
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Di tengah malam yang gelap dan dingin mobil yang di kendarai oleh Kalandra itu menembus jalan sepi dekat perbukitan. Di tengah jalan malam yang lenggang Kalandra terlihat sesekali memijat pangkal hidung guna mengurangi rasa pusingnya akibat terlalu lelah bekerja dan kuliah sekaligus.
Jika kalian ingin tahu, Kalandra kini dalam perjalanan pulang dari luar kota setelah menyelesaikan beberapa proyek kerjasama di sana. Sebenarnya jika ingin Kalandra bisa saja memesan hotel untuk menginap semalam di sana dan pulang keesokan harinya. Tapi karena besok ia ada ujian langsung di Universitasnya makanya Kalandra memaksakan pulang malam itu juga.
Di tengah perjalanannya itu tanpa sengaja mata tajamnya melihat segerombolan orang berpakaian hitam keluar dari dalam mobil yang mencegat seseorang yang menumpangi motor sport hitamnya di pinggiran jalan dekat jurang.
Awalnya ia akan bersikap acuh saja seperti biasanya tapi saat ia melihat seseorang yang turun dari motor itu sambil membuka helm fullface-nya ia mengurungkan niatnya untuk acuh dan justru menghentikan mobilnya tak jauh dari sana.
“Itu Zeline' kan? Kenapa dia bisa ada di sini dan di cegat segerombolan orang tak di kenal itu?” batin Kalandra bermonolog sambil memperhatikan Zeline yang terlihat di kepung oleh orang-orang berbaju hitam dan berbadan kekar.
.
.
.
“Ck. Siapa yang merintahin kalian,, apa pria brengsek itu?” tanya Zeline membuka helmnya dan duduk bersandar pada motornya sambil menatap datar satu persatu orang-orang yang mengepungnya itu.
“Tuan kami menyuruh kami untuk membawa anda dan menemuinya. Jadi saya harap anda bisa bekerja sama dan pergi bersama kami secara sukarela, Nona” ujar salah seorang di antara mereka yang memiliki luka pada bergaris miring di mata sebelah kanannya. Sepertinya dia adalah pemimpin di kelompok mereka.
“Kalo gue gak mau, apa yang bakal kalian lakuin?” ucap Zeline tersenyum miring dan diam-diam menghitung jumlah orang yang mengepungnya itu. “Dua puluh orang dan semuanya berbadan besar. Kemungkinan gue bisa menang lawan mereka adalah 25% . Gue bakal sedikit kewalahan ngelawan mereka semua seorang diri.” Zeline membatin, ia berusaha menghitung berapa celah kemungkinan ia bisa menang dan melarikan dirinya.
“Kalau begitu kami terpaksa harus membawa anda secara paksa.” ucap pria itu kembali dan tangannya mengisyaratkan para atek-ateknya untuk mengambil posisi siaga siap menyerang.
Sementara Zeline seketika itu pula memasang wajah datar nan dinginnya sebelum kemudian melayangkan serangannya terlebih dahulu pada mereka dengan memukulkan helmnya pada kepala pria yang berdiri paling dekat dengannya. Membuat pria-pria yang lainnya ikut melayangkan serangan kepadanya secara serentak.
Menendang, memukul, membanting serta menghindar Zeline lakukan dengan sangat lihai dan terampil hingga beberapa dari mereka sudah ada yang tergeletak mengenaskan di atas aspal sambil meringis menahan nyeri akibat pukulnya.
Hingga sampai akhirnya seseorang yang tadi berbicara dengannya itu melayangkan serangan padanya dan berhasil meninju perut bagian atasnya hingga membuat Zeline sedikit terbatuk dan mundur beberapa langkah dari tempat berdirinya. “Ck. Sial!” umpat Zeline memegang perutnya yang terasa ngilu.
Dengan tatapan yang berubah nyalang Zeline melayangkan serangan balasan berupa tendangan sekuat tenaga kepada orang itu dan Bugh! Tendangan tepat mengenai rahang tegas orang tersebut dengan telak.
Hingga saat ia akan kembali melayangkan serangan dirinya harus tertahan oleh orang-orang lainnya yang juga melayangkan serangan bertubi kepadanya hingga membuat Zeline kewalahan. “Mereka terlalu banyak, gue udah mulai capek!” batin Zeline menahan serangan-serangan yang terus dilayangkan padanya bahkan di sudut bibirnya terlihat robek sedikit dan mengeluarkan darah segar.
Sampai di tengah ia memikirkan cara agar ia tak kehabisan tenaga saat tengah melawan mereka tiba-tiba saja dari arah belakangnya terdengar seseorang yang jatuh terjerembab akibat tendangan dari seorang pemuda yang memakai setelan formal perkantoran meski tak memakai jasnya.
“Fokus Zeline!” ucap pemuda tersebut dengan nada memerintah dan dominasi yang kental membuat Zeline seketika kembali dari lamunannya dan mulai fokus kembali dengan pertarungannya.
Tapi karena ia terlalu fokus dengan lawan yang berada di depannya Zeline tidak menyadari salah seorang di antara orang-orang yang mengincarnya itu kini tengah mengarahkan sebilah pisau kecil kearahnya. Sampai hampir saja pisau itu akan menancap di punggung kecilnya tangan pemuda yang datang membantunya itu mencengkram pisau itu kuat dan menendang perut orang tersebut hingga terjatuh dan melemparkan pisau di genggamannya keatas tanah.
Hingga akhirnya orang-orang itu telah di lumpuhkan dan melarikan dirinya pemuda itupun meringis kecil saat perih mulai terasa menjalari telapak tangannya dan Zeline menoleh padanya dengan mata sedikit membelalak kaget. “Bang Kalandra kenapa lo bisa ada di sini?!” Ucap Zeline spontan karena terkejut dan tak habis pikir.
Pantas saja saat mendengar suara pemuda itu menyuruhnya untuk kembali fokus suaranya sedikit tak asing.
Tersenyum kecil Kalandra mengedipkan sebelah matanya pada Zeline. “Menolongmu. Lagipula bagaimana bisa kamu di kepungan oleh-oleh orang-orang tak di kenal itu, apa kamu terlibat masalah dengan seseorang?” tanya Kalandra berjalan mendekati Zeline dan memperhatikan setiap inci wajah cantik gadis di depannya yang kini terdapat beberapa lebab di wajahnya.
Tangannya yang tidak terluka terlihat terulur mengusap lembut sudut bibir Zeline yang terluka dan terdapat darahnya yang mulai mengering. “Apa sakit?” tanya Kalandra lembut membuat Zeline meringis kecil tanpa di sadarinya,
Tapi bukannya menjawab Zeline justru melihat kearah tangan kanannya yang terluka mengeluarkan banyak darah. “Lo terluka, Bang!” ucap Zeline menarik tangan Kalandra agar ia bisa melihat lebih jelas luka yang di dapatkan pemuda itu.
“Lo pasti bawa mobil*kan? Di mana mobil lo kita harus obatin luka lo buru-burj sebelum infeksi.” ucap Zeline menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri sebelum berakhir menatap wajah Kalandra yang justru terlihat menahan senyumnya sambil menatapnya dalam.
“Kenapa lo diem aja?! Di mana mobil lo?!” sentak Zeline dengan ketusnya, kesal karena pertanyaannya di abaikan oleh pemuda di depannya.
.
.
.
Begitu sampai di mobil Zeline mengobrak-abrik dashboard mobil tersebut mencari kotak P3K. Namun sama sekali tak menemukan keberadaan kotak tersebut. “Ck. Lo gak nyimpen kotak P3K di mobil lo, ya? Kok gak ada” gerutu Zeline mengalihkan tatapannya pada tangan Kalandra yang masih terlihat mengeluarkan darah segar.
“Gue gak pernah nyimpen” ucap Kalandra dengan senyum kecil di wajah tampannya dan bibirnya yang kini sudah mulai terlihat pucat, ia menikmati tatapan kekhawatiran yang Zeline berikan kepadanya.
Karena tak ada kotak P3K akhirnya Zeline pun menarik kuat lengan kemeja Kalandra hingga robek dan mengikatkan kemeja tersebut pada telapak tangan pemuda tersebut. Peduli setan dengan kemeja Kalandra yang rusak akibat ulahnya dan tatapan sedikit terkejut Kalandra.
“Hey! Kenapa lo malah sobek kemeja gue buat balut lukanya? Padahal kan di saku celana gue ada sapu tangan yang bisa lo gunain buat balut lukanya.” protes Kalandra membuat Zeline menghentikan aktivitas mengikat kain tersebut di telapak tangan Kalandra sejenak sebelum melanjutkannya dan menatap datar pemuda itu saat ia telah menyelesaikan tugasnya.
“Lo gak bilang, ya!” acuh Zeline penuh penekanan lalu menyalakan mobil tersebut dan menjalankannya meninggalkan motornya yang masih terparkir dipinggir jalan.
“Hey itu motor lo gimana?” ucap Kalandra menoleh ke belakang pada motor Zeline.
“Ada orang suruhan gue yang bakal ngambil dan di anterin ke rumah.” acuh Zeline membawa mobil itu memasuki hutan setelah beberapa menit menjauh dari tempat ia dan bertarung tadi. Dan karena ia yang membawa mobil itu ke dalam hutan membuat Kalandra mengerutkan keningnya bingung.
“Kita-”
“Diam!!”
Belum sempat ucapan Kalandra selesai Zeline sudah lebih dulu memotong ucapannya dengan nada penuh penekanannya.
...━━━━━━━ Jangan lupa vote, like & komen.━━━━━━━...
PRANG!!
“Cih. Dasar tak berguna! Membawa seorang gadis saja kalian tak bisa dan sampai babak belur begini!” hardik seorang pemuda itu marah dan melemparkan gelas teh di atas meja kearah kepala pria yang memiliki luka garis di mata sebelah kanannya yang menunduk karena kegagalannya dalam melaksanakan tugas dari sang atasan.
“Maaf Bos, tapi tadi ada seseorang yang tiba-tiba datang dan membantunya” ucap pria tersebut menahan ringisannya agar tak keluar karena denyutan di kepalanya dan darah yang mulai mengalir di keningnya.
Membuat kening seseorang yang dipanggil 'Bos' itu berkerut dan pikirannya langsung melayang menebak-nebak siapa oknum yang kira-kira telah membantu Zeline. “Kaki tangan kanan nya kah? Atau pria yang memaksa menjadi kekasihnya itu? Tapi setahu gue tuh cowok lagi di luar kota.” batin orang itu bertanya-tanya, kemudian membalikkan badannya membelakangi para anak buahnya.
“Hah~ sudahlah kalian semua pergi saja,” usirnya melambaikan tangannya mengusir orang-orang itu yang dengan patuh langsung pergi dari ruangan sang bos.
Menyisakan si pemilik ruangan dengan sang asisten pribadinya yang setia berdiri di sana menunggu perintah dari sang atasan.
“Charl, pergilah cari tahu siapa yang membantu gadis itu!“ perintah pemuda itu seraya mendudukkan tubuhnya di kursi, meja kerjanya. Dan di angguki patuh oleh sang asisten yang langsung keluar dari sana guna menjalankan perintahnya.
.
.
Sementara itu di mansion keluarga besar Galaksi, terlihat Celine yang menggerutu kesal karena sang adik yang tak kunjung pulang setelah pamit entah ke mana tanpa menyebutkan tujuannya.
“Zeline! Adek laknat lo sebenarnya pergi ke mana sih?! Kalo sampe Papa tahu abis lo” ujarnya sambil berlalu masuk ke dalam rumah karena sedari tadi ia sudah berdiri di teras rumahnya menunggu adik dinginnya itu pulang.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued....