
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Mobil yang di tumpangi Jayden dan Zeline berhenti di depan sebuah hotel berbintang itu yang mana kedatangannya langsung di sambut oleh beberapa awak media yang memang di undang ke acara itu lalu ada juga beberapa petinggi penting perusahaan rekan bisnis Jayden yang menyambut di pintu masuk utama hotel.
“Tuan Alexander, senang karena anda dapat meluangkan waktumu untuk menghadiri acara sederhana perusahaan kami.” ucap pak direksi perusahaan itu berjabat tangan dengan Jayden.
“Anda terlalu merendah, saya yang justru merasa senang karena anda mau mengundang saya.” ucap Jayden tersenyum tipis lalu tatapan direksi itu tertuju pada seseorang yang berdiri di samping Jayden.
“Em gadis ini apa dia istri anda yang menghebohkan beberapa pebisnis lain saat melihat kecantikannya di hari pernikahan kalian dulu?“ Jayden tersenyum sambil menganggukkan kecil membenarkan ucapan sang direksi.
Sementara Zeline membungkuk sedikit tubuhnya elegan pada pria paruh baya itu. “Senang bertemu anda.“ ucap Zeline sopan.
“Ah Nyonya Alexander anda benar-benar menawan seperti yang di kabarkan. Sayang sekali saat pernikahan kalian saya tak bisa datang karena berhalangan.” ucap direksi itu tersenyum. “Kalau begitu silahkan masuk, semoga kalian menikmati jamuan dari kami.” Direksi itu kemudian mempersilahkan Jayden dan Zeline masuk ke dalam aula hotel di mana acara di adakan di sana.
Tak lama setelah mereka berdua masuk ke dalam aula acara, acara itupun di mulai dengan sambutan dari sang tuan rumah. Pria dewasa yang berusia hampir sama dengan Jayden itu turun dari atas podium, lalu berjalan kearah Jayden dan Zeline dengan membawa segelas wine di tangannya.
“Tuan dan Nyonya Alexander senang kalian berada disini.” sapa Pria itu dan di balas senyum tipis oleh Zeline.
“Acara tahunan perusahaan anda memang tak pernah gagal ya, Tuan Leo.” sanjung Jayden mengajak bersulang dengan pria dewasa itu; Tuan Leo.
Lalu setelahnya kedua orang itu mulai membicarakan beberapa bisnis. Sedang Zeline hanya mendengarkan sambil sesekali meneguk wine nya. Sebelum kemudian Zeline diajak oleh Jayden menemui beberapa CEO perusahaan yang menjalin kerja sama dengan pemuda itu.
“Jay, aku bosan, aku ingin mencari angin sebentar.” ucap Zeline Jayden yang sedang berbicara dengan rekan bisnisnya pun hanya menganggukkan kepalanya pelan.
“Baiklah jangan terlalu jauh!” peringkat Jayden menoleh sekilas pada Zeline yang menganggukkan kepalanya.
.
.
.
Saat ini Zeline tengah berdiri di balkon yang terhubung dengan aula acara menikmati malam dan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya sambil meneguk anggur merahnya sesekali.
Sampai seseorang tiba-tiba saja datang dan berdiri di sampingnya. “Kenapa anda berdiri seorang diri disini nona? Kemana Tuan Alexander suamimu itu?” ucap orang itu menyesap wine nya.
Zeline memutar tubuhnya hingga berlawanan arah dengan orang di sampingnya menyandarkan lengannya pada pembatas balkon seraya menatap kerumunan di dalam sana.
“Cih. Sejak kapan aku menganggap pria brengsek itu suamiku?” ucap Zeline menggoyangkan gelasnya pelan dengan sorot mata yang dingin.
Orang yang berdiri di samping Zeline itu menoleh pada gadis di sampingnya lalu ikut merubah posisinya untuk melihat kearah kerumunan di dalam aula. “Bukankah tak baik mengatakan hal itu, Nona.”
“Terserah, tapi Tuan Marvin ada apa kamu menghampiriku? Kurasa kita tak sedekat itu,”
“Ah darimana kamu mengetahui namaku? Bahkan aku belum memperkenalkan diriku,” Pria yang di panggil Marvin oleh Zeline itu terkekeh garing di akhir kalimatnya.
“Bukankah itu tak penting?” Zeline menaikan sebelah alisnya.
“Haha..“ tawa garing Marvin mengalun lalu matanya tanpa sengaja menangkap bayangan Jayden yang menarik seorang gadis dengan gaun yang sama persis dengan gadis yang berdiri di sampingnya.
“Woh Nona Zeline lihat suamimu sepertinya ia mabuk sampai salah mengenali istrinya sendiri,” ucap Marvin menunjuk Jayden dengan dagunya.
Zeline melihat kearah yang ditunjuk Marvin lalu tersenyum miring. Marvin yang kebetulan menengok kearah Zeline mengerutkan keningnya melihat senyum itu, dan samar iapun mengulum seringainya. “Menarik.” Gumam Marvin dalam hati seraya meneguk wine nya.
“Perusahaanmu bersaing kan dengan perusahaannya?” tanya tiba-tiba Zeline menaruh gelasnya yang sudah kosong di pembatas balkon. Namun matanya tak lepas dari Jayden yang kini sudah melangkahkan kakinya masuk kedalam lift bersama si gadis asing.
Marvin menoleh mengangkat alisnya sebelah atas ucapan Zeline yang lagi-lagi mengetahui informasi tentangnya. “Kau menyelidiki ku?” tanya Marvin berubah tajam mengintimidasi.
Zeline menengadah menatap tepat dimata Marvin mengejek. “Menurutmu?“ Bukannya menjawab Zeline justru bertanya balik.
“Dengar kita memiliki musuh yang sama jadi lebih baik jika kita berteman, seperti kata pepatah musuh dari musuhku adalah temanku.” ucap Zeline menyinggung senyum tipisnya.
Marvin balas menyunggingkan senyum seringainya, “Ooo ini semakin menarik, ternyata pria bodoh itu menikahi musuhnya?” batin Marvin.
“See you next time. Semoga pertemanan kita saling menguntungkan.” ucap Zeline hendak berlalu pergi meninggalkan Marvin tapi sebelah tangannya di tahan oleh pria itu yang ternyata menyelipkan sebuah kartu nama di sana.
“Hubungi aku jika ada apa-apa.“ ucap Marvin, Zeline menganggukkan kepalanya sebagai respon kemudian ia pergi meninggalkan Marvin seorang diri di sana yang menatap kepergiannya dengan tatapan sulit diartikan.
.
.
.
Sementara itu, Jayden menarik gadis yang di sangkanya adalah Zeline masuk ke dalam salah satu kamar hotel yang di pesan khusus oleh penyelenggara acara untuk para tamunya.
Jayden yang sudah mabuk berat padahal ia sangat kuat dalam minum itu mendorong gadis yang tak di kenal itu hingga terlentang di atas ranjang. Tangannya bergerak membuka dasi serta jas juga kancing kemejanya hingga menampilkan perut kotak-kotaknya.
Mengukung gadis itu di bawahnya dan memandang wajahnya, “Zeline you're so beutiful" gumamnya tepat di depan bibir ranum gadis itu sebelum kemudian **********.
Gadis itu yang tadinya ragu juga takut untuk menjalankan aksinya pun kini mulai mengalungkan tangannya pada leher pria yang mengukungnya.
Cumbuan demi cumbuan yang membakar gairah keduanya makin menjadi dan malam panjang yang panas itupun di lewati oleh Jayden dan si gadis hingga mereka terlelap sampai fajar datang.
.
Di keesokan harinya saat Jayden bangun dari tidurnya ia membulatkan matanya kaget saat melihat seorang gadis asing yang tertidur pulas dalam dekapannya dalam keadaan yang sama-sama naked.
Secara perlahan ia menyibak selimut lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan selama di dalam sana pikirannya mencoba mengingat kejadian semalam yang mana samar-samar ia dapat mengingatnya.
“Sialan! Jangan sampai Zeline mengetahui hal ini apalagi media!“ umpat Jayden memukul tembok di bawah shower yang tengah mengguyur nya.
Tak lama setelah itu iapun menyelesaikan mandinya dan keluar di mana dapat ia lihat bahwa gadis itu sudah bangun dari tidurnya dan tengah menekuk kakinya di atas kasur seraya terisak. Matanya pun tanpa sengaja melihat bercak warna merah darah di atas seprei putih itu.
“Sialan!!” umpat Jayden kembali dalam hati seraya memunguti kembali bajunya yang berserakan dan ia melihat gaun gadis yang semalam ia tiduri itu sudah robek membuat ia mendengus lalu menelpon Charl untuk membeli satu set pakaian wanita.
“Ck. Diamlah! Ini kau bisa mengisinya sesuai dengan yang kau inginkan tapi tutup mulut mu itu rapat-rapat dan jangan pernah muncul di depanku lagi!” ujar Jayden memberikan selembar cek yang sudah ia tandatangani pada gadis itu yang justru menggelengkan kepalanya seraya mendongak menatapnya dengan mata basahnya.
“Ti-dak Tuan, sa-ya tidak men-jual tubuh saya... Sa-ya hanya in-gin anda bertanggung-jawab saja.”pinta gadis itu terbata-bata.
Jayden menggeram saat mendengar permintaan gadis itu. Lalu dalam sekejap ia mencekik leher gadis itu membuat si gadis terkejut dan takut dalam waktu bersamaan. “Aku sudah memiliki istri, *****. Jadi ambil saja uang ini dan pergi, mengerti!!” ucap Jayden dingin membuat gadis itu menganggukkan kepalanya susah payah dan cekikan pada lehernya pun terlepas.
Gadis itu langsung saja menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil memegangi lehernya. “Menakutkan, kenapa Nona mau berurusan dengan pria seperti ini dan menyuruhku mengganggu pria ini?!” batin gadis itu menundukkan kepalanya.
Usai itu Jayden lekas pergi dari sana dengan selembar cek tadi yang di taruh di atas nakas. Gadis yang masih menengadahkan kepalanya saat mendengar suara pintu yang di tutup nafasnya berhembus lega.
“Pria itu sangat menakutkan, apa aku bisa membuat pria itu jatuh cinta padaku?” tanyanya pada diri sendiri dengan tatapan tak yakin. Tangannya kemudian terulur hendak menelpon seseorang sebelum suara bel kamarnya berbunyi membuat ia mengernyitkan dahinya seraya beranjak dari kasur dan melilitkan selimut ditubuhnya.
Cklek
Abby nama gadis itu, membuka pintu kamar hotel yang ditempatinya dan melihat seorang pria tampan bersetelan jas kantor serba hitam berdiri di sana.
“Em siapa?“ tanyanya karena tak mengenali pria di depannya itu.
Pria dengan raut wajah datar itu tak menjawab hanya menyodorkan paperbag dengan sebuah logo pakaian terkenal yang dibawanya kepada Abby.
“Tuan, menyuruhku mengantarkan pakaian padamu. Setelah itu tolong jangan tunjukkan wajahmu di hadapan Tuan ku.” Ucap datar pria itu yang langsung pergi dari hadapan Abby yang terdiam untuk beberapa saat.
Abby kemudian masuk kembali kedalam kamar dan melihat isi paperbag yang diberikan pria tadi, lalu tersenyum kecil. “Sepertinya pria itu tak terlalu menyeramkan juga, ia cukup pengertian.” ucapnya melirik gaunnya yang sudah robek dilantai dengan satu set pakaian di tangannya.
Tangannya kemudian kembali meraih telpon genggamnya dan menelpon seseorang. “Nona saya akan melakukan semua yang Anda perintahkan dengan baik.” ucapnya pada seseorang di sebrang sana, lalu menutup telponnya saat pembicaraan dengan seseorang itu telah selesai.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...