
Jam 6 pagi
Sam memarkirkan mobilnya di depan Rumah Sakit. Sebelum turun, Sam mengobati lukanya terlebih dahulu. Dia kembali memandang kaca spion tengah untuk memastikan penampilannya. Lingkaran hitam tampak jelas di matanya karena semalaman Sam tidak tidur. Dia sibuk berpikir dan menata hatinya. Dan, pagi ini Sam telah membuat keputusan. Dia harus menyelesaikan ini dengan Alden. Sam sudah menelepon Valen, dan dia bilang kalau Alden sudah dirawat di rumah sakit.
Seperti biasa, para karyawan membungkuk ketika mereka melihat Sam. Sam berjalan dengan tenang menuju kamar di mana Alden di rawat. Kamar Alden tentu saja berada di ruangan VIP. Dia mengunci pintu kamar VIP itu dari dalam, supaya tidak ada yang bisa mengganggu pembicaraan mereka.
Alden masih tertidur dan dia terlihat pucat dengan tangan di infus. Sam duduk di bangku di samping ranjang. Baru kali ini dia merasakan miris melihat keadaan Alden yang tidak berdaya seperti ini.
“Den..” panggil Sam lirih. “Bisakah kita bicara sebentar?”
Alden menggerakan tangannya. Tidak lama, dia mulai membuka matanya perlahan. Alden cukup terbengong melihat Samuel yang duduk di sampingnya. Dia mengerjapkan mata berulang kali untuk memastikan bahwa dia sedang tidak berhalusinasi. Tapi, sosok itu nyata.
“Berantem nya lain kali saja, Sam. Aku masih sakit.” Kata Alden yang mengira Sam akan menghajarnya karena kemarin Rea datang ke rumah.
“Aku minta maaf, Alden Sebastian.”
Alden tertawa sinis. Pendengarannya pasti sudah rusak. Sam asli tidak akan meminta maaf padanya.
“Aku akan kembali ke America.” Sam menunduk lemah. “Sekarang, lakukan saja sesuka hatimu.”
“Apa maksud kamu, Sam?”
“Aku ingin berbaikan dengan kamu, Den. Aku sudah lelah untuk bertengkar seperti ini. Jika kamu tidak suka melihat aku, maka aku akan pergi.” Sam yang sudah tidak tahan menahan air matanya, berdiri dari bangku lalu berbalik.
“Apakah kamu benar-benar suka dengan Rea?” tanya Sam sebelum pergi.
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, tolong jaga Rea. Jangan berani kamu kurang ajar pada dia. Kalau sampai kamu membuat Rea menangis, aku akan kembali lagi untuk membawa dia.”
Alden masih mencerna perkataan Sam sambil menatap sosok yang sudah menghilang itu. Kenapa tiba-tiba kakak angkatnya menjadi lemah seperti itu? Apakah Ben memberitahukan kejadian yang sebenarnya?
Seharusnya Alden senang, karena Sam akan pergi. Tapi, kini dia justru bingung. Apalagi, Sam dengan mudahnya merelakan Rea. Rea Renata yang merupakan cinta pertama Sam. Ya, Alden juga tahu jika Samuel itu kaku dan tidak pandai untuk dekat dengan Wanita. Rea lah Wanita pertama yang dapat mengambil hati seorang Samuel.
*
*
*
Ben menatap Sam dengan wajah yang berseri-seri. Sam baru saja mengatakan jika dia akan mengurus rumah sakitnya yang berada di America. Tapi, ada yang aneh dengan permintaan Sam kali ini. Dia meminta untuk berangkat sekarang juga dan mereka juga tidak bisa meminta Sam kembali ke Indonesia jika bukan untuk urusan yang sangat penting.
Tidak butuh waktu lama untuk Sam bersiap, karena sebagian pakaiannya masih berada di America. Sam hanya perlu membawa satu koper saja.
“Apa Rea tahu, Sam?” tanya Lidia yang tiba-tiba teringat pacar Sam. Mereka baru saja jadian, tapi harus melakukan hubungan jarak jauh seperti ini.
“Sam akan beritahu dia nanti, ketika berada di bandara.” Sam memeluk Ben dan Lidia bergantian.
Dia yakin orang tuanya bertanya-tanya, tapi ini adalah opsi terbaik untuk dapat mengurangi rasa bersalahnya pada Ben dan juga Alden. Setelah mengetahui faktanya, Sam tahu betul Ben begitu menyayanginya dan melakukan segalanya untuk Sam.
“Dad, bicaralah baik-baik dengan Alden.” Pesan Sam. “Dad bisa meluangkan sedikit waktu untuk dia.”
“Jaga diri kamu, Sam.” Ben menepuk pundak Sam. "Dad akan coba untuk bicara dengan Alden."
Sam memberikan kopernya pada sopir. Dia lalu mengambil ponsel untuk menelepon Boy.
“Boy, aku butuh bantuanmu. Tolong kamu bawa Rea ke bandara, karena aku akan pergi ke America 1 jam lagi.”