
Sam secara rutin menengok Rea dan Ben bergantian. Dia merasa menjadi dokter tersibuk sedunia, karena harus praktek dan mengecek 2 orang yang dia sayangi sekaligus. Ben sudah lebih baik, dan sudah dapat berjalan-jalan di sekitar kamar, sedangkan Rea masih di gips tapi keseluruhan fisik dan mental sudah baik.
"Ayo, makan lagi." paksa Sam sambil menyodorkan satu sendok penuh makanan pada Rea.
"Sam, itu tidak enak. Aku bosan makan itu." kata Rea sambil melengos.
"Cepat, satu kali lagi atau pilihannya aku akan cium kamu."
Akhirnya Rea membuka mulutnya. Dia tidak akan mau mengambil pilihan kedua.
Suster yang menunggu mereka sampai malu sendiri melihat Sam yang biasanya tegas dan berwibawa bisa bucin juga. Ya, hampir setiap hari Sam menyuapi Rea dan memastikan kekasihnya itu makan dengan baik.
"Dad ingin menemui mu." ucap Sam setelah Rea menghabiskan sisa makanan di mulutnya.
"Oke.."
"Re, pesanan mu datang." Boy masuk dengan memamerkan dua kotak pizza yang dibawanya.
Rea menepuk jidatnya karena Boy begitu bodoh dan tidak dapat melihat situasi jika Sam berada di situ.
"Sorry, ini hanya untuk pencuci mulut saja." ucap Boy tanpa dosa. Dia selalu membawakan makanan kesukaan Rea karena Rea tidak suka makanan rumah sakit.
"Re, tadi kamu ingin es krim kan?" Alden ikut-ikutan masuk ke dalam dengan membawa es krim.
"Dokter, anda punya banyak saingan." bisik Suster yang belum pergi juga karena menunggu piring di tangan Sam yang masih separuh.
"Ehem." Sam berbalik dan merebut semua makanan yang pria-pira itu bawa.
"Kenapa ga bilang sama aku kalau kamu ingin makan ini?" tanya Sam yang sedikit membungkukan badan pada Rea.
"Mana kamu ijinkan, Sam?" jawab Boy dari belakang.
"Rea takut sama kamu, Sam." lanjut Alden memanasi Sam.
Rea meringis. Dia beranjak pergi dari ranjang, tapi Sam segera menarik pakaian Rea.
"Rea Renataaaa"
"Sam, kamu kan sibuk." Rea memberikan alasan yang masuk akal. Sebenar nya itu hanya alasan saja, karena apa yang dikatakan Boy dan Alden benar.
"Jadi, yang pacar kamu itu siapa?" tegas Sam.
"Bagaimana kalau di bagi saja. Senin selasa Boy, rabu kamis Alden dan Jumat Sabtu Minggu kamu." kata Rea dengan wajah sumringah.
Boy mengangguk tanda setuju. Ide Rea bukan ide yang buruk. Alden hanya tersenyum saja dan tidak ingin banyak bicara, karena dia tau apa yang akan terjadi jika dia salah bicara.
"Kamu benar-benar jadi liar setelah ditinggal setahun." Sam menjitak dahi Rea.
Suasana itu berubah ketika seseorang datang mengejutkan mereka bertiga. Valen berdiri dengan menggunakan jas praktek rumah sakit.
"Valen?" Rea keceplosan memanggil Bos nya tanpa kata Ibu.
"Hai, Rea.. bagaimana keadaan mu?" Valen meletakkan buket bunga besar untuk Rea.
"Baik, Bu." "Kapan ibu pulang?"
"Baru beberapa hari kemarin."
Rea menengok pada Sam, tapi Sam tidak mengerti arti pandangan dari Rea. Dia hanya menatap Rea datar.
"Kenapa pakai jaket rumah sakit?" tanya Sam bingung.
"Karena aku buka praktek di sini. Aku sudah meminta persetujuan Tante Lidia." jelas Valen sambil tersenyum.
Sam berpikir sejenak. Sejak kapan mom nya bisa berhubungan dengan Valen? Dan kenapa Lidia tidak memberitahukan ini pada Sam?
"Sam, kita ketemu Om Ben dulu." Ajak Rea. Dia merasa tidak enak karena kedatangan Valen ke kamarnya.
"Ayo, sayang.." Sam membantu Rea dengan merangkul pinggangnya.
"Aku juga ingin mengunjungi Om Ben." Valen mengikuti Rea dan Sam tanpa mendapat persetujuan dari mereka.
Alden dan Boy saling berpandangan dengan curiga. "Bakalan ada cinta segitiga yang lain sih ini.." Ucap Boy pada Alden yang masih menatap Valen dengan ekspresi wajah yang sulit di jelaskan.
*
*
*
Rea baru bertemu dengan Om Ben setelah kejadian kecelakaan itu. Ben tentu kaget melihat tangan Rea di gips dan masih ada memar di kepalanya.
"Rea, maafkan Om." Ben memeluk Rea begitu Rea sudah berdiri di depannya.
"Om,, tidak apa-apa.. ini kejadian yang diluar kendali. Rea sungguh tidak apa-apa." kata Rea mencoba menenangkan Ben. "Bagaimana dengan Om sendiri?"
"Om sangat baik, karena Sam sudah di sini dan juga Alden sudah kembali." Ben mengurai pelukannya. Dia menatap Sam yang sejak tadi berdiri saja di belakang Rea.
"Dad, Rea bisa pulang hari ini. Sam akan mengantar Rea untuk pulang."
"Bagus lah.. jaga Rea dengan baik, Sam." Ben mengacak-acak rambut Rea. Dia sudah menganggap Rea sebagai anaknya sendiri. Dia sangat setuju jika nantinya Sam akan menikah dengan Rea, meskipun status mereka bagaikan langit dan bumi.
"Emm.. apakah anda dokter baru di sini? Saya tidak pernah melihat anda."
"Betul Om, saya baru saja bergabung di sini. Perkenalkan Om, saya Valencia Bramantyo. Anak dari Bram dan Ester." Valen membungkukan badan dengan sopan pada Ben.
"Senang bertemu anda, nona Valen." ucap Ben singkat.
"Oh iya, Rea.. seminggu sekali, Om akan suruh Sam jemput kamu untuk ke rumah. Om akan pensiun. Jadi om butuh hiburan." Ben mengalihkan perhatian pada Rea.
"Om dan Sam sama saja. Selalu menganggap Rea sebagai badut." Rea mengerucutkan bibirnya, membuat Ben tertawa.
"Bagaimana? Deal tidak?" tawar Om Ben. Dia menyodorkan jari kelingkingnya.
"Om seperti anak kecil." Rea menyambut jari kelingking Om Ben dengan jari kelingkingnya untuk membuat pinky promise.
"Sudah mesra-mesra nya?" sindir Sam.
"Lihat, dia cemburu pada ayah sendiri." Ben menepuk pundak Sam sambil tertawa.
Sam hanya menghela nafas panjang. Entah apa yang sudah Rea lakukan sampai ayahnya sekarang tertular tingkah wanita itu.
"Om, Rea pamit ya.. Om cepat sembuh.." Sekali lagi Rea memeluk Ben sebelum pergi.
Valen menyaksikan dengan canggung interaksi keluarga Sam dan Rea yang begitu akrab. Rea bukan saja memikat dua pria keluarga Sebastian, tapi juga dapat memikat ayahnya. Harapan Valen hanya pada Lidia sekarang.