
Rea mulai terbangun dan megulet. Semalam tidurnya sungguh sangat nyenyak.
"Selamat pagi, Nona." sapa pembantu Sam yang sedang membuka tirai.
Rea terperangah. Dia memandang kamar yang dia tempati sekarang. Kamar ini begitu luas seperti kamar hotel. Rea mencoba mengingat apa yang terjadi. Semalam dia sedang kondangan berdua Sam. Rea melihat Sam mengobrol dengan teman dan sepupunya, lalu dia minum sampai 4 gelas. Tapi setelah minum, kepalanya pusing dan Rea tidak mengingat apapun lagi.
Bibi yang menjaga Rea kini sudah berdiri tepat di depan Rea. Dia tersenyum senang karena melihat Rea sudah sadar. Bibi sempat berpikir kalau Rea itu sudah tidak bernafas. Ya, tidurnya begitu nyenyak seperti orang mati.
"Maaf, ini di mana ya?" Tanya Rea bingung.
"Ini rumah Tuan Sebastian."
"Apa?" Rea melompat dari ranjang. Dia terkejut kenapa Sam membawa dia ke rumahnya. Rea langsung berpikiran macam-macam pada Sam.
"Tenang non.. kemarin Tuan langsung pergi setelah mengantar anda ke sini." Jelas bibi yang tahu apa isi kepala Rea.
"Sekarang Sam mana?"
"Sam sedang pergi sebentar." Sebuah suara mengejutkan Rea kembali.
Sosok itu berjalan mendekati Rea. Dia mirip dengan Sam hanya rambutnya sudah beruban. Di samping nya ada seorang wanita paruh baya yang masih cantik untuk ukuran seusianya.
"Halo, nona. Perkenalkan, saya Daddy Sam, panggil saja om Ben.. dan ini Mommy Sam, Tante Lidia." Ben tersenyum ramah pada Rea.
Glek.
"Saya Rea om." Rea mengucapkan itu dengan suara tercekat. Dia sedang berhadapan dengan biangnya sultan sekarang. Rea begitu gugup dan tidak tau harus bagaimana. Dia hanya bisa menunduk tidak berani menatap orang tua Sam.
"Kenapa kening kamu?" tanya Lidia.
Rea memandang cermin. Dia seperti mendapat sambaran petir bertubi-tubi. Belum sempat Rea mencerna semua ini, dia harus mendapati jidatnya benjol sebesar kelereng.
"Mungkin jatuh Tante." Jawab Rea bingung.
"Ayo, biar suami saya obati kamu dulu." ucap Lidia prihatin.
"Sekalian, om dan tante ingin bicara pada mu." kata Ben dengan nada yang tenang.
Rea mengangguk lemah. Dia sudah lemas dan hampir pingsan, karena perkataan Ben.
"Tapi, bolehkan Rea mandi dulu, Om, Tante?"
"Baiklah. Kami tunggu kamu di meja makan." jawab Lidia sambil mengelus punggung Rea.
Rea mengambil ponselnya, lalu dia berlari ke kamar mandi, meninggalkan Ben dan Lidia yang masih terus mengamati dia.
"Bagaimana?" tanya Ben pada istrinya.
"Dia lucu." Lidia tertawa kecil. Sebenarnya Lidia ingin tertawa sejak tadi, tapi dia tahan karena tidak enak pada Rea.
"Sudah lah. Ayo.. kita tunggu dia. Pasti akan lama." Ben merangkul istrinya untuk pergi ke ruang makan.
*
*
*
Saat ini Rea hanya dapat memainkan ujung pakaiannya. Dia sudah mandi selama 2 jam sambil terus berusaha menelepon Sam atau Alden. Tapi tidak ada satupun yang bisa di hubungi. Rea akhirnya menyerah dan pasrah untuk menemui kedua orang tua Sam.
Dia sudah berimajinasi bagaimana orangtua Sam akan menginterogasi, lalu mengusirnya. Tentu saja, alasannya karena Rea hanya seorang pegawai klinik. Mereka pasti tidak sudi jika anaknya yang hebat berhubungan dengan seorang rakyat jelata seperti Rea.
'Mampus gue.' batin Rea.
"Saya ini pacarnya om." Jawab Rea setengah berbisik. 'Pacar bohongan lebih tepatnya.' lanjut Rea hanya dalam hati.
"Liat sayang, Sam punya pacar." Ucap Ben pada Lidia.
Di luar dugaan, orang tua Sam malah tertawa senang. Itu membuat Rea jadi ikut tertawa dengan canggung.
Ben kembali ke kursinya setelah mengobati Rea. Dia saling berpandangan dengan wanita muda di depannya itu.
"Pantas saja kemarin dia pukul Alden." Kata Ben.
"Alden om?" Rea bingung dengan apa yang dikatakan Om Ben. Sam memukul Alden?
Karena gadis itu kebingungan, Ben menjelaskan semua detail yang terjadi pada malam itu. Sam marah karena Alden bertindak kurang ajar pada Rea. Sam bahkan melanggar janjinya untuk tidak memukul Alden demi menyelamatkan Rea.
"Lalu, apa hubungan kamu sama Alden?" pertanyaan ini belum terjawab karena Sam tidak menjelaskan pada Ben.
"Mantan om.. eh itu.. anu.." jawab Rea salah tingkah.
Lagi-lagi Ben dan Lidia tertawa.
'Memang sekeluarga ga waras.' Batin Rea lagi.
"Kenapa mereka bisa suka orang yang sama?"
Ingin rasanya Rea ambil langkah kaki seribu alias kabur dari rumah Sam. Dia sudah tidak tahan dengan situasi ini. Rea berjanji akan mencekik Sam jika pria itu muncul nanti.
"Re.. boleh om minta tolong?"
'Waduh. Sekarang bapaknya yang minta tolong. Kenapa sih semua minta tolong sama gue? Emang gue ini pekerja sosial.'
"Tolong apa om?"
"Tolong bujuk Sam, supaya dia mau jadi dokter di rumah sakit om. Om sangat butuh dia."
"Kenapa dia gak mau jadi dokter, Om?" Rea mengambil gelas yang telah di isi dengan airp putih oleh pelayan mereka.
"Entahlah.. Sejak Sam menyelesaikan kuliahnya, dia tidak pernah mau menjadi dokter dan mengurus rumah sakit Om di America." curhat Ben dengan sedih. Entah ada apa dengan anak-anaknya. Alden kabur dari rumah, dan Sam tidak bisa memenuhi keinginan Ben.
"Om punya rumah sakit di America?" Rea melongo karena terkejut sekaligus kagum dengan Ben.
"Yah, tidak besar Re." kata Sam merendah.
Sebenarnya, rumah sakit itu adalah salah satu yang terbaik di California.
"Kalau berhasil gimana om?" Tanya Rea penasaran. Dia berharap bisa dapat reward dari Ben misalnya dapat emas batangan atau satu unit mobil.
"Om akan restui kamu dan Sam."
"Yaaaah.." kata Rea lemas. Tapi Rea segera menyadari kebodohannya. Rea lupa kalau baru saja dia bilang pacar dari Sam. Seharusnya Rea senang karena sudah di restui.
"Kenapa? Atau kamu mau sama Alden?" Tanya Ben bingung.
Rea menggeleng cepat. Keduanya adalah pilihan yang sulit, baik Sam maupun Alden. Tapi, Rea sudah terlanjur ikut terseret dalam masalah mereka, jadi dia harus menerima segala ucapan Ben.
"Terima kasih ya, Rea. Om dan tante pergi dulu.. sebentar lagi Sam pasti akan jemput kamu."
Rea tersenyum manis. Dia bersyukur karena sesi menegangkan ini sudah berakhir. Sekarang, Rea hanya perlu mencari cara supaya Sam mau kembali jadi dokter lagi.