
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
........
........
........
Di ruang makan Zeline menikmati sarapan paginya bersama dengan Jayden seperti biasanya, setelah 3 minggu yang lalu mengadakan pesta pernikahan Zeline.
"Aku selesai." menaruh alat makannya dan mengusap sudut bibirnya menggunakan tisu setelah meneguk air mineral di samping piringnya.
Begitu pun dengan Jayden yang juga mengusap sudut bibirnya dengan tisu pula. Tatapan teralih kepada sang asisten pribadi yang berdiri tak jauh dari meja makan dan memberi anggukan sekilas memberi kode yang mana di tangkap baik oleh sang asisten yang langsung berjalan kearah luar dan kembali lagi dengan di ikuti dua orang berbeda jenis kelamin di belakangnya.
"Sayang, kenal kan ini Ares dan Emma mulai sekarang mereka akan menjadi pengawal sekaligus pelayan pribadi kamu. Karena lusa aku sudah harus kembali maka, aku mengutus mereka untuk menjagamu sementara waktu selama aku tak berada di dekatmu." jelas Jayden membuat Zeline cepat-cepat mengubah raut wajah terkejutnya menjadi datar seperti biasanya.
"Hmm okey, apa aku bisa pergi jalan-jalan sekarang?"
"Tentu, Ares yang akan mengantarmu."
"Mari Nyonya" ucap Ares membungkukkan sedikit badannya mempersilahkan Zeline untuk berjalan duluan.
Zeline menghembuskan nafasnya pelan sebelum beranjak dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu menuju keluar.
"Jaga dia baik-baik dan selalu awasi dia seketat mungkin, laporankan setiap pergerakannya setiap sehari sekali!" titah Jayden sebelum Ares beranjak untuk mengikuti Zeline.
.
.
Selama perjalanan Zeline hanya terus menatap keluar jendela mobil dengan kosong, membiarkan Ares yang fokus menyetir dengan sesekali melirik dirinya melalui center mirror.
Sampai akhirnya Zeline pun membuka percakapan tapi matanya tetap menatap kearah luar. “Bagaimana dengan tugas yang aku perintahkan, sudah menyelesaikannya?”
Pertanyaan itu terlontar membuat Ares melirik nya kembali dengan sedikit rasa gugup, seraya mengangguk kecil. “Semua sudah saya selesaikan, gadis itu sudah saya latih sedemikian rupa seperti dengan apa yang Anda perintahkan kepada saya.”
Zeline menganggukkan kepalanya lalu menyandarkan punggungnya pada jok mobil seraya memejamkan matanya. “Bawa dia malam ini secara diam-diam, malam ini dia akan melakukannya. Pastikan bau tubuhnya sama persis denganku.”
“Baik, saya mengerti.” mobil yang membawa raga Zeline itu berhenti di halaman parkir kampus, membuat Zeline membuat matanya lalu beranjak keluar di ikuti Ares.
Mereka berjalan menuju ke kelas Zeline. “Bagaimana kabar keluarga ku? Dan kabarnya?” tanya Zeline pada Ares yang menatap sisi wajahnya memperhatikan ekspresi sang Nona.
“Yang saya tahu Nyonya, tuan, tuan muda, dan nona kedua semuanya baik-baik saja mereka mengikuti perkataan Revan waktu lalu hanya saja mereka masih mencoba untuk tetap mencari keberadaan anda meski tak pernah mendapatkan hasil apapun, sementara tuan Kalandra ia sudah bisa berjalan seperti sediakala tapi, untuk sebagian ingatannya ia masih belum mengingat semuanya”
“Syukurlah, semuanya baik-baik saja.”
“Ada baiknya lo ngelupain gue, Bang. Jadi lo gak perlu ngerasa rindu dan tersiksa karena ikut berusaha cari gue yang tiba-tiba ilang. Meskipun nanti ketika kita bertemu kembali dengan lo yang udah sama orang lain, gue bahagia asal lo baik-baik aja.” batin Zeline turun dari mobilnya saat ia sudah berada di taman tempat yang ingin di kunjunginya. Sementara Ares senantiasa mengikutinya dari belakang tanpa mengucapkan sepatah katapun.
.
.
.
Hah.. Hah.. Hah..
Hembusan nafas tak beraturan dengan keringat yang membanjiri pelipis seorang pria yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya.
Tangannya bergerak mengambil gelas air mineral di nakas, meneguk air itu dalam sekali tegukan hingga tandas tak tersisa. Salah satu tangannya yang tak memegang gelas terulur untuk menyentuh jantungnya yang berdegup kencang tak karuan dengan dada yang terasa sesak akibat mimpi yang baru saja di alaminya
"Kenapa dada gue sesak banget pas dia pergi? Dan rasa rindu apa ini? kenapa rasanya berat banget, bukannya selama ini lo ada disisi gue'kan, Zeline." monolog Kalandra kemudian beranjak dari kasurnya untuk pergi menunju dapur.
Sampai di dapur dan mulai menuangkan air putih ke gelas, pikirannya tiba-tiba saja melayang pada ucapan Erland siang tadi di kantornya yang mengatakan kalau Zeline yang ia kenal dan dekat dengannya selama ini bukanlah Zeline yang sebenarnya.
Puk
Tepukan di bahunya membuat Kalandra mengerjap kaget dan menoleh ke sampingnya. "Lo ngelamunin apaan, Bang? Tuh airnya udah ngeluber ke mana-mana." tegur Kaisar menunjuk gelas di atas meja yang tengah di isi oleh Kalandra sudah penuh dan airnya mulai mengalir di atas meja menuju lantai.
Kalandra melonjak dan buru-buru mengambil kain untuk mengelap air di atas meja itu mencegah supaya air itu tidak merambat ke mana-mana. Kaisar sendiri hanya memperhatikan tingkah sang kakak dan memilih mengambil gelas kosong untuk mengisinya dengan air dan setelahnya meneguk airnya.
"Jadi, kenapa lo belum tidur jam segini, Bang?" tangannya meraih cangkir kopi miliknya dan menghirup aroma kopi yang masih menggepulkan asap itu menikmati sebelum menyesapnya perlahan.
Sementara Kalandra ia hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong sebelum menjawab pertanyaan sang adik, "Gue ke bangun. Lo sendiri kenapa jam segini belum tidur, Kai?" Kalandra balik bertanya pada Kaisar tanpa mengalihkan tatapannya.
Sontak pertanyaannya itu membuat Kaisar menggaruk surai hitamnya yang tak gatal sambil terkekeh pelan, "Baru selesai main game hehehehe..."
Kalandra menggelengkan kepalanya tak heran mendengar jawaban sang adik. "Jangan kebanyakan begadang cuma karena main game, Kaisar, itu gak baik buat kesehatan lo." nasihat sang Kakak mendapat anggukkan dari Kaisar.
Kemudian kembali hening, Kalandra meraih cangkir kopinya lalu menyesapnya pelan sambil memejamkan matanya dan menyandarkan punggungnya rileks di sandaran kursi. "Btw, lo punya foto Zeline sewaktu SMA?" tanya Kalandra tiba-tiba setelah hening beberapa saat di antara mereka.
Matanya kembali terbuka dan kini menatap kearah sang adik yang memalingkan wajahnya kearah lain saat sadar di tatap olehnya.
"Gue gak punya, kita gak terlalu dekat waktu itu."
"Gak ada sama sekali? Satu pun," tanya Kalandra dan mendapat gelengan kepala pelan dari Kaisar.
Kalandra menghembuskan nafasnya pelan, "Kalo begitu bisa ceritain gimana dia waktu sekolah dulu, menurut pengamatan lo selama deket beberapa saat sama dia?" pinta sang kakak membuat Kaisar meneguk ludahnya gugup. Ia takut salah bicara.
.
.
.
"Assalamu'alaikum, Tante, Om, Kanaya! Elin datang nih yuhuu!" teriak Celine masuk ke dalam rumah besar yang sudah ia anggap sebagai rumah keduanya setelah rumah kedua orang tuanya.
Tiga- ah bukan empat orang yang mendengar suara teriakan dari pintu utama rumah mereka tersenyum senang apalagi Kanaya gadis yang baru saja menduduki bangku awal sekolah menengah atas itu langsung berlari ke sumber suara, meninggalkan makan siangnya yang belum sempat ia sentuh karena kedatangan Celine.
"Wa'alaikumussalam, Kak Elin Aya rinduuuu!!" ucap gadis itu menghambur ke dalam pelukan Celine yang menyambutnya dengan hangat dan membalas pelukannya erat.
"Kak Elin juga rinduuu Aya," Celine menggoyangkan tubuh keduanya ke kiri dan kanan.
Kanaya melepaskan pelukannya lalu menarik tangan Celine menuju ruang makan dengan ceria, “Ayo kak, kita makan siang bareng. Mama, Papa sama Bang Alan juga ada di sana.” ujar gadis itu membuat Celine tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Begitu sampai di meja makan Celine pun terlebih dahulu menyapa kedua orang tua Alan dan tentunya di sambut hangat oleh pasangan suami istri itu.
“Sini Line, duduk samping tante kita makan bareng.” ucap Mama Alan sembari menarik kursi di sampingnya untuk memberi ruang pada Celine.
Celine menganggukkan kepalanya lalu mendudukkan tubuhnya di samping wanita paruh baya itu. “Hehe iya tante. Oh iya, ini tadi Celine beli cookies buat tante.” menaruh paperbag di atas meja dan sedikit mendorongnya kearah Mama Alan.
Mama Alan tersenyum senang, “Wah~ makasih Celine sayang,” Ucap Mama Alan sambil melongok ke dalam paperbag tersebut, mengintip isinya.
Papa Alan yang memperhatikan sambil sesekali menyuapkan nasi ke mulutnya tersenyum tipis dan berujar, “Buat Om gak ada?”
Celine mengalihkan tatapannya pada Papa Alan kemudian membuat raut wajah menyesal, “Yah~ Celine lupa gak beliin buat Om, berdua sama Tante aja ya? Biar romantis” ujarnya membuat orang-orang yang berada di meja makan itu menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan.
“Haha bisa aja kamu, tapi ide kamu bagus juga.” ucap Papa Alan mengedipkan matanya pada sang istri genit.
“Udah ah~ jangan ngobrol lagi, Celine mau makan sama apa kamu, Nak?”
“Emm.. Sama apa aja, Tan. Aku orangnya gak pilih-pilih makanan kok, semuanya aku makan.”
“Cih. Pantes lo tambah gendut, rakus ternyata.” ejek Alan membuat kaki Celine yang berada di bawah meja menendang tulang keringnya keras.
“Aww! Sakit Line... Sstt” ringis Alan tak mendapat respon apa-apa dari Celine yang nampak tak peduli ataupun merasa bersalah,justru gadis itu hanya fokus pada Mamanya yang tengah mengambil nasi dan lauknya untuk gadis itu.
Kanaya yang duduk di samping sang kakak tertawa pelan begitupun dengan sang Papa.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...