu.


Ketika akan mengantri membeli makanan di salah satu kedai yang ada di kantin itu tiba-tiba saja pundaknya di tepuk oleh seseorang.


“Lama gak ketemu, Ze. Lo mau makan, ya?“ sapa orang itu dengan diakhir pertanyaan yang menurut Zeline terdengar bodoh.


“Ya.” hanya itu balasan Zeline sebelum kembali melihat kearah depan mengabaikan pemuda itu yang menggaruk tengkuknya canggung.


“Kok makin lama makin dingin ya ni adeknya si Celine sama gue, beda cerita lagi kalo udah di samping Guru sok ganteng itu.” batin pemuda itu yang tak lain adalah Luke.


Di tengah mengantri itu dan kantin yang semakin terasa penuh juga berisik karena murid-murid yang berbondong-bondong ingin membeli makanan, tiba-tiba saja bertambah berisik ketika seseorang masuk kedalam kantin.


Like yang mendengar kebisingan itu pun menjadi penasaran dan melihat kearah pintu kantin di mana suara paling nyaring itu rata-rata berasal dari sana, dan saat melihat siapa seseorang yang sudah membuat keributan itupun ia hanya memutar matanya malas. “Bagus baru juga gue mikirin tuh guru kampret sekarang orangnya udah ada,”  malas Luke dan memilih menatap punggung kecil Zeline yang berdiri di depannya yang nampak acuh.


Mata elang seorang pemuda itu mengedar mengelilingi seisi kantin, mencari sosok yang ingin dia ajak makan bersama. Hingga tatapannya berhenti pada sosok mungil yang berdiri mengantri di kedai bakso membawa langkah lebarnya ke sana pemuda itu akhirnya berdiri tepat di samping gadis yang di carinya.


“Sayang~” panggil lembut pemuda itu setelah melepas earphone yang terpasang di telinga kekasihnya yang terlihat membulatkan matanya karena melihat dirinya.


“Apa? Lo mau makan di sini juga?” tanya acuh Zeline membuat Kalandra si pemuda yang menjadi pusat perhatian itu terkekeh kecil lalu mengacak surai panjang Zeline sayang.


“Kamu pergi cari tempat duduk aja, biar aku yang ngantri.” ucap Kalandra dan mendapat anggukan dari Zeline yang kemudian berlalu pergi dari sana.


Luke menatap kepergian Zeline dari hadapannya dengan pandang sedikit tak rela padahal ia masih ingin dekat-dekat dengan gadis itu meski tak berinteraksi setidaknya ia berada di dekat gadis itu. Menyadari keberadaan Luke yang tengah memperhatikan kekasihnya Kalandra menyenggol lengan pemuda itu pelan.


“Dia punya gue! Jadi jaga pandangan lo itu.” Kalandra berucap penuh penekan dan ke posesifan yang amat sangat kentara bagi siapapun yang mendengarnya.


Memutar matanya jengah Luke membalas tatapan mengintimidasi Kalandra, tak peduli jika seseorang yang berada di depannya ini lebih tua darinya bahkan gurunya di sekolah itu. “Gue tahu, gak perlu khawatir gue bakal rebut dia. Tapi bakal gue tunggu kalian putus dan ambil dia dari lo.” ucap Luke membuat tatapan Kalandra menajam menatapnya.


“Dan gue bakal pastiin gue gak akan pernah putus sama dia!” balas Kalandra lalu berbalik membelakangi Luke.


Menghiraukan tatapan para siswa/i lain yang penasaran dengan percakapan mereka dan beberapa siswa/i yang mendengar percakapan mereka berdecak kagum.


Meski Zeline terkenal dingin tapi parasnya yang cantik membuat kaum adam di sana terpikat dan memendam rasa suka mereka pada gadis itu, jadi mereka berdecak kagum kala dua orang pemuda yang sama tampannya dan menjadi primadona para kaum hawa itu saling memperebutkan putri es sekolah mereka itu.


Ditambah lagi salah satu di antara mereka adalah guru muda yang sama dinginnya dengan Zeline.


...┈┈┈┈․° ☣ °․┈┈┈┈...


Seperti yang dikatakan Zeline pagi tadi Celine bersiap membereskan alat-alat tulisnya kedalam tas untuk bergegas menuju ke rooftop.


“Line, lo pulang bareng siapa?” tanya Jasmine yang juga tengah sibuk membereskan alat-alat tulis dan buku-bukunya ke dalam tasnya.


“Umm gue bareng Zeline, kenapa lo mau nebeng?“ tanya Celine menghentikan sejenak kegiatannya dan menatap Jasmine yang masih nampak sibuk.


“Engga, gue pulang bareng Kaisar. Sebenernya gue males pulang bareng sama dia tapi mau gimana lagi hari ini sopir gue lagi nemenin Nenek pergi ke makam Kakek..“ Jasmine berujar lesu.


“Ooohh gitu yaudah kalo gitu gue duluan, ya?” pamit Celine dan mendapat anggukan dari Jasmine yang juga beranjak dari tempatnya.


Sementara itu di rooftop sekolah sana, Zeline terlihat tengah memperhatikan siswa/i yang berlomba-lomba untuk segera pulang lebih dulu menuju rumah masing-masing sejak lima menit yang lalu.


Sampai di tengah ia mengamati siswa/i di bawah sana pintu rooftop yang di belakanginya terdengar di buka oleh seseorang. Tanpa membalikkan badannya sedikitpun Zeline menarik satu sudut bibirnya hingga mencetak senyum miring di wajah cantiknya.


“Lo dateng ya—” ucapan Zeline menggantung saat seseorang itu sudah berada tepat di belakang tubuhnya. Lalu dengan gerakan perlahan ia memutar tubuhnya menghadap seseorang itu yang memasang wajah tak bersahabat padanya.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...