
....Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Motor Celine berhenti didepan sebuah bangun bertingkat dua yang berada cukup jauh dari restoran tempat Celine dan Alan makan tadi. Dengan diikuti mobil Alan yang juga berhenti di depan bangun itu lalu setelah itu keduanya pun memutuskan masuk kedalam yang mana ketika Alan melangkah masuk lebih dalam lagi bangun itu ia disambut dengan suara musik EDM yang menggema mengisi seluruh ruangan. Wanita-wanita yang memakai baju kekurangan bahan terlihat bertebaran di segala sisi ruang dengan bau alkohol yang menguar indra penciuman Alan.
Pemuda itu jelas tahu tempat apa yang saat ini tengah mereka datangi; yah Bar atau bisa juga disebut Club malam. Ia termasuk pemuda nakal di sekolahnya jadi tak ayal jika ia juga pernah sesekali datang ke tempat seperti ini bersama kedua sahabatnya yang lain tapi ia sangat tak menyangka jika Celine gadis yang ia kenal satu bulan yang lalu ini juga nakalnya sampai seperti ini.
Alan pikir gadis yang berjalan didepannya itu nakalnya hanya sebatas melanggar aturan sekolah saja tapi nyatanya akhh sudahlah Alan tak habis pikir.
Oh sepertinya Alan lupa jika Celine merupakan anak pindahan dari Los Angles, California dimana pergaulan bebas yang berada di sana sangatlah lumrah.
Keduanya terus berjalan semakin jauh kedalam dan naik ke lantai dua dimana tempat orang-orang kaya berkumpul untuk menghambur-hamburkan uang.
“Akhirnya lo sampai juga, noh yang nantangin lo udah nunggu di sana” ujar seorang pemuda menyambut kedatangan Celine dan memberi pelukan singkat sebelum merangkulnya kesalah satu meja dimana di sana telah terdapat seorang pria setengah baya tengah membelai bagian-bagian tubuh seorang wanita bayaran di Club tersebut yang duduk atas pangkuannya.
Membuat Celine yang melihatnya berdecih jijik, “Hallo Tuan, maaf membuatmu menunggu” ujar Celine mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan langsung dengan pria itu.
Pria tua itu terlihat mengalihkan tatapannya kearah Celine dan menatapnya dari atas sampai bawah, lalu setelahnya terkekeh. “Hanya seorang gadis kecil bisa mendapat gelar king of gambling dalam kurun waktu kurang dari satu bulan?” ucapnya menatap remeh Celine yang justru bersmirk.
“Bagaimana kalau kita buktikan saja? Jika aku menang jadilah anak buahku seumur hidupmu dan jika aku yang kalah itu terserah dirimu, deal?” tawar Celine menantang dengan wajah angkuh dan percaya diri. Membuat pria tua di depannya itu juga melemparkan senyum miringnya dan menatap penuh minat akan tawaran Celine.
“Deal.” balas pria itu lalu setelahnya Celine memberi kode pada pemuda yang tadi menyambutnya untuk memulai permainan. Dipertengahan permainan judi kartu itu suasana di meja itu terasa semakin memanas saat Celine yang sedari terlihat hampir kalah oleh pria tua di depannya yang saat ini begitu percaya diri bahwa ia akan menang.
Dan hal itu juga membuat Alan yang sedari tadi diam di samping kursi Celine pun jadi harap-harap cemas takut bila gadis itu kalah dan terjadi sesuatu yang tidak-tidak. Hingga pada saat detik-detik terakhir ketika Celine mengeluarkan kartu terakhir yang dimilikinya itu membuat pria tua di depannya itu terbelalak karena ia kalah telak oleh Celine.
“Ba-bagaimana mungkin?!” ucapnya tergagap menatap tak percaya yang berada di depannya sedangkan Celine hanya menyinggungkan senyumnya sambil bersidekap didepan dada.
“Jangan melanggar kesepakatan awal kita karena mulai sekarang kamu adalah anak buahku.” tekan Celine berucap tegas nan dingin.
“Baiklah, sesuai kesepakatan mulai sekarang kamu adalah atasanku” ucap pria itu terdengar tak terima, namun membuat Celine tersenyum puas. “Bagus. Kamu bisa memanggilku Vasilissa” ucap Celine lalu bangun dari duduknya dan melihat jam yang berada di pergelangan tangannya.
“Ayo balik” ucap Celine pada Alan sambil berjalan menjauh dari sana meninggalkan pria tua itu yang sudah membungkukkan tubuhnya kearah Celine. “Hati-hati dijalan Vasilissa” ucapnya.
Saat sampai di anak tangga terakhir menuju lantai satu Celine melirik kearah Alan yang sedari tadi diam sejak mereka sampai di sini. “Lo mau minum?” tawar Celine berjalan kearah meja bartender yang terlihat menyinggung senyumnya kearah dia. “Seperti biasa?” tanya bartender tersebut yang dibalas anggukkan dari Celine.
”Satu gelas Vodka” ujar Alan tanpa menjawab pertanyaan Celine dan ikut duduk di kursi yang tersedia didepan meja bartender samping Celine.
“Lo sering minum?” tanya Alan menatap kearah Celine yang kini tengah meneguk gelas minumannya. Celine melirik sekilas Alan lalu menatap kearah hiruk-pikuk orang-orang yang tengah berdansa ria di tengah ruangan dengan datar. “Yah bisa dibilang gitu, tapi itu dulu waktu di LA kalau sekarang mah gue gak terlalu sering minum karena ketahuan sama bokap mulu” ucap Celine kembali meneguk minumnya begitupun dengan Alan yang menganggukkan kepala mengerti.
“Kalau lo?” tanya Celine tanpa melihat kearah Alan. “Gak terlalu juga. Gue minum-minum kalau lagi stress aja” sahut Alan yang dibalas anggukkan oleh Celine, lalu setelahnya mereka berdua pun saling diam tak ada yang memulai obrolan lagi.
Hingga hitungan gelas ketujuh minuman mereka keduanya pun beranjak dari sana karena hari yang semakin larut.
...Zeline Zakeisha...
Setelah malam itu berlalu kini hubungan Celine dan Alan nampak semakin dekat, bahkan keduanya tak jarang sering menghabiskan waktu bersama diarea sekolah maupun diluar area sekolah. Yang mana hal itu membuat Zeline yang memang selalu memperhatikan orang-orang sekitarnya dalam diam sedikit tak nyaman.
“Ada apa? Tumben” suara berat Alan ketika ia sampai di rooftop dan berjalan mendekati Zeline yang membelakanginya. Kedua tangannya masuk dikedua sisi celananya lalu ikut berdiri di samping Zeline sambil memperhatikan halaman sekolahnya yang nampak sepi karena ini masih di jam pelajaran berlangsung.
“Jauhin Kakak gue!” titah Zeline bernada dingin penuh penekan membuat Alan menolehkan kepalanya kearah Zeline dengan alis terangkat sebelah.
“Kenapa gue harus? Gue mulai tertarik sama dia” sahut Alan membuat Zeline balas menatap kearahnya dengan tajam.
“Lo masih punya Dia kalau lo lupa. Jadi jauhin kakak gue!”
Ucapan Zeline itu sukses membuat Alan terdiam dengan pikiran yang teringat pada gadis itu. “Dia masih tidur Zeline, lo tenang aja gue gak akan buat Dia ngelakuin hal bodoh sama kayak yang Dia lakuin ke lo. Gue bakal jaga Celine dan setelah Dia bangun gue bakal jauhin kakak lo itu” ucap santai Alan sambil mengalihkan pandangannya kembali kearah depan.
“Justru karena itu bajingan! Lo cuma mau jadiin kakak gue sebagai mainan sama kayak sampah-sampah lo yang lain. Jangan kira gue gak tahu seberapa busuknya elo Alan!”
“Gue gak mainin Celine,Ze! Meski nanti gue bakal jauhin dia gue bakal tetep jaga dia Ze, gue bener serius kali ini” ucap Alan kembali menoleh kearah Zeline untuk sesaat dan mendapati gadis itu berdecih.
“Lo pikir gue bakal percaya sama bajingan kayak lo? Enggak!” tekan Zeline diakhir kalimatnya.
Alan menghembuskan nafasnya sial! Umpatnya dalam hati ia tahu ini pasti akan terjadi Zeline itu keras kepala dan menyakinkan gadis itu sangatlah sulit karena gadis ini tahu segala seluk-beluk dirinya lebih dari kedua sahabatnya yang lain tahu.
“Ze-”
“Kalo lo gak mau jauhin kakak gue biar gue yang jauhin lo berdua langsung!” potong Zeline seraya berbalik dan melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana meninggalkan Alan yang mendengus. “Lo tahu gue Alan? Gue paling gak suka ada orang yang nyakitin salah satu keluarga gue dan gue gak akan segan-segan buat orang itu menderita bahkan melenyapkan nyawanya sekalipun!” ucap Zeline untuk terakhir kalinya sebelum membuka pintu rooftop lalu benar-benar pergi dari sana menyisakan Alan yang mematung.
Pemuda itu lupa dengan prinsip gadis yang ia kenal 3 tahun silam itu, dan ia tahu betul dengan sifat gadis itu yang tak akan pernah main-main dengan semua ucapannya. Ia hanya mampu mengeram kesal seraya mengacak surai hitamnya frustasi.
...Zeline Zakeisha...
Seorang pemuda berperawakan tinggi dengan wajah tampannya yang dingin terlihat memasuki sebuah ruangan bercat hitam yang mana ruangan itu merupakan ruang kerja milik ayahnya yang saat ini tengah menyesap sebatang nikotin yang terhimpit di sela-sela jarinya sambil menyenderkan punggungnya di kursi kerja menikmati setiap hisapannya pada sebatang nikotin itu.
“You back son?” suara pria setengah baya itu ketika menyadari keberadaan sang anak didalam ruangannya.
“Hmm” gumam pemuda itu sebagai balas lalu duduk di sofa yang berada tak jauh dari meja kerja sang ayah yang menghembuskan asap rokoknya.
“How did you find her?” tanyanya kembali pada sang anak yang kini tengah menuangkan wine ke gelas yang tersedia di atas meja lalu setelahnya mengangkat gelas itu seraya memutar gelas itu pelan dengan senyum tipis.
“Yeah, i found her and she is getting prettier than three years ago”
Mendengar itu sang ayah tersenyum tipis. “Then, how about your task of searching for your older brother's whereabouts?” tanyanya kembali pada sang putra yang meneguk wine-nya nikmat.
“Dad, take it easy, I'll find him soon” balas sang anak yang mendapat anggukkan dari sang ayah. “Move fast” ucap sang ayah sambil mematikan putung rokoknya di asbak lalu beranjak meninggalkan ruangan kerjanya menyisakan sang anak yang menyeringai dibalik ia meneguk wine-nya.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...