Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Tak sengaja bertemu



Dua minggu telah berlalu semenjak kepulangan Zeline me Indonesia, selama itu pula semuanya berjalan sebagaimana mestinya anggota keluarganya pun menuruti apa yang di minta Zeline tempo hari di mana kepulangannya supaya tak di dengar oleh orang lain.


Hari ini seperti di hari-hari sebelumnya Zeline akan pergi ke kantor setelah sarapan bersama keluarganya seperti biasa. Duduk di kursi penumpang jok belakang mobil sambil memangku laptopnya.


Saat ia tengah fokus dengan laptopnya entah dorongan darimana Zeline mengalihkan tatapannya sejenak kearah jalanan yang selalu ramai karena ini jam berangkat kerja. Hingga matanya tanpa sengaja melihat sosok pria dewasa yang amat sangat di kenalinya tengah berjalan di trotoar jalan sambil sibuk memainkan ponselnya.


“Revan, menepi!” ujar Zeline pada Revan yang membawa mobil tapi tatapannya tak lepas dari sosok pria dewasa itu. Revan mengernyitkan dahinya saat mendengar perintah Nona-nya.


“Kenapa, Nona?”


“Menepi saja! Hanya sebentar.”


Revan dengan raut bingung pun memilih untuk menurut dan menepikan mobil Nona-nya di pinggir jalan, sebelum sebuah suara pintu mobil yang di tutup kencang dari arah belakang mengagetkannya, dan saat uang menoleh ke jok belakang Zeline sudah tak ada di sana.


Mata Revan mengedar mencari keberadaan sang Nona sampai matanya tertuju pada dua sosok pria dan wanita yang sama-sama ia kenali berdiri di sisi jalan trotoar dekat tiang lalu lintas.


Srett!


Lengan Kalandra di tarik kebelakang oleh seseorang saat ia hendak menyebrangi jalan berbarengan dengan suara klakson mobilnya yang berbunyi nyaring.


Tinnnn!!


“Kalau mau menyebrang lihat-lihat bangsat!! Dasar tidak punya mata!” Maki si pengemudi mobil yang hampir saja menabrak Kalandra yang terbengong karena kaget.


“Hey! Kau ini sudah bosan hidup atau bagaimana hah?! Jika sedang berjalan lihat ke depan jangan malah asik bermain handphone! Jika kau tertabrak mobil atau tersandung bagaimana huh!?”  Omel seorang wanita yang tadi menarik lengannya. Setelah sadar dari  keterkejutannya Kalandra menoleh kearah orang itu sudah menyelamatkannya sebelum ia kembali terdiam sambil bergumam dalam hati saat melihat seseorang di depannya. “Gue gak lagi mimpi kan?”


Menghiraukan omelan wanita itu, kedua sudut bibir Kalandra justru tertarik keatas membuat sebuah senyuman membuat orang yang tengah mengomelinya itu menjadi tambah kesal dan berakhir memukul dadanya keras sampai terdengar bunyi 'Dug'


“Hey bodoh! Aku sedang mengomeli mu,  kenapa malah tersenyum seperti orang gila?!” ucap wanita itu yang justru makin membuat senyum Kalandra makin lebar. Lalu setelahnya langsung berhambur memeluk tubuh wanita itu erat.


“Zeline, akhirnya kamu kembali. Kenapa kamu pergi lama banget hmm?” bisik Kalandra tepat di telinga wanita yang telah menolongnya itu yang ternyata adalah Zeline.


Mendapat pelukan tiba-tiba seperti itu Zeline hanya mampu terdiam dan ia juga tersadar bahwa ia baru saja menemui Kalandra dengan cara menyelamatkan nyawa pria itu. Untuk sesaat Zeline menikmati pelukan penuh rindu Kalandra tanpa ingin membalas walau sebenarnya di dalam hatinya ia juga ingin balas memeluk Kalandra tak kalah erat seperti pria itu, tapi ia harus menahannya.


Sekitar dua menit mereka berpelukan, Ah ralat maksudnya Kalandra memeluk Zeline akhirnya Zeline mendorong pria itu kasar guna menjauh dari tubuh. Lalu memasang ekspresi datar dan dingin andalan dirinya.


“Perhatikan jalan lo lain kali!” Zeline berucap sedatar dan sedingin mungkin seraya berbalik untuk kembali ke mobilnya, namun pergelangan tangannya justru di cekal oleh Kalandra.


“Kamu mau ke mana? Jangan pergi tinggalin aku lagi.” tahan Kalandra menggenggam erat pergelangan tangan Zeline, tanpa menoleh sedikit pun ataupun berkata sepatah katapun Zeline menepis tangan Kalandra dari pergelangan tangannya dengan kasar lalu berlalu secepat mungkin meninggalkan Kalandra yang ikut mengejar dirinya.


Brak! Klik!


Pintu mobil di tutup dan di kunci saat Zeline sudah masuk ke dalam mobilnya. “Jalan!” titah Zeline dengan dingin yang membuat Revan langsung menjalankan mobilnya menghiraukan Kalandra kembali mengejar mobil mereka namun tak sepat mengikuti karena mobil pria itu mogok dan baru saja di angkut oleh mobil derek menuju bengkel.


“Shit! Sial! Kali ini gue ngabakal ngelepas lo untuk kedua kalinya!” batin Kalandra dengan umpatan melihat mobil yang di tumpangi Zeline sudah pergi menjauh.


Tangannya kemudian merongoh saku jasnya untuk menghubungi Asisten sekaligus sekretarisnya agar menjemput dirinya.


.


.


.


Cklek!


Pintu ruangan yang bertuliskan Presiden direktur itu di buka oleh si pemilik ruangan saat ia baru saja sampai di perusahaannya. Begitu ia masuk ke dalam ternyata di dalam ruangannya itu sudah ada sang Adik yang yang menjabat sebagai CEO di perusahaan cabang miliknya itu.


“Telat lagi?” tanya Kaisar tanpa menoleh pada sang Kakak, dan duduk dengan santainya di sofa yang ada di sana sambil menyesap kopinya penuh nikmat.


“Mobil gue mogok,” sahut Kalandra berjalan ke meja kerjanya sambil membuka jas kerjanya lalu menggantung jasnya di tiang gantung baju yang berada di sebalah kiri pojok ruangannya.


“Tapi gue bersyukur, akibat hal itu gue bisa ketemu sama dia.” lanjut Kalandra dengan senyum mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


Dahi Kaisar mengernyit menatap sang Kakak penuh tanya,


“Dia? Siapa?”


“Zeline, Kekasih gue yang akhirnya kembali.”


“Hahaha jangan bercanda, Bang. Kayaknya lo harus di periksa deh, karena saking rindunya sama Zeline berhalusinasi kayak gitu,” Kaisar tertawa renyah mendengar ucapan sang kakak.


Kalandra mendengus melihat sang Adik yang tertawa, “Gue serius, Kaisar. Gue bahkan dengerin omelan dia pas gue hampir ke tabrak mobil, kalau bukan karena dia yang nyelamatin gue.” ucap Kalandra menghentikan tawa Kaisar yang tatapan langsung berubah sedikit panik.


“What?! Lo hampir ke tabrak? Tapi lo gak kenapa-napa'kan?“ tanya Kaisar, pria itu agaknya sedikit trauma dengan kecelakaan yang menimpa kakaknya beberapa tahun silam,


“Gue baik-baik aja.”


“Pulang kerja nanti, ayo pergi ke kediaman Galaksi. Gue masih rindu Zeline.”


“Bang, Lo serius Zeline udah balik? Kalau Zeline udah balik kenapa Bang Dylan atau Alan gak ngasih tahu kabar ini?” ucap Kaisar membuat Kalandra diam untuk beberapa saat.


“Karena Zeline menyuruhnya,” Kalandra berucap dengan yakin dan tersenyum miring, ia tahu betul bagaimana tabiat Zeline yang selalu bersikap misterius seperti itu.


Satu alis Kaisar terangkat, “Kenapa lo yakin banget, kalau itu suruhan Zeline?”


“Karena, gue Kekasihnya.”


.


.


.


Usai memarkirkan mobilnya di halaman luas itu, Kalandra dan Kaisar pun turun dari mobil lalu berjalan menuju teras rumah itu untuk memencet bel rumah besar tersebut.


Ting tong!


Bel di bunyikan sekali oleh Kalandra yang tak lama setelah itu pintu di buka dari dalam oleh seorang pelayan. Melihat siapa yang bertamu Pelayan itupun tersenyum tipis saat melihat kehadiran Kalandra dan Kaisar di sana.


“Oh Den Kala dan Den Kaisar ya, silahkan masuk. Biar saya panggilkan Tuan Muda Dylan dan Tuan muda Alan,” Pelayan itu membuka lebih lebar lagi pintu tersebut guna Kalandra dan Kaisar bisa masuk.


Setelah Kalandra dan Kaisar masuk pelayan itupun pergi untuk memanggil Dylan dan Alan yang kebetulan tengah menginap di Mansion Galaksi atas permintaan Celine.


Kedua kakak beradik itu duduk di kursi tamu dengan Kalandra yang celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang, “Cari siapa sih, Bang?” Kaisar yang melihat tingkah sang kakak bertanya heran.


“Zeline,“ Kalandra menyahut tanpa menatap Kaisar.


Kemudian pintu besar yang merupakan pintu utama Mansion itu kembali terbuka dengan suara seseorang yang amat di kenal oleh kedua kakak beradik itu dengan Sang Kakak yang langsung tersenyum senang dan Sang adik terkejut saat melihat keberadaan sosok wanita yang berpenampilan lebih dewasa dari beberapa tahun silam.


“Aku pulang,” ucap Zeline berjalan masuk seraya melepas jas kerjanya yang menyampir di bahunya sejak pagi, lalu memberikan jas tersebut kepada pelayan yang menghampirinya.


Lalu menatap sekeliling rumahnya yang nampak sepi tak seperti biasanya, hingga tatapannya berhenti pada dua sosok pria yang duduk di sofa ruang tamu tengah menatap dirinya.


“Kenapa mereka di sini?” tanya Zeline pada si pelayan yang mengalihkan tatapannya kearah yang di lihat oleh sang Nona. Kemudian tersenyum, “Oo, mereka ingin menemui Tuan Dylan dan Tuan Alan.“ jawab sang pelayan dan di balas anggukkan oleh Zeline yang kemudian berlalu menuju kamarnya dengan cuek, tanpa ingin menyapa.


Namun, saat ia melewati kedua pria dewasa di sana salah satu diantara mereka, yaitu Kalandra beranjak dari duduknya lalu menghampiri dirinya dan menahan lengannya.


“Kamu baru pulang?“ tanya Kalandra terdengar lembut seperti biasa kala berbicara dengan Zeline seperti sedia kala.


Menepis tangan Kalandra, Zeline menatap pria itu datar. “Menurut lo?“ Ujar Zeline dingin tak acuh.


“Kamu tak berubah, masih sama seperti dulu, dingin dan tsundere...” ucap Kalandra dengan kekehan kecil di akhirnya membuat Zeline memutar matanya malas lalu kembali melangkah untuk melanjutkan pergi ke kamarnya.


Kalandra sebenarnya ingin menyusulnya tapi berbarengan dengan itu Dylan datang bersama Alan menghampiri ia dan Kaisar, dan mereka berpas-pasan dengan Zeline yang melirik kedua kakak dan kakak iparnya itu sekilas.


Senyum lebar tertarik di kedua sudut Dylan, “Yo! Bro ada apa nih? dateng ke sini gak bilang-bilang.” ucap Dylan menepuk bahu Kalandra sambil mencoba menutupi Zeline yang sudah berjalan menjauh dari sana dari pandangan Kalandra yang tak lepas menatap adiknya itu.


Melihat punggung Zeline yang semakin menjauh dan menghilang di tangga terakhir lantai atas, Kalandra pun mengalihkan pandangannya kepada sang kawan.


“Gue sengaja gak bilang, mau liat pacar gue.” ucap Kalandra berjalan beriringan kearah sofa dengan Dylan yang merangkul pundaknya.


“Pacar lo? Siapa?“ Heran Dylan menatap Kalandra.


“Zeline, siapa lagi?” balas Kalandra duduk di sofa panjang samping tempat Kaisar tadi duduk di sana yang sekarang keberadaannya entah ke mana bersama Alan, kawannya.


“Dan kenapa lo gak ngasih tahu gue kalau Zeline udah balik, hah?!“ tanya sinis Kalandra mengambil secangkir teh yang baru  saja di sajikan oleh pelayan.


“Ck. Gue niatnya mau ngasih tahu lo sejak awal juga tapi, Zeline ngelarang lo tahu sendiri dia kayak apa. Dan satu lagi, Zeline udah bukan pacar lo! Inget seminggu lagi lo udah mau jadi suami orang.” decak Dylan melipat kedua tangannya di dada tanpa menatap pada Kalandra yang wajahnya kini berubah masam saat mendengar kalimat terakhir Dylan.


“Kenapa pake di ingetin sih?!“ dengus Kalandra membuat Dylan tersenyum miring.


“Lagian setelah gue tahu Zeline udah balik, gue bakal minta ke Mama supaya pernikahan gue di batalin sama perempuan pilihan dia.” sambung Kalandra kemudian dengan senyumnya.


“Gak usah ngada-ngada, pilihan ibu lo itu yang terbaik! Gue gak mau di cap sebagai Pelakor.” timpal seseorang yang baru saja turun dari kamarnya dengan penampilan yang lebih casual.


Kalandra dan Dylan yang mendengar suara tersebut menolehkan kepalanya kompak, dan melihat Zeline yang memakai tudung hoodienya.


Dahi Dylan mengernyit menatap penampilan sang Adik, “Mau kemana lo, dek? Gak makan malam di sini?”


“Apartement, gue makan di luar sama temen.” mendengar kata teman dan alasan Zeline Dylan justru bangun dari duduknya.


“Temen? Lo gak nyoba buat ngilang tiba-tiba lagi kayak waktu itu'kan?“ Dylan tiba-tiba saja mengeluarkan aura intimidasinya yang mana di balas dengan kerlingan malas oleh Zeline.


“Engga, gue beneran pergi makan sama temen abis itu ke apartemen.”


“Temen lo yang mana?“


“Huft~~ Abby, temen gue pas di Swiss. Dia lagi liburan ke sini sama pacarnya.” Zeline berujar malas kemudian melangkahkan kakinya keluar mansion tanpa menghiraukan Dylan yang hendak kembali bertanya.


Kalandra pun ikut bangun hendak mengikuti Zeline tapi keburu di cegah oleh Kaisar yang kembali masuk dari arah teras depan mansion bersama Alan.


“Mau ke mana lo, Bang? Jangan sekali-kali ngikutin Zeline dan ninggalin gue di sini ke anak yang di buang ya.” tekan Kaisar melihat pergerakan kakaknya yang hendak pergi dengan kunci mobil di genggaman pria itu.


“Ck!” decak Kalandra kembali duduk di sofa di ikuti dengan yang lain. Dan mereka pun mengobrol banyak hal hingga kedua kakak beradik Aldebaran itu ikut makan malam di kediaman Galaksi, sebelum akhirnya pulang.


...Thank you for reading... ...


...Don't forget to vote, like ...


...and comment! ...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...