When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Bandara



Rea seperti mengalami dejavu ketika Boy datang untuk menjemputnya pagi ini. Dia tidak dapat menghubungi ponsel Sam, jadi akhirnya mau tidak mau Rea mengikuti Boy. Sepanjang jalan, kecurigaan Rea semakin besar. Bukan tanpa alasan, tapi jalan yang mereka lalui sama persis dengan jalan menuju ke bandara.


"Kita sampai." Boy membukakan pintu untuk Rea ketika mereka sampai di bandara.


Rea hanya terdiam di mobil dan enggan untuk keluar. Karena Rea begitu lama, akhirnya Boy menarik paksa wanita itu.


"Lepasin Boy, aku ga mau menemui Sam." teriak Rea.


"Re, tapi Sam minta kamu untuk cepat." balas Boy dengan suara stereonya. "Katanya kamu mau kencan."


"Mana ada kencan di bandara." tolak Rea. Dia berpegangan kuat pada kursi stir. Boy begitu kewalahan menghadapi Rea. Dia juga panik karena orang-orang mulai mendekati mereka Karena mengira Boy melakukan KDRT. Karena tidak punya waktu dan pilihan lain, Boy akhirnya menggelitik pinggang Rea. Caranya itu sukses karena Rea kegelian dan akhirnya keluar sendiri.


"Gitu kek dari tadi." protes Boy. Dia memegang pergelangan tangan Rea, lalu menarik nya masuk ke dalam.


Boy dengan mudah menemukan Sam karena pria itu sudah memberitahukan lokasinya. Sam terlihat tampan hari ini dengan menggunakan jaket hitam dan syal abu-abu yang melilit lehernya. Rea menelan ludah karena melihat 2 koper besar di samping Sam.


"Lama sekali, Boy." omel Sam. Dia melepaskan tangan Boy yang masih memegang Rea , lalu langsung membawa Rea dalam rangkulannya.


"Sam, bukannya kita mau kencan? Kenapa tampak lebih mirip seperti perpisahan gini sih?" tanya Rea bingung.


"Ya, memang kita mau kencan."


"Re, kali ini bukan film AADC lagi, tapi Eifel i'm in love." celetuk Boy.


Rea tidak mengerti apa yang sedang Boy dan Sam ucapkan.


"Kita akan kencan di Eropa, Sayang." jelas Sam sambil mengacak-acak rambut Rea.


"Tapi, aku gak bawa baju, Sam." kata Rea yang masih bingung memahami situasi ini.


"Tenang saja, aku sudah mengepak semua kebutuhan kamu selama disana." Sam menepuk koper bewarna pink di sebelahnya.


"Kekasihmu ini luar biasa jenius. Otaknya melebihi einstein." sindir Boy. Sam merencakan kepergian mereka ke Eropa dalam semalam. Bagaiamana mungkin Boy tidak memuji Sam itu jenius?


"Boy, kami berangkat.. tolong awasi Alden." Sam berpamitan pada Boy.


"Astaga, mereka akan tetap bermesraan meskipun aku mengawasi mereka." ucap Boy malas. Tapi setelah itu Boy baru sadar jika dirinya keceplosan.


"Siapa bemesraan dengan siapa?" Rea mulai menginterogasi Sam.


"Sudahlah.. itu untuk bahan pembicaraan nanti saat kita terbang ya sayang.."


Sam melepaskan Rea, lalu menarik kedua koper nya untuk boarding pass.


"Sam, aku mau dengar sekarang."


Rea mengejar Sam dan tidak berhenti bertanya.


*


*


*


Sam menutup mulut Rea yang hampir saja berteriak ketika melihat Reno dan Aeris yang duduk di depan mereka.


"Sam, kamu kenapa sih." omel Rea dengan suara setengah berbisik. "Aku mau sapa Aeris."


"Jangan sekarang menyapanya.. nanti saja kalau sudah sampai." Sam juga bicara dengan suara lirih. Sebenarnya Sam sengaja memilih pesawat dan Hotel yang sama dengan Reno supaya dia bisa mengganggu pasangan yang baru menikah itu. Jika Rea menyapa mereka sekarang, sudah dapat di pastikan Reno akan turun dan memilih tempat honeymoon yang lain.


"Sam, pesawatnya tidak akan jatuh kan?" tanya Rea yang mulai ketakutan ketika mendengar jika pesawat akan lepas landas. Ini pertama kali Rea pergi naik pesawat keluar negeri dengan jarak tempuh hampir 1 hari.


"Tidak mungkin sayang.. apa kamu takut?" Sam menggenggam tangan Rea supaya Rea tenang.


"Aku belum menikah, jadi belum mau mati dulu." kata Rea polos.


Sam tertawa geli. "Ya sudah, kita menikah saja. Tunggu apalagi."


"Tapi..." Rea mulai menunjukan ekspresi keraguan.


"Oke,, oke.. Kita bahas yang lain saja." kata Sam frustasi. Dia bisa membantu Reno untuk menikah dengan Aeris, tapi hubungan nya dengan Rea tidak ada kemajuan sama sekali. 'Apa gue pura-pura kecelakaan aja kayak Reno ya?' batin Sam.


"Kamu jelaskan, kenapa dengan Alden? bemesaraan dengan siapa?" tanya Rea mengalihkan topik pembicaraan.


Sam tampak berpikir sesaat. Dia menarik nafas berat, karena kisah cinta Alden yang begitu membingungkan dan begitu kilat.


"Jadi,,, Alden itu pacaran dengan bos mu."


"Apaaa?!" Rea berteriak cukup kencang. Tapi dia segera sadar dan menutup mulutnya.


"Ya,, dan aku khawatir karena gaya pacaran mereka berbeda dengan kita."


"Memang gaya pacaran kita seperti apa?"


Pertanyaan itu membuat Sam tertawa. Dia mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Rea. "Kita pacaran seperti anak TK."


"Kalau dia seperti apa? Seperti anak SMA?" kini Rea yang tertawa mendengarkan perkataan Sam.


"Anak TK tidak boleh tau.." ejek Sam sambil mencubit pipi Rea. Rea bisa kena serangan jantung jika Sam bercerita apa saja yang Alden lakukan.


"Ya,, aku anak TK yang sangat manja." "Sekarang, peluk aku.." Rea merentangkan badannya meminta pelukan dari Sam.


Sam dengan senang hati memeluk kekasihnya yang tampak pucat itu. Untung saja mereka naik pesawat kelas VIP, sehingga Rea tidak akan kelelahan selama perjalanan nanti.