Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Cemburu



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Kalandra menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi meja belajarnya ketika ia baru saja menyelesaikan skripsi beserta beberapa tugas kuliahnya yang beberapa hari lalu ia tunda. Memijat pangkal hidungnya pikirannya tiba-tiba melayang pada kejadian tadi pagi ketika di dalam mobil bersama Zeline.


Damn it! Bisa-bisanya Kalandra malah membayangkan hal lebih tentang kejadian tadi pagi ketika wajahnya dan Zeline berjarak hanya tinggal beberapa senti lagi.


Membuyarkan pikirannya yang mulia melenceng Kalandra pun memilih untuk beranjak dari duduknya menuju kamar mandi guna membersihkan badannya yang terasa lengket sejak kepulangannya dari kegiatan mengajar di sekolah sampai sekarang. Ia belum sempat membersihkan dirinya karena sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk.


Tak butuh waktu lama bagi Kalandra untuk membersihkan dirinya. Setelah memakai celana training hitam yang di padukan dengan kaos polos abu-abu iapun segera mengerikan rambutnya dan keluar dari kamarnya menuju dapur guna mencari makanan karena perutnya sudah meronta-ronta minta diisi.


Ketika Kalandra melewati ruang tengah/keluarga ia melihat bahwa TV di sana masih menyala dengan Ayah, Ibu dan juga adiknya tengah asik menonton acara TV. Membuat ia melihat jam dinding di dekatnya berdiri baru menunjukkan jam sembilan malam kurang 20 menit, Membuat ia mengangkat bahunya acuh sebelum memilih melanjutkan langkahnya menuju dapur tanpa menghiraukan kebisingan yang kini tengah dibuat oleh sang adik dan ayah.


Stella yang sedari tadi memperhatikan layar TV itu pun mengalihkan kepalanya menuju kearah lain dan tanpa sengaja melihat punggung putra sulungnya yang baru saja turun dari kamarnya menuju kearah dapur, membuat ia spontan berteriak karena tahu pasti anaknya itu mencari makan malam.


“MAKANANNYA MAMA SIMPEN DI DALEM KULKAS BANG!” teriaknya mengangetkan Kaisar dan Septian yang tengah fokus terhadap TV, tentunya bukan hanya mereka berdua saja yang kaget karena Kalandra juga terkejut ketika mendengar teriak sang Ibu dari ruang tengah itu begitu keras dan tiba-tiba.


Tanpa menyahut pun Kalandra membuka kulkas yang berada di dapur dan mengambil beberapa lauk kedalam piring yang ia ambil tadi ketika mendengar suara teriak sang Ibu. Duduk di meja makan seorang diri sambil menikmati makan malamnya hingga ketika ia selesai dan menaruh piring kotor itu di wastafel iapun mengecek handphonenya dan membuka salah satu sosial medianya.


Menscroll benda pipih itu sambil berjalan menghampiri keluarganya yang masih berkumpul di ruang tengah. Kemudian mendengus kesal ketika melihat salah satu posting dari anak didiknya yang entah kenapa bisa lewat di beranda instagram miliknya.


“Cih. Apa-apaan sih ni bocah jam segini bawa anak perawan orang keluyuran malem-malem.” gerutunya memperhatikan lebih jelas lagi poto yang diambil dari samping secara diam-diam oleh Luke nama si murid didiknya di sekolah.


“Awas aja tuh bocah!” gerutunya kembali ketika melihat mereka tengah makan malam bersama di salah satu restoran yang kalau tak salah ia ingat adalah tempat berkencan anak-anak muda.


Namun setelahnya iapun menutup aplikasi itu dan melempar ponselnya kesamping tubuhnya, “Tunggu?! Kenapa juga gue kesel liat tuh cewek jalan sama cowok lain?” batinnya ketika sadar dengan gerutuan gerutuannya yang tak jelas ketika melihat foto-foto itu.


Yang mana tingkahnya itu ternyata tak luput dari penglihatan sang adik, Kaisar yang duduk di kursi sebrang nya. “Kenapa lo, Bang?“ suara Kaisar itu membuat Kalandra tersadar dan menatap kearah satu persatu keluarganya yang kini memperhatikannya.


“Gakpapa” balasnya lalu mengalihkan tatapannya kearah televisi dengan raut wajah datar sedangkan Kaisar meraih ponselnya sendiri yang berada di atas meja untuk melihat sesuatu di sana.


Lalu beberapa saat kemudian iapun tersenyum menjengkelkan kearah Kalandra sambil menaik turunkan alisnya seolah menggoda Kalandra.


Tentunya Kalandra yang menyadari kekonyolan adiknya itupun mendelik tak suka kearah pemuda yang lebih muda 4 tahun darinya itu. “Kenapa lo?” ketusnya melirik sekilas Kaisar yang kini berpindah duduk di sampingnya di tengah-tengah Kalandra dan Stella.


“Lo pasti abis liat ini, iya kan?” tanyanya sambil menunjukkan layar ponselnya yang hanya dilirik Kalandra yang menghembuskan nafasnya kasar dan hal itu sukses membuat Kaisar tertawa menggodanya.


“Hahahaha... Lo cemburu ya Bang~~” goda Kaisar mencolek dagu sang kakak jail.


“Ck. Apaan sih lo. Gak jelas!” ketus Kalandra menepis tangan Kaisar dengan kesal sambil berpindah tempat duduk menjadi ketempat duduk Kaisar sebelumnya. Sedangkan Kaisar malah tambah terkikik melihat Kalandra yang seperti menyembunyikan kekesalannya terhadap foto yang baru saja ia tunjukkan.


“Ada apa sih Kai, ngapain godain Abang kamu kayak gitu?” celetuk Stella menatap heran putra bungsunya yang langsung menoleh kepadanya.


“Oh ini loh Ma, Bang Kala lagi naksir cewek tapi kalah star sama saingannya,” ujar Kaisar menunjukkan postingan foto di hpnya kepada Stella yang kini menutup mulutnya sambil tersenyum menggoda kearah Kalandra.


“Wah cantik banget, pantes aja belum apa-apa udah dapet saingan. Papa mau liat gak ini kayaknya bakal jadi calon menantu kita nih” ucap Stella pada Septian yang kini berpindah posisi duduk menjadi di sandaran tangan kursi.


“Wih iya cantik Ma, tapi masih kalah cantik dari Mama” komentar Septian dengan berakhir kata-kata bucinnya pada sang istri yang membuat ketiga orang di sana memutar matanya malas, sudah terlalu bosan dengan kata-kata Septian yang selalu terlalu banyak gula.


“Hah udahlah gak usah ngebucin Pa.” malas Kaisar menatap datar sang ayah sebentar sebelum menatap kembali Mamanya yang masih memperhatikan foto yang ada di ponselnya. “Ma, asal Mama tahu tadi pagi waktu di parkiran sekolah Bang Kala hampir ngelakuin hal yang tak senonoh sama gadis ini di dalem mobil” tukas Kaisar membuat atensi Stella beralih padanya dengan tatapan tak percaya.


“Benarkah?!” tanya Stella ternganga tak percaya dengan apa yang ia dengar dan dibalas anggukan pasti oleh Kaisar. Kalandra yang sedari tadi diam mendengar ocehan adiknya itupun dengan kesal melempar bantal sofa tepat pada kepala sang adik.


“Diem lo! Gak usah nyebar berita palsu” dengusnya lalu beranjak dari sana untuk menghindari pertanyaan Ibunya yang pasti akan terlontar sebentar lagi padanya.


Melihat kepergian Kalandra, Septian dan Stella pun menatap anak bungsunya yang tengah menggerutu pelan pada sang kakak. “Hm ngomong-ngomong gadis yang di foto ini kayaknya Mama sama Papa pernah liat, tapi di mananya?” ucap Septian mengusap dagunya berpikir mengingat-ingat pernah melihat gadis ini dimana.


“Ouh jadi Zeline, wah kalau gitu mah Mama pasti kasih restu buat Abang kamu ngejar ni anak. Soalnya Mama suka banget sama dia meski gak terlalu banyak omong” ujar Stella tersenyum senang sementara Septian memilih kembali melihat tayangan televisi.



Sementara itu disalah satu rumah sakit terkenal di pusat kota terlihat seorang pemuda tengah menemani seorang gadis yang tengah tertidur sejak 4 bulan yang lalu akibat kecelakaan tunggalnya.


Pemuda itu terlihat menggenggam tangan kanan gadis itu sambil sebelah tangannya yang lain mengusap surai hitam legam milik gadis itu lembut. “Kamu kapan bangun? Gak capek apa tidur mulu” lirihnya memperhatikan wajah tenang nan damai gadis di depannya ini.


Gadis itu adalah sahabat masa kecilnya hingga sekarang hanya saja sekarang ini statusnya lebih dari sekedar sahabat.


“Kamu mimpiin apasih di sana sampe bentah banget tidur? Seindah itunya mimpi kamu sampai gak mau bangun?” ucapnya kembali pada gadis itu yang jelas tak akan menyahuti ucapannya.


Sampai ketika ia tengah asik mengajak ngobrol gadis itu seseorang mengetuk pintu kamar rawat membuat ia menoleh kearah pintu yang tak lama setelahnya menampakkan seorang wanita paruh baya yang masuk kedalam sambil tersenyum kearahnya.


“Kamu belum pulang, Alan?” tanya wanita tersebut pada pemuda yang ternyata adalah sosok Alan. Tersenyum kearah Ibu dari gadis yang tengah terbaring di bongkar rumah sakit itu Alan menggelengkan kepalanya sebelum bangun dari duduknya.


“Sebentar lagi tante, Alan masih mau nemenin Ivana” ucap Alan mempersilahkan Ibu gadis itu untuk duduk di kursi samping anaknya.


“Pulang aja, besok kan kamu masih harus sekolah nanti bangun kesiangan lagi” ucap lembut wanita paruh baya itu menatap sayang pada sang anak yang masih setia memejamkan matanya.


“Tapi–”


“Udah pulang aja, Tante gak mau kamu bolos kayak kemarin-kemarin karena selalu nemenin Ivana” suruh wanita itu yang kali ini membuat Alan menganggukkan kepalanya patuh. Lalu berjalan mendekat kearah Ivana untuk mengusap kepalanya lembut.


“Aku pulang dulu ya, Iva. Cepet bangun” ucapnya lalu mengecup sekilas kening gadis itu dan berlalu setelah pamit kepada Ibu gadis itu. Menyisakan sepasang Ibu dan anak itu di dalam ruangan serba putih dengan bebauan obat-obatan khas rumah sakit.


“Ivana sayang lihat, pemuda yang kamu puja-puja itu terlihat sangat sayang kepadamu saat ini. Ia bahkan rela meninggalkan kewajibannya sebagai pelajar hanya untuk menemanimu sambil berharap kamu segera siuman sayang. Jadi mau sampai kapan kamu tidur? apa kamu tak merindukan kami?” ucap wanita itu mengusap lembut kepala sang anak.


...Zeline Zakeisha...


Keesokan harinya ketika Zeline baru saja menyelesaikan sarapan paginya di ruang tamu sana sudah terdapat dua orang pemuda yang tengah saling memberi tatapan tak suka terhadap satu sama lain.


“Lo ngapain bengong di sini? Sana tuh yang jemput Lo udah pada nungguin” ucap Celine dengan nada sedikit menggoda pada Zeline sambil menunjuk kearah dua orang pemuda itu menggunakan dagunya.


“Gue berangkat bareng lo aja, Kak” ucap Zeline berjalan melewati Celine yang terdiam mencerna ucapannya.


“Zeline mana bisa gitu, Lo udah di jemput itu sama Bang Kala juga Luke” jerit Celine berlari menyusul Zeline melewati dua pemuda yang juga ikut bangun dari duduk mereka untuk menyusul dirinya.


“Heh! Turun Zeline. Gue berangkat bareng Jasmine kalau lo lupa dan kursi mobil gue cuma ada dua.” titah Celine begitu sampai di samping mobilnya memperhatikan Zeline yang sudah duduk anteng di kursi samping kemudi mobilnya.


Memberi tatapan datar nan tak pedulinya Zeline menggedikan bahunya acuh, “Suruh berangkat sendiri aja” ucapnya tak peduli dan memasang headset di masing-masing telinganya supaya ia tak mendengar ocehan kakaknya itu.


“Kenapa masih diem? Lo mau kita kesiangan” ucap dingin Zeline melirik Celine yang masih diam di tempatnya kemudian melirik dua pemuda di belakang kakaknya juga.“Kalian berdua juga sana berangkat! Lain kali gak usah jemput gue lagi” dinginnya sambil menutup kaca jendela mobil.


Menghembuskan nafasnya kesal Celine merongoh saku roknya untuk menghubungi Jasmine, “Mine, lo berangkat sendiri aja. Adek gue tiba-tiba nebeng” ujarnya pada Jasmine dari sambung telpon sambil berjalan memutari setengah mobilnya untuk sampai di kursi kemudi.


Dan setelah mendapat persetujuan dari sebrang sana sambungan telepon itupun putus membuat ia dengan segera menyalakan mesin mobilnya dan tancap gas meninggalkan halaman rumahnya menyisakan kedua pemuda yang terlihat melongo di tempat mereka.


Sampai seorang tukang kebun menghampiri keduanya dan menyadarkan mereka dari lamunan dengan suaranya, “Aden aden gak pada berangkat juga?” tanya tukang kebun itu membuat keduanya menggelengkan kepalanya sebentar sebelum berlalu menuju mobil masing-masing dan pergi dari mansion megah itu tanpa mengatakan sepatah katapun pada si tukang kebun yang terlihat menggaruk kepalanya bingung dengan tingkah keduanya.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...