
Hampir setiap pagi Rea datang dengan perasaan was-was. Dia harus menghadapi berbagai hal yang berbeda setiap harinya. 2 hari lalu Sam, kemarin Valen, dan sekarang dia harus menghadapi Alden.
Rea sudah mencari-cari lowongan pekerjaan untuk antisipasi jika masalah ini tidak kunjung selesai.
Alden sudah menunggu Rea. Dia menarik Rea ke belakang klinik yang terhubung dengan gudang. Di sana memang sepi, tapi itu tempat yang strategis untuk bicara.
“Alden lepasin.” Teriak Rea.
Alden melepaskan tangan Rea. Dia duduk di bangku kayu yang sedikit basah karena embun.
“Maafin aku Re.. aku menyesal.” Ucap Alden untuk kesekian kalinya.
“Gue udah maafin lo.” Ucap Rea informal. Dari lubuk hatinya, Rea memang sudah memaafkan Alden, tapi bukan berarti dia setuju pada tindakannya.
“Makasih Re.. aku tau kamu gadis yang baik.” Alden kembali memegang tangan Rea. Ada kesedihan di mata Alden sehingga Rea membiarkan Alden melakukan apa yang dia mau.
“Kamu tau Re.. keluargaku bahkan tidak peduli padaku, tapi kamu selalu ada dan bantu aku.”
Rea memutar bola matanya. Dia mengakui bahwa dia rela membagi gajinya untuk Alden karena dia sedang bucin dan belum sadar. Selebihnya, dia hanya melakukan layaknya orang pacaran. Mengirim makan, memperhatikan lewat WA, dan kencan setiap malam minggu.
“Kamu dari keluarga kaya. Kembali saja ke keluarga mu, maka problem akan selesai.” Ucap Rea santai.
“Kamu tau posisi aku Re.. aku hanya anak angkat. Aku ga berharga di mata mereka. Dad memang kasih aku uang, tapi tidak dengan kasih sayang.” Alden mulai membuka cerita.
Rea pikir ini adalah awal yang bagus. Dia yang tadinya ingin meninggalkan Alden, kini mulai mendengarkan pria itu, dan Rea duduk di sampingnya supaya mereka bisa bicara lebih nyaman.
“Sam selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan Dad selalu memuji dia karena dia pintar.”
Rea mengangguk setuju.
Alden benar. Sam memang pintar, tampan dan ternyata kaya. Dia adalah paket komplit.
“Aku yakin papa kamu berusaha untuk bersikap adil.” Hiburnya.
“Enggak Re..Sam mengambil satu-satunya yang berharga dari aku. Karena itu aku benci dia.” Tubuh Alden bergetar hanya dengan mengingat Sam saja. Dia mengepalkan tangannya karena emosinya mulai membuncah. Reaksi ini sama seperti ketika Sam menceritakan Alden.
Rea menepuk pundak Alden untuk menenangkannya. Tapi, Alden malah memandang Rea, lalu memeluknya.
“Cuma kamu yang tersisa sekarang Re..” ucap Alden dengan sedih.
“Aku akan selalu jadi temen kamu Den..kamu bisa cerita kapanpun kamu mau.”
“Kenapa kita ga balikan Re..”
“Karena dia pacar gue." Sebuah suara yang tidak asing mengagetkan mereka berdua.
Sam berdiri tak jauh dari mereka. Sorot matanya yang tajam memandang Alden yang sedang bersama Rea.
Ya, ini bukan kebetulan. Sam sebenarnya ingin meluruskan apa yang terjadi dengan Bu Hera pada Valen. Bu Hera sebenarnya alergi makanan, bukan salah treatment seperti yang Valen tuduhkan. Tapi, dia tidak menemukan Rea. Jadi Sam mengecek Cctv klinik melalui ponselnya. Dia melihat Alden bersama Rea di gudang belakang, dan Sam segera ke sana.
"Wah.. Lo sudah sembuh?" sindir Alden.
"Come on Alden.. Lo udh pernah lakuin yang lebih parah lagi."
"Apa yang gue lakuin itu ga sebanding sama perlakuan lo.." Alden sudah melayangkan tinjunya, tapi dengan sigap Sam menahannya.
Tampak jelas mata Alden memerah. Terlebih ketika Rea bersembunyi di belakang Sam. Alden kesal karena Sam merebut semua yang Alden miliki.
"Rea, lo pergi ke dalem." Perintah Alden.
"Tidak.. Kamu yang pergi Den.." Kata Rea terbata. Dia takut melihat Alden yang emosi.
"Tunggu di mobil." Kata Sam ikut mengusir Rea.
Dia memberikan kunci mobilnya, tapi Rea tetap diam di tempatnya.
"Cepat!" Suara Sam kali ini membuat Rea mau tidak mau pergi dengan perasaan khawatir.
Setelah Rea pergi, Alden segera menghajar Sam. Dia memukuli nya berkali-kali hingga Sam terjatuh.
Sam hanya diam dan tidak membalas. Setelah Sam babak belur, Alden baru menghentikan kemarahannya.
"Sudah puas Alden Sebastian?" Sam berdiri sambil memegangi ulu hatinya.
"Dasar kalian manusia gila." Alden berteriak kesal. Dia pergi meninggalkan Sam yang kini sedang tertawa.
Alden mewati mobil Sam. Dia melirik ke arah mobil Sam dan pandangannya bertemu dengan Rea. Rea terperangah ketika Alden memandanginya. Dia tampak begitu emosi, tapi Alden tidak terluka, berarti...
"Astaga Sam." Rea berteriak ketika Sam masuk ke mobil. Wajahnya babak belur. Ada darah keluar dari pelipis dan sudut bibirnya.
"Gue harus marahin Alden."
Sam menahan tangan Rea yang hendak keluar dari mobil untuk mengejar Alden.
"Bantu aku obati luka ini dulu."
"Nanti gaji aku di potong lagi." Ucap Rea keceplosan.
Sam tersenyum kecil. "Udah aku atur.. Gaji mu tidak akan di potong. Aku sudah bilang Valen soal Bu Hera. Dia hanya alergi makanan bukan karena kamu."
"Serius?" ada nada lega yang terselip dalam ucapan Rea.
Sam mengangguk pelan. Dia mulai menjalankan mobilnya tanpa persetujuan dari Rea lagi.
Sepanjang jalan, Sam hanya diam. Rea pun tidak berani bertanya kenapa Sam tidak membalas Alden. Dia hanya ingin secepatnya mengobati Sam karena sepertinya pria itu tampak kesakitan.