
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Celine melihat jam yang melingkar di tangannya untuk kesekian kalinya. Sesekali ia juga akan menengadahkan kepalanya melihat langit biru yang nampak cerah dengan matahari yang mulai menyorot terik di atas sana.
Kemudian ia berdecak kesal, sudah 1 jam lebih ia berdiri di pinggir jalan depan mall hanya untuk menunggu Alan yang tak kunjung menjemputnya padahal pemuda itu menyuruhnya untuk menunggu 15 menit di sana.
Tapi lihatlah sudah satu jam akan berlalu pemuda tinggi itu belum juga datang. “Ck. Ke mana perginya tuh tiang! Gue udah mateng karena nungguin dia di sini.” decak-nya kesal kembali melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul 13.26 WIB sudah hampir satu jam setengah ia berdiri menunggu Alan di sana.
“Awas aja tuh tiang, gue bejek-bejek sampe mampus karena bikin gue nunggu sambil panas-panasan di sini!” ucapnya lalu mengambil ponselnya yang berada di tas kemudian mendial nomor pemuda yang tengah di tunggunya itu.
Satu menit kemudian pemuda yang di telponnya itupun mengangkatnya tapi bukan suara pemuda itu yang ia dengar.
“Halo? Apa anda kerabat Tuan Akalanka?” tanya orang di sebrang sana membuat Celine mengerutkan alisnya bingung namun tetap memilih untuk menjawabnya.
“Eum iya, saya temannya. Ini dengan siapanya? Kenapa ponsel teman saya ada di anda?”
“Oh begini saya dari kepolisian, Tuan Akalanka sejam yang lalu mengalami kecelakaan tunggal dan saya baru mendapatkan ponselnya dari tempat kejadian beberapa saat yang lalu dari bawahan saya.”
Ucapan Orang di seberang sana membuat jantung Celine berpacu dengan cepat. Alan kecelakaan? Apa ia baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
“A-apa? Bagaimana keadaannya? Apa Alan baik-baik saja? Di bawa ke rumah sakit mana Alan sekarang?” tanya panik Celine setelah beberapa saat tadi terdiam mencerna ucapan orang di sebrang sana.
“Untuk kondisinya saya belum tahu pasti karena saat ini korban masih berada di ruang operasi di tangani oleh dokter. Sementara untuk alamat rumah sakitnya saya akan me-sherlock-kannya kepada anda.” ucap orang di sebrang sana dan Celine menganggukkan kepalanya mengerti padahal orang di sebrang sana tak dapat melihatnya.
Sambungan telpon itupun mati dan tak lama setelahnya sebuah pesan yang mengirimkan alamat sebuah lokasi sampai kepadanya. Celine tanpa pikir panjang segera menghentikan taksi yang lewat lalu menunjukkan lokasi di ponselnya adalah alamat yang ditujunya kepada sang sopir.
“Pak cepat pergi ke alamat ini ya!“ ucap Celine gelisah dalam duduknya. “Alan gue mohon, lo harus baik-baik aja.” batinnya.
.
.
.
Sementara itu di sebuah villa yang berada di pinggir pantai terlihat Jovan dan Kaisar yang tertawa puas setelah menelpon Celine.
Kedua pemuda itu kemudian berjalan mendekat kearah Alan, Jasmine dan seorang gadis yang belakangan ini selalu mengganggu Jovan panggil saja dia Karina.
“Bagaimana?” tanya Alan turun dari kursi setelah memasang balon terakhir di atas dinding.
Jovan dan Kaisar mengacungkan tanda oke pada Alan. “Beres, tinggal nunggu Celine dateng ke sini.” ucap Kaisar dan mendapat anggukan dari Alan.
“Semoga lamaran gue ke dia berhasil!” gumam Alan membuat empat orang yang berada di sana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya memberi keyakinan.
“Lo tenang aja lamarannya pasti berhasil! Dan gue bisa jamin Celine bakal nerima lamaran lo.” ucap Jasmine mengepalkan tangannya memberi semangat.
Alan menganggukkan kepalanya yakin, hingga beberapa saat kemudian terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan villa membuat mereka semua segera mengambil posisi untuk sembunyi.
Celine keluar dari dalam mobil setelah ia membayarnya. Kening Celine mengerut saat ia malah berhenti di depan sebuah Villa bukannya rumah sakit. Ia kemudian melihat kembali alamat yang di kirimkan tadi dan alamatnya memang benar di sini.
“Tempatnya bener di sini tapi... Ah udahlah bodo gue harus liat keadaan Alan dulu!“ ucap Celine berbicara sendiri seraya melangkah menuju pintu villa.
Kemudian tangannya terulur untuk mengetuk pintu, tapi belum juga ia menyentuh pintu itu sudah lebih dulu terbuka membuat Celine tiba-tiba saja di dera rasa merinding. “Ini bukan rumah hantu kan?” monolognya celingak-celinguk menatap ke sekitarnya.
“Ck. Mana ada hantu di siang bolong kayak gini, bodoh.“ monolog kembali Celine menggelengkan kepalanya pelan lalu mengulurkan tangannya ragu-ragu untuk membuka lebih lebar lagi pintu itu.
Kakinya ia bawa masuk kedalam villa yang terlihat remang-remang karena semua tirai jendela villa itu tertutup rapat, membuat Celine meneguk ludahnya susah payah. Dalam hati ia terus meyakinkan dirinya bahwa tak ada hantu di dunia ini.
“Ekhem! Hello ada orang gak?!” tanya Celine melihat ke sekelilingnya sambil terus maju lebih dalam lagi kedalam villa tersebut.
Kemudian tanpa di sengaja ia menendang sesuatu membuat ia menjerit pelan karena terkejut, lalu ia membungkuk untuk mengambil dan melihat apa yang di tendangnya tadi. Keningnya makin mengerut saat mendapati balon lah yang tadi di tendangnya.
Sampai tiba-tiba saja lampu di dalam villa itu menyala sendiri dan seseorang yang dikhawatirkannya muncul dari arah tangga. Belum lagi dapat ia lihat ruangan itu sudah di hias sedemikian rupa dengan sebuah tulisan 'Marry me?' tertempel di dinding.
“Celine, aku tak pintar merangkai kata, aku juga tak bisa selamanya terus membuatmu bahagia tapi, aku akan berusaha semampuku untuk membuatmu bahagia selama sisa hidupmu. Jadi will you marry me?” ucap Alan seraya membuka kotak cincin yang di ronggohnya dari saku celana kainnya tadi.
Mendengar ucapan Alan, Celine mengedipkan kedua matanya tak percaya sekaligus terharu dengan apa yang di lakukan pemuda itu. “Gue lagi di lamar Alan?” pertanyaan bodoh yang ia lontarkan pada dirinya sendiri saking tak percayanya.
Lalu tanpa di minta Celine pun menganggukkan kepalanya kecil dengan senyum bahagia matanya pun Berkaca-kaca saat Alan memasangkan cincin di jari manis kirinya.
Alan kemudian berdiri dan menarik Celine kedalam dekapannya seraya mengucapkan terimakasih. “Makasih udah mau nerima lamaran aku, Line. I Love you so much.” bisik Alan.
“I love you too,” balas Celine terendam di dada bidang Alan.
Sampai tak lama kemudian terdengar suara riuh dari teman-temannya yang tadi bersembunyi.
“Asik jadi nih kita makan gratis!” seru Kaisar mendapat pukulan sayang dari Jasmine.
“Makan mulu pikiran lo heran!” sebal Jasmine yang di balas cengengesan oleh Kaisar.
“Bro selamatnya lamaran lo sukses tinggal ngelamar resminya aja nanti di depan keluarga Celine, lo harus siap mental nanti nya?!“ ucap Jovan menepuk pundak sang kawan dan Alan menganggukkan kepalanya mengerti.
Setelah acara lamaran ala kadarnya itu mereka pun melanjutkannya dengan acara makan-makan karena kebetulan waktu memang sudah menunjukkan waktu makan malam.
Di tengah acara dinner itu mereka isi dengan canda gurau sampai Celine teringat apa yang di lakukan pemuda itu dengan menyuruhnya menunggu di pinggir jalan hampir dua jam.
Plak!
Celine memukul belakang kepala Alan yang untungnya baru saja menyelesaikan makanan paling awal. Alan meringis sambil menatap tajam Celine yang juga tengah menatapnya tak kalah tajam.
“Sayang, kita belum nikah aja kamu udah berani KDRT ya?!” ucap Alan sinis kepada Celine.
“Biarin, lagian itu balasan buat lo yang udah nyuruh gue nunggu hampir dua jam di pinggir jalan mana panas-panasan lagi. Untung badan gue gak melepuh!” ucap Celine acuh tak acuh.
Alan yang mendengar itupun teringat lalu dalam sekian detik ia langsung memeluk lengan Celine merengek manja meminta maaf membuat kedua temannya yang memang selalu melihat tingkah arogannya itu seketika ingin muntah melihat tingkahnya begitu pun dengan Jasmine dan Karina.
.
.
.
Zeline menatap gaun yang di berikan Jayden padanya beberapa saat yang lalu dengan alis bertaut penuh tanya.
“Malam ini temani aku ke pesta tahunan perusahaan rekan bisnisku.” jelas Jayden seraya memakai dasinya di depan cermin fullbody.
“Kenapa aku harus ikut?” tanya Zeline menatap gaun berwarna hitam selutut kesukaannya dengan senyum tipis.
Jayden memutar tubuhnya hingga menatap pada Zeline, “Jelas saja kamu harus ikut, kamu istriku ingat?” ucap Jayden dan Zeline hanya memutar matanya malas sebelum berjalan kearah kamar mandi untuk ganti baju.
Ngomong-ngomong ini sudah seminggu sejak Jayden membunuh ayahnya waktu itu dan yah, saat berita pembunuhan CEO yang paling berpengaruh di seluruh dunia itu benar-benar menggemparkan dunia.
Meski di antara para pebisnis lain mereka ada rasa syukur atas kematian pria tua itu. Termasuk Jayden.
Selesai bersiap Jayden dan Zeline pun berangkat menuju hotel bintang lima yang di pesan oleh rakan bisnis Jayden untuk merayakan acara tahunan perusahaannya itu.
Ares tentunya ikut sebagai pengawal Zeline. “Jalan kan rencananya malam ini!“ Lewat sorot matanya Zeline memberikan perintah pada Ares yang menganggukkan kepalanya samar mengerti.
“Setelah berita kematian Ayahmu, sekarang giliran berita dirimu yang keluar.” batin Zeline duduk di kursi penumpang jok belakang sementara di depan sana ada sopir dan Ares yang duduk di samping sang sopir.
Mobil itupun mulai melaju meninggalkan pelataran mansion mewah Jayden.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...