
“Re,, dari mana aja sih lo.. itu udah ditungguin sama tamu vip.” Ucap Gadis sambil menarik lengan Rea. Dia membawa Rea dengan cepat karena tamu nya sudah menunggu lebih dari setengah jam.
“Lo ga bilang gue makan?”
“Alaaaa,, lo biasa makan juga 5 menit.. asal telen aja kayak ular.” Ucap gadis jujur.
Dia membuka pintu ruang 2 dan mendorong Rea untuk masuk. Rea tidak mengomel lagi, karena Sam sudah berdiri di dalam sambil menyilangkan tangan. Hari ini Sam tampil beda. Dia tidak menggunakan kacamatanya. Dia juga pakai kaos gucci dan... pandangan Rea segera beralih ke kaki Sam. Dia melihat jaitan cukup lebar di sana.
“Kenapa Sam?”
“Jatuh. Aku baru saja mau pergi.”
“Sorry,, tadi habis makan,, Kamu mau perawatan kan? Cepet tiduran..” Rea masih bertanya-tanya, kenapa Sam tidak memakai kacamatanya, tapi dia juga harus bekerja dan melayani Sam sebagai pelanggan.
Sam masih terdiam di tempatnya. Dia memandang Rea yang sibuk kesana kemari menyiapkan perawatan untuknya.
“Sam,, udah jangan di liatin terus..” protes Rea. Dia terlalu gugup karena mata Sam tatapan Sam begitu tajam tanpa menggunakan kacamata.
“Nanti juga gantian kan,, kamu yang liatin aku terus.”
“Ya kali.. aku kan kerja..”
Sam berbaring juga. Dia tidak mau kalau Rea nanti malah semakin tidak nyaman dan dia akan memanggil yang lain.
Hari ini Sam melakukan beberapa perawatan yang membutuhkan penanganan dokter. Jadi, Rea hanya akan membersihkan dan melakukan anestesi dan memberikan masker. Karena sihuk memandangi wajah tampan Sam, Rea sampai lupa mengenai pembicaraannya dengan Alden tadi.
Sam sudah menghilang selama seminggu dan kini dia datang dengan wajah biasa saja dan juga dengan segudang misteri.
“Pak Dokter..”
“Hmm..” jawab Sam tanpa sadar. Dia membuka matanya, dan menatap Rea yang juga sedang menatapnya.
“Kenapa bilang dokter?” Tanya Sam curiga.
“Harusnya apa? Bapak Sebastian?”
Sam menelan ludahnya. Dia ingin berdiri, tapi Rea menahannya.
Sam melihat kekecewaan di wajah Rea. Seminggu ini memang Sam agak sibuk dan juga dia tidak sengaja jatuh dari motor, jadi membuat lukanya sobek kembali. Dia pergi perawatan hanya karena ingin bertemu Rea untuk minta maaf atas permintaan konyolnya.
“Sorry.. aku ga bermaksud membohongi kamu dan yang lain. Ada alasan kenapa aku nyaman seperti sekarang. Aku pasti cerita, tapi gak di sini.” Kata Sam akhirnya.
Rea hanya mengangguk tanpa banyak bicara lagi.
“Thanks,, gimana tadi sama Alden? Jadinya balikan?”
“Kok kamu tau? Kamu nguntit ya?” Rea benar-benar terkejut.
Dia yakin di sana tidak ada Sam ataupun temannya si Boy. Pikiran Rea berimajinasi kalau Sam memasang Cctv diam-diam di cafe itu.
“Aku lihat kamu masuk tadi berdua Alden.”
“Ooo.. dia cuma balikin uang sih,, apa dia udah balik ke rumah?”
“Belum.. kamu tau sendiri kan Alden itu keras kepala.” Jelas Sam dengan suara pelan.
Rea sudah memberikan anestesi dan pasti itu membuat Sam tidak nyaman. Tidak lama Valen datang sudah dengan menggunakan sarung tangan dan masker.
Rea mundur di belakang Valen, sementara Valen memeriksa wajah Sam dari dekat.
“Pasien baru ya?” Tanya Valen ramah.
“Ya... baru 2x.”
“Maaf, sepertinya saya pernah lihat anda, tapi di mana ya?”
Rea berdehem membuat Valen menengok. Dia membuka mulutnya dan membentuk kata Sam tanpa keluar suara. Valen mencoba mengingat wajah pria yang dia lihat di wa. Sangat berbeda 180 derajat.
“Udah kenal?”
“Oh, maaf, Sam...” Valen dengan berat hati harus mengeluarkan suara. Jantungnya berdetak lebih cepat saat ini, karena Sam terlihat sangat tampan.
“Oke,, semoga kalau perawatan di sini, aku bisa jadi tambah tampan ya..” ucapnya polos.
Valen memaki dirinya sendiri karena dia mengakui bahwa Sam tampan.
“Bisa aja kamu Sam.” kata Valen kaku.
Rea memandang mereka dari samping. Sungguh pasangan yang serasi. Yang satu cantik dan yang satu tampan. Bukankah semua tokoh novel akan berakhir seperti itu?
“Oh ya, apakah boleh minta tolong?” Kata Sam tiba-tiba.
“Tolong apa?”
“Aku minta ijin untuk ajak Rea keluar nanti sore.”
“Ngapain?” Sela Rea setengah protes.
“Kamu kan mau traktir makan.” Jawab Sam santai.
“Maaf,, kebetulan kami sedang ada karyawan yang tidak masuk, jadi, mungkin tidak bisa hari ini.” Jelas Valen sambil sesegera mungkin melakukan perawatannya.
Dalam hati Rea menjawab, sudah pasti lah.. Dia salah satu karyawan teladan dengan rekor paling sedikit tidak masuk kerja. Entah kenapa Valen sedikit pelit memberikan cuti atau hari libur padanya.
“Oke, kalau gitu aku tunggu kamu pulang aja.”
“Sam, kamu harus istirahat, kaki kamu..” kata-kata Rea terhenti karena Valen tiba-tiba berdiri. Dia sudah menyelesaikan perawatan Sam.
“Tunggu 15 menit ya..Terimakasih sudah datang di klinik kami, Sam.” “Oh iya, senang bisa ketemu kamu lagi.” Kata Valen ramah.
Valen berjalan keluar ruangan meninggalkan Rea dan Sam. Rea langsung memukul tangan Sam. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa Sam bilang seperti itu di depan bosnya.
“Jadi, kita mau makan apa?” Sam tampak tidak menghiraukan ocehan Rea.
“Makan orang.” Jawab Rea kesal.
Sam tertawa kecil. Dia menemukan hobi baru sekarang. Mengerjai Rea yang polos.
“Oke, sorry.. " "Aku ingin makan sate. Gimana?” Lanjut Sam dengan nada serius.
“Sate apa?”
“Sate orang.”
“Saaaam....” Rea sudah habis kesabaran. Dia sampai tidak sadar kalau dia berteriak. Suaranya pasti terdengar sampai keluar.
Sebenarnya Rea senang bisa melihat Sam kembali berada di sini. Dia kira Sam marah karena kemarin pergi begitu saja dari cafe.