
Valen melenggang masuk tanpa memberi salam pada Bram atau Ester. Hal itu membuat Ester menjadi khawatir, karena tadi Valen pergi dengan sumringah. Sekarang dia pulang seperti orang yang baru saja kecopetan.
"Sayang, kamu kenapa?" Ester melihat sudut bibir Valen yang sedikit bengkak.
"Oh, ini tergigit waktu makan ma." bohong Valen. Dia mengambil air mineral dari kulkas, dan langsung meminumnya sampai habis dalam hitungan detik. Ya, lehernya sangat kering dan tidak enak sejak tadi.
"Valen, kamu bisa jelaskan ini?" Bram datang membawa beberapa foto. Dia memberikannya dengan kasar pada Valen.
Valen cukup terkejut ketika membuka satu persatu fotonya dengan Alden sedang berpelukan di club. Selain itu juga ada Foto sewaktu Valen berada di rumah Alden.
"Papa membuntuti Valen?" tanya Valen dengan nada tinggi.
"Valen.. kamu boleh dekat dengan siapapun, tapi kenapa harus pria ini?" Bram bercak pinggang di depan Valen. Dia sudah menyelidiki siapa Alden, dan dia menemukan jika Alden hanya anak angkat keluarga Sebastian. Bukan hanya itu saja, Bram tau jika Alden hanya anak dari hasil pernikahan yang tidak sah.
"Valen capek pa, Valen ingin ke kamar."
Valen berjalan ke kamar tanpa mendengarkan teriakan dari Bram karena Valen tidak menjawab pertanyaannya.
Valen merebahkan badan di ranjang. Dia menyentuh bibirnya dengan lembut. Bayangan Alden yang menciumnya muncul kembali dalam otak Valen.
"Alden.. kamu benar-benar menyebalkan."
*
*
*
Jam 10 pagi
Valen baru saja datang ke rumah sakit Husada, tepatnya di ruang prakteknya. Dia sedikit terlambat karena Bram baru saja menceramahi dia tentang Alden. Bram menceritakan panjang lebar masa lalu Alden yang lumayan gelap. Meskipun sekarang Alden memiliki nama belakang Sebastian, itu tidak mengubah pandangan Bram pada Alden. Bram tetap tidak suka pada Alden.
"Dokter, apakah kita bisa mulai?" asisten Valen meletakkan data pasien di depan Valen. "Dokter.." panggil nya sekali lagi.
Valen tersadar. "Ya, panggil saja."
Dia membuka data pasien di meja. Dia mendengar suara kursi di tarik. Gerakan tangannya terhenti begitu membaca data pasien yang pertama. Valen mendongak. Tampak Alden sudah duduk manis di depannya.
Saat ini Alden sedang menatap Valen dengan intens. Valen melengos ke arah lain, karena tatapan Alden begitu membuat jantungnya berdetak tidak beraturan.
"Apa keluhan mu?" tanya Valen yang ingin menyelesaikan dengan segera pasien pertamanya ini.
"Wajah ku gatal-gatal." kata Alden singkat.
Sebenarnya Alden tidak ingin pergi menemui Valen, tapi karena dokter kulit yang satu sedang cuti, Alden terpaksa, berkonsultasi pada Valen.
Ya, Valen di sini bukan membuka praktek sebagai dokter kecantikan, tapi sebagai dokter kulit. Valen merasa sangat pas bekerja di sini, karena dia merasa sayang jika ilmunya tidak digunakan. Di tambah Rumah Sakit ini hanya memiliki satu Dokter Kulit. Jadi, Valen bisa menyelam sambil minum air.
"Apa yang kamu makan kemarin?"
"Aku minta maaf soal kemarin." jawab Alden dengan nada penuh penyesalan.
Dia berputar untuk melihat wajah Alden yang memang sedikit merah-merah.
"Sepertinya, kamu alergi makanan." kata Valen sambil memperhatikan Alden lebih dekat.
"Valen, aku rasa otak ku sudah tidak waras." kata Alden dengan sangat lirih.
"Kamu bicara apa?" Valen beralih memandang Alden sehingga pandangan mereka saling bertemu. Ketika memandang Alden, Valen tidak ingin beralih untuk memandang yang lain. Dia seperti terhipnotis dan hawa panas segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Hal itu tidak berbeda dengan Alden. Dia tanpa sadar menarik badan Valen mendekat, sehingga wanita itu jatuh terduduk di pangkuannya.
"Alden, aku rasa aku akan berhenti mengejar Sam."
"Kenapa, hm?" Alden memegang bibir Valen yang terluka dengan jarinya.
"Karena aku sudah jatuh cinta dengan orang lain." Valen menangkap tangan Alden sebelum pertahanan dirinya jebol.
"Apa pria itu adalah pria yang ada di depan mu sekarang?" tanya Alden dengan menyunggingkan sebuah senyuman kecil.
Valen menjawab dengan sebuah anggukan.
Alden bergerak untuk memeluk Valen. Dia harus melakukan itu karena kalau terus menatap Valen, Alden takut lupa diri.
"Rahasiakan hubungan ini dari Sam dan Rea." bisik Alden.
"Kenapa?"
"Karena aku perlu belajar dulu, dan fokus pada Tugas-tugas yang Dad berikan." "Sam tidak akan mengijinkan aku untuk berpacaran." jelas Alden sambil mencium rambut Valen yang beraroma lavender.
"Oke. Aku akan menutup mulut ini rapat-rapat." kata Valen setuju. Dia memang ingin menyembunyikan ini karena Bram pun akan marah jika mengetahui Valen menyukai Alden.
Mereka mengurai pelukan mereka ketika ponsel Alden berdering.
Valen bangun dari pangkuan Alden. Dia kembali ke kursinya sambil sibuk mengatur pikirannya yang sempat hilang fokus.
"Sam, sebentar. Aku sedang berobat." jawab Alden di telepon.
"Aku resep kan obat alergi. Kamu bisa konsultasi lagi setelah 3 hari kalau tidak ada perubahan." Valen menuliskan resep untuk Alden dengan cepat.
"3 hari terlalu lama, Dok." Alden mengambil tangan Valen, lalu menciumnya.
"Dasar mesum." omel Valen sambil menepis tangan Alden.
"Sepertinya otak kita sama-sama mesum." Alden tertawa riang karena dari tatapan Valen tadi, jelas sekali Valen ingin mengulangi hal yang semalam.
Valen mengusir Alden yang tak kunjung pergi juga.
Dia baru bisa bernafas lega ketika pria itu menghilang dari balik pintu.
"Alden Sebastian.. pria itu meresahkan sekali."