When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Hamil



Sudah 3 hari ini Rea merasakan badannya sangat lemas. Kepalanya juga berdenyut dengan hebat. Entah karena sakit yang mendadak atau karena lelah, Rea rasanya sangat malas untuk bangun dari tempat tidur.


Sam yang melihat Rea masih tertidur di jam 10 menjadi heran. Dia mengecek dahi Rea, tapi tidak panas.


"Sayang, apa kamu ingin ke dokter?" Sam memeluk tubuh Rea yang lemas.


Mendapat pelukan dari Sam, Rea langsung merasa baikan. Tangan Rea mulai meraba dada bidang milik Sam. Tidak sampai di situ, sekarang giliran bibir Rea yang mendekat ke arah Sam untuk menciumnya. Sam yang awalnya tenang, kini merasa resah. Pertahanan dirinya jebol dan dia langsung melakukan hubungan suami istri di pagi hari. Dia sampai lupa kalau ada jadwal meeting.


Rea tertidur kembali saat Sam selesai. Dia mengganti pakaian Rea lalu menyelimutinya. Perasaan Sam tidak enak. Baru pertama kali ini Rea bertindak sangat agresif.


"Halo Dr. Andre. Apakah bisa ke rumah sebentar?"


Sam akhirnya memutuskan untuk menelepon Dr. Andre.


"Kenapa Sam? Siapa yang sakit?"


"Istri ku sepertinya sakit Om. Dia terlihat lemas, tapi tidak panas."


"Sam, kamu beli saja testpack. Kalau positif, kamu pergi saja ke dokter." Ucap Dr.Andre dengan santai. Dia sudah tidak ingin terjebak lagi dalam drama keluarga Liem, Tan atau Sebastian.


'Testpack? Tapi aku sudah memainkan nya dengan aman.' kata Sam dalam hatinya.


Dia menatap Rea yang masih tidur. Sam akhirnya mau tidak mau meminta orang untuk membelikan beberapa jenis testpack. Apa jadinya kalau Rea benar-benar hamil? Wanita itu akan sangat marah padanya karena mereka sudah sepakat untuk menunda memiliki anak.


Tidak lama, Sam mendapatkan barang yang dia inginkan. Satu kresek penuh testpack. Dia harus membeli beberapa supaya hasilnya akurat.


"Sayang,, bangun.." Sam membelai rambut Rea.


Rea, mengulet. Dia kini menatap Sam sambil tersenyum. "Apa kamu ingin mengulang lagi yang tadi?" ucap Rea dengan nada menggoda. Dia beringsut mendekatkan badannya pada Sam.


Sam menelan ludahnya. Jarang-jarang Rea yang meminta lebih dulu. Tapi dia harus menyadarkan diri untuk mengajak Rea menggunakan testpack nya.


"Ayo Sam... kenapa kamu jadi dingin seperti ini.." Rea mulai merengek.


Karena IQ Sam di atas rata-rata akhirnya Sam memutuskan menggendong Rea ke kamar mandi. Dia bisa mendapatkan urin Rea sekaligus melakukan hal yang lain di sana.


*


*


*


Sam membelalakan mata tak percaya ketika melihat garis 2 pada 5 alat testpack yang dia coba. Dia akhirnya akan punya anak.


"Re..." panggil Sam. Rea yang sudah hampir terlelap kembali bangun karena suara Sam begitu keras.


"Lihat ini." Sam menunjukan testpack yang ada di tangannya pada Rea.


Rea langsung menyambar alat itu, lalu mengamati dengan tidak percaya.


"Sam, ini maksudnya apa?" pekik Rea.


"Kamu hamil sayang.." Sam memeluk Rea dengan perasaan bahagia.


"Tapi bagaimana mungkin?" Rea mengingat kembali kapan Sam bermain dengan tidak aman. Rea teringat akan malam setelah dia bertemu Aeris dan Tiffany. Dia baru selesai menstruasi dan Sam tidak mendengarkan Rea untuk berhati-hati.


"Sam..."


Sam memeluk Rea sambil mengusap punggungnya. "Iya sayang.. kita akan punya Baby.." kata Sam senang.


"Kamu ganti parfum?" Rea mendorong badan Sam karena tiba-tiba dia merasa mual.


"Aku tidak pernah ganti parfum Re.. Ini sama seperti yang dulu." Sam mencium kembali bau di badannya.


"Sudah lah.. sana kerja. Aku mual mencium bau badan mu." Rea mendorong Sam sampai dia hampir terjatuh di ranjang.


'Tadi saja minta jatah, sekarang malah mengusir.' batin Sam.


"Kita harus ke dokter sayang.." kata Sam lembut.


"Ya, kamu pergilah dulu.. aku akan menyusul ke rumah sakit dengan sopir saja." kata Rea sambil menutup hidungnya.


Sam akhirnya menuruti keinginan Rea. Dia pergi ke rumah sakit meskipun sebenarnya Sam memikirkan keadaan Rea.


Setelah Sam pergi, Rea memandang dirinya di cermin.


'Hamil?' Rea mengusap perutnya yang masih datar sambil tersenyum. Ya, rencananya menunda anak memang hancur berantakan karena Samuel Sebastian, tapi dia juga senang jika mempunyai anak meskipun nanti nya dia akan repot sendiri.