When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Menangkap Valen



Makan malam yang panjang ini selesai juga. Tamu-tamu sudah pulang, dan menyisakan keluarga inti dan juga Rea.


Rea membantu pelayan mereka untuk membereskan beberapa tempat yang berantakan. Sedangkan Sam, Alden dan Ben sedang berbincang untuk membagi tugas mereka di rumah sakit besok.


Lidia mendekati Rea yang masih mondar mandir mengembalikan vas bunga ke tempatnya.


"Biarkan saja, Re." Lidia menghentikan Rea supaya Rea tidak mengangkat lagi barang-barang di rumah itu.


"Tante..tidak apa-apa. Rea sudah biasa."


"Re, tante minta maaf atas kejadian tadi." Lidia mengambil tangan Rea. Dia merasa bersalah karena kejadian tadi. Lidia memang sengaja untuk memainkan sedikit drama karena Valen telah menyia-nyiakan Sam. Sebenarnya, Lidia lebih menyukai Rea untuk menjadi menantunya.


"Tante, jangan bilang seperti itu. Rea baik-baik saja." Rea memegang tangan Lidia yang sudah berkeriput.


"Apakah Sam sudah memberikan itu?" tanya Lidia penasaran. Alden memberitahu Lidia jika Sam berencana melamar Rea malam ini.


"Memberikan apa tante?"


"Mom!" teriak Sam yang baru saja muncul bersama Ben.


"Sam..kamu bikin kaget saja."


"Ayo, aku antar kamu pulang." Sam meraih tangan Rea, lalu memaksanya untuk pergi.


"Om, Tante Rea balik dulu." ucap Rea setengah berteriak karena Sam berjalan begitu cepat.


"Sam.. pelan-pelan dong."


Sam melepaskan Rea saat mereka berada di taman, tempat pertama kali mereka berpura-pura untuk jadian waktu itu.


Suasana taman begitu gelap. Rea duduk di bangku bersebelahan dengan Sam. Malam ini sungguh banyak sekali pertanyaan dalam benak Rea. Dia bertanya-tanya dalam hati, kenapa Sam tidak mengajaknya pulang dan membawa Rea ke tempat yang gelap dan sepi seperti ini.


*


*


*


"Kenapa sih Sam begitu senang pada Rea?" Valen memukul stir mobil dengan emosi. Dia masih kesal karena semua berpihak pada Rea, dan tidak ada yang memihak dirinya. Valen keluar, berencana untuk mengikuti Rea dan meluapkan emosi pada kedua orang itu. Dia berjalan cepat sampai akhirnya sampai di taman.


"Re....a." teriakan Valen tertahan karena seseorang membekap mulutnya. Orang itu menarik paksa Valen dan membawa wanita itu sampai ke garasi. Valen tidak dapat melihat siapa yang menbekapnya, karena orang itu menggunakan masker dan topi. Tenaga orang itu juga begitu kuat, sehingga usaha Valen untuk melapaskan diri hanya sia-sia saja.


Setelah sampai di garasi yang sepi, orang itu baru melepaskan Valen.


"Lo siapa?" tanya Valen ketakutan. Dia sedikit trauma karena peristiwa di club tempo lalu di mana orang yang tidak dikenal hampir saja mencelakainya.


"Alden?" Valen terperangah mengetahui orang yang sudah melepas masker dan topinya. Pantas saja tenaga Valen tampak sia-sia melawan Alden.


"Sudah aku bilang, jangan dekati Sam lagi." tegas Alden pada Valen. Beberapa hari lalu, Alden sudah memberikan Valen peringatan untuk berhenti mengejar Sam. Tapi, Valen tampak tidak menggubris peringatan Alden. Dia tetap terjang badai dan bahkan sampai menempel terus pada Lidia.


"Sebelum janur kuning melengkung, aku akan tetap mengejar Sam." Valen tersenyum licik. Bagi Valen yang punya segudang rencana, kembali mendekati Sam bukan soal yang sulit. Dia sudah bekerja di rumah Sakit Husada, jadi dia bisa leluasa mendekati Sam di sana.


"Valencia." Alden yang emosi, melangkah maju. Dia memepet Valen sampai wanita itu terhimpit ke tembok. Dalam beberapa detik saja, Valen sudah berada dalam kungkungan Alden.


"Alden, kamu mau apa?" ucap Valen terbata. Dia mulai takut pada Alden yang seperti ingin menerkamnya.


"Malam ini Sam akan melamar Rea. Ini peringatan terakhir." ancam Alden tanpa melepaskan pandangan dari Valen.


Ya, dalam waktu singkat, Sam mengatur ulang rencananya melamar Rea di taman. Alden yang sudah merelakan Rea tentu saja ikut senang dengan rencana Sam itu. Dia sengaja pergi keluar karena penasaran dengan jawaban Rea. Tapi, ketika memandang ke taman, Alden malah memergoki Valen sedang berjalan ke arah Sam dan Rea. Tanpa pikir panjang lagi, Alden segera membawa Valen pergi ke sini, sebelum Valen mengacaukan rencana Sam.


"Sudah aku bilang, aku tidak peduli." Valen tetap teguh pada pendiriannya merebut Sam.


"Anda keras kepala sekali, nona." "Bagaimana caranya supaya anda menyerah?" tanya Alden lirih.


"Tentu saja, jika aku jatuh cinta dengan pria lain." jawab Valen santai. Selama ini memang banyak yang mendekatinya, tapi tidak ada yang membuat Valen jatuh cinta pada mereka.


"Oke, kalau begitu."


Alden memegang dagu Valen, sedikit mendongakan nya, lalu tanpa ragu mencium bibir wanita itu.


Valen terkejut. Dia memberontak, tapi Alden mehanan badan Valen dengan satu tangannya. Entah kenapa, Valen merasakan tenaganya habis dan lama kelamaan dia tidak melawan lagi. Dia hanya menikmati apa yang saat ini Alden lakukan.


Mereka berciuman cukup lama. Alden baru melepaskan Valen saat kesadaran nya kembali. Dia memandang Valen dengan wajah yang sulit diartikan. Sedetik kemudian, Alden meninggalkan Valen yang masih terdiam dengan lipstik yang belepotan dan bibir yang sedikit terluka.