
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Saat ini Kalandra tengah berada di dalam toko bunga dengan Dashha yang setia membuntutinya mengikuti setiap langkahnya membuat Kalandra risih belum lagi gadis itu sedari tadi menunjuk-nunjuk bunga yang sekiranya di sukai oleh gadis itu membuat ia yang tengah sibuk memilih bunga apa yang bagus untuk di berikan kepada Zeline semakin bingung.
Pasalnya ini pertama kalinya ia akan memberikan bunga untuk gadis itu, dan masalahnya adalah ia tak tahu bunga seperti apa yang di sukai gadisnya itu.
Seorang pegawai toko bunga yang sedari tadi memperhatikan di balik meja kasir akhirnya mendekat pada Kalandra. “Tuan anda menginginkan bunga seperti apa?” tanyanya dengan ramah ketika berdiri di samping Kalandra yang terlihat menimbang-nimbang di hadapan berbagai bunga.
Sedikit tersentak kecil Kalandra mengalihkan atensinya pada pegawai perempuan toko tersebut. “Umm apa bunga yang cocok untuk di berikan kepada kekasihmu?” tanya Kalandra membuat Pegawai toko itu tersenyum dan melirik kearah Dashha yang berdiri di belakang tubuh Kalandra sambil celingak-celinguk sampai akhirnya tatapannya berhenti di salah satu bunga yang berjajar di sudut kaca.
“Hmm anda bisa memberikan bunga mawar putih. Bunga mawar putih ini melambangkan kepolosan dan kemurnian. Selain itu, makna bunga Mawar juga bisa berarti misteri dan rahasia. Atau anda juga bisa memberikan bunga anyelir merah dan putih yang secara khusus mencerminkan rasa cinta.
Warna anyelir merah yang lebih terang sering digunakan untuk menyampaikan kekaguman, di mana anyelir yang diarsir lebih gelap mengekspresikan sentimen cinta dan kasih sayang yang lebih dalam.
Sedangkan anyelir putih dikaitkan dengan kemurnian dan keberuntungan kita karena memiliki pasangan sepertinya.” tunjuk sang pegawai pada bunga mawar putih dan bunga anyelir merah juga putih di depan Kalandra.
“Atau anda bisa memberikan bunga lavender sebagai pilihan juga, sepertinya kekasih anda sangat menyukainya,” sambung pegawai itu sambil menatap gadis di belakang Kalandra dengan senyuman hangat.
Melihat tatapan sang pegawai terarah kepada Dashha, ekspresi wajah Kalandra menjadi amat sangat datar dan dingin. “Dia bukan kekasihku, buat kan saja buket bunga anyelir merah dan putih itu untukku sekarang.” ucap Kalandra terdengar ketus di telinga si pegawai yang tiba-tiba dirundung rasa canggung tak enak.
Sambil mengambil bunga pesanan pemuda tampan di depannya Pegawai itu pun berlalu dengan bergumam, “Padahal mereka terlihat serasi,”
Setelah pegawai itu berlalu pergi, Kalandra mengeluarkan ponsel canggihnya untuk mengurangi rasa bosan mengacuhkan Dashha yang berjalan kearah ember besar putih yang di dalamnya terdapat bunga Lavender segar. “Kala, bunga lavender ini cantik aku menyukainya, kamu mau'kan membelikannya untukku?” tanya Dashha menoleh pada Kalandra yang melirik nya pun tidak.
Membuat ia menghentakkan kakinya kesal, “****! Gue lagi-lagi di abaikan,” gerutu Dashha dalam hati lalu berjalan mendekat kearah Kalandra dan berdiri di samping pemuda itu.
Tak berselang lama pegawai tadi kembali dengan buket bunga pesanan Kalandra. “Tuan, bunga pesanan anda.” ucap pegawai itu mengalihkan atensi Kalandra dan berdecak puas.
Lalu setelahnya ia segera membayarnya dan berlalu pergi meninggalkan toko itu untuk pergi menuju rumah Zeline. “Gue harap dia suka sama bunganya,” batin Kalandra di sepanjang perjalanannya.
.
.
.
“Pagi Om, Tante. Aku seneng dengar tante udah keluar rumah sakit. Maaf selama tante di rawat aku gak pernah jenguk,” ucap Kalandra dengan senyum tipis saat ini ia sudah sampai di rumah Zeline dan menemui kedua orangtua gadisnya itu di ruang tamu.
Tangannya menyodorkan kue yang tadi ia beli pada Clara yang tersenyum hangat menyambutnya. “Tak apa, tante tahu kamu sibuk.” ucap Clara menerima kotak kue pemberian Kalandra lalu matanya melirik pada bunga yang ada di samping tubuh besar Kalandra.
“Bunganya?“
“Ah aku tak tahu tante menyukai bunga atau tidak, jadi aku hanya membeli satu untuk Zeline.” ucapan Kalandra sukses membuat Clara dan Galaksi sedikit melebarkan matanya sebelum terkekeh kecil.
“Ooo anak muda jaman sekarang, anak itu pasti akan menyukainya.” ucap Galaksi menggoda pada Kalandra yang menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Dan gelagatnya itu membuat Dashha yang sedari tadi ada di sana namun nampak transparan di antara mereka ternganga tak percaya. Ia seperti melihat diri Kalandra yang lain, benar-benar bukan Kalandra yang selama ini ia kenal.
Kemudian tatapan Clara akhirnya beralih pada gadis yang ikut bersama Kalandra, “Hm Kala, siapa ini?”
“Oh dia sahabat lamaku, Dashhara Leonarya dia baru kembali dari Prancis beberapa minggu yang lalu” Kalandra memperkenalkan Dashha yang memasang senyum anggunnya.
“Hallo Om, Tante.”
“Kamu sepertinya seumur dengan calon menantuku mungkin kamu bisa berkenalan dengannya kebetulan dia sedang ada di sini.” tepat setelah ucapan Clara itu selesai Dylan dan Acha yang baru saja kembali dari halaman belakang melihat kehadiran mereka.
“Hey bro! Kapan lo dateng ke sini kok gak bilang-bilang?” Dylan dan Kalandra bersalaman khas pria lalu tatapan pemuda itu beralih pada Dashha yang juga menatapnya tidak lebih tepatnya menatap Kalandra.
“Iya dia Dashha, dia maksa ikut,“ balas Kalandra berbisik juga.
“Tan kalau begitu saya boleh nemuin Zeline sekarang kan?” tanya Kalandra pada Clara yang menganggukkan kepalanya menyetujui.
“Hm pergilah, dia ada di balkon lantai atas lagi baca buku.” ucap Clara dan mendapat anggukkan dari Kalandra.
Sementara Dylan menepuk pelan bahu Kalandra dengan senyum tipis dan berbisik kembali, “Dari sekarang lo harus latihan panggil gue kakak ipar, Kal.” goda Dylan dan hanya di acuhkan Kalandra yang buru-buru pergi menuju lantai atas.
...┈┈┈┈․° ☣ °․┈┈┈┈...
Zeline sebenarnya tidak sedang membaca buku tapi ia tengah membaca Email di ponselnya yang di letakan di antara halaman buku yang terbuka itu jadi orang yang melihatnya pasti beranggapan bahwa ia memang benar tengah membaca buku itu.
Kecupan pada puncak kepalanya membuat Zeline tersentak kecil apalagi ketika seseorang yang mengecupnya itu menyodorkan sebuah bunga yang di rangkai sedemikian rupa ke depan wajahnya.
“Kenapa cuma di liatin kamu gak suka bunganya?” tanya Kalandra duduk di samping Zeline yang duduk di ayunan yang berada di sana.
“Hm Aku suka, Makasih.” ucap Zeline mengambil bunga yang di sodorkan Kalandra dan menoleh menatap pemuda yang duduk di sampingnya itu. Entah Zeline sadar atau tidak tapi pipinya terlihat bersemu karena sikap romantis tiba-tiba Kalandra.
“Syukurlah, Aku tadi bingung harus beli bunga apa karena, aku gak tahu kamu suka bunga kayak gimana.” ucap Kalandra lega dan mengusap sayang rambut Zeline.
Dan saat itulah ingatan Kalandra kembali pada kejadian semalam. “Semalam kamu pergi ke mana?” pertanyaan yang tak terduga dari bibir tipis Kalandra membuat Zeline sedikit menegang namun ia dengan segera mencoba menyembunyikan ketegangannya itu.
Tak tahu saja bahwa ketegangannya masih tertangkap oleh Kalandra, yang mulai berpikir negatif. “Aku-” ucapan Zeline terhenti saat menyadari dirinya mengatakan 'Aku’ bukan 'Gue’ seperti biasanya.
Tapi yasudahlah Zeline tak akan memikirkan itu sekarang, “Gue pergi ketemu temen,” Zeline berucap dengan nada yang sebisa mungkin tak terdengar gugup.
“Cowok?”
“Iya, tapi gue gak punya hubungan apa-apa kok sama dia. Kemarin malam kita ketemuan di cafe buat bahas tugas sekolah yang katanya dia satu kelompok sama gue,”
“Bohong. Mana ada Cafe sesepi itu bahkan suara motor atau mobil yang berlalu lalang aja gue gak denger.” batin Kalandra menatap dalam manik Zeline.
“Oh gitu,” Hanya itu yang Kalandra ucapkan sambil mengalihkan tatapannya dari Zeline lalu menunduk menatap buku apa yang tengah di baca Zeline namun yang ia dapat justru handphone diatasnya dengan layar yang menyala menampilkan seperti sebuah pesan email.
Belum lagi buku yang di gunakan Zeline untuk menutupi kegiatannya bermain ponsel itu dalam keadaan terbalik. Membuat ia terkekeh pelan dan menarik buku itu hingga handphone yang berada di atasnya terjatuh di pangkuan Zeline lalu membalikkannya pada posisi yang benar sebelum kembali meletakkannya di pangkuan Zeline yang hanya diam menatapnya.
“Buku kamu ke balik sayang,” ucap lembut Kalandra membuat Zeline menatap buku di pangkuannya yang sudah di benarkan oleh Kalandra.
“Dan lain kali, baca buku bener-bener jangan taruh HP di atasnya.“ lanjut Kalandra lalu mengecup pelipis Zeline yang terdiam malu.
Ia ketahuan, tapi setidaknya kebohongan yang diucapkannya untuk menjawab pertanyaan Kalandra tidak ketahuan.
Tanpa keduanya sadari di balik pintu balkon sana terdapat Celine yang diam menatap datar dua orang sejoli yang tengah menebar kemesraan tak tahu tempat membuat ia gedeg sendiri.
“Sialan! Gak Bang Dylan, Gak Adek dua-duanya sama aja tebar kemesraan gak tahu tempat. Mentang-mentang punya gandengan!“ gerutu Celine memutar tubuhnya untuk pergi menuju kamarnya.
Padahal niat hati dirinya ingin bersantai di hari libur yang cerah ini di belakang halaman mansion tapi tak jadi karena melihat lovely-dovely yang disebarkan kakak pertamanya bersama sang tunangan. Jadi ia melarikan diri ke arah balkon lantai atas untuk bersantai tapi ternyata saat sampai di sana pun sama saja, menampilkan hal yang menyakiti mata.
“Lain kali gue bakal ajuin aturan dilarang pacaran di sekitar mansion ke Mama sama Papa supaya mereka gak bisa tebar-tebar kemesraan di sini.” gerutuan Celine berlanjut sampai ia masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya kesal.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...