When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Merawat Alden



Valen memandang Alden cukup lama sampai akhirnya dia mencoba memberanikan diri untuk memegang dahinya.


"Astaga, panasnya tinggi sekali." ucap Valen panik. Dia mencoba menarik Alden bangun, tapi Alden terlalu berat.


"Den,, sadar Den. Ayo kita ke rumah sakit." Valen menepuk pipi Alden dengan cukup kencang, supaya pria itu sadar dan berjalan sendiri ke mobil. Tapi Alden tidak memberikan respon juga.


Valen memutar otaknya untuk mencari jalan lain mengobati Alden. Jika dia tidak bisa membawa pria ini ke rumah sakit, maka Valen harus membawa dokter pribadi keluarganya ke sini. Tanpa buang waktu lagi, Valen segera menelepon Dokter Lukas.


"Dokter, apakah Valen bisa minta tolong untuk obati teman Valen?" "Iya, oke, Valen Sherlock ya Dok.." "Tolong cepat.."


Urusan dokter beres. Sekarang, Valen membantu Alden untuk mengelap keringatnya dan mengganti bajunya yang basah. Valen mengambil baju sembarangan dari lemari dan kembali ke depan secepat kilat.


"Kenapa kamu berat sekali, Den." omel Valen yang begitu kesusahan untuk menggerakkan tubuh Alden. Dengan susah payah, akhirnya Valen berhasil melepaskan kaos di tubuh Alden.


Ini kedua kali Valen melihat Alden bertelanjang dada.


"Kamu sudah gila, Val." ucap Valen lirih karena dia begitu senang melihat postur tubuh Alden.


Valen menggelengkan kepala supaya dia segera sadar.


"Re, jangan tinggalin aku.." Alden kembali mengigau. Dia menarik tangan yang sedang memegangnya, dan Valen jatuh dalam pelukan Alden.


"Den, lepas..gue bukan Rea." teriak Valen yang terkejut. Apalagi posisi mereka begitu dekat. Valen bahkan sampai dapat merasakan hembusan nafas Alden.


"Kenapa lo pilih Sam daripada gue?"


'Jelas saja karena lo itu mengerikan.' jawab Valen dalam hatinya.


Valen terjebak dalam pelukan Alden cukup lama sampai Dokter Lukas datang.


"Valen, kamu sedang apa?" tanya Dokter Lukas yang segera memisahkan Valen dengan Alden.


Akhirnya Valen bisa bernafas lega. Dia berdiri cukup jauh dari Alden, takut kalau pria itu menyambarnya lagi.


"Kita bawa dia ke kamar. Kamu bantu ya.."


"Dokter gak bisa sendiri?"


"Tidak ada orang lagi di sini, nona."


Mau tidak mau, Valen maju kembali. Dokter Lukas memapah Alden, dibantu oleh Valen. Kamar Alden begitu lembab dan sedikit berantakan. Valen begitu heran kenapa ada manusia yang bisa hidup di tempat seperti ini. Sudah pasti dia juga akan sakit jika berlama-lama di kamar Alden.


Selama pemeriksaan, Valen hanya bersedekap di belakang Dokter Lukas.


"Sejak kapan dia sakit?" tanya Dokter Lukas tanpa menengok ke arah Valen.


"Aku baru menemukan dia hari ini, Dok."


"Dia sepertinya sakit tipes dan dehidrasi."


"Terus, gimana Dok? Kasih saja obat." ucap Valen yang tidak terlalu tertarik dengan penjelasan Dokter Lukas.


"Ya, ini untuk menurunkan panas saja. Nanti kalau sudah sadar, cepat bawa dia ke dokter." Dokter Lukas mengambil beberapa jenis obat dalam tasnya, lalu memberikan pada Valen.


"Aku tidak mau merawat dia." tolak Valen.


"Ya sudah, kalau begitu, biarkan saja dia sekarat." kata Dokter Lukas santai.


Valen memandang Dokter yang seumuran ayah nya itu dengan kesal.


"Ngomong-ngomong, siapa nama pacar kamu?"


"Bukan pacar, dok. Teman."


Dokter itu tersenyum kecil. Dia menepuk pundak Valen dengan penuh arti. "Ya, dia ganteng lah.. gak akan malu-maluin kalau di bawa kondangan." "Siapa namanya? Sepertinya saya pernah lihat dia."


"Namanya, Alden Sebastian."


"Alden? Pantas saja saya pernah lihat dia."


"Dokter kenal dengan dia?" Valen mulai tampak tertarik dengan pembicaraan ini.


"Ya, dulu waktu umur 10 tahun, saya pernah jaga dia." "Sorry, Val. Saya kehabisan waktu. Lain kali kita ngobrol ya.."


Valen mengangguk dan harus menahan rasa penasarannya. Dia mengantarkan Dokter Lukas pergi dari rumah Alden.


*


*


*


Valen terpaksa mengurus Alden malam ini. Dia sudah memesan bubur dari aplikasi online supaya pria itu bisa makan dan minum obat. Setelah menyiapkan semuanya, Valen kembali ke kamar untuk mengecek kondisi Alden. Pria itu tampak sudah sadar, tapi dia sedang melamun.


"Den.. kita ke rumah sakit ya.." ajak Valen. Dia duduk di pinggir ranjang Alden, lalu kembali mengecek dahinya.


"Mana Rea?" tanya Alden lemah.


"Tentu saja sudah pergi dengan pacarnya." jawab Valen ketus. Dia yang susah payah membawa Alden, tapi dia malah bertanya tentang Rea.


"Kenapa Sam bisa tahu kalau Rea ke sini?"


"Aku yang beritahu Sam." aku Valen.


Alden tertawa sinis. Dia tidak terlalu mengenal Valen, tapi dia tahu kenapa Valen bisa bertindak seperti ini. Valen pasti mengharapkan Samuel juga.


"Bagaimana kalau kita kerjasama?" ucap Alden kemudian.


"Maksudnya?"


"Kamu bantu aku supaya Rea kembali dekat denganku, dan aku akan bantu kamu untuk dapatkan Sam."


Valen berpikir sejenak. "Ide yang bagus.." "Tapi, sebelum itu, kamu harus makan dan minum obat dulu." saran Valen.


Alden mengangguk.


Valen menyuapkan bubur yang masih panas itu pelan-pelan. Ini kedua kali Valen merawat Alden yang tampak menyedihkan.


"Den, aku tahu kalau Sam itu kakak mu." Valen bicara dengan cukup hati-hati.


"Aku tidak anggap dia sebagai kakak."


"Apakah Sam melakukan kesalahan?"


"Tentu saja. Kesalahan yang sangat besar." jawab Alden dengan pandangan emosi. "Dan kamu gak perlu tahu."


Valen hanya diam saja. Alden memang tidak akan mungkin memberitahunya. Tapi, Dokter Lukas mungkin tahu tentang masa lalu Alden. Valen harus segera bertanya pada dokter itu.