When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Alden



"Lo gila ya.. Lo hack sendiri, terus lo benerin sendiri..” umpat Boy sambil meminum ice americano di depannya.


Sam menceritakan kegiatan satu hari ini, dan Boy hanya geleng-geleng kepala melihat ekspresi sohibnya yang tidak merasa berdosa.


Sam dengan tenang menyesap teh chamomile yang sejak tadi dia pegang. Dia menatap ke seberang jalan, di mana klinik Valen berada.


Cafe ini memang menghadap langsung ke klinik Valen. Jadi, Sam dapat mengamati situasi Beauty Skin dari lantai 2 cafe ini.


Saat ini, Sam menangkap sosok Rea yang sedang berdiri di depan sambil memukul-mukul pelan betis nya.


“Lo udah ketemu sama Om Ben belum?” Tanya Boy mengganti topik pembicaraan.


“Nanti saja..kemarin Dad sudah telepon..” jawab Sam cuek.


Sudah 1 minggu sejak Sam kembali ke indonesia, dia selalu menginap di rumah Boy. Dia bekerja di perusahaan Boy, memakai motor Boy, dan merampas selimut Boy.


“Emang otak lo random banget sih.. Lo bilang mau cari jodoh tapi ga niat, lo bilang mau ketemu adik lo, sampe sekarang lo ga ngapa-ngapain..” oceh Boy. Tapi Sam seperti nya tidak mendengarkan ucapannya karena sejak tadi dia hanya menatap keluar.


“Sam! Lo liat apa sih,,” omel Boy yang sudah kesal tingkat dewa menghadapi Sam.


“Itu Rea.. yang kemarin..” kata Sam tanpa menengok pada Boy.


“Iya, terus gimana? Kenapa? Lo ngapain liat dia?”


Sam meletakan cangkirnya. Dia hanya menatap Boy tanpa bicara apapun.


“Aduh Sam,, ya udah lah,, lo turun aja sana.. temuin dia.. anterin pulang kalau perlu..” usir Boy.


“Ga usah dibilang juga saya tau..” Sam mengambil kunci motornya, lalu menuruni tangga tanpa berpamitan pada Boy. Boy hanya menepuk jidatnya. Sam sangat menjengkelkan. Dia bisa melakukan sesuka hatinya. Kalau bukan karena ayahnya adalah teman baik Om Ben, dia akan mendepak Sam dari rumahnya.


Boy kembali melihat ke arah luar. Dia penasaran juga apa yang seorang Samuel lakukan untuk mendekati wanita.


*


*


*


Klinik sudah tutup setengah jam yang lalu, tapi Rea masih berdiri di depan menunggu sesuatu. Dia menengok kanan kiri berulang kali, mencari sosok yang dia tunggu. Sesekali Rea mengecek ponselnya sambil memukul betisnya yang pegal.


“Hai,, udah lama nunggu?” Tiba-tiba seorang pria tinggi kekar menghampiri Rea. Dia memiliki rahang kuat, rambut sedikit panjang berantakan, dan juga kulit putih pucat.


“Belum.. Kenapa minta ketemu?” Tanya Rea sedikit ketus.


“Aku butuh uang Re,,” pria itu mendekat dan memegang tangan Rea.


“Kamu amnesia ya? Kita itu udah putus.. Aku gak mau Den..” Rea menatap sengit pria di depannya.


Alden alias mantan pacar Rea ini memang pengangguran. Selama setahun pacaran, Rea lah yang memberikan Alden uang. Dia sampai rela untuk berhemat dengan membawa bekal makan siang, karena gajinya 50% akan diberikan untuk Alden.


“Kamu kan baru dapat bonus dari bos mu yang kaya itu.”


“Apaan sih..” Rea memegang tali tasnya. Dia cukup terkejut kenapa Alden bisa tau kalau Valen baru saja memberinya bonus.


Alden mencoba mengambil tas Rea. Tapi Rea memiliki reflek yang baik. Dia memegang erat tasnya sampai tangannya sakit. Adegan berebut tas itu akhirnya di menangkan oleh Alden. Dia punya badan yang kekar ala anak gym dan otomatis Rea terjatuh hingga tubuhnya menabrak pintu besi di belakangnya.


“Tolong balikin tas dia.” Seseorang datang dan mencengkram tangan Alden.


“Lepasin.” Alden menghempaskan tangan pria itu..


Tapi sedetik kemudian, dia terdiam. “Sam.” Ucapnya parau.


“Alden kamu..” kata-kata Sam terhenti karena sebuah tinjuan mendarat di pipinya.


Sam terhuyung ke belakang. Alden akan kembali menyerang Sam, tapi Rea buru- buru berdiri, dan mengambil posisi di tengah mereka.


“Alden udah. Kamu pergi saja.” Rea mengambil tasnya yang sudah di jatuhkan Alden dan menatapnya sambil menangis.


Alden menatap tajam keduanya. Dia lalu pergi dengan gontai meninggalkan Rea dan Sam.


Tangan Rea masih gemetaran. Dia terkejut sekaligus merasa badannya sakit.


Sam membantu Rea untuk duduk.


“Makasi ya..” ucapnya sambil terisak.


Sam tidak berkata apapun. Dia mengecek keadaan Rea dan Sam menemukan lengan Rea berdarah cukup banyak.


“Re,, tangan kamu..”


Rea baru sadar dan mulai merasakan perihnya.


Sam dengan sigap pergi ke motornya, mengambil kotak p3k. Kotak P3k yang Sam bawa sangat komplit dan rapi. Dia berjongkok di depan Rea, mengangkat lengannya, dan memberikan alkohol ke tangan Rea. Rea meringis kesakitan. Tapi Sam bekerja secepat mungkin. Dia mengoleskan betadine, dan membalut luka Rea dengan perban.


“Kamu kena pinggiran besi itu.” Ucap Sam sambil menunjuk ke arah sebuah besi karatan yang cukup tajam.


“Ini antibiotik, di minum 3x ya...”


Rea hanya menerima obat itu tanpa berkata apapun.


“Kalau gitu, aku antar pulang ya,, “ ajak Sam. Dia menepuk pelan pundak Rea.


Wanita itu mengangguk lemah dan mengikuti Sam. Mereka berhenti di depan motor matic abu milik Boy. Sam memberikan sebuah helm pada Rea.


“Naik motor gak apa apa kan?”


Rea mengangguk lagi. Dia menggunakan helm nya, lalu naik ke boncengan. Parfum yang Sam pakai langsung menusuk hidung ketika motor melaju. Bau maskulin Sam sangat enak.


Sepanjang perjalanan Rea hanya diam, menikmati angin menerpa wajahnya.


Sam berulang kali menengok ke spion. Dia tau kalau dia tanya lebih banyak, Rea akan kembali menangis. Untung semalam, Sam langsung mencari identitas Rea. Dengan kemampuannya, Sam bisa menemukan data Rea. Dia tau alamat pasti rumah Rea.


“Sudah sampai.” Kata Sam menyadarkan Rea. Rea turun dengan memegang pundak Sam. Pinggangnya masih nyeri karena jatuh tadi.


“Makasi ya Sam..” ucapnya datar.


“Sebentar..” Sam mengeluarkan ponsel. Dia menge-chat Rea, lalu menunjukan layar ponselnya pada wanita itu. “Aku sudah chat,, save nomer ku ya..”


"Oke." tanpa banyak bertanya lagi, Rea masuk ke dalam rumah.Kepalanya terlalu sakit untuk memikirkan darimana Sam tau alamat rumah dan ponselnya. Saat ini Rea hanya ingin istirahat dan menenangkan diri dari manusia yang bernama Alden.


***


Visual Alden check..



Kalau visual Boy sudah pernah di kasih tau di novel lain sih.. tapi supaya tetep ingat sama Boy, gak apa-apa ya di spill di sini juga😁😆