
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
*BUGH!
*PRANGGG!!
Gelas yang berada di tangan Dylan jatuh ke atas lantai, hingga menimbulkan suara pecahan gelas yang cukup nyaring meski tak bisa menembus kebisingan di tempat itu. Mengepalkan tangannya kesal Dylan hendak akan menolehkan kepalanya kearah seseorang yang sudah mengganggunya bahkan memecahkan minuman yang selalu menemaninya di kala pikirannya tengah ruwet dan gelisah.
Namun belum juga ia sepenuhnya menoleh tiba-tiba ia kembali mendapatkan pukul yang kali ini melayang tepat pada rahang tegasnya hingga membuat ia yang tak siap terjatuh dari kursi dan menimbulkan suara bising yang kini telah berhasil menarik perhatian beberapa orang di sekitar sana.
“Ck! Maksud lo apa bangsat?!” umpat Dylan mengusap rahangnya yang terasa seperti tergeser sedikit dari tempatnya. Ia bangun dan menatap nyalang pada orang yang tiba-tiba memukulnya itu tanpa alasan yang jelas.
Dan saat ia melihat si pelaku, pupil matanya terlihat sedikit membesar sebelum kembali normal dan menampilkan senyum remeh kearah gadis yang telah memukulnya itu. “Kenapa lo nemuin gue? Udah kelar urusannya?” tanyanya dengan nada yang amat sangat di benci oleh gadis itu; Zeline.
“Ikut gue sekarang!” ujar Zeline dingin dengan penuh penekanan di setiap katanya, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan Dylan.
“Gak. Buat apa gue ikut lo? Gak guna.” ujar Dylan lalu memilih untuk kembali duduk di kursi yang tadi di tempatinya lalu menyuruh bartender yang berada di balik meja bar itu untuk membuatkan minuman yang tadi belum sempat di minumnya.
“Gak guna lo bilang?!! Asal lo tahu aja kalau lo gak ikut gue sekarang gue bakal pastiin kalau lo bakal nyesel seumur hidup lo. Jadi, ikut gue se.ka.ra.ng!” ucap Zeline tak mau di bantah dan menarik kerah belakang jaket yang di kenakan oleh Dylan menyeret kakaknya itu untuk keluar dari tempat laknat itu dan pergi menuju rumah sakit di mana ibunya di rawat.
Namun baru juga beberapa langkah tangannya sudah di tepis kasar oleh Dylan. “Dengerin gue! Gue gak mau ikut sama lo. Dan gue tahu lo mau bawa gue ke rumah sakit di mana wanita tua itu di rawat, kan?” ucapan Dylan membuat Zeline sedikit mematung.
Apa ia tak salah dengar? Apa barusan kakak baru saja memanggil Mama-nya dengan sebutan Wanita tua? Di mana sopan santun Kakaknya ini berada, bagaimana bisa dia memanggil seseorang yang telah merawatnya dari bayi hingga sebesar ini dengan penuh kasih sayang dengan sebutan seperti itu? Pikirnya.
“Apa lo baru aja bilang wanita tua?” tanya Zeline dengan ekspresi tak percayanya pada sang kakak.
“Ya. Gue yakin lo tahu wanita tua itu merujuk ke mana,” sahut acuh Dylan membalikkan badannya untuk melangkah pergi dari hadapan Zeline yang seketika mengepalkan tangannya dan kemudian menendang punggung Dylan dengan penuh emosi.
“Sialan lo! Dia ibu lo Bang! Jaga ucapan lo!” bentak Zeline berjalan mendekat kearah Dylan yang tersungkur lalu membalikkan tubuh tegap itu hingga terlentang di atas lantai, kemudian melayangkan tinjuan bertubi pada wajah tampan Dylan.
Sementara pemuda itu sama sekali tidak ingin membalas ataupun menghindar dari pukulan yang dilayangkan adiknya itu. Karena pertama, ia tak ingin memukul perempuan. Kedua, ia juga tahu ia sangatlah keterlaluan dan kurang ajar kepada Clara; sang ibu. Dan terakhir, ia pantas mendapatkannya karena telah membuat sang ibu masuk ke rumah sakit.
Tapi jauh dari itu semua, di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa sangat amat kecewa terhadap orang-orang di sekitarnya terutama kedua orang tuanya. Ia merasa seperti orang paling bodoh di keluarga besarnya karena menyembunyikan fakta bahwa ternyata ia bukanlah anak dari kedua orang tua yang telah merawatnya itu.
Dan juga fakta bahwa ternyata ibu kandungnya jatuh meninggal di tangan orang yang telah membesarkannya hingga sebesar ini. Makannya ia merasa sangat marah. “Kenapa lo diem aja?” ucap Zeline setelah menghentikan pukulannya pada wajah sang kakak yang kini keadaannya sangatlah memprihatinkan dengan luka lebab dan bengkak di hampir seluruh wajahnya.
“Gue pantes nerima ini. Gue udah kurang ajar sama Mama bahkan sampai buat dia masuk rumah sakit, tapi gue juga jauh kecewa banget sama Mama yang ternyata bukan ibu kandung gue dan udah ngebunuh ibu kandung gue” ucap Dylan membuat Zeline mengernyitkan alisnya saat mendengar ucapan terakhir sang Kakak.
“Bangun Bang! Ayo kita bicara di tempat lain.” Zeline mengulurkan tangan pada Dylan saat merasa jika mereka telah melakukan keributan dan menarik perhatian orang-orang di sana.
Dylan menerima uluran tangan itu dan bangkit sambil menganggukkan kepala setuju dengan ucapan sang Adik, lalu keduanya pun pergi dari sana mencari tempat yang sekiranya cocok untuk di jadikan tempat pembicaraan yang sepertinya serius di antara keduanya.
...•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈...
“Tuan muda seperti perkiraan anda kini keadaan keluarga Galaksi tidak baik-baik saja, dengan Tuan Muda pertama yang mengetahui segalanya dan terpengaruh dengan ucapan serta bukti-bukti yang Anda berikan padanya. Dan akibat hal itu istri dari Tuan Galaksi jatuh drop hingga mengharuskannya di rawat di rumah sakit.” lapor seorang wanita dengan pakaian formal khas seorang pekerjaan kantoran menundukkan kepalanya pada sang Tuan Muda yang duduk di kursi kebesaran di ruangan pribadinya membelakangi wanita itu.
“Itu bagus, cepat atau lambat kakak tiri tersayangku itu akan datang kepadaku dan memohon untuk pergi menemui pria tua itu. Atau bisa juga... ” Tuan muda itu menggantungkan ucapannya dengan senyum kepuasan dan memutar kursinya kearah depan di mana wanita yang merupakan asisten pribadinya itu berada.
“Adik tiri cantiknya itu yang datang dan memohon untuk jangan membawa sang kakak dan menawarkan dirinya sebagai ganti untuk kakaknya.” sambungnya.
“Pergilah! Dan terus awasi bagaimana keadaan di dalam rumah kediaman Galaksi.” titah Tuan Muda itu angkuh sambil melambaikan tangannya pelan memberi isyarat pergi dan diangguki patuh oleh wanita itu yang perlahan mundur dan pergi keluar meninggalkan ruangan sang majikan.
“Lihat sepertinya kau kalah dariku, honey. Huh~ sepertinya aku juga harus sedikit berterima kasih pada pemuda itu yang sudah mengambil sedikit perhatian gadis cantik itu hingga mengendurkan pengawasannya terhadap keluarganya.” Batin Tuan Muda itu dengan seringai tipis di bibirnya.
...•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈...
Saat ini Dylan dan Zeline telah berada di taman yang terletak tak terlalu jauh dari club' yang tadi di datangi Dylan. Keduanya duduk di salah satu kursi panjang yang ada di dekat lampu taman.
“Bang, tadi siang lo ketemu sama seseorang'kan?” Zeline membuka pembicaraan di antara keduanya semenjak mereka sampai dan duduk di sana. Pandangannya lurus ke depan menatap taman kota yang sedikit ramai karena malam yang kian beranjak larut.
“Ya, orang itu nyuruh anak buahnya buat nyulik gue dan di saat itu ketika gue butuh bantuan dari lo, lo malah gak angkat telpon gue.” sahut Dylan terdengar acuh tak seperti biasanya. “Tapi itu bagus juga lo gak angkat telepon gue, jadi gue bisa tahu kebenaran tentang gue yang bukan anak kandung Mama Papa dan fakta kalo ibu kandung gue di bunuh sama orang yang udah gue anggap sebagai orang tua gue dan besarin gue selama ini.” Lanjut Dylan tersenyum getir di akhirnya ketika mengingat fakta yang baru diketahuinya itu.
Mendengar penuturan sang Kakak, Zeline terlihat mengepalkan tangannya sambil menghembuskan nafasnya sedikit kasar. Brengsek! Pasti cowok sialan itu udah nambahin bumbu-bumbu kebohongan di balik fakta sebenarnya. Pikir Zeline begitu Yakin dengan perkiraannya.
“Lo salah paham Bang, Mama gak pernah ngebunuh ibu kandung lo justru dia mencoba buat nolongin dia tapi, ibu lo malah nolak dan pergi gitu aja, setelah ninggalin lo ke Mama.” ujar Zeline membuat Dylan seketika menoleh kepadanya.
“Salah paham? Terus fakta gue yang selama ini bukan anak kandung dia dan kebenaran yang selama ini dia simpan itu apa?”
“Untuk itu emang fakta tapi, Mama sama keluarga besar yang lain nyembunyiin kebenaran itu dari lo pasti ada alasannya, Bang.”
“Gue tahu lo belum bisa nerima kenyataan ini. Tapi, sikap lo yang bentak Mama sampai buat dia jatuh drop itu benar-benar keterlaluan, Bang. Lo lupa selama ini Mama lebih sayang sama lo ketimbang sama gue dan kak Celine yang notabene-nya anak kandungnya sendiri, padahal di situ dia tahu kalau lo bukan anak dia.” ucap Zeline membuat Dylan terdiam karena mendengar ucapannya.
“Lagi pula kenapa lo bisa semudah itu percaya sama omongan orang yang sama sekali belum lo kenal jelas orang itu-”
“Tapi dia ngomong dengan buktinya!” sela Dylan dengan nada sedikit meninggi.
“Tapi itu juga bisa aja rekayasa belaka yang sengaja orang itu buat supaya lo percaya dan ke hasut sama omongannya. Sadar bang! Kalo iya Mama culik lo dan bunuh ibu lo saat itu. gue tanya, buat apa Mama ngelakuin itu?!” tanya Zeline membuat Dylan terdiam seribu bahasa, pikirannya menerawang jauh memikirkan ucapan sang adik “Apa yang diomongin Zeline ada benernya, kenapa gue gak mikir sampek situ sih?” monolog Dylan.
“Udahlah terserah lo mau lebih percaya sama Mama atau orang yang sama sekali gak lo kenal itu. Tapi yang pasti lo harus liat Mama dan minta maaf sama dia! Gue pergi.” Zeline beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Dylan yang masih bergeming di tempatnya.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...