When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Permintaan Sam



Akhirnya setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai ke warung sate madura. Warung itu sederhana tapi sangat ramai.


Rea turun dari mobil di ikuti dengan Sam. Dia cukup terkejut dengan pilihan Sam. Warung ini jauh dari kata mewah. Ini warung di pinggir jalan dengan 4 meja kayu panjang dan kursi berjejer.


“Bang.. 2 porsi ya.. tambahin bawang merahnya.” Ucap Sam setengah berteriak.


Rea memilih duduk di kursi tanpa meja, karena 4 meja yang ada sudah banyak terisi dan tampak sedikit sesak. Dia tidak bisa membayangkan duduk dekat dengan Sam di meja itu. Pasti tidak akan muat.


“Biasa ke sini?” Rea memulai pembicaraan.


“Hmm.. sama Boy..”


“Ooo.. gak sama cewe?” Tanya Rea tanpa sadar. Ini pertanyaan yang tidak wajar diajukan mengingat Rea baru saja kenal Sam.


“Kamu bukan cewe?” Sam menyelidik wajah Rea.


“Apaan si Sam.” Rea memukul lengan Sam. Ini menjadi kebiasaan baru Rea karena Sam begitu pintar memainkan kata-kata.


Tapi itu membuat suasana kembali cair dan tidak canggung seperti di mobil.


“Sam.. boleh bicara, maksudnya boleh tanya?”


“Silakan..”


“Aku sudah tau kalau kamu ini kaya raya. Jadi kenapa tetap makan ke sini?” Tanya Rea polos.


Dia sangat heran pada Sam. Kenyataannya, setelah pengakuan Sam tadi siang, Sam tampak terlihat lebih keren.


Sam tertawa mendengar perkataan Rea. “Terus aku harus makan di mana? Di mobil?”


“Serius Sam..”


“Oke..oke..” Sam menyerah karena Rea mulai kesal. “Pertama, makanan di sini enak. Kedua, yang kaya itu keluarga ku..” Sam melepaskan kacamatanya membuat jantung Rea berdetak kencang. Dia perlu memastikan mulutnya tidak terbuka dan juga ada air liur yang keluar.


“Yaa,, maksudnya, kenapa harus mau tampil jelek dan ga punya uang?”


“Oooo.. yaaa.. karena ini lebih nyaman. Dengan seperti ini kamu akan tau siapa yang bisa dijadikan teman dan yang tidak.” Jelas Sam sambil menatap Wanita di depannya.


“Tapi kan ini jadi buat Valen kabur.” Kata Rea akhirnya. “Kamu pertama ingin kenalan sama Valen kan?”


Pembicaraan mereka terputus karena makanan mereka datang. Bau daging di bakar plus bumbu kacang membuat Rea menelan ludahnya. Dia menerima dengan senang waktu abang sate memberikan pesanan mereka.


Sam melihat Rea makan dengan lahap tanpa malu-malu. Dia bahkan menghabiskan sampai bumbu-bumbunya dan menyisakan piring yang hampir bersih dan tusuknya.


“Makasih ya Sam.. Mungkin ini terdengar aneh. Kita ketemu secara kebetulan dan kamu sering menolong aku.”


“Makasih juga karena sudah merawat wajah aku sampai ganteng begini.”


“Astaga..” pekik Rea.“Oh iya,, soal Alden...”


Sam tiba-tiba tersedak. Dia terbatuk-batuk sampai memegangi dadanya. Rea segera mengambil teh yang mereka pesan. Dia memberikan pada Sam sambil menepuk punggungnya.


Beberapa saat menunggu akhirnya Sam bisa kembali tenang.


“Ada apa dengan Alden?”


"Ya itu, yang aku mau tanyakan. Ada apa kamu dengan Alden? Kenapa Alden kabur dan kenapa kalian tidak akur?"


Pertanyaan Rea kembali membuat otak Sam bekerja dengan cukup keras.


Dia pun mengingat kembali perubahan Alden. Waktu kecil mereka memang tidak terlalu dekat, tapi mereka masih bisa bermain bersama. Sikap Alden berubah drastis sebelum Sam pergi ke America. Dia bahkan tidak akan kembali ke rumah jika Sam ada di situ. Sam kesulitan berkomunikasi dengan dia, karena dia selalu menghindar. Dan Alden selalu hampir saja mencelakan kan Sam. Kemarin bukan yang pertama. Dia pernah memutuskan kabel Rem mobil Sam, sampai Sam menabrak tiang listrik.


Entah karena alasan anak kandung dan anak angkat, atau ada alasan lainnya. Sam pun masih bingung. Hanya Ben yang mungkin tau sesuatu.


“Kalau mau aku ceritain, sepertinya kita bisa sampai subuh di sini.” Canda Sam.


“Ya kan bisa to be continue..” Rea kecewa karena Sam tampak menghindar.


Sam memandang Rea. Dia menelisik wajah Rea dengan teliti hingga membuat Rea risih.


“By the way, apa yang bikin Alden tertarik sama kamu ya?”


Sam berhasil menghindar dari pukulan Rea. Dia tertawa puas melihat Rea yang kesal.


“Iya,, aku tau.. aku tuh ga cantik.. dan kamu itu ganteng,,,pasti banyak yang deketin kamu kan?”


“No.. aku tidak pernah pacaran.” Jawab Sam dengan suara lirih. “Aku tidak mudah akrab dengan wanita.” bisiknya.


“Ni sama aku bisa..”


“Kan kamu bukan wanita..” Sam tertawa lagi.


Memang Rea jauh dari kata cantik. Tapi Rea orang yang polos dan tulus. Sejak pertama di cafe Milan, Rea mau membayar semua tagihan dan juga dia memakan habis makanan yang sudah dipesan tanpa sungkan. Ini juga alasan dia untuk tidak menampilkan diri sebagai orang kaya, karena kebanyakan yang mendekati dia hanya penuh kebohongan dan kepalsuan. Alden pasti juga senang dengan kepribadian Rea yang apa adanya ini.


“Re,, soal kerjasama itu..” Sam memulai percakapannya.


“Oh iya, apa yang bisa aku bantu Sam?”


“Aku tau ini terkesan begitu egois. Tapi, aku ingin Alden kembali ke rumah dengan bantuan dari kamu.”


“Maksudnya?”


“Kamu berteman sama Alden dan cari tau kenapa dia bisa benci sama aku dan kenapa dia ga bisa kembali ke rumah. Tapi..” Sam menghentikan kata-katanya sejenak. “Kita harus jadi pasangan. Supaya Alden ga macam-macam sama kamu dan supaya aku bisa awasi kamu.”


Raut wajah Rea berubah 180 derajat. Meskipun sudah terisi makanan, dia tidak bisa mencerna ide Sam. Entah karena Sam yang terlalu cerdas, atau Rea yang terlalu bodoh.


“Jadi?" tanya Sam dengan tidak sabar.


"Sam, ini terlalu rumit. Aku tidak ingin terlibat masalah kalian." tolak Rea dengan halus. "Tapi, aku akan coba bicara dengan Alden."


Sam hanya mampu tersenyum kecil. Dia memutuskan untuk diam karena tidak ingin menekan Rea.


*


*


*


Rea tidak bisa tidur malam ini. Otaknya hanya memikirkan satu nama, yaitu Sam. Permintaan Sam tampak begitu konyol. Berpura-pura pacaran dengan nya? Apa Sam tidak salah bicara?


'Tentu saja itu cuma khayalan mu saja, Re.' batin Rea dalam hati. Karena jauh di lubuk hati Rea, wanita itu mulai nyaman berada di dekat Sam.


Ponsel Rea berdering. Dia mengangkat ponselnya tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Rea, lo jalan sama Sam?" suara itu terdengar begitu keras membuat Rea terpaksa menjauhkan ponselnya.


Rea lalu menatap layar ponselnya karena dia tidak tau siapa yang menelepon. Ternyata nomer asing.


"Ini Boy."


"Darimana lo tau nomer gue?" tanya Rea dengan bahasa informal nya.


"Itu bukan soal yang sulit."


"Kamu hack ponsel aku ya?" teriaknya histeris.


Boy tertawa di ujung sana. Dia menjelaskan jika Sam pulang dengan wajah kusut seperti baju yang belum di setrika.


"Jadi, kamu menolak permintaan Sam? Pantas saja wajahnya sedih seperti orang patah hati."


"Boy, apakah masalah Alden dan Sam seserius itu?"


"Lo tau kenapa kaki Sam di jahit? Itu karena Alden, Re."


Rea bangun dari ranjangnya karena terkejut.


"Ya, pikirkan lagi Re. Sam memang butuh kamu untuk bicara dengan Alden."


Rea mengangguk. Dia lupa kalau mereka sedang berbicara di telepon, jadi Boy tidak akan dapat melihat persetujuannya.