
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
*Cklek
Pintu bercat putih itu di buka dari arah luar oleh seorang pria dewasa yang langsung masuk ke dalam dengan setelan formalnya dan menghampiri seorang gadis yang tengah duduk di samping seorang wanita dewasa yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan mata terpejam.
Menolehkan kepalanya kearah suara pintu yang terbuka gadis itu terlihat menarik senyum kecilnya sedikit terpaksa. “Papa datang? Gimana meeting, udah beres?” tanya gadis itu seraya beranjak dari duduknya dan menghampiri seseorang yang baru masuk itu yang ternyata adalah Ayahnya.
Melempar senyum tipis juga, Galaksi; pria yang baru saja masuk itu membawa tangannya untuk mengusap sayang puncak kepala putrinya itu. “Hmm ya, semuanya udah beres. Maaf Papa ngerepotin kamu buat jagain Mama karena meeting tadi yang gak bisa di wakilin orang lain.” ujar Galaksi lembut pada Celine.
Menggelengkan kepalanya kecil Celine kembali mengulas senyumnya yang selalu ia perlihatkan kepada orang-orang. ”Gak papa kok, Pa. Gak ngerepotin, kan Mama juga tanggungjawab aku. Dia ibu aku.” balas Celine sambil masuk ke dalam pelukan sang Ayah.
Mendengar penuturan Sang putri rasanya hati Galaksi kembali menghangat apalagi ketika mendapatkan pelukan penuh kasih sayang dari putri keduanya.
Tangannya terulur untuk membalas pelukan sang putri dengan satu tangannya yang ia bawa untuk kembali mengusap pelan rambut Celine. “Selama Papa pergi, Apa ada perkembangan dari Mama kamu?” tanya Galaksi sambil menatap kearah bangkar di mana istri tercintanya masih memejamkan matanya setelah dari kemarin sore ia tak sadarkan diri.
Masih dalam dekapan sang Ayah Celine menggeleng kecil, “Belum, Pa. Mama masih sama kayak kemarin.. Belum bangun.” jawab Celine dengan nada lirihnya lalu melepaskan pelukannya pada Galaksi dan ikut menoleh kearah ibunya; Clara.
“Pagi tadi waktu Papa udah berangkat ke kantor, Zeline ke sini liat kondisi Mama tapi cuma sebentar karena aku nyuruh dia buat berangkat ke sekolah aja. Dan Mama biar aku yang jagain.” Celine kembali berjalan mendekat bangkar Sang Ibu dan berdiri di samping Galaksi yang kini mengusap lembut kepala Clara.
“Kalau Bang Dy-”
“Dia belum ke sini, iyakan? Hah~ sudahlah biarkan saja anak itu Papa tidak peduli.“ ucapan Celine di potong begitu saja oleh Galaksi dengan nada bicara yang ke lewat dingin tak seperti biasanya.
Sebenarnya, Celine belum tahu secara detail bagaimana kronologi pertengkaran kedua orang tua dan Abangnya dua hari yang lalu itu dan apa masalah yang mereka pertengkarankan hingga membuat sang Ibu jatuh drop seperti ini. Tapi dari sikap yang di tujukan sang ayah barusan seperti cukup menjelaskan bahwa pertengkaran mereka itu sepertinya sangat serius.
Di tengah dirinya yang memikirkan tentang masalah apa yang menjadi awal mula pertengkaran antara kedua orang tuanya dan Abangnya di saat itu pula suara purau dari sang Ibu membuat ia kembali dari lamunannya.
“Dy-lan.. Ja-jangan per-gi Nak... Mama mohon..“ kalimat pertama yang keluar dari mulut Clara adalah dirinya yang memohon pada sang putra agar tak pergi darinya.
Matanya masih terpejam tapi bibirnya sibuk meracau seperti tengah menahan sang putra kesayangannya agar tak pergi. Membuat Galaksi dan Celine segera memanggil dokter dan mencoba membangunkan Clara supaya mau membuka matanya.
.
.
.
Sementara itu, di dari balik kaca pintu masuk kamar rawat Clara terlihat seorang pemuda tengah menatap sosok yang sedang di tangani oleh seorang Dokter dan dua suster dengan tatapan sendu bercampur rasa bersalah dan juga penyesalan.
Meski tak bisa mendengar apa yang di gumamkan oleh sosok yang telah merawatnya dari bayi hingga sekarang itu dengan tulus, tapi, ia bisa menebak jika sosok itu pasti sedang menggumamkan namanya. Membuat ia merasa semakin bersalah di buatnya “Ma, maafin Dylan.. Untuk saat ini Dylan belum bisa nemuin Mama langsung, Dylan malu sama Mama. Dylan juga pengen renungin kenyataan yang baru aja Dylan ketahui ini dan Maaf untu sementara waktu Dylan bakal pergi buat ketemu sama Papa kandung Dylan karena Dylan penasaran.” Batin pemuda itu yang ternyata adalah Dylan.
“Ma, Pa, Maaf. Semoga Mama juga cepet sembuh, Dylan sayang Mama, sama Papa juga.” Batin Dylan sebelum berbalik pergi dari sana untuk menemui seseorang yang pernah ia temui dua hari yang lalu.
━━━━━━━ Jangan lupa vote, like & komen ━━━━━━━
Zeline menghembuskan nafasnya untuk yang ke sekian kalinya, dua hari ia tak masuk sekolah dan sudah dua hari itu juga ibunya telah berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit milik keluarganya.
Di tambah lagi beberapa menit yang lalu ia mendapat kabar dari bawahnya yang mengatakan bahwa kakaknya, Dylan itu pergi menemui kembali seseorang yang sudah membongkar rahasia keluarga besar Xavier dan Cahya Galaksi tentang identitas asli Dylan.
“Bajingan itu! Sebenarnya apa mau dia?? Dan bagaimana bisa gue nurunin ke waspada gue selama beberapa bulan terakhir ini cuma karena pria yang sudah seenak jidatnya mengklaim gue sebagai miliknya!” Batin Zeline dan tak lama setelah itu terdengar suara dering ponsel miliknya berbunyi untuk ke sekian kalinya hari ini.
Melirik nama siapa yang tertera di layar ponselnya lagi dan lagi Zeline kembali menghembuskan nafas pelan. Ini sudah lebih dari 30 kali pemuda yang tadi ia salahkan karena menurunkan kewaspadaannya menelpon hanya untuk menelpon belum pesannya juga.
Setelah membiarkan beberapa saat benda pipih yang tergeletak di atas meja kerjanya itu akhirnya berhenti berdering, namun hanya untuk beberapa detik saja sebelum benda pipih itu kembali berdering dan menampilkan nama orang yang sama menelponnya beberapa detik lalu.
Akhirnya dengan perasaan sedikit terpaksa dan secuil di sudut hatinya yang juga ingin mendengar suara seseorang itu yang sudah dua hari tak ia dengar akhirnya Zeline pun memutuskan untuk mengangkatnya.
“Ha-”
Belum sempat Zeline menyelesaikan ucapannya perkataannya telah lebih dulu di potong oleh orang di sebrang sana.
“Hah~ Akhirnya lo angkat telpon gue juga. Elo ke mana aja? Kenapa gak pernah angkat telpon gue selama dua hari ini hah?! Lo juga gak masuk sekolah selama dua hari ini tanpa keterangan dan setiap gue berusaha cari lo di rumah lo gak pernah ada, bahkan Celine sekalipun, gue tanya tentang lo di mana dia selalu jawab 'gak tahu' atau 'padahal gue udah pastiin dia buat berangkat sekolah' tapi nyatanya lo gak berangkat ke sekolah. Lo sebenernya pergi ke mana sih, Ze?” cerocos pemuda itu yang untuk pertama kalinya berbicara panjang lebar hanya dalam satu kali tarikan nafas membuat Zeline heran apa pemuda itu tak sesak nafas berbicara secepat itu.
“Huft~ Lo gak perlu tahu gue ke mana dan ada di mana. Yang penting gue baik-baik aja dan selalu pulang ke rumah tepat waktu.” Balas Zeline sedikit mengulum bibirnya.
“Zeline, lo lagi ada masalah kan? Gue udah pernah bilang kalo lo lagi ada masalah datang ke gue jadiin bahu gue sebagai tempat lo bersandar. Gue tahu gue lancang tapi, masalah yang lagi lo lagi hadapi sekarang itu sama keluarga lo kan?” Ucap pemuda di sebrang sana melembut
Mendengar ucapan pemuda itu; Kalandra, Zeline pun mengigit bibirnya pelan haruskah? Haruskah ia mengeluhkan masalahnya kepada Kalandra dan meminta pemuda itu menjadi tempat ia bersandar di saat ia lelah? Tapi... Menggelengkan kepalanya pelan Zeline menghilangkan pikirannya itu.
Ia menurunkan kewaspadaannya jika berada di dekat Kalandra dan ia tak mau itu kembali terjadi lagi. Gara-gara kewaspadaannya yang menurun beberapa waktu lalu saja ia sudah kecolongan dengan adanya mata-mata yang di masukkan Pria itu di salah grup yang ia tugaskan untuk menjaga Kakaknya kemarin dan untung ia sudah membereskan hal itu.
“Gue gak ada masalah apa-apa sama keluarga gue dan semua fine-fine aja. Dan satu hal yang pengen gue bilang sama lo gak usah ikut campur sama urusan gue!” ucap Zeline terdengar begitu dingin dan datar.
Sedangkan itu di sebrang sana Kalandra mencengkram handphonenya erat saat mendengar ucapan Zeline. Apa gadis itu memang sedingin dan se-gengsi ini? Tak tahukah dia bahwa Kalandra sudah bersikap sangat berkebalikan dari sifat aslinya hanya kepadanya.
Kalandra tak pernah se peduli ini terhadap seseorang bahkan sampai mencampuri urusannya tapi sejak saat ia melihat Zeline pada malam itu pandangan ia terhadap gadis itu berubah dan sadar bahwa gadis itu sebenarnya punya banyak hal yang di sembunyikan.
“Kenapa lo selalu kayak gini sih, Ze? Gue pacar lo, lo bis-”
Kalandra terhenti berbicara ketika Zeline memotong ucapannya.
“Justru itu, meski lo pacar gue tapi itu atas dasar keegoisan lo sendiri, gue bahkan gak pernah mau pacaran sama lo dan menurut gue lo cuma orang asing yang tiba-tiba masuk ke kehidupan gue dan ngacauin semuanya. Jadi berhenti ikut campur urusan gue, lo cuma orang asing di kehidupan gue, Bang!”
*Tut.. Tut.. Tut..
Sambungan telpon itu di putus sepihak oleh Zeline dan perkataan gadis itu rasanya begitu menohok ulu hati Kalandra, “Orang asing ya? Hahaha apa selama acara pendekatan kita selama ini dan dugaan gue yang ngira lo udah jatuh hati sama gue itu emang bener cuma pendapat gue doang?“ Kalandra bermonolog dalam hati sambil tertawa hambar.
Sepertinya benar yang di katakan Zeline semuanya cuma keegoisan semata Kalandra, dari awal ia memutuskan semuanya sendiri dan memaksa gadis itu untuk jadi pacarnya dan pikirannya waktu itu sepertinya hanya pikiran imajinasinya saja. Zeline tak pernah jatuh hati kepadanya yang hanya dia yang jatuh semakin jatuh ke dalam pesona gadis itu.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...