When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Keraguan Rea



Sam dan Rea sudah berada di sebuah ruangan di lantai 1 yang berisi banyak pakaian wanita. Rea cukup heran kenapa Sam memiliki ruangan seperti ini di rumahnya. Ini tampak seperti ruang walk in closet para artis yang Rea lihat di televisi.


Sam menggeser satu persatu pakaian di lemari dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih menggandeng Rea.


Setelah membolak balik beberapa kali, Sam menarik satu dress biru tua selutut dengan model v-neck. Dia mengepaskan dress di tangannya pada badan Rea. Dan setelah memastikan itu cocok dan pas, Sam memberikan pakaian itu padanya.


"Cepat ganti baju mu." perintah Sam.


"Tapi, untuk apa Sam? Apa aku begitu memalukan?" tanya Rea penuh tanda tanya.


"Rea Renata.." ucap Sam dengan nada yang cukup tinggi.


Mau tidak mau Rea menuruti Sam karena pria itu tampak sedikit emosi.


Sambil menunggu Rea berganti pakaian, Sam merebahkan badan di sofa. Dia merogoh saku celananya dan mengambil dua buah kotak bewarna hitam. Satu kotak lebih besar dan satu lagi kecil. Sam membuka kotak yang kecil lebih dulu. Isinya sebuah cincin berlian dengan ukiran nama Rea di dalamnya.


"Apakah dia akan menerima ini, setelah Mom mempermalukannya?" tanya Sam pada dirinya sendiri.


Sesuai dengan ide Alden, Sam sebenarnya ingin melamar Rea malam ini. Tapi semua rencananya berantakan karena ternyata Ben dan Lidia mengundang banyak orang. Sam baru tahu ketika Boy memberinya pesan melalui WA dan meminta Sam untuk cepat datang.


Sam mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menutup kotak cincinnya, dan memasukkan kembali ke saku.


Kini, tinggal kotak besar. Selain membeli sebuah cincin, Sam juga membeli sebuah kalung yang cantik dengan motif kupu-kupu untuk Rea. Sam memutuskan membeli sebuah kalung, karena selama menjadi pacar Rea, Sam tidak pernah memberikan gadis itu apapun. Sam sudah tidak sabar untuk mrmberikan kalung ini pada Rea saat dia keluar nanti.


Tapi, setelah 15 menit menunggu, Rea tidak kunjung keluar dari ruang ganti. Sam yang mulai panik, akhirnya memutuskan untuk mengecek wanita itu. Dia membuka perlahan pintu di depannya, dan..


"Sam!" Pekik Rea yang melihat sosok Sam dari cermin.


"Sorry,," kata Sam dengan entengnya. Dia tersenyum ketika memandang punggung Rea yang putih mulus.


Ya, Rea tidak keluar juga karena dia kesulitan untuk memasang zipper dengan satu tangan. Tangan Rea masih di gips dan tidak dapat bergerak bebas. Dan Sam lupa akan hal itu.


Sam lalu membantu Rea untuk menaikkan Zipper nya. Momen ini sungguh sangat tepat dan Sam tidak boleh melewatkan ini. Dia segera mengeluarkan kotak besar yang berisi kalung untuk Rea. Dia mengeluarkan kalungnya dari kotak, dan memasangkan pada Rea yang masih menghadap cermin.


"Apa ini Sam?" Rea hendak protes, tapi Sam tetap memasangkan kalung itu pada Rea. Dia menyibakkan rambut Rea ke samping supaya lebih mudah memasangnya. Otomatis, Rea menahan rambutnya supaya Sam tidak kesulitan.


"Ini sangat cantik, seperti kamu." Sam membalik kan tubuh Rea untuk menghadapnya.


"Rea,, aku tidak peduli apapun omongan orang. Kamu itu pacar Samuel Sebastian. Sampai kapanpun tetap seperti itu." Sam memegang kedua lengan Rea dan meyakinkan Rea supaya dia tidak berpikir macam-macam, apalagi setelah peristiwa tadi.


"Sam, tapi.. Mom lebih suka dengan Valen." kata Rea dengan suara lirih.


"Re,, asal kamu tahu, Mom sayang sama kamu. Buktinya, Mom sengaja bikin ruangan ini untuk kamu."


Rea terperangah. Dia tidak percaya dengan apa yang Sam katakan.


Sam akhirnya menceritakan pada Rea, tentang perbuatan Lidia ini. Jadi ketika Rea berkata mereka pacaran, Lidia langsung mendesain kan satu kamar khusus untuk tempat menginap Rea. Dan sewaktu Ben dan Sam bertanya, Lidia hanya menjawab jika nanti Rea juga akan jadi bagian dari keluarga Sebastian.


"Tapi itu dulu, sebelum mengenal Valen." Rea melengos dari pandangan Sam. Dia tidak heran kenapa sekarang Lidia berubah. Itu pasti karena Valen jauh lebih pantas bersanding dengan anaknya, daripada dengan Rea.


Sam memegang pipi Rea dan mengusapnya lembut. Dia menghadapkan wajah Rea, supaya Rea dapat memandangnya lagi. Sam meneliti wajah Rea dengan cermat.


"Apa kamu perlu bukti jika aku benar-benar menyukai kamu, Re?"


Sam lebih mendekatkan lagi kepalanya pada Rea sampai hidung mereka bersentuhan.


"Sam, kamu mau apa?" Rea tampak sangat gugup. Jantung nya berdetak kencang sekarang seakan itu akan keluar dan melompat dari tempatnya.


Sam tidak mendengarkan Rea dan tetap mendekatkan bibirnya pada bibir Rea yang tampak seksi dengan lipstik merah maroon itu.


Rea menutup mulutnya dengan tangan, sehingga bibir Sam hanya mengenai tangan Rea.


"Re..." Sam kehabisan kata-kata karena tindakan Raa membuat Sam gagal mencium Rea.


"Aku percaya kalau kamu mencintai ku." kata Rea dengan penuh keyakinan. "Maaf, Sam.. aku akan berikan first kiss ku untuk suami ku nanti."


"Aku akan jadi suami mu."


Ada perasaan bahagia ketika Rea mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sam. Tapi, itu hanya sesaat karena Rea harus sadar jika tidak akan semudah itu untuk bersanding dengan seorang Samuel Sebastian.


"Ya, tapi kita lebih baik keluar sekarang, karena pasti Dad, Mom dan Alden mencari mu." kata Rea pada Sam yang belum berhenti memandangnya.


"Oke as you wish, nona pelit." Sam menggenggam tangan Rea, lalu membawa Rea keluar dari kamar itu.