
Rea baru saja datang ke klinik dengan wajah kurang bersemangat. Kejadian semalam membuatnya tidak bisa tidur. Kemarin dia dengan polosnya membayarkan tagihan makan di restoran itu, dan sekarang Rea terkena akibatnya. Uang sisa untuk hidup sebulan habis sudah.
“Hei, kenapa lo? Di panggil Bu Valen tuh.” Seorang wanita mungil menghampiri Valen. Dia adalah Gadis, sohib dekat Rea.
“Kenapa?”
“Gak tau, tapi suasana hatinya lagi kurang baik.” Jelas Gadis setengah berbisik.
Rea dengan ragu berjalan menuju pintu di samping resepsionis. Dia berharap tidak akan kena omel pagi ini karena kalau itu terjadi, Rea benar-benar sedang sial.
'BRUK' Rea menabrak seseorang dan membuat dahinya sakit. Ketika menengok ternyata orang yang Rea tabrak adalah Sam. Samuel berpenampilan tidak jauh berbeda dari tadi malam. Dia masih memakai kacamatanya yang jelek, membuat wajah tampannya tidak terlihat.
Rea hanya berbasa basi sebentar saja karena Valen pasti sedang menunggunya. Setelah memastikan penampilan nya sudah lebih rapi, dia menarik handle pintu Valen.
Ruangan Valen terlihat lebar dan nyaman. Memang, seluruh klinik ini di buat dengan mewah bak rumah orang kaya di luar negeri. Tapi yang ternyaman adalah ruangan Valen. Kantor miliknya di dominasi warna pink dan putih. Di belakang meja ada rak besar untuk memajang produk-produknya dan selain itu di samping ada TV LCD 54 inch untuk memutar video perawatan atau untuk Valen menonton neflix. Kursinya pun di desain khusus dari luar karena Valen ingin dirinya dan pelanggan bisa nyaman berada di dalam.
“Ada apa ya bu?” Tanya Rea basa-basi.
“Sorry kemarin saya tinggalin kamu..” ucap Valen menyesal. Dia juga meninggalkan Rea tanpa memberikan nya yang untuk membayar makanan atau untuk naik ojek.
“Ga apa-apa bu.. santai saja.”
“Oh iya, Gimana Sam?”
“Gimana apa nya bu?”
“Emm,, maksudnya kamu cocok sama dia?”
Rea terdiam cukup lama. Dia sedang mencoba merancang di otaknya apa yang terjadi kemarin. Sepertinya Valen memang sengaja mengenalkan dia dengan Sam. Tapi kenapa? Bos nya bukan tipe yang suka ikut campur urusan orang.
“Ya, baik si.. Dia juga tampan.” Ucapnya jujur.
Valen tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa sampai air matanya keluar.
Rea hanya duduk diam menunggu reaksi Valen selanjutnya. Dia mengatakan hal yang sebenarnya, jika tanpa kacamata, Samuel itu tampan.
Sebaliknya, Valen tertawa karena dia tau karyawannya memang punya selera agak buruk dalam memilih pasangan. Samuel tampan? Itu
“Sorry..sorry.. “ “Oh iya, saya sudah transfer uang untuk ganti rugi kemarin dan juga sekalian bonus kamu.”
Rea mengecek ponselnya dan membuka mbanking untuk meyakinkan kalau dia tidak salah dengar. Matanya hampir copot ketika uang di tabungannya bertambah 1 digit.
“Bu,, ini ga salah?”
“Iya, anggap saja itu bonus karena kamu sudah bekerja keras. Beli lah pakaian yang bagus dan make up juga. Kamu bilang Sam ganteng kan, siapa tau kamu mau dekati dia..“
“Bu,, saya kan baru putus dari Alden. Belum move on bu..” “By the way, makasi banyak ya bu atas bonusnya.. semoga ibu makin cantik dan banyak fans nya.”
Valen hanya mengangguk-angguk. Dia mempersilahkan Rea untuk pergi. Hanya dalam satu hari, semua masalahnya beres. Sam tidak akan akan mengurusi perjodohan ini lagi.
Ternyata semudah ini bisa lepas dari Samuel.
"Kenapa di panggil?" Gadis langsung menarik tangan Rea begitu melihat wanita itu keluar dari ruangan Valen.
"Itu, gue mau di kenalin sama temen dia."
"Whaaaat... enak dong.. pasti ganteng banget ya?" Gadis berteriak senang. Dia saat ini langsung berimajinasi pria seperti apa yang akan dikenalkan oleh Rea. Dalam benaknya, Gadis sudah membayangkan aktor-aktor yang sedang naik daun di Indonesia.
"Heh, jangan bayangin yang aneh-aneh. Pria yang mau dia kenalin itu yang tadi baru saja keluar." Rea menoyor kepala Gadis yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Hah? Yang seperti kutu buku itu?" pekik Gadis dengan ekspresi terkejut.
Rea mengangguk lemah.
"Mending juga Alden ke mana-mana." "Udah deh, gue ga setuju."
"Kemarin lo bilang gue harus move on dari Alden, sekarang lo dukung gue sama Alden?"
"Ya,, daripada cowo nya jelek seperti itu."
"Jangan seperti itu, Dis.. Dia sebenernya ganteng kok." bela Rea. Jika Gadis melihat penampakan Sam tanpa kacamata, Rea yakin Gadis pasti akan klepek-klepek pada Sam.
"Tadi, kenapa dia ke sini?" tanya Rea penasaran.
"Oh, sistem Beauty Skin di hack. Dan Samuel yang bereskan." "Eh, ada customer, sebentar ya.." Gadis terpaksa menghentikan gosipnya dan segera berlari ke front desk ketika seseorang masuk ke klinik.