
Sam memarkirkan mobilnya sembarangan. Dia berlari masuk ke dalam rumah sambil memanggil Rea. Sam lupa kalau dia membawa Rea ke sini. Dan dia baru sadar setelah melihat missed call dari Rea.
"Bi.. Rea mana?" Sam. mencegat salah satu pelayannya.
"Itu ada di sana Tuan." Bibi menunjuk ke arah dapur. Tampak Rea sedang berjongkok melihat isi kulkas.
"Rea Renata!" Panggil Sam.
Rea hampir menjatuhkan makanan di tangannya mendengar suara Sam yang cukup kencang. Dia berbalik, lalu meringis ke arah Sam. Sam langsung melihat jidat Rea yang benjol. Dia yang tadinya mau marah, sekarang justru berusaha menahan tawanya. Ditambah, penampilan Rea sekarang hanya menggunakan kaos Sam yang kebesaran dan membuat celana pendeknya tertutup baju.
"Kamu dari mana aja sih." Omel Rea.
"Kamu ngapain?" Sam bertanya balik.
"Ini lagi nyapu.." " nyapu kulkas kamu." Katanya senang. Rea sangat lapar karena semalam belum makan. Dan ketika melihat isi kulkas Sam, dia begitu senang. Ada banyak makanan kesukaan Rea termasuk cheesecake dan es krim.
"Kamu ketemu Dad?" Tanya Sam curiga.
"Ya.. dia baik dan sangat rendah hati."
"Apa yang dia ceritakan?"
"Gak ada..cuma tanya-tanya biasa.. Dan dad mu kagum karena aku bisa jadi rebutan dua anaknya." Rea tertawa bangga.
Sam menjitak pelan kepala Rea. Gadis ini memang menggemaskan sekaligus mengesalkan.
Sekarang mereka berdua duduk di pantry saling berhadapan. Sam begitu geli melihat Rea makan cheesecake dengan mulut belepotan.
"Sam.." panggil Rea.
"Hmmm.."
"Apa kamu pernah berpikir? Dad mu begitu kaya, tapi dia selalu sendiri." "Siapa yang nanti akan meneruskan usahanya?" Rea mulai memancing Sam.
"Re.. please.. ini masih pagi." Sam mulai curiga dengan arah pembicaraan Rea.
"Kamu tau cerita malin kundang kan? Dia durhaka pada orang tuanya, lalu dia dikutuk jadi batu." "Kamu mau di kutuk jadi batu ginjal?" Rea mengomel sambil mengacungkan sendok di tangannya pada Sam.
"Kamu ngomong apa sih?" Sam tertawa kecil mendengar ucapan Rea jika dia akan dikutuk jadi batu ginjal.
Sam mengambil gelas di sampingnya dan mengisi dengan air putih, lalu dia memberikan pada Rea.
"Pertama, jangan dengar kan apa kata Dad. Kedua, Dad aku masih sehat. Ketiga, yang meneruskan usaha tentu saja Aku dan Alden." ceramah Sam.
Rea meminum air dari Sam, lalu mengelap mulutnya yang belepotan dengan punggung tangan.
"Sam, tapi aku ingin melihat kamu jadi dokter. Kamu tidak mau memenuhi permintaan pacar kamu yang cantik ini?" Rea menggunakan cara kedua, yaitu merayu Sam. Meskipun, ketika mengatakannya, Rea sendiri langsung ingin muntah. Ya, dia tidak pandai merayu laki-laki apalagi bertingkah sok imut.
"Jangan bawa-bawa status. Jadi dokter itu tidak mudah Rea.."
"Aku yakin kamu itu dokter yang hebat." Rea memberanikan diri untuk memegang tangan Sam.
Sam memandang Rea intens. Rea menunjukan perubahan begitu drastis. Apa efek alkoholnya belum hilang? Atau...
Sam perlu mengecek CCTV di rumah untuk melihat apa yang Ben katakan pada Rea. Dia memutar mundur data CCTV di rumahnya dan mengecek kejadian tadi pagi. Sam tertawa nyaring begitu mendengar apa yang Ben janjikan. Air matanya bahkan sampai keluar karena tidak dapat menahan kejadian yang lucu ini.
'Kena kamu, Re.. Kamu berhadapan dengan orang yang salah.' batin Sam. Setelah mengatur ekspresinya, Sam kembali ke dapur menemui Rea.
Rea sudah menghabiskan setengah kotak es krim ketika Sam duduk kembali di depannya.
"Re, setelah ku pertimbangkan tadi, aku setuju untuk memenuhi permintaan kamu dan Dad untuk menjadi dokter." ucap Sam dengan penuh keyakinan. "Tapi ada syaratnya."
"Hah? Beneran?" Rea terperangah. Kenapa begitu mudah untuk membujuk Sam? Ada syaratnya? Rea sibuk dengan isi pikirannya sendiri.
"Kita beneran pacaran."
"Maksudnya?" Rea tentu mengerti perkataan Sam, tapi dia bertanya karena tidak percaya dengan pria itu.
"Tidak peduli persoalan Alden, kita pacaran." Tegas Sam.
Rea tertawa.. "Sam, you bercanda ya.." Dia menjadi salah tingkah. Rea mengambil pitcher, mengisi gelasnya dengan air putih, lalu segera meminum nya.
"No Rea, aku serius. Kamu itu memang gak cantik, tapi kamu menghibur aku."
Rea menyemburkan air yang dia minum. Untung saja Sam berdiri sedikit jauh sehingga tidak terkena semburan dari Rea.
"Saaaaam..." Teriak Rea kesal.
"Tawaran cuma satu kali. Iya, atau tidak sama sekali. Aku gak akan mau jadi dokter selama nya." ancam Sam.
Rea berpikir sejenak. Dia tidak yakin kalau Sam menyukainya. Apakah Sam hanya ingin bermain dengan dia? Apakah hanya untuk membuat Alden cemburu? Tapi siapa yang menolak seorang Sam? Tampan, kaya, dan baik. Cuma orang gila saja yang akan menolak Sam.
"Oke, deal." Ucap Rea akhirnya.
Sam tersenyum senang. Dia memutari meja pantry untuk memeluk Rea. Sejak kemarin Sam sangat ingin memeluk Rea.
Entah sejak kapan Sam benar-benar tertarik dengan Rea, yang jelas dia sekarang lega karena Rea sudah setuju untuk benar-benar menjalin hubungan dengannya.
"Sam.. Sam.. Aku ga bisa nafas.." Rea memukul dada Sam, membuat pria itu tersadar kalau pelukannya terlalu erat.
"Oh iya, aku mau tanya, kemarin ini kenapa?" Rea memegang jidatnya yang sakit.
"Oh.. Itu.. Kemarin kamu mabuk dan menabrak tembok." Bohongnya tanpa rasa bersalah.
Rea mengangguk mengerti. Dia melanjutkan makan es krimnya dengan santai.
"Alden ke mana ya Sam? Kamu pukul dia dengan keras?" Tanya Rea yang tiba-tiba teringat pada Alden.
Raut wajah Sam berubah menjadi tegang. Dia tentu saja masih kesal dengan kejadian kemarin. Satu pukulan berasa tidak cukup untuknya. Dan, setelah mengantarkan Rea ke rumah, Sam berniat untuk mencari Alden untuk menghajarnya kembali. Tapi, sayang, dia tidak menemukan Alden di manapun.
"Re.. Alden pukulin aku sampe babak belur, tapi tidak ada yang komplain pada Alden." Sekarang aku cuma pukul Alden satu kali, tapi kalian semua begitu heboh." Ya, Sam merasakan jika sejak kemarin semua orang seperti sedang menghakiminya karena dia memukul Alden.
"Haduh.. Mulai lagi.." Rea memukul mulutnya sendiri karena salah bicara.
Setelah resmi pacaran, pasti Rea akan lebih pusing mengurus perang dingin antara Sam dan Alden.