
Alden memandang Sam yang berdiri diam seperti patung di balkon kamarnya. Sudah 3 jam lebih Sam berdiri di situ dan hanya memandang langit sambil beberapa kali menghela nafas panjang.
"Tuan, kenapa anda di sini?" seorang pelayan mendekati Alden, karena anak majikannya itu hanya berdiri di depan jendela menatap ke arah lantai 2.
"Tuan Sam memang sering seperti itu. Biarkan saja.. nanti dia akan masuk sendiri." ucap pelayan itu pada Alden. Dia tahu persis kebiasaan Samuel sejak kecil. Dari dulu, Sam selalu menghabiskan waktu berjam-jam di balkon seorang diri. Entah apa yang membuatnya betah berlama-lama melamun di sana.
Alden menengok kepada pelayan yang sudah bekerja sangat lama dengan keluarga Sebastian itu. "Okey, terimakasih informasinya." Alden merebut segelas teh yang pembantunya bawa, lalu berjalan pergi.
"Tuan Alden...Itu punya Tuan Ben.."
Alden tidak mendengarkan dan hanya berjalan ke lantai 2 untuk menemui kakaknya.
Pintu kamar Sam sedikit terbuka sehingga Alden dapat masuk dengan mudah. Sam menyadari kehadiran seseorang di kamarnya, tapi dia tidak menggubris orang itu.
"Kak..ini untuk mu." panggil Alden sambil meletakkan tehnya pada tembok balkon.
"Akan ku lempar kamu ke bawah kalau sekali lagi bilang kata yang menjijikan itu." protes Sam kesal karena telinganya sakit mendengar Alden memanggil dengan sebutan "Kak"
Bukannya takut, Alden justru tertawa. Sam mudah sekali terpancing emosi. Dan Alden pastikan Sam tidak akan kuat untuk melemparnya.
"Apakah kamu juga kesepian?' tanya Alden yang mulai lebih serius.
Alden selama ini tidak menyadari, jika seorang Samuel pun sama seperti dirinya. Sejak kecil, Sam jarang sekali keluar untuk bermain. Hampir 24 jam dia habiskan waktu di kamar.
Sam tidak mempunyai teman, kecuali 3 orang yang tahan bermain dengannya, yaitu Reno sepupu Sam, Juna yang sedikit aneh, dan juga Ericka si dokter yang cantik. Mereka rutin ke rumah, jika Ben meminta mereka untuk bermain dengan Sam. Lebih dari itu, Sam tidak akan berkomunikasi dengan orang lain. Jadi, Sam pasti kesepian.
Bedanya, Alden kesepian karena dia merasa tidak punya keluarga, tapi kalau Sam, dia kesepian di tengah keluarga, pendidikan dan kekayaan yang dimiliki.
Ternyata betul apa yang pernah Alden baca, jika ketiga hal itu tidak menjamin seseorang untuk bahagia. Yang membuat bahagia adalah kebersamaan keluarga, kesehatan dan juga pikiran yang positif.
"Sam, aku sudah berada di sini, kamu juga sudah sehat, jadi apalagi yang kamu pikirkan?" tanya Alden lagi mencoba untuk mengorek informasi dari kakaknya.
"Den, jika kemarin Dad dan Rea tidak selamat, aku akan sangat merasa bersalah dan makin membenci diri ku sendiri." kata Sam pelan. Dia menyadari jika akhir-akhir ini pikirannya menumpuk seputar Rea dan Ben. Sam menyesal karena tidak mendengarkan Rea untuk kembali ke Indonesia. Dan Sam juga merasa bersalah karena tidak pernah bertanya tentang keadaan Ben selama di America. Ya, dia kesal pada Ben yang telah menyembunyikan masa lalu keluarga mereka. Jika saja Ben memberitahu dia dan Alden sejak dulu, Sam tidak akan pernah kabur selama ini. Selain itu, kejadian kecelakaan ini pun tidak akan terjadi.
"Pikiran yang sederhana?" tanya Sam bingung.
"Haduh, aku rasa otak mu rusak karena terlalu banyak belajar." "Maksudnya, hal apa yang akan kamu lakukan supaya tidak memikirkan masalah ini lagi."
"Ya, aku rasa aku perlu menikah dengan Rea." ucap Sam tiba-tiba. Satu-satunya cara supaya berhenti memikirkan perasaan bersalahnya pada Rea, adalah dengan membuat Rea berada di sisinya.
"Ya, itu ide yang bagus."
"Kamu benar-benar sudah melepaskan Rea?" Sam kini menatap Alden dengan intens.
"Hey, kamu pikir Rea mau menerima ku lagi, setelah aku memalak dia dan memukuli mu?" Alden menanggapi dengan tertawa. "Yang belum bisa move on justru Valen."
"Valen?"
Sam mengerutkan dahinya. Dia kembali teringat kejadian beberapa waktu lalu di America, ketika tidak sengaja bertemu Valen di rumah sakit. Valen bilang jika dia sedang ada pekerjaan di sana. Tidak hanya itu, Valen juga kerap mengajak Sam untuk makan bersama. Sam tidak bisa menolak karena Valen selalu menunggunya di rumah sakit.
Sebenarnya, Sam tidak terlalu mempersoalkan Valen, tapi sepertinya Valen memang pantang menyerah. Bahkan, seperti yang Sam lihat tadi, Lidia juga membela Valen. Pasti wanita itu ingin mendekati ibunya untuk mengambil hati Lidia.
"Beli lah sebuah cincin yang bagus Sam. Dad akan mengadakan acara makan malam sabtu ini." Alden bersandar membelakangi tembok balkon, sehingga dia bisa berhadapan dengan Sam.
"Tidak perlu mengurusi Valen, karena aku yang akan mengurusnya." lanjut Alden sambil mengerlingkan satu matanya pada Sam.
"Kamu sungguh menjijikkan." Sam mengambil teh yang tadi Alden taruh di balkon, lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
"Kak, kenapa tinggalkan aku sendiri?" Alden mengejar Sam dan merangkul pundaknya dari belakang.
"Alden Sebastian. Keluar sekarang juga dari kamar." teriak Sam kesal.
Begitulah cara Alden menghibur Sam. Dia tidak senang ketika melihat Sam yang terlihat lemah dan mengalah. Dia justru senang kalau kakaknya itu berteriak dan memarahinya.