
Alden!" Teriakan Sam menggelegar di sepanjang koridor. Sam segera berlari menghampiri Alden dan dia meninju pipi Alden dengan kuat sehingga Alden terjatuh. Jika Sam terlambat sedikit saja, bibir Alden sudah dipastikan mendarat pada bibir Rea.
Sam menangkap Rea yang masih sempoyongan.
Dia mendekapnya supaya Rea tidak jatuh.
"Asal tahu saja, Alden Sebsatian, selama ini aku sudah mengalah sama kamu karena Dad gak ijin in aku untuk bales perlakuan kamu." "Kalau sekali lagi kamu macem-macem sama Rea, akan gak akan peduli lagi bahkan kalau kamu mau pergi dari keluarga Sebastian selamanya." Sam mengatakan semua itu dengan nada penuh emosi.
Alden tidak melawan lagi ataupun bangun. Dia melihat Sam dengan pandangan yang sengit.
Sam tampak tidak mempeduikan Alden lagi. Dia hanya ingin segera membawa Rea pergi dari sini. Dia melepaskan jasnya, lalu menggunakan untuk membungkus badan Rea. Setelah itu, Sam terpaksa menggendong Rea karena Rea sudah mulai tertidur.
Alden tertawa sinis melihat kakaknya pergi bersama dengan mantannya itu. Seorang Samuel Sebastian si good boy benar-benar marah dan memukulnya hanya karena seorang wanita.
Sementara itu Sam sudah sampai di parkiran. Dia menekan remote dengan sedikit kesusahan karena tangannya sudah pegal menggendong Rea.
'Duk'
Sekali lagi kepala Rea terbentur atap mobil ketika dia akan memasukan Rea di bangku penumpang.
"Sial, harusnya aku bawa mobil biasa saja." Kata Sam pada dirinya sendiri. Sam berputar untuk masuk ke dalam mobil juga.
Dan segera setelah itu, mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumah Sam.
*
*
*
Sam membaringkan Rea di kamar tamu. Rea sudah tertidur dengan pulas. Dia duduk di samping ranjang sambil memandangi Rea.
"Sayang, kamu bertemu lebih dulu dengan Alden." Sam bermonolog sendiri.
Rea bergerak lalu meraih tangan Sam. Dia memegangi tangan Sam layaknya itu sebuah guling.
"Re.." Sam berusaha melepaskan tangan Rea. Bagaimanapun juga, Sam adalah pria normal. Dia melihat Rea sangat menarik malam ini. Jika Rea bertindak begini, Sam pun tidak akan tahan untuk tidak menyentuh Rea.
"Biii.." teriak Sam nyaring.
Seorang pembantu muncul tidak lama setelah Sam berterik.
Pembantu Sam mengangguk. Setelah menatap Rea sekali lagi, Sam lalu pergi menuju kamarnya sendiri.
"Samuel, kamu bawa siapa?" Ben yang sedang duduk di meja makan menghentikan langkah Sam.
Dia cukup terkejut karena setahu Sam, Ben sedang pergi ke America untuk mengurus rumah sakit mereka yang ada di sana.
Ben sendiri sejak tadi berada di meja makan dan menyaksikan anak pertamanya membawa perempuan ke rumah.
Sam saja yang tidak melihat karena dia terlalu berfokus pada Rea. Dia sampai tidak sadar kalau ayahnya ada disitu dan memperhatikan.
"Temen Sam, Dad.."
Ben meletakan cangkirnya. Bukan hal yang sulit untuk tahu persoalan Sam dan Alden. Ben juga tahu apa yang terjadi malam ini karena dia mendengar laporan dari salah satu anak buahnya. Sam memukul Alden.
"Lalu, apakah kamu pukul Alden?" tanya Ben terus terang. Dia tidak masalah jika Sam membawa temannya, tapi Ben penasaran, apakah berita Sam memukul Alden itu benar?
Sam yang tadinya tidak ingin berdebat, akhirnya mendekat pada Ben.
"Sorry Dad. Sam memukulnya karena Alden sudah keterlaluan."
"Sam.. Dad pernah bilang, posisi Alden itu sulit. Jadi.."
"Tunggu Dad.." potong Sam. "Kenapa Dad begitu takut Sama Alden? Kenapa Alden bilang Sam merebut semua yang Alden miliki? Dad justru membela Alden dan gak pernah marah sama dia." Sam bicara dengan nada yang cukup tinggi.
"Sam.. itu.." Ben kehilangan kata-kata.
"See.. Dad memang menyembunyikan sesuatu."
"Sam.. Dad harus jelaskan ini bersama kalian.. kalau cuma jelasin ke kamu, jadinya akan salah paham terus." Ben coba untuk bernegosiasi dengan putranya yang sudah emosi.
"Oke, Sam akan seret Alden ke sini meskipun dia akan babak belur." Sam melangkah pergi. Dia sampai lupa kalau Rea masih di dalam kamar.
Pikiran Sam hanya satu, menyelesaikan masalah ini secepatnya. Dia ingin tau alasan Alden membencinya dan apa yang disembunyikan ayahnya.
Ben menatap punggung Sam sampai dia menghilang di balik pintu. Sam pertama kali menginjakan kaki di sini setelah 13 tahun berada di America, tapi dia malah harus bertengkar dengan anaknya itu.
"Sam.. seandainya kamu tau,, mungkin kamu juga akan memperlakukan Alden dengan baik." kata Ben dalam hatinya.