
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
*Brak!
Pintu kamar yang dicat dengan warna coklat tua itu di buka secara paksa oleh seorang pemuda yang dikedua tangannya penuh oleh tumpukan kotak-kotak yang di hias sedemikian rupa entah oleh orang-orang yang menjadi fans sang kakak, belum lagi hampir semua kotak itu di bungkus oleh kertas kado merah muda.
Pemuda yang masih memakai baju seragamnya itu terlihat berjalan masuk kedalam kamar sang kakak yang hanya melihatnya acuh tanpa berniat untuk membantu sang adik yang tampak kesusahan.
*Bruk
Kotak-kotak yang berisi kado itu di hempaskan oleh pemuda berseragam di atas kasur sang kakak yang duduk di pinggir ranjangnya sambil membaca sebuah buku tebal yang entah apa judulnya.
“Huft~ akhirnya. Capek banget gue, dari awal masuk gerbang sekolah sampe pulang pasti ada aja yang nitipin kado-kado mereka buat lo,” keluh Kaisar sambil berkacak pinggang menatap tumpukan kado-kado mulai dari adik kelasnya sampai anak seangkatannya.
“Harusnya lo tolak aja. Gue gak butuh kado apa-apa dari mereka,” Kalandra melirik sekilas tumpukan kado yang ada di dekat kakinya tak minat.
“Dih, sayang lah Bang, kasian juga mereka udah rela buang-buang uang mereka cuma buat beli kado buat lo tapi akhirnya sama lo di tolak kayak gitu.”
“Kalo sayang yaudah buat lo aja semua,” Kalandra berucap tanpa melihat sedikitpun kearah sang adiknya yang dalam seketika membulatkan matanya berbinar.
“Serius Bang?” Yang hanya di balas gumaman pelan oleh Kalandra dan Kaisar seketika bersorak senang ia lantas naik keatas ranjang sang kakak lalu duduk bersila di sana setelah melempar alas tas gendongnya dan mulai membuka satu persatu kado di sana dengan amat sangat antusias.
Matanya melebar saat ia membuka salah satu kado yang ternyata berisi handphone iPhone keluaran terbaru. “Gilaa, ini siapa yang ngado iPhone 13 pro max, njirr?” takjub Kaisar membolak-balikan kotak persegi panjang yang masih tersegel di tangannya.
Matanya kemudian beralih pada sang kakak yang nampak acuh tak perduli, “Bang lo yakin yang ini gak mau? IPhone terbaru loh, Bang.” ucap Kaisar menyodorkan kotak HP itu ke depan wajah Kalandra.
“Gak, gue juga baru ganti HP kemarin.” Kalandra menunjukkan handphonenya yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya dengan dagu tapi tatapan matanya masih fokus pada buku yang tengah di bacanya. Sementara Kaisar melihat kearah yang di tunjuk sang kakak dan matanya kembali membulat dengan mulut yang sedikit menganga.
Sepertinya adik dari Kalandra Septiana Aldebaran ini lupa bahwa mereka merupakan orang dari kalangan yang bisa di bilang atas, bahkan cabang perusahaan Papa mereka ada di mana-mana.
Tak ingin ia kelihatan seperti orang norak Kaisar memilih kembali membuka kado-kado yang ada di sana bahkan tak jarang ia juga membaca surat ucapan selamat yang sengaja di selipkan di dalam isi kado oleh si pemberi kado.
“Lo ada titipan kado dari Zeline gak?” tanya Kalandra tiba-tiba sambil menatap sang adik yang tengah menunduk membaca surat ucapan selamat untuknya.
Mendongakkan kepala Kaisar terlihat terdiam untuk sesaat mencoba mengingat-ingat apakah gadis yang di maksud sang kakak itu menitipkan sesuatu padanya atau tidak. Sebelum kemudian ia menggeleng kecil dan helaan nafas terdengar dari bibir tipis Kalandra.
“Apa dia gak tahu kalau hari ini gue ultah?” gumamnya pelan namun masih bisa di dengar oleh sang adik yang memang duduk cukup dekat dengannya.
“Masa iya, ultah pacar sendiri dia gak tahu. Positif thinking aja lah Bang, mungkin cewek dingin lo itu lagi buat suprise buat lo. Ya.. Meski itu kemungkinannya kecil sih~~” Suara Kaisar mengecil di akhir.
Lalu tak lama setelah ucapannya itu seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah besar milik kedua orang tuanya datang mengetuk pintu kamarnya yang memang sedari tadi terbuka.
Tok tok tok
“Aden-aden ada temen-temennya di bawah.”ucap wanita paruh baya itu membuat atensi dua bersaudara itu menoleh dan mendapat anggukan kecil dari si pemilik kamar yang menutup bukunya sambil beranjak dari duduknya.
“Suruh mereka ke taman belakang rumah aja, kalian udah nyiapin semuanya kan?” tanya Kalandra yang mendapat anggukan sopan dari si wanita paruh baya.
“Ya den,semuanya sudah siap sesuai dengan permintaan yang aden minta.” balas si wanita paruh baya itu tersenyum kecil.
“Bagus, yaudah suruh mereka tunggu sebentar di sana.” Kalandra berjalan menuju walk in closet tempat di mana baju-bajunya berada.
Sementara si wanita paruh baya itu telah berlalu ergi untuk melaksanakan titahan sang tuan muda. “Sana pergi ke kamar lo sendiri dan beresin sampah-sampah itu!”
.
.
.
Zeline menatap paperbag kecil yang ada di meja kecil dekat jendela kamarnya yang berada di tengah hutan tempo hari dengan tatapan ragu.
“Dia bakal suka gak, ya?” monolognya lirih sebelum kemudian beralih menatap keluar jendela kamarnya yang memamerkan pepohonan-pepohonan tinggi nan rimbun yang mulai gelap karena hari sudah beranjak petang.
Di tengah ia memikirkan Kalandra yang akan menyukai atau tidaknya kado darinya tiba-tiba saja benda pipih yang di pegangnya sedari tadi bergetar dan berdering mengalunkan musik kalem tanda panggilan masuk membuyarkan pikirannya itu dan ia beralih melihat siapa gerangan yang menelponnya itu.
📞Brengsek Is Calling...
“Hmm” sapanya tak niat.
“Hey, sapaan macam apa itu?” protes pria di sebrang sana.
“To the point!” ucap Zeline tak mau basa-basi.
“Huft~ okey, lusa kita pergi. Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu pukul 5 sore nanti, Karena jadwal penerbangan yang aku ambil pukul 10 malam.” ujar pria di sebrang sana yang tak lain adalah Jayden.
Untuk sesaat Zeline terdiam mendengar ucapan pria itu, “Kenapa waktu berjalan sangat cepat?” monolognya bertanya dalam hati.
“Hmm baiklah, aku tutup.” Hanya itu balasan dari Zeline terdengar sangat datar namun jika kalian mendengarkan lebih seksama lagi ucapannya terselip nada tak rela dan sendu di dalamnya.
Lalu panggilan itupun diakhiri oleh Zeline secara sepihak tanpa mendengar balasan dari sebrangnya.
.
.
.
“Yo bro, Panjang umur nya, Nih kado dari gue sama kesayangan gue, baby Acha.” ucap Dylan menepuk pundak Kalandra pelan saat pemuda itu akhirnya datang ke taman belakang rumah besarnya.
“Thanks, lan.” Kalandra menerima hadiah pemberian Dylan dan Acha sembari memberikan senyuman tulusnya yang amat sangat jarang di tunjukkan kepada Dylan.
Sedangkan Erland dan Celine yang juga ada di sana saat mendengar ucapan Dylan seketika memasang wajah julid mereka dan berucap dengan nada tak kalah julidnya secara serentak.
“Idih Jijik!”
Sontak saja ucapan keduanya itu membuat Dylan kesal dan tawa pelan Acha terdengar. “Syirik aja jomblo!” balas Dylan memberikan cibiran tak kalah julid.
Namun dua orang yang mendapat cibiran dari Dylan itu memilih tak acuh dengan memberikan kado mereka kepada si pemuda. “Nih Bang, kado dari gue. Gue harap lo suka dan semoga umur Abang panjang juga bahagia selalu.” Celine memberikan doa terbaiknya untuk Kalandra yang mengucapkan terimakasih padanya seraya mengacak sayang surai panjangnya yang di biarkan tergerai. Begitupun dengan Erland.
“Zeline gak ikut ke sini?” tanya Kalandra dengan matanya yang mengedar menyapu setiap sudut taman belakang rumahnya itu mencari keberadaan kekasihnya.
Dua orang di antara mereka berlima yang merupakan kakak dari gadis yang ditanyakan Kalandra terkekeh pelan. “Gak, sejak siang dia udah ilang entah ke mana.” sahut Celine membuat Kalandra melemaskan pundaknya sedikit kecewa.
Namun, dari arah belakang Kalandra terdengar pekikan nyaring yang memanggil namanyayang
“KALANDRA!!” pekik seorang gadis berlari kecil kearah Kalandra sambil melambaikan tangannya di udara. Dan pekikannya itu tentu membuat beberapa orang yang ada di pesta kecil-kecilan itu menoleh ke sumber suara, termasuk lima orang yang tengah berkumpul itu juga di mana salah satu di antara merekalah yang di panggil oleh gadis itu.
Saat hampir dekat dengan tubuh pemuda yang di teriakinya tadi gadis itu merentangkan tangannya bersiap menjatuhkan tubuh rampingnya pada dekapan si pemuda. Namun pemuda itu dengan lihainya memundurkan langkahnya menjauh darinya membuat ia oleng ke depan hampir jatuh.
Suasana di sekitar mereka pun mendadak berubah menjadi canggung karenanya. “Emm..ini.. Selamat ulang tahun Kala,” ucap gadis itu dengan senyum canggungnya menghiasi wajah cantiknya yang disapu make-up tipis seraya menyodorkan kado kepada Kalandra yang hanya menganggukkan kepalanya singkat.
Bertepatan saat Kalandra mengulurkan tangannya hendak mengambil kado yang di sodorkan gadis di depannya; Dashha handphonenya yang berada di saku celana jeans nya berdering.
Membuat pemuda itu mengurungkan niatnya untuk mengambil kado gadis itu dan merongoh saku celana jeans nya guna mengangkat telpon itu.
Senyumnya terbit saat melihat siapa si penelepon itu dan tanpa menunggu lama ia segera mengangkat panggilannya.
“Hallo sayang?” ucapnya dengan senyum kecil dan hal itu tak luput dari lima orang yang berada di dekatnya belum lagi nada bicaranya yang lembut dan hangat membuat mereka semua tak percaya dan merinding, tak terbiasa mendengar nada bicara Kalandra.
“Tentu, aku ke sana sekarang. Oke bye, love you!” sambungan telpon itu dimatikan oleh orang di sebrang sana.
Kalandra menatap kearah teman-temannya dengan senyum kecil. “Gue harus pergi, kalian lanjutin aja terus pestanya tanpa gue. Bye.” ucap Kalandra berlalu begitu saja tanpa menunggu sahutan dari teman-temannya.
Namun baru beberapa langkah ia menjauh dari tempatnya tadi, suara Erland menghentikan langkahnya sejenak.
“Emang lo mau pergi ke mana?” Erland bertanya dengan nada sedikit keras, tanpa membalikkan badannya dan kembali membawa kakinya melangkah Kalandra menyahut pertanyaan Erland itu singkat dengan nada sedikit keras juga.
“Zeline!” meski tak nyambung tapi satu kata yang terucap dari bibir pemuda itu mampu membuat mereka semua tahu akan ke mana pemuda itu pergi.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...