
Pagi ini Rea bangun sedikit kesiangan. Semalam kepalanya sedikit pusing karena minuman yang Sam pesan ternyata memiliki kadar alkohol yang cukup tinggi. Di tambah lagi jet lag Rea belum sepenuhnya hilang. Untung saja, Sam bisa menghentikan Rea dan membawa Rea ke kamar. Jika Rea mabuk, dapat dipastikan Rea akan menyambar Sam.
“Morning sayang..” Sam sudah menunggu Rea di depan pintu. Dia mencium pipi Rea dengan lembut.
“Sorry aku kesiangan.”
“Hari ini kita akan ke mana Sam?” tanya Rea dengan semangat. Dia sudah menyiapkan kamera dan juga sudah membawa beberapa atribut untuk berfoto.
“Tentu saja kita perlu mengunjungi pengantin baru terlebih dulu.” Ucap Sam sambil tersenyum.
“Sam, berhenti mengganggu mereka. Kamu mau besok mereka juga mengganggu kita?” ucap Rea kesal. Sam begitu jahil dan tidak situasi.
“Sudah lah…” Sam menggandeng Rea untuk pergi ke kamar Reno-Aeris.
‘BRUK’ Seseorang berlari ke arah Sam dan menubruk tubuhnya. Sam yang tubuhnya jauh lebih besar tentu tidak terjatuh. Tapi sebaliknya wanita itulah yang terjatuh.
“Maaf..maaf..” Wanita dengan rambut biri itu berdiri dan dia memandangi Sam yang tidak asing untuknya.
Begitu juga Sam yang baru saja menyadari orang yang menabraknya.
"Jessica!" teriak Sam.
"Sam!" Jessica juga berteriak. Detik berikutnya Jessica memeluk tubuh Sam.
Sam melepaskan tangan Rea untuk mengusap punggung Jessica.
Rea tidak percaya dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Sam memeluk seorang wanita cantik di depan mata kepalanya. Dari penampilan wanita itu, Rea dapat memastikan jika orang yang Sam panggil dengan nama Jessica adalah orang elite sejenis Sam.
"Lama sekali kita tidak bertemu. Kamu semakin cantik saja." Sam melepaskan pelukan Jessica.
"Ya, sejak kamu tidak pernah menginap di rumah lagi."
Apa ini? Sudah lama tidak bertemu? Menginap di rumah? Tubuh Rea seperti tersambar petir. Baru saja semalam Sam begitu romantis saat mengungkap perasaannya, tapi sekarang apa?
Rea sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Dia mengepalkan tangannya, lalu dengan amarah yang memuncak, Rea berdiri di antara Sam dan Jessica.
"Maaf, saya memang tidak mengenal anda, tapi saya tidak suka kalau anda memeluk tunangan saya." ucap Rea dengan penuh penekanan di tiap kata-katanya. Dia bahkan mengambil tangan Sam dan menunjukan cincin yang melingkar di jarinya.
"Tunangan?" tanya Jessica bingung.
"Iya, apa kamu tidak mengerti bahasa Indonesia? Kenapa kamu menggoda tunangan orang lain?" pekik Rea.
"Sam.. apa ini? kamu bisa jelaskan?" Jessica kurang suka ketika dirinya di bentak oleh Rea.
"Jess..kenalkan, ini Rea, tunangan aku." "Re..kenalkan, ini Jessica adik Boy." Sam yang sejak tadi menahan tawanya, akhirnya turun tangan sebelum kedua wanita itu memanas.
"Adik Boy?"
"Ya, Boy yang norak." jelas Sam karena Rea tampaknya belum juga mengerti.
"Maaf..aku tidak tahu." kata Rea menyesal.
"Tidak apa-apa Re. Aku dan Sam memang dekat. Tapi dia selalu saja menolak cinta ku." jawab Jessica sedih.
Rea menatap Sam dengan penuh tanda tanya. Tapi Sam memasang wajah datar dan tidak berdosa. Sam jelas tahu, apa yang di katakan Jessica itu hanya mengarang indah saja. Dia pasti masih kesal dengan Rea yang menuduhnya sembarangan.
"Kenapa kamu terburu-buru?" Sam mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin mengambil ponsel ku. Katanya Juna Liem menikah. Aku penasaran siapa yang bisa, mendapatkan hati seorang pria angkuh dan sombong seperti dia."
"Ya, sudah lah.. aku mau kembali ke kamar." "Aku pergi dulu, Tiff." pamit Jessica yang tidak ingin memperpanjang masalah lagi.
Rea belum sempat mendapatkan penjelasan dari Sam, kini harus meredam rasa pensarannya karena mendengar kabar Juna menikah.
Sam saat ini sedang menelpon Boy untuk memastikan kebenaran kata-kata Jessica. Tidak lama, telepon tersambung. Benar saja, Boy sedang berada dalam tempat ibadah di mana Juna melangsungkan pernikahan.
"Wah, cepat juga gerakannya. Apa dia tidak ingin kalah saing dengan Reno?" Sam bicara sendiri. "Ayo, cepat kita temui Reno dan bicarakan hal ini."
Sam berjalan cepat ke kamar Reno yang hanya berjarak 5 ruangan dari kamar mereka.
*
*
*
Reno dan Aeris menunjukan ekspresi yang sama dengan Sam ketika melihat teman mereka menikah dadakan seperti tahu bulat.
"Kalian kapan?" tanya Reno penasaran.
"Menunggu Rea siap." jawab Sam datar.
Rea tersenyum kecil pada Reno yang memandangnya. Dia merasa tidak enak pada Sam yang begitu sabar menunggu.
Sam mengambil inisiatif lebih dulu untuk pamit, sebelum suasana bertambah canggung. Dia tidak ingin kejadian Jessica dan juga pernikahan Juna ini mengganggu liburan mereka.
Sam berencana untuk membawa Rea ke Disneyland. Rea pasti senang karena ada banyak wahana bermain di sana. Tapi eksperesi justru berbanding terbalik.
Sepanjang jalan, Rea hanya memandang keluar jendela tanpa berbicara pada Sam.
"Re, kamu masih marah soal Jessica?" tanya Sam ketika mereka turun dari taksi.
Rea menggeleng.
"Kamu cemburu tadi Jessica memeluk aku?"
Rea menggeleng. Tapi dia segera sadar dan kemudian mengangguk.
Ya, 2 kejadian pagi ini benar-benar mengusik pikiran Rea. Pertama, Rea takut jika Sam akan menemukan wanita lain yang seperti Jessica. Atau plot twist nya dia akan menerima cinta Jessica. Kedua, semua teman Sam sudah menikah. Jadi, Sam pasti juga ingin menyusul temannya.
"Re.. halo Re.." panggil Sam sambil menggerakkan tangannya di depan wajah Rea yang malah melamun.
"Sam, ayo kita menikah." kata Rea lirih.
"Apa Re?" Sam sebenarnya mendengar Rea, tapi dia perlu meyakinkan sekali lagi.
"Aku rasa aku sudah siap menikah dengan mu, Dokter." ulang Rea dengan lebih keras.
Sam menatap Rea terharu. Dia langsung mendekap Rea dalam pelukannya. Akhirnya ujian kesabaran berakhir juga.
"Kamu sudah yakin?" tanya Sam memastikan sekali lagi.
"Sangat yakin. Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Samuel Sebastian."
Rea tersenyum sambil memandang wajah Sam yang tampak bahagia.