When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Rea yang beruntung



Sesampainya di klinik, Rea langsung menghampiri Gadis. Dia sudah terlambat 2 jam, dan pasti akan kena omel oleh Valen.


"Valen belum datang." kata Gadis santai.


Rea menghela nafas lega. Dia duduk di kursi resepsionis tempat Gadis biasa berjaga. Gadis memberikan minum pada Rea supaya sohib nya itu lebih rileks. Dia tampak sangat panik sampai keringat mengucur dari dahinya.


"Ke mana aja sih lo?" tanya Gadis kepo. Rea jarang sekali terlambat. Jika ada rekor MURI, mungkin dia bisa mendaftar untuk kandidat karyawan ter rajin.


"Gue habis ke rumah sakit."


"Lo, sakit?" Gadis memegang kedua lengan Rea, lalu membolak balikan badannya.


Rea langsung menepis tangan Gadis. "Gue cuma nemenin, Sam." "Dia baru saja diangkat menjadi Dokter di rumah sakitnya."


"Astaga...bentar lagi lo jadi sultan." Gadis memeluk Rea dengan senang. Rea adalah wanita yang beruntung. Dia bisa berpacaran dengan Sam yang merupakan paket komplit. Tampan, pintar, dan kaya. Plus berondong tentunya. Usia Sam dan Rea terpaut 3 tahun.


"Lebay banget lo."


"Lo memang spesialis para berondong. Kemarin Alden, sekarang Sam." puji Gadis dengan jujurnya.


Rea tersenyum miris. Pujian Gadis itu sedikit menusuk hatinya karena mengingatkan soal umur.


"Untung lo udah ga sama Alden."


Alden. Rea jadi teringat Alden. Sejak Sam memukulnya, Alden tidak pernah muncul lagi. Nomor Alden tidak aktif dan dia juga tidak membaca pesan Rea.


Rea mencoba menelepon Alden. Dan kali ini ada nada dering tersambung. Rea menunggu dengan cemas karena Alden tidak kunjung mengangkatnya. Tapi Rea mencoba lagi. Dia terus mencoba dan baru berhasil pada teleponnya yang kelima.


"Halo Den.."


Diam. Tidak ada suara.


"Den kamu baik-baik saja?"


"Kalau kamu cuma mau bicarakan Sam, aku akan tutup teleponnya." Terdengar suara Alden yang sedikit parau.


"No.. aku mau tanya kondisi kamu." Ucap Rea cepat sebelum Alden menutup teleponnya lagi.


"Ya.. aku baik-baik saja."


"Syukurlah.. sejak kemarin aku telepon kamu, tapi gak aktif."


"Re.. aku harus kerja, aku tutup teleponnya."


"Kerja di mana?" Rea terkejut karena perkataan Alden.


"Tempat yang dulu."


"Club?"


Sambungan terputus. Rea memasukan ponselnya ke dalam saku. Perasaannya tidak enak. Alden seperti tidak baik-baik saja.


"Kenapa telepon Alden, Re?" Tanya Gadis yang sejak tadi mendengar perkataan Rea dengan Alden.


"Enggak, gue kepikiran Alden."


"Re.. Lo sadar dong.." Gadis memegang kedua bahu Rea, lalu kembali mengguncang-guncangkan nya.


"Alden itu masa lalu, masa depan lo itu Sam. Sa-mu-el." Ucap Gadis emosi.


"Iya, tapi Alden itu kan Adi...."


"Ehem"


Kata-kata Rea terputus karena Valen berdehem di depan mereka. Karena terlalu asyik mengobrol, mereka tidak sadar kalau Valen sudah berdiri sejak tadi mengamati Rea dan Gadis.


"Emm..itu .." Gadis tidak bisa menjawab.


"Rea...kamu bisa ikut saya?" Valen berjalan masuk ke ruangannya tanpa mendengar jawaban Rea. Mau tidak mau, Rea masuk ke dalam.


Valen dan Rea kini duduk berhadapan dan saling terdiam.


Rea sebenarnya malas untuk masuk ke ruangan ini, karena tidak jauh-jauh Valen pasti akan menanyai dia tentang Sam.


Rea sudah bosan mendengar kan Valen. Dulu karena penampilan Sam yang sedikit culun, Valen langsung menolak Sam. Sekarang, dia malah selalu penasaran dengan apa yang Sam lakukan.


"Re.. aku dengar Sam praktek di rumah sakit Husada?"


Tebakan Rea benar. Entah Valen pura-pura bodoh atau memang tidak tau kalau sekarang Sam adalah pacarnya.


"Iya betul Bu.. jadi ibu tenang saja, dia gak akan bolak-balik ke sini lagi."


"Kamu cemburu kalau saya tanya tentang Sam?"


"Emm.. masalahnya, saya gak ngerti kenapa ibu terus penasaran dengan Sam. Saya kira ibu tidak tertarik pada Sam." oceh Rea dengan nada kesal. "Kalau ditanya cemburu atau tidak, ibu akan tau jawabannya kalau ibu sudah punya pacar." lanjutnya.


Valen hanya menelan ludah. Ucapan Rea langsung menghantam otak sekaligus hatinya. Tapi Valen segera mengendalikan ekspresinya dan berusaha untuk bersikap biasa. Dia tersenyum pada Rea.


"Sorry Re.. bukan maksud saya untuk membuat kamu cemburu." "Oh iya, kemarin aku ketemu Alden di club." Valen mengganti topik pembicaraan.


Rea melirik ke arah Valen. Jadi benar kalau Alden kembali bekerja di club.


"Dia kelihatan kesal dan marah."


"Alden ngomong apa aja bu?" Tanya Rea mulai penasaran.


"Tapi kan.. kamu mantannya.. kenapa masih peduli?" Valen menaruh curiga pada Rea.


"Saya peduli karena dia sedang ada masalah dengan keluarganya, Bu."


"Maksud mu? Bukannya Alden tidak punya keluarga?" Valen ingat jika Alden mengatakan tidak memiliki siapapun.


"Alden punya keluarga, Bu. Dia juga punya seorang kakak." jelas Rea.


Valen mencoba mencerna kembali dan menyusun sekenario dalam otaknya. Apakah Alden berbohong padanya atau justru berbohong pada Rea?


"Bu, apakah ibu tahu kalau Alden itu adik Sam?" Rea mulai memahami apa yang Valen pikirkan. Alden pasti tidak mau mengakui Sam sebagai keluarganya.


"Sam, maksud kamu Samuel Sebastian?" ulang Valen sambil menutup mulutnya yang saat ini melongo.


"Ya, Alden Sebastian itu adik Sam." Tegas Rea.


"Astaga, Rea.. Kamu.. " Valen tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi. Kenapa Rea bisa begitu beruntung bisa berhubungan dengan 2 orang keluarga Sebastian?


"Kenapa ibu tiba-tiba membahas Alden?" Tanya Rea lagi.


"Itu...kemarin.." "Sudah lah.. Kamu kembali kerja saja."


Rea berdiri. Dia melihat perubahan sikap Valen yang sedikit salah tingkah. Ada apa dengan Valen dan Alden?


"Bu.. Seperti nya Alden sakit."


"Terus apa hubungannya sama saya?"


Rea hanya tersenyum penuh arti, lalu pergi dari ruangan Valen.


Sepeninggal Rea, Valen kembali memikirkan Sam dan Alden. Kedua pria itu sama-sama tampan dan kaya. Hanya sifat mereka yang berbeda. Orang tentu akan cenderung memilih Samuel. Dan tidak dipungkiri, Valen pun masih mengharapkan Samuel.