When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Penyesalan Valen



Zoe memperhatikan sahabatnya yang sejak tadi hanya duduk diam sambil mengecek ponselnya. Dia bahkan tidak menyentuh makanan yang sudah siap di meja.


“Kenapa si Val?”


Valen menghela nafas panjang. Dia meletakan ponselnya dan mulai menyentuh makanan di depannya.


“Enggak gue lagi cari informasi aja. Lo tau kan yang waktu itu gue ceritain. Bokap gue di tolong orang asing, terus orang itu mau nikah sama gue? Yang kemarin gue kerjain?”


“Iya, inget.. terus? Katanya dia cuma karyawan biasa dan ga menarik.”


“Yaaa,, memang kalau pake kacamata tuh culun banget,, Tapi kalau udah lepas kacamata, dia ternyata ganteng..” kata Valen sambil membayangkan peristiwa tadi siang di mana dia memegang wajah Sam dan juga menabrak dada bidangnya.


“Wow,, gila sih.. seorang Valencia akhirnya tertarik sama cowo.” Puji Zoe sambil bertepuk tangan.


Selama ini, para pria lah yang berlomba mendekati Valen, tapi Valen cuek saja. Dia anggap mereka semua teman. Tapi, sekarang seorang Valencia memikirkan seorang lelaki. Ini sungguh keajaiban dunia.


“Dia itu aneh. Karyawan biasa, tapi bisa jadi member vip di klinik gue dan juga pake mobil mewah.”


“Ya pinjem kali Bu,,,”


Valen membuka ponselnya, mencari kontak Sam. Dia menunjukan foto Sam pada Zoe. Zoe melihat lebih dekat sambil mengingat ingat apakah dia pernah melihat Sam. Wajahnya tampak familiar.. tapi dia lupa pernah bertemu di mana.


“Ya culun sih.. terus waktu ketemu itu gimana?”


“Ya,,, gue sih tinggalin dia sama karyawan gue..” ucap Valen tanpa dosa.


Cerita Valen membuat Zoe tertawa geli. Valen memang cerdik. Dia selalu punya cara untuk bisa menghentikan apa yang tidak dia inginkan. Dan sebaliknya, wanita itu akan berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


“Tapi dia malah jadi akrab sama karyawan gue..” lanjut Valen.


Dia membuka chat grup wa yang menunjukan kalau Rea pulang bersama Sam dengan mobil mewah.


“Lo nyesel?”


“Enggak sih...cuma risih aja.. ke klinik terus..”


“Jawabannya cuma ada dua sih.. Lo cemburu atau lo nyesel.” Kata Zoe menyadarkan sahabatnya.


“Nooo... lebih enak sendiri dong.. bisa bebas kan.. nanti kalau gue punya cowo, lo bisa kesepian lagi..” goda Valen.


Zoe hanya meng iya kan. Dia masih mencoba mengingat wajah Sam.


“Zoe.. apa kabar?” Seorang wanita paruh baya menghampiri Zoe.


“Tante Lidia..” Zoe segera berdiri dan memberikan cipika cipiki. “Kabar baik tante.. tante gimana? Sama siapa?”


“Ini tante lagi ada undangan makan.. Sama om Ben.. Om lagi parkir mobil..”


Valen hanya melihat Wanita itu dari kursi. Dia sangat elegan dengan dress vintage bewarna dasar putih dengan bunga merah. Meskipun bukan baju bermerk,, tapi wanita itu membawa tas mewah limited edition yang harganya bisa seharga mobil.


Wanita bernama Lidia itu menengok pada Valen dan tersenyum padanya. Valen membungkukan kepalanya sambil tersenyum kecil.


“Kapan-kapan main ke rumah tante ya.. tante mau kenalin sama anak tante..”


“Oke tante naik dulu ya..”


Zoe melambaikan tangannya sambil bernafas lega. Lidia adalah tetangga mereka dulu. Dia sangat baik, tapi dia tidak mau kalau berkenalan dengan anak dari tante Lidia. Setelah masuk ke dalam lift, Zoe kembali duduk.


“Wah, ada yang mau kenalan tuh..”


“Yah,, meskipun kaya, tapi enggak deh ya.. anaknya aneh.. sukanya baca buku.”


“Siapa?”


“Itu siii....” perkataan Zoe terhenti. Dia sekarang ingat sesuatu. “Coba hape lo lagi..Fotonya mana..” kata Zoe tergagap.


Valen memberikan ponselnya. Dia hampir pingsan ketika melihat foto Sam. Dia menengok ke arah Valen, membalik layar ponselnya sehingga Valen melihat foto Sam juga.. Zoe menunjuk dengan jarinya sambil menelan ludah.


“Ini anaknya..”


“WHAAT?”


Zoe menceritakan siapa keluarga Sebastian itu kepada Valen dan bagaimana dia bisa mengenal Sam. Sam memang tidak suka keluar rumah seperti kebanyakan anak lainnya. Dia hanya menghabiskan waktu di kamar sambil membaca buku. Dan kalau ada yang mengganggunya, Sam akan membentak orang itu. Zoe pernah di bentak dan dia menangis karena ketakutan. Sejak itu Zoe trauma dengan Sam.


“Jadi, dia anak konglomerat?” Tanya Valen ga percaya dengan apa yang dia dengar.


“Iya.. bisa di bilang gitu.. karena usahanya ga cuma satu rumah sakit..” “Kalau lo mau hidup nyaman, lo bisa lah sama dia..” jelas Zoe.


Valen hanya mengangguk saja. Dia melanjutkan makannya dengan sedikit menyesal. Seandainya dia tau kalau Sam tampan dan kaya, dia tidak akan menolak untuk di jodohkan.


“Atau lo mau sama adiknya.. ganteng juga,, tapi bad boy.. agak bandel..” lanjut Zoe.


Valen tidak menghiraukan perkataan Zoe. Yang ada di otaknya hanya mereview diotaknya apa yang telah dia lakukan ke Sam. Sepertinya Valen sudah melewatkan harta karun.


“Hay semua.” Seorang pria mendekati meja mereka. Pria itu tentu sudah Valen kenal dengan baik. Jasper. Hanya saja dia tidak mengerti kenapa Jasper ada di sini. Jasper duduk di sebelah Zoe sembari merangkulnya.


“Zo, jangan bilang...” tanya Valen curiga.


“Jasper, pacar gue sekarang.”


Perkataan Zoe jelas membuat Valen menepuk jidat. Zoe bisa berganti pasangan bagai berganti pakaian. Tapi ini bukan hal yang aneh lagi, karena Zoe broken home, dan juga ayahnya sudah lama meninggal. Jadi Zoe hanya sendirian. Hal ini lah yang membuat Zoe kesepian dan haus kasih sayang.


“Kenapa si Valen?” Tanya Jasper kepo.


“Biasa lah,, gebetan nya di rebut karyawannya sendiri.”


“Buka aib aja lo.” Protes Valen.


“Siapa orang yang bisa memikat seorang Valencia Bramantyo?”


“Sam.. Samuel Sebastian.”


Jasper mengangguk. Dia sedikit paham dengan silsilah keluarga Sebastian. Valen merasa sudah kehilangan moodnya dan tidak melanjutkan makannya. Dia harus melakukan sesuatu supaya Sam bisa tertarik lagi padanya.