Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Panik



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Siang ini di salah satu pusat perbelanjaan Dylan terlihat berjalan ke sana kemari mengikuti langkah kecil Acha, sang tunangan yang begitu bersemangat untuk membeli apa saja di pusat perbelanjaan itu. Kedua tangannya sudah menjinjing beberapa paper bag dari toko yang sempat mereka singgahi sebelumnya.


Hingga saat di tengah-tengah keramaian itu ia merasa jika ia tengah diikuti oleh beberapa orang membuat ia seketika waspada dan melirik orang-orang di sekitarnya yang sibuk berseliweran di keramaian.


“Dylan?” Panggilan bernada lembut dari arah sampingnya membuat Dylan yang tengah memperhatikan sekitar itu sedikit tersentak dan langsung menoleh kearah Acha yang kini menatapnya penuh tanya sambil ikut melarikan matanya ke sana kemari seolah mencari sesuatu.


“Ah eum Ya?”


“Kamu cari apaan, sih? Dari tadi aku ajak ngomong kamu, tapi taunya kamu malah liat ke sana sini kayak lagi cari sesuatu.” ucap Acha membuat Dylan sedikit tersenyum tipis canggung, lalu menggelengkan kepalanya.


“Gak papa, aku gak cari apa-apa. Kamu masih ada yang mau dibeli lagi?” tanya Dylan kemudian; mengalihkan pembicaraan.


“Engga, itu aja udah cukup. Aku pengen pulang aja, capek.”


“Hmm, yaudah pulang sekarang?” tanya lembut Dylan dengan tangan yang terulur untuk merapikan rambut panjang berwarna coklat terang milik Acha yang dibiarkan tergerai oleh si pemilik rambut.


Menganggukkan kepalanya kecil Acha, kemudian mengaitkan tangannya pada lengan Dylan menyeret pemuda itu untuk menuju basement mall di mana mobil Dylan terparkir di sana.


.


.


.


Dylan menghentikan laju mobilnya di depan sebuah bangunan apartemen yang berada di kawasan elit kotanya, kemudian menolehkan kepalanya untuk menatap Acha yang kini telah membuka sabuk pengamannya.


“Maafin aku nya, karena gak bisa anterin kamu sampai kedepan unit apartemen.” ujar Dylan dengan pandang merasa bersalah menatap ke arah Acha yang juga balas menatapnya sambil tersenyum simpul.


“Gak papa, aku ngerti kok. Lagian aku gak semanja itu buat harus di anterin sampai di depan pintu unit apartemen,”


Dylan tersenyum, mengusap kepala Acha sayang sebelum menarik kepala Acha agar mendekat ke arah wajahnya agar ia bisa mencium kening perempuan tersebut. “Hmm, makasih udah mau ngertiin aku. Makan malam nanti, aku janji bakal dateng ke apartemen buat makan bareng sama kamu.” ucap Dylan usai mengecup kening perempuan itu yang kini pipinya terlihat sedikit merona.


Menganggukkan kepalanya Acha mengadahkan kepala agar sejajar dengan wajah Dylan. “Aku bakal tunggu kamu,” sahut Acha lalu membumbuhkan sebuah kecupan kilat pada pipi Dylan sebelum ia membawa semua barang belanjaan di jok belakang dan berlari keluar dari dalam mobil Dylan yang masih sedikit terkesiap karena tindakannya.


Sampai untuk seperkian detik setelah Acha masuk ke dalam gedung apartemen, senyum Dylan pun terbit dan tatapan matanya terarah ke pintu masuk gedung apartemennya. “Gadis itu, bisa saja membuat jantungku berdenyut lebih kencang.” batinnya.


Lalu iapun kembali menjalankan mobilnya pergi meninggalkan area kawasan elit tersebut dan matanya melirik ke arah kaca spion yang berada di atas tengah dashboard mobil.


Menarik senyum miringnya saat melihat sebuah mobil van berwarna hitam terlihat kembali mengikutinya, lalu iapun menaikkan kecepatan mobilnya dengan diikuti mobil di belakangnya juga.


“Mereka bukan orang-orang suruhan Mama, Papa, ataupun Zeline.” batinnya dengan sebelah tangan berusaha menghubungi Zeline, sangat adik.


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


“Kita mau kemana, sih?” tanya Zeline memecah kesunyian didalam mobil yang tengah ditumpanginya sambil menatap keluar jendela mobil melihat kearah jalanan yang selalu padat oleh kendaraan beroda empat maupun dua.


Kalandra yang duduk dibalik kursi kemudi menoleh sekilas kearah Zeline yang duduk di sampingnya, ketika mendengar pertanyaan gadis itu. Mengulum senyumnya, Kalandra pun menjawab pertanyaan gadis itu.


“Ke rumah gue, Mama pengen ketemu sama lo.”


Jawaban yang terlontar dari bibir Kalandra itu sontak membuat Zeline menolehkan kepalanya menatap pemuda yang lagi-lagi memaksanya beberapa waktu lalu.


“Yak! Jangan bercanda! Mau ngapain Mama lo pengen ketemu sama gue?” Ucap Zeline dan entah kenapa tiba-tiba saja perasaannya berubah menjadi sedikit gelisah. “Kenapa gue tiba-tiba gugup kayak gini? Padahal kan ini bukan pertama kalinya gue ketemu sama Mamanya, Bang Kala.” Zeline membatin dalam hati.


Terkekeh pelan Kalandra membawa sebelah tangannya untuk menggenggam tanganmu Zeline, “Tenang aja, gak perlu gugup. Mama cuma pengen ketemu sama calon menantunya aja, biar lebih deket.” ucap Kalandra membuat Zeline memasang raut wajah datar andalannya.


“Ck. Kayak gue ini mau nikah sama lo aja, sampek bilang calon menantu segala.” ucap Zeline dengan tangannya yang masih dalam genggaman Kalandra.


“Emang lo gak mau nikah sama gue?” Kalandra menolehkan kepalanya menatap lekat wajah cantik rupawan Zeline ketika mobilnya berhenti di lampu merah.


Jawaban itu Zeline membuat Kalandra menatap gadis itu dingin dan dalam seketika mendekatkan wajahnya pada wajah Zeline yang dengan reflek memundurkan kepalanya kebelakang.


“Lo gak suka sama gue? Yakin?” ucap Kalandra berubah dingin dan nada yang terdengar lebih berat. Membuat bulu kuduk Zeline merinding dan jantungnya kembali berpacu lebih cepat dari biasanya. “Haish! Ni jantung mulai lagi.” gerutu Zeline dalam hati.


“Te-tentu aja! Gue gak pernah suka sama lo dan gak akan pernah.” Ucap Zeline dengan terbatas dan tanpa ia sadari pipinya sudah berubah merah merona. Menatap dalam kedua bola mata Zeline sesaat Kalandra pun mengangguk mengerti sambil menjauhkan kepalanya dan memperbaiki posisi duduknya sebelum menjalankan kembali mobilnya ketika lampu lalu lintasnya telah berubah menjadi hijau.


Dan keadaan didalam mobil itupun seketika berubah menjadi hening kembali seperti semula dengan suasana canggung yang sangat kentara diantara kedua sejoli itu.


“Gue gak salah ngomong kan?” Batin Zeline berkecamuk.


...~̠~̠Z̠e̠l̠i̠n̠e̠ Z̠a̠k̠e̠i̠s̠h̠a̠~̠~̠...


Sementara itu disisi lain terlihat Dylan tengah berlari melewati gang-gang kecil menghindari orang-orang yang tengah mengejarnya dibelakang sana dengan telpon genggam yang menempel pada daun telinga masih mencoba menghubungi Zeline sang adik untuk meminta bantuan.


“Sialan! Dek lo kemana sih?! Kenapa gak angkat telpon gue. Gue lagi butuh bantuan lo!“ umpat Dylan terengah-engah sambil kembali mencoba menghubungi nomor kontak sang adik, dan mempercepat larinya saat samar-samar ia bisa mendengar langkah orang-orang yang mengejarnya.


Sedangkan ia berusaha mati-matian menghubungi nomor handphone sang adik taunya handphone gadis itu tertinggal di dalam tas sekolahnya. Membuat Dylan kembali mengumpat kesal sebelum akhirnya ia memilih menghubungi nomor Ibunya, sambil bersembunyi di celah-celah gang-gang buntu yang di tapakinya.


Namun sayang tepat ketika sambung telponnya dengan sang ibu tersambung saat itulah ia ketahuan dan ketika ia akan kembali kabur salah satu diantara mereka menyemprotkan gas tepat kearah wajah Dylan.


Hingga kurang dari satu detik setelah Dylan menghirup gas tersebut, saat itu pula Dylan ambruk pingsan dan telpon di genggamnya jatuh terpelanting membuat Clara yang mendengarnya panik memanggil-manggil Dylan, sebelum akhirnya sambungan telpon itu mati karena telpon tersebut diinjak hingga tak berbentuk oleh orang-orang yang mulai membopong tubuh Dylan untuk di bawa kedalam mobil Van mereka.


.


.


.


“Dylan! Dylan! Nak!” tut. Clara berujar panik dan semakin dibuat panik lagi ketika sambungan telpon tersebut mati.


Wanita berusia hampir berkepala lima tersebut langsung beranjak dari kursi kerja dan meraih kunci mobil untuk bergegas pergi menuju kantor sang suami agar melacak keberadaan Dylan.


Karena demi apapun perasaan wanita dewasa itu sangatlah tak enak. Bahkan panggilan sang sekertaris yang memberitahunya bahwa rapat bersama para direksi perusahaan akan segera dimulai beberapa menit lagi.


Sesampainya di gedung perusahaan Galaksi, Clara memarkirkan mobilnya asal didepan pintu masuk utama perusahaan besar tersebut dan melemparkan kunci mobilnya kearah penjaga yang berada di sana.


Lalu masuk kedalam gedung perusahaan tersebut untuk menuju kearah ruangan Galaksi yang berada di lantai 12 menggunakan lift. Selama di dalam lift kakinya tak bisa diam tangannya yang menggenggam handphone terus ia tatap harap-harap Dylan putra sulung kesayangannya itu akan kembali menghubunginya.


Begitu lift terbuka di lantai yang ia tuju dengan langkah lebar yang ia bisa Clara bawa menuju satu-satunya ruangan yang berada di sana di mana ruangan Galaksi berada.


BRAK!!


Pintu itu Clara buka kasar hingga membuat dua orang yang berada di dalam ruangan itu tersentak kaget. Galaksi yang melihat raut wajah sang istri yang nampak panik langsung saja bangun dari duduknya, sementara orang yang tadi tengah berbincang hangat dengannya hanya diam menatap kearah mereka.


“Hey, ada apa? Kenapa kamu terlihat panik, sayang?” ujar lembut Galaksi ketika ia telah sampai di hadapan sang istri.


“Gal, Dylan! Dylan dalam bahaya!” panik Clara sambil mencengkram lengan atas Galaksi erat.


“Hey sayang. Tenang, tenang, jangan panik okey? Katakan pelan-pelan ada apa dengan Dylan dan bahaya apa yang kamu maksud itu.” ucap Galaksi selembut dan setenang mungkin menenangkan Clara yang justru malah menggeleng.


Wanita dewasa itu tak bisa tenang, anak laki-laki semata wayangnya saat ini tengah berada dalam keadaan bahaya dan Ia yakin akan hal itu.


“Gak bisa, Galaksi! Aku gak bisa tenang. Tadi Dylan nelpon tapi belum juga dia bilang sesuatu sambungannya udah putus duluan dan sebelum putus itu aku dengar dengan jelas ada suara orang yang jatuh dan beberapa orang bilang mereka harus bergerak cepat buat ngangkut orang itu ke mobil mereka. Dan aku yakin orang yang mereka maksud pasti Dylan!” ujar Clara panjang lebar matanya pun mulai berkaca-kaca, ia takut.


Menghembuskan nafasnya pelan kini Galaksi pun menjadi sedikit merasa tak tenang, lalu menolehkan kepalanya kearah seseorang yang juga masih berada di dalam ruangannya. “Lo bisa ngelacakin nomor handphone anak gue sekarang kan, Fin?” tanya Galaksi pada orang tersebut yang menganggukkan kepalanya menyetujui dan beranjak dari duduknya di sofa menuju meja kerja Galaksi yang terdapat komputer di atasnya.


Membawa kembali tatapannya kearah Clara, Galaksi membawa tubuh wanita itu kedalam pelukannya dan menutup pintu ruangannya. “Sssttt... Jangan khawatir sayang Dylan pasti baik-baik aja. Daffin lagi lacak keberadaan Dylan dan kita bakal nemuin putra kita itu secepat mungkin.” ujar Galaksi menenangkan Clara yang mulai terisak dalam dekapan sang suami.


Daffin, sahabat Galaksi sewaktu SMA dan Kuliah dulu. Bahkan hingga saat inipun mereka pun masih saling bersahabat bersama salah satu sahabat mereka juga yang lain.


.


.


.


To Be Continued