
Sam sudah sampai di sebuah rumah berlantai 2 bergaya eropa. Dari luar saja, bangunan nya tampak sangat megah. Pintu gerbang terbuka otomatis ketika Sam membunyikan klakson. Sam meletakan motor di samping mobil-mobil import mewah yang berjejer di parkiran.
"Bi, saya di depan.. tolong buka pintu ya." Ucap Sam di telepon.
Tidak lama, pintu rumah terbuka. Sam sengaja tidak memencet bel karena dia takut akan mengganggu orang-orang yang ada di dalam.
"Makasi bi.."
Saat ini Sam berada di base campnya alias rumah Boy. Selama satu minggu ini dia menumpang di rumah Boy dengan alasan ingin fokus untuk mencari adiknya yang hilang. Tapi, Boy merasa itu hanya alasan klise. Alasan sebenarnya, Sam memang tidak ingin pulang ke rumah keluarga Sebastian.
“Sam, sudah makan?” Sebuah suara perempuan mengejutkan Sam. Seketika itu juga lampu ruangan menyala.
Sosok ibu paruh baya itu mendekati Sam sambil tersenyum. Dia berkulit putih pucat dan juga punya mata yang sipit. Meskipun usianya sudah menginjak kepala 5, tapi dia masih terlihat sangat cantik.
“Sudah tante.. tante belum tidur?” Sam balik bertanya.
“Lho, wajah kamu kenapa?” Dia menilik sudut bibir Sam yang bengkak.
“Biasa tante, laki-laki..”
“Halo Seo Hyun eoma..” tiba-tiba Boy datang dan memeluk ibunya dari belakang.
Ibu Boy melonjak kaget, lalu 5 detik kemudian dia menjewer telinga anaknya.
“Nama Mom itu Sania..” protes Ibu Boy yang tidak mau nama Korea nya disebut.
Ya, setelah menikah dengan orang indonesia, Ibu Boy ingin memiliki nama Indonesia supaya mudah disebutkan. Dan ketika mencari nama, dia menemukan bungkus minyak goreng yang baru saja di beli ART nya. Akhirnya dia memutuskan namanya seperti salah satu merk minyak goreng supaya mudah di ingat. Sampai sekarang, Sania lebih suka dengan nama Indonesia daripada nama Korea nya.
“Sudah sana masuk..bersih-bersih.. kalian bawa banyak virus dari luar.” Sania mendorong kedua pria tinggi itu untuk naik ke atas.
Boy langsung merebahkan badan di ranjang, sedangkan Sam masih duduk di sofa abu-abu yang terletak di pojok ruangan Boy.
“Jadi ada hubungan apa dia dengan Alden?” Boy memulai percakapan. Dia melihat semua yang terjadi di depan klinik. Boy bahkan mengikuti motor Sam yang mengantar Rea, dari belakang.
“Aku belum tau..”
“Rea ga cerita?”
Sam menggeleng. Dia ingin bertanya, tapi Rea masih tampak bingung. Sam pun masih tidak percaya bisa bertemu Alden di klinik Valen.
Lagi-lagi Sam tidak menjawab Boy karena dia sibuk dengan pikirannya.
Sejak satu tahun lalu, Ben alias Ayah Sam meminta Sam untuk pulang karena dia memberitahukan kalau adik angkatnya kabur. Dia sudah kabur selama 5 tahun belakangan ini. Jadi, Ben meminta Sam untuk mencari, sekaligus untuk membujuknya agar dia mau pulang ke rumah.
Sejak kecil Adik Sam itu memang susah di atur. Dia selalu bertengkar dengan Ben sampai darah tinggi Ben kumat. Adik angkat Sam tidak lain tidak bukan adalah Alden. Sam sebenarnya sudah tau tempat tinggal Alden, tapi kebetulan dia betemu dengannya malam ini. Alden bahkan memberikan hadiah sambutan untuk Sam, yaitu sebuah pukulan.
Ponsel Sam berdering nyaring memecahkan lamunannya.
“Ya Dad..” jawabnya begitu suara di ujung sana memanggilnya.
“Kamu udah ketemu sama Alden? Dia gimana? Makin kurus?” Ben memberondong Sam dengan banyak pertanyaan.
Sam menatap Boy dengan pandangan membunuh.
"Gue keceplosan." bisik Boy yang paham arti dari pandangan Sam. Dia pasti ingin bertanya, kenapa Ben bisa tau kalau dia bertemu dengan Alden.
“Dia sangat sehat.” Jawab Sam dengan menekan kan kata sehat. Satu pukulan Alden cukup membuat sudut bibirnya biru.
“Dia tidak mau pulang?”
“Sam belum ngobrol banyak Dad..”
“Soal Alden kamu bisa urus kan Sam? Dan kapan kamu pulang ke rumah?”
“Ya, nanti kita bicara lagi Dad.. Sam masih ada kerjaan.” Sam mematikan telepon sepihak.
Sam adalah anak kandung dari Ben, tapi dia merasakan sebaliknya karena Ben sangat mempedulikan Alden. Ketika Alden kabur, Ben seperti kebakaran jenggot. Sebenarnya ini bukan soal yang sulit, tapi Ben tidak mau turun tangan sendiri. Bukan tidak mungkin seorang Benjamin Sebastian tidak bisa menyewa orang atau detektif untuk menarik Alden pulang. Dia harus repot-repot memanggil Sam untuk pulang ke Indonesia setelah 13 tahun dia habiskan waktu untuk sekolah dan kerja di America.
"Boy, lo kentut ya?" Sam menutup hidungnya karena bau busuk yang tiba-tiba muncul memenuhi ruangan.
Boy tertawa geli karena dia memang buang angin.
"Gila lo.. makan apa aja sih lo. Sial." Karena tidak tahan, akhirnya Sam memutuskan untuk pergi ke kemar mandi.
Begitulah kehidupan Sam. Meskipun dia kerap bertengkar dengan Boy, tapi dia lebih nyaman berada di sini. Boy sudah seperti keluarganya sendiri. Dia mengenal Boy sejak sekolah menengah pertama, dan saat di America pun Sam tetap berkomunikasi dengan Boy. Jadi dia tidak ragu-ragu atau malu untuk meminta bantuan dari Boy.