When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Menunggu Rea



Valen memutar-mutar pulpen di tangannya. Layar komputernya sekarang sedang menampilkan hasil pencarian google, Samuel Edward. Dia membuka kembali data pasien yang masuk. Foto KTP Sam menggunakan kacamata. Usia 30 tahun. Belum menikah. Alamat nya pun luar kota. Ini sungguh aneh. Penampilan Sam yang lalu dan sekarang sangat berbeda. Sam jelas bukan orang biasa.


Ponsel di sebelah Valen berdering membuyarkan pikirannya tentang Sam. Zoe calling..


“Val,, jam berapa ini? Kok belum dateng?”


Valen mengenok ke arah jam dinding. Jam menunjukan pukul 4 sore. Ini berarti dia menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk mencari informasi tentang Sam. Padahal dia janji dengan Zoe di jam 3.


“Sorry Zo..Gue lagi ada kerjaan urgen. Gue ke sana sekarang ya..”


“Iya udah cepetan.. Yang lain udah kumpul semua."


Valen melepaskan jaket prakteknya dan mengambil tasnya di meja. Dia buru-buru keluar dan


‘BRUK'


Tubuh Valen menabrak seseorang. Dada bidangnya cukup keras sehingga membuat Valen kesakitan. Valen menengok, dan dia melihat wajah itu lebih dekat. Untuk beberapa saat, Valen terpesona dengan pria di depannya, sampai orang itu berdehem.


“Sorry..." "Kamu kok masih di sini?” tanya Valen sambil merapikan bajunya. Entah kenapa hari ini Valen terlalu sering bilang Sorry.


“Kan nunggu Rea.” Ucap Sam santai.


“Ooo.. oke..” Valen tersenyum manis. “Lain kali kita ngobrol lagi ya...” Valen melenggang keluar tanpa memperhatikan Sam lagi.


Sam menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia melihat perubahan sikap Valen 180 derajat.


Karyawan lain mulai berbisik melihat interaksi Sam dan Valen. Sam memang hari ini menarik perhatian satu klinik ini. Dia duduk manis sambil bermain laptopnya tanpa terganggu ketika semua mata memandangnya. Bahkan Gadis yang berada tidak jauh dari Sam sampai memotretnya.


Sam melihat apa yang karyawan Valen lakukan itu, tapi dia bersikap masa bodoh. Sekarang dia hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu sambil menunggu Rea selesai.


“Re, lo kenal di mana sih cowo keren kek gitu. Senggol Gadis yang juga terkena virus Sam.“Kenalin ke gue kek.”


“Kenalan aja sendiri... tuh kan ada orangnya.” Rea menunjuk Sam dengan dagunya.


Rea juga melihat kejadian tadi, ketika Valen keluar, menabrak Sam dan dia tersenyum pada Sam. Reaksi Valen itu sungguh ramah pada pria itu.


Berbeda dengan Sam, reaksi Sam justru tampak biasa saja. Padahal dulu sewaktu bertemu di restoran, Sam begitu bersemangat dan tidak berhenti memandang Valen.


“Dia beneran nunggu lo?” tanya Gadis lagi.


Rea tidak menjawab. Dia bahkan bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa Sam mau menunggunya?


Merasa Rea dan teman-temannya sedang bergosip tentangnya, Sam melirik sekilas ke arah mereka, lalu dia tersenyum dengan sopan. Tapi, dalam hati, dia tersenyum sinis karena sejak kemarin dia mendapat perlakuan kurang baik di klinik ini.


Seperti yang sudah-sudah, pasti mereka hanya memandang Sam yang culun hanya dari fisiknya saja.


Hari ini Sam terpaksa tidak menggunakan kacamata karena Boy mengancam akan mengusirnya dari rumah jika Sam terus menggunakan kacamata kuno itu. Dia juga membawa salah satu mobil mewah dari Boy. Alasannya lagi-lagi karena Boy tidak mengijinkan Sam untuk naik motor mengingat kejadian beberapa hari lalu di mana Sam jatuh dari motor.


‘Pakai kacamata mu, Mr.’ Sam mendapatkan pesan singkat dari Rea.


Pandangan Sam beralih pada tempat Rea berdiri, tapi wanita itu sudah hilang entah kemana.


Sam mengambil kacamata yang menggantung di kerah kaos, lalu mengenakan itu sesuai dengan permintaan Rea.


“Yuk.” Rea menyadarkan Sam yang sudah mulai menguap sejak tadi. Bagaimana mungkin dia tidak mengantuk kalau dia menunggu Rea selama 6 jam.


Sam menutup laptopnya. Dia sedikit meregangkan badannya yang terasa pegal sebelum akhirnya pergi keluar bersama Rea.


Melihat Sam pergi berdua Rea, wanita itu langsung menjadi obrolan hangat di grup WA.


Moobil GTR mobil terakhir yang terparkir di depan. Rea tidak melihat keberadaan motor dari Sam, berarti Sam ke sini menggunakan mobil.


“Sorry.. kakiku belum sembuh, jadi cuma bisa bawa mobil.”


“Ya emangnya mau bawa apalagi? Pesawat?” Ejek Rea.Dia sebenarnya lebih nyaman jika Sam membawa motornya.


Rea masuk ke dalam mobil mewah yang Sam bawa. Begitu masuk, wangi parfum Sam menyeruak ke hidung Rea membuat Rea jadi menarik kata-kata kembali, naik mobil pun nyaman asalkan bersama Sam. Ya, bau parfum Sam ini sekarang menjadi favorit Rea.


“Let’s go..” Sam senang sekali seperti anak kecil yang akan pergi tamasya. Padahal mereka hanya akan makan sate.


Sepanjang jalan Rea hanya diam. Sam pun masih asik dengan pikirannya.


Ponsel Rea berbunyi berulang kali. Rea membuka ponselnya dengan perasaan tidak enak.


“Gila.” Teriak Rea. Dan Rea hampir saja memecahkan gendang telinga Sam.


“Ada apa Re?”


Rea segera memiringkan ponselnya supaya Sam tidak melihatnya.


“Alden kirim foto tanpa baju?” tanya Sam curiga.


“Lebih parah lagi.”


Rea mengintip lagi foto yang di kirim temannya. Foto dia dan Sam sedang masuk ke dalam mobil. Mungkin itu biasa saja, tapi captionnya bikin Rea ingin menguliti Gadis.


Akhirnya upik abu bertemu dengan pangeran.


Rea juga membaca berbagai komentar setelahnya.


Wah, Rea menang banyak.


Re, pakai jampi-jampi apa si? Gue bagi dong..


Kalau Sam melihatnya, dia yakin akan tertawa sampai air matanya habis. Untung Sam kembali fokus menyetir tanpa banyak bertanya.


Rea mengerikan sesuatu pada Gadis dengan perasaan kesal.


Awas aja lo ya besok.. Gue timpuk lo pake sepatu.